Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aaaaaa!!!!
Alana mendorong pelan dada Archie sambil berkata, "Aku takut ingusku mengotori kaos mahal kamu"
Archie mendengus geli sambil mengusap lembut airmata yang masih tersisa di kedua pipi merah alaminya Alana.
Sial! Aku sangat ingin mencium pipinya. Batin Archie.
Alana menjauhkan wajahnya dari tangan Archie sambil berkata, "Kalau ketahuan pacar kamu, kamu menyentuh pipi wanita lain, dia bisa marah"
Archie tersenyum tipis lalu berkata saat Alana kembali memakai sabuk pengaman, "Aku sudah putus dengannya"
"Hah?! Kenapa?" Alana menoleh kaget ke Archie.
Archie mendengus geli melihat ekspresi lucunya Alana. "Aku yang salah karena aku tetap saja gagal jatuh cinta padanya sekeras apapun aku belajar untuk melakukannya"
"Bukankah dia memiliki dada dan pantat yang wow banget?"
"Yeeaahhh kau benar tapi cinta tidak melihat dada dan pantat yang wow banget, Na" Archie kemudian mengulum bibir menahan geli melihat Alana mengalihkan pandangannya ke depan dengan bibir mengerucut lancip.
"Dan dia pasti lihai banget di ranjang, kan?" Gumam Alana lirih sambil memilin ujung blazernya.
"Yeeeaahhh, kau benar. Dia lihai banget di ranjang, Na"
Alana kembali mengarahkan pandangannya ke Archie untuk menyemburkan, "Lalu kenapa kamu belum bisa mencintainya?"
"Apakah lihai di ranjang adalah tolak ukur kamu untuk mencintai seseorang, Na?"
Alana sontak mengerjap kaget lalu melongo dengan wajah memerah panas. Yeeaahh, dirinya belum pernah bercinta. Dia bahkan belum pernah berciuman. Apakah benar kelihaian seorang wanita di ranjang bisa membuat seorang pria bertekuk lutut, yeeaahhh, dia tidak tahu jawabannya. Tolak ukur? Tolak ukur apa, hah?! Alana lalu mendelik ke Archie.
"Apa? Kenapa kamu menatapku segalak itu?"
Alana menepuk kasar bahu Archie sambil berkata, "Aku belum pernah berciuman dan tidak pernah bermain di ranjang, mana tahu apakah itu tolak ukur bagiku atau tidak, cih!" Alana lalu bersedekap dan membuang muka.
"Apakah kamu mau aku ajari biar kamu tahu jawabannya, Na" Tanya Archie dengan bersedekap dan alis kirinya naik ke atas.
Alana menoleh kaget ke Archie, "Gila kau! Siapa yang mau kau ajari soal itu, hah?!"
"Kenapa wajahmu merah sekali? Apa yang kamu pikirkan, Na? Maksudku adalah apakah kamu mau aku ajari jatuh cinta, Na?"
Alana melotot ke Archie, "Jalankan saja mobilnya dan antar aku pulang secepatnya!"
Archie sontak tertawa, "Hahahahahaha! Kalau seperti itu siapa coba yang pikirannya kotor? Hahahaha!"
Alana melirik tajam ke Archie sambil menyemprotkan, "Tidak lucu!"
Archie kembali menggemakan tawanya dan Alana hanya bisa mendengus sebal.
Saat Archie menjalankan mobilnya, ia bertanya, "Kamu nggak kerja?"
"Tiap Sabtu dan Minggu aku libur. Biasanya hari Sabtu dan Minggu aku pakai untuk meninjau TKP. Siapa tahu ada yang aku lewatkan"
"Sendirian?" Tanya Archie.
"Sama Delia dan detektif Simon"
"Apakah detektif Simon masih single? Kenapa dia memiliki kelonggaran waktu untuk menemani kamu dan teman kamu ngecek TKP?"
"Dia masih single dan dia dulu kakak kelasku waktu aku masih SMP. Kami dulu cukup akrab"
Archie sontak mencengkeram kemudi mobilnya. Pria tampan itu terbakar cemburu tapi akal sehatnya mampu menekan kecemburuannya yang ingin meledak karena ia teringat nama Manuel dan Jeffrey. "Lalu, siapa Manuel dan Jeffrey?"
Alana mengusap ujung hidungnya lalu berkata, "Manuel adalah bocah laki-laki brengsek yang dibawa masuk oleh Don Miguel ke rumah mamaku dan Jeffrey adalah temannya Manuel. Jeffrey pernah nembak aku tapi aku tolak dan keesokan harinya Jeffrey mengirim bingkisan berisi mawar hitam dengan catatan, jadi milikku atau kau akan mati dan Manuel menertawakan aku dengan sangat mengerikan. Lalu aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi"
Oke, Aku akan cari Don Miguel, Manuel, dan Jeffrey. Aku akan hajar tiga pria brengsek itu, Na. Sial! Darahku sudah sangat mendidih nih! Archie mencengkeram kencang kemudi mobilnya dengan geraham mengeras.
"Na, rumah kamu di mana?"
Tidak ada jawaban karena Alana dengan cepat ketiduran. Dia hanya tidur selama dua jam dan kelelahan karena ia pergi ke pasar lalu memasak di pagi-pagi buta.
Archie menoleh sekilas ke Alana dan mendengus geli, "Secepat itu dia tidur. Dasar kang tidur, tzk!" Archie lalu menekan dashboard dan saat ai sudah terhubung dengan Raymond ia langsung berkata, "Kirim secepatnya alamat rumahnya Alana Wilde! Ingat tidak pakai lama!"
"Siap bos"
Tiga menit kemudian Archie sudah menjalankan mobilnya menuruti petunjuk dari map yang dibagikan oleh Raymond.
Saat sudah sampai di depan rumahnya Alana, Archie menurunkan kepalanya sedikit untuk melihat rumah yang ditempati oleh Alana. Cukup luas dan gerbangnya tidak terlalu tinggi. Ada kotak surat di depan gerbang lalu tidak ada pos satpam? Tzk! Archie lalu melihat Alana yang masih tidur pulas. "Dasar ceroboh, tzk! Kenapa tidak ada satpam? Memang ada kamera CCTV di depan gerbang dan di pintu utama. Tapi, itu......itu....."
"Sudah sampai, ya?" Alana membuka mata lalu meregangkan tangannya sambil menguap.
"Rumahmu tidak dijaga satpam?"
Alana menoleh kaget ke Archie, "Hah?"
"Tidak ada satpam" Archie mengulurkan dagu ke rumah Alana.
Alana menoleh ke rumahnya lalu membuka pintu mobil sambil berkata, "Aku lebih percaya sama teknologi daripada satpam"
Archie bergegas menyusul langkah Alana lalu berkata di samping Alana saat gadis itu membuka pintu gerbang rumahnya. "Ya, kau benar. Satpam biasanya laki-laki dan dia orang yang tidak kamu kenal dengan baik. Dia bisa berbahaya"
"Hmm, tumben pinter" Sahut Alana ketus.
Archie mendengus geli, "Yeeaahhh, kalau soal debat jaksa adalah pemenangnya, Na, tapi soal logika dokter lah pemenangnya"
"Kau pikir aku tidak punya logika, hah?!" Alana melirik tajam ke Archie sambil membuka pintu utama. Tapi tangan Alana berhenti memasukkan kunci ke lubang kunci.
"Astaga!" Pekik Archie saat ia menemukan pintu rumah Alana sedikit terbuka.
"Sembunyi di belakangku, Na"
Alana langsung berlari ke belakang Archie lalu pria tampan itu mendorong pelan pintu rumahnya Alana sambil bergumam, "Apa Jessy Wilde punya kunci cadangan rumah kamu?"
"Tidak" Bisik Alana.
Archie melangkah pelan memasuki rumah Alana dengan kedua kepala tangan menjulur ke depan.
Alana menekan tombol saklar lalu blar! Cahaya lampu menerangi ruang tamu dan "Aaaaaaa!!!!!!" Alana berteriak panik sementara Archie refleks memutar badan untuk memeluk Alana.
Ada kaki panjang bercelana jins terjulur lurus dan kaku di ruang tamu dan saat Archie menoleh ke belakang sambil mengusap-usap punggung Alana agar gadis itu tenang, ia menemukan wajah laki-laki penuh lebam tak sadarkan diri atau sudah tidak bernyawa? Archie juga menemukan ada kertas di atas meja tamu dan ada suara langkah kaki dari arah dalam.
Sial! Kalau aku lari ke dalam, Alana bagaimana? Batin Archie dengan wajah panik.