NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mister Damian

"Nin ..."

Merasa dipanggil, Nina menoleh dan mendapati suami Bu Darmi berdiri di ambang pintu dapur warung. "Iya Pak!" sahutnya heran. Dahinya mengernyit ketika Sabar memintanya untuk mendekat tapi dengan isyarat tangan melambai. "Ada apa?" Nina nyaris berbisik.

Suasana warung sedang sepi lepas jam makan siang, hanya tersisa satu dua orang yang masih lahap memakan pesanan mereka. Sementara Bu Darmi dan dua pekerja lainnya sedang melaksanakan ibadah di masjid tak jauh dari warung. Sudah ada jadwal yang diatur untuk bergantian beristirahat dan beribadah lepas warung tak terlalu ramai.

Sabar meminta Nina menghampirinya di dapur warung yang letaknya di belakang. Nina pun menurut setelah memastikan pelanggan masih fokus pada sajian masing-masing. Jangan sampai mereka kabur tanpa membayar makanan.

"Bapak tumben pulang jam segini?" Tanya Nina heran.

"Kata istri saya, kamu lagi butuh uang untuk sekolah si kembar? Dan kamu tidak mau dibantu." Sabar abai atas pertanyaan yang ditujukan padanya. Dia tak mau berbasa-basi dan langsung mengatakan apa yang menjadi tujuannya pulang padahal masih di jam kerjanya.

Nina mengangguk ragu, dan sedikit merasa ngeri. Jangan sampai pikiran buruk yang mendadak muncul, benar-benar terjadi. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya, nanti.

"Saya ada kerjaan untuk kamu, dan dengan itu saya yakin kamu bisa membayar biaya sekolah si kembar bahkan mungkin sampai kuliah. Kamu juga bisa membeli rumah dan membuka usaha untuk melanjutkan hidup." Sabar mengatakannya, tanpa memberikan jeda atau sekedar melihat ekspresi salah satu pekerja warung milik istrinya.

Lagi, Nina merasa ragu. Tapi dia penasaran dengan pekerjaan yang dimaksud suami Bu Darmi.

"Ingat masa depan anak-anak mu, Nin! Dan penawaran ini tidak datang dua kali dalam hidup kamu." Sabar mengatakan dengan penuh keyakinan. "Kalau kamu mau, nanti selepas magrib. Kamu datang ke kantor tempat saya bekerja." Sambungnya sambil berlalu meninggalkan dapur.

Nina terdiam, tapi isi kepalanya begitu berisik menebak pekerjaan yang dimaksud oleh suami bos-nya itu.

Nina tau, Darmi pastinya menceritakan soal kegelisahan pada Sabar. Yang Nina tau, keduanya adalah pasangan suami-isteri dengan komunikasi cukup baik. Tapi kenapa kali ini, lelaki paruh baya itu membicarakannya saat tak ada Darmi di warung. Apa Sabar tak ingin istrinya tau soal ini?

Kecurigaan mulai muncul. Apa mungkin Sabar berniat berniat jahat padanya?

Tapi selama dua tahun mereka mengenal, tak sekalipun Sabar berbuat jahat padanya. Bahkan lelaki itu menganggap si kembar sebagai cucu sendiri.

"Mbak ... Saya sudah selesai makannya."

Teriakan dari salah satu pengunjung warung, membuat lamunannya buyar. Nina segera melangkah menuju tempat berjualan.

***

Sudah lewat waktu isya, tapi Nina masih sibuk melayani pelanggan warung. Beberapa dari mereka memesan gorengan dan minuman hangat. Di luar hujan cukup deras, dan mereka yang mengunjungi warung tempatnya bekerja adalah para pengendara motor yang berteduh.

Meski sedang hujan, nyatanya warung tidak sepi. Malah justru ramai dan Nina sedikit keteteran dibuatnya. Karena pelayan warung hanya tersisa dirinya dan sang pemilik saja. Dua orang lainnya sudah pulang sebelum waktu Maghrib tiba.

Tepat pukul sembilan malam, Hujan berhenti. Tapi menyisakan gerimis kecil. Sehingga para pengendara motor, mulai meninggalkan warung dan meneruskan perjalanan menuju tempat tujuan masing-masing.

Sisa lauk dan sayur tak banyak, hanya beberapa potong ikan dan ayam serta sayur berkuah saja.

Setelah menutup tirai dan pintu warung, Darmi mulai menghitung uang yang terkumpul. Mulutnya komat-kamit. Bukan untuk membaca mantra dan sejenisnya. Tapi sedang menghitung jumlah lembaran uang aneka warna. Dan setelahnya, dia mulai mencatat apa saja yang akan dibelinya dari pasar dini hari nanti.

Sementara Nina mulai mencuci alat makan di tempatnya. Dia masih belum memiliki dana untuk membayar sekolah si kembar. Padahal batas waktu semakin dekat. Apa yang harus dilakukannya?

Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, sayup-sayup terdengar suara suami Darmi mengucapkan salam.

Sontak mata Nina melebar. Dia lupa tentang tawaran lelaki paruh baya itu. Saking sibuknya Nina sampai abai.

Apa Nina pura-pura lupa saja? Tapi bukankah itu faktanya, walau tak sepenuhnya benar. Karena Nina benar-benar meragukan tawaran dari Sabar.

"Nin ..." Darmi memanggil.

"Iya Bu!" tentu saja Nina mendengar, dia segera mematikan keran air. Saat ini tinggal tersisa beberapa piring yang belum dibilas.

"Sini dulu." Pinta Darmi.

"Sebentar Bu!" balasnya. Tanggung sekali rasanya. Nina yakin Bos-nya itu mengerti.

Tapi ... Panggilan itu terdengar lagi.

Nina mempercepat pekerjaannya, dia merasa sungkan. Jangan sampai Darmi memanggilnya untuk yang ketiga kalinya.

Begitu selesai, Nina segera menghampiri Darmi yang ternyata sedang berbicara serius dengan Sabar dan satu lelaki asing bersetelan formal.

Ketiganya kompak menoleh pada Nina yang saat ini mengenakan kaus lengan panjang berwarna hijau tua dan celana bahan hitam serta jilbab dengan warna senada.

Ditatap begitu intens, Mendadak Nina merasa grogi. Rasanya tatapan mereka seolah sedang menguliti dirinya. Terutama lelaki blasteran yang baru pertama kali dilihatnya.

"Sini duduk, Nin!" Darmi menunjuk kursi kosong di sebelahnya.

Di warung disediakan beberapa meja dengan kursi di masing-masing meja. Jadi bukan hanya ada kursi panjang yang berada di depan etalase seperti warung nasi pada umumnya.

Nina melangkah ragu, dia sedikit takut dengan keberadaan lelaki asing yang sama sekali tak mengalihkan pandangan darinya. Meskipun Nina tak menatap langsung, tapi dia merasa terus ditatap. Bagai sedang dipindai.

"Kenalin Nin, Ini Mister Damian." Tutur Sabar begitu Nina duduk di samping istrinya.

Lelaki berwajah setengah bule itu menjulurkan tangannya, tapi dengan wajah datar tanpa senyuman sedikitpun.

Sedangkan Nina hanya bisa menatap tangan besar itu, tanpa berniat menyambutnya. Ada sesuatu yang membuatnya, seolah diselimuti rasa ragu.

Hingga lengannya disenggol oleh Darmi, "Ayo Nin, salaman dulu sama Mister Damian." Dia mengingatkan.

Dengan sangat terpaksa Nina menyambut tangan besar itu. Dia memberikan senyuman yang dipaksakan, rasanya wajahnya kaku.

Seharusnya begitu berjabat tangan, hanya hitungan detik. Mereka yang bersalaman akan segera melepaskan jabatan tangan itu. Tapi Damian justru menahan tangan Nina, yang terasa kecil di telapak tangannya.

Nina sontak melebarkan matanya, dia terkejut dengan sikap lelaki asing itu. "Mis--Ter ..."

"Pak Sabar. Apa anda yakin, dia perempuan yang tepat?"

Pria suara berat, tatapan tajam dari mata biru itu terasa menusuk bagi Nina. Aura dominan dari ini, benar-benar membuatnya sesak dan ngeri secara bersamaan.

"Tentu saja, Mister! Nina ini benar-benar sesuai dengan kriteria yang mister inginkan." Sabar berkata yakin.

Akhirnya Damian melepaskan jabatan tangannya, tapi tatap matanya tak lepas memindai perempuan yang ada di depannya.

Jabatan tangan itu menyisakan hangat di tangan Nina. Bukan tentang menenangkan, tapi sesuatu yang asing untuknya. Ini membuat Nina bingung.

"Saya akan menyampaikan pada Tuan Ammar, dan segera akan saya sampaikan keputusan dari beliau." Damian bangkit berdiri. Dia sempat berpamitan pada Darmi sebelum benar-benar pergi dari sana.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!