NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Hening

Arcelia masih berdiri di balkon kamarnya, memikirkan simbol aneh yang sempat ia lihat. Simbol yang entah kenapa terasa… familiar.

Angin malam berembus pelan. Dan jauh di dalam rumah megah keluarga Virellia, sesuatu mulai bergerak. Bukan dalam bentuk mistis yang mencolok. Tapi dalam bentuk manusia.

_____________

Pagi hari,

Disisi Papa Alveron,

Suasana kantor pusat Virellia Group terlihat seperti biasa. Elegan. Tertata. Profesional. Papa Alveron berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang. Jas hitamnya rapi, auranya tegas dan berwibawa. Pria itu tidak pernah terlihat goyah.

Di ruangan Papa Alveron,

Di atas meja, laporan proyek strategis perusahaan terbuka. Proyek yang belakangan ini terasa… terlalu mudah disetujui oleh pihak luar.

Pintu ruang kerja diketuk pelan.

“Masuk”

Masuklah seorang wanita, wanita itu melangkah dengan tenang. Anggun, dewasa, dan profesional. Memakai gaun kerja berwarna navy, rambut tertata rapi, tatapan tegas namun hangat.

Eveline Mahardika

Eveline adalah asisten Papa Alveron yang baru.

“Selamat pagi, Pak Al.”

Nada suaranya profesional. Tidak dibuat-buat. Tidak genit. Tidak mencari perhatian.

“Pagi, Eve” jawab Papa Alveron

“Pak Al, ini adalah revisi kontrak yang sudah saya periksa. Ada dua poin yang janggal.”

Ia mendekat, meletakkan dokumen. Gerakannya elegan, wajar, penuh profesionalisme. Tidak ada sentuhan berlebihan. Tidak ada bahasa tubuh ambigu.

Hanya fokus.

Papa Alveron mengangguk pelan. “Terima kasih, Eveline.”

Wanita itu tersenyum tipis. “Sama-sama Pak. Saya di sini bukan hanya sebagai asisten, Pak. Kalau ada yang terasa tidak beres… kita semua bisa hadapi bersama.”

Dan itu tulus.

Ia memang ada untuk bekerja. Dan Papa Alveron menghargai itu.

“Dan satu lagi Pak Al, Kita sedang diawasi,” ucap Eveline pelan

Papa Alveron menatapnya. “Kau juga merasakannya?”

“Insting saya jarang salah Pak.”

Mereka saling memahami. Tanpa drama.

Namun, sebelum mereka membahas lebih jauh lagi tentang masalah tersebut,

Tok tok tok

Suara pintu di ketuk dari luar

“Masuk”

Pintu kembali terbuka.

Karyawan baru berdiri di sana. Wajahnya terlihat polos, riasan tipis, rambut panjang lurus, senyum malu-malu, mata besar seolah selalu terkejut oleh dunia.

Claudia.

“Maaf, Pak… ini saya bawa kopi pesanan Bapak.”

Suaranya lembut. Terlalu lembut.

Ia berjalan mendekat, sedikit membungkuk saat meletakkan cangkir. Sengaja memperlihatkan sisi manisnya. Gerakan kecil yang seolah tak disengaja… namun terlalu terlatih untuk sekadar kebetulan.

Papa Alveron hanya tersenyum tipis. “Terima kasih, Claudia. Kamu bisa kembali sekarang.”

“Baik Pak, saya permisi” ucap Claudia sambil menatapnya sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu pergi.

Setelah Claudia pergi, Eveline menutup map pelan.

“Pak, mohon maaf saya tidak ingin berprasangka. Tapi karyawan baru itu terlalu sering berada di sekitar ruangan Anda.”

Papa Alveron tidak menjawab. Tapi sorot matanya berubah.

Ia bukan pria yang mudah tergoda. Dan ia juga bukan pria yang tidak sadar sedang didekati.

Sore Hari,

Sebuah Pertemuan yang “Tidak Sengaja”

Di sebuah kafe eksklusif, Papa Alveron duduk sendirian menunggu klien.

Seorang wanita berjalan masuk.

Gaun satin warna emerald membalut tubuhnya dengan elegan. Rambut bergelombang jatuh natural di punggungnya. Wangi parfumnya lembut namun menggoda.

Ia tampak seperti wanita kelas atas yang tahu bagaimana membawa diri.

Dan “tanpa sengaja”, tasnya terjatuh tepat di dekat meja Papa Alveron.

“Oh… astaga. Maaf, saya ceroboh sekali.”

Papa Alveron refleks membantu mengambilkan tasnya. Tatapan mereka bertemu.

Wanita itu tersenyum pelan. “Terima kasih. Dunia masih punya pria gentleman rupanya.” Nada bicaranya lembut, tapi penuh kendali.

Ia tidak terlihat murahan. Ia terlihat… tertarik. Dan saat ia pergi, pandangannya menoleh sekali lagi. Seperti memastikan ia berhasil meninggalkan kesan.

Papa Alveron mengernyit tipis. Instingnya tidak pernah salah. Pertemuan itu terlalu… rapi.

Di Tempat Lain

Sementara itu, di sebuah bar eksklusif di pusat kota, lampu temaram. Musik pelan. Gelas kristal beradu. Seorang wanita duduk sendirian di kursi tinggi.

Gaun satin emerald membalut tubuhnya dengan elegan. Rambut panjang bergelombang jatuh alami di bahunya. Bibirnya terlukis senyum tipis, percaya diri.

Tatapannya tajam. Ia bukan tipe wanita polos... Ia memilih target. Dan malam itu… pikirannya masih dipenuhi pria yang tak sengaja ia tabrak di kafe sore tadi.

Iya wanita itu adalah wanita yang tadi bertabrakan dengan Papa Alveron. Dia langsung mencari tahu siapa yang dia tabrak.

Alveron Arcelia.

Ia menyentuh bibir gelasnya pelan.

“Menarik…”

Obsesi bisa lahir hanya dari satu pertemuan. Dan ia tipe yang tidak suka kalah.

Malam harinya,

Di rumah, Mama Mirella sudah menunggu. Lampu ruang keluarga redup. Hanya mereka berdua.

“Kamu pulang lebih malam Pa,” ucap Mama Mirella pelan.

“Banyak hal yang harus aku dipastikan Sayang, maaf ya.”

Ia duduk di sebelah istrinya. Tidak ada jarak. Tidak ada dingin. Mama Mirella menyentuh tangan suaminya.

“Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu Pa.”

Papa Alveron menatap istrinya. “Ada orang yang mulai bermain di sekitar kita.”

Mama Mirella terdiam.

Namun ia tidak cemburu. Tidak curiga.

Ia percaya. Dan kepercayaan itu membuat Papa Alveron merasa lebih kuat dari godaan mana pun.

Ia menggenggam tangan Mama Mirella.

“Kita tetap satu tim kan Sayang.”

Mama Mirella tersenyum. “Selalu Pa.”

Ia menarik Mama Mirella ke dalam pelukan pelan.

Hening.

Hangat.

Di luar sana mungkin banyak wanita mencoba masuk. Tapi rumah ini masih utuh. Untuk sekarang.

Namun mereka tidak tahu… Badai sudah mulai disiapkan. Dan kali ini, bukan hanya untuk Papa Alveron saja.

Sisi Bang Kaiven

Di sisi lain kota,

Di Sisi Kaiven

Di parkiran kampus malam itu, Bang Kaiven berdiri dengan rahang mengeras. Sahabat lamanya, Dario, menatapnya dengan wajah bersalah.

“Gue nggak punya pilihan, Kai. Proyek itu terlalu besar.”

“Kau jual ide gue ke kompetitor.”

“Itu bisnis.”

Bang Kaiven tertawa pelan. Dingin.

“Ternyata kita beda definisi soal loyalitas.”

Setelah mengatakan itu, Bang Kaiven menuju ke parkiran gedung kampus dan Dario lun juga pergi. Saat sampai di parkiran, ada seorang wanita yang berjalan mendekatinya.

Wajahnya lembut. Sorot matanya hangat. Pakaiannya sederhana namun anggun.

“Aku dengar tentang proyekmu,” katanya pelan.

Bang Kaiven menoleh. “Kau siapa?”

Wanita itu tersenyum tipis. “Seseorang yang ingin berada di pihakmu.”

Terdengar tulus. Namun saat Bang Kaiven lengah, senyumnya berubah sepersekian detik.

Ia bukan gadis polos, ia pengamat. Dan mungkin… pemain.

Di sebuah ruangan gelap,

Seseorang duduk membelakangi jendela besar. Beberapa foto terpajang di meja.

Foto Papa Alveron.

Foto Bang Kaiven.

Foto Arcelia.

Suara Pria terdengar pelan. “Mulai perlahan. Jangan terburu-buru.”

Bayangan itu tersenyum tipis.

Permainan baru saja dimulai. Dan keluarga Virellia belum menyadari, Mereka sedang dikepung dengan cara yang sangat halus.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!