NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#26

“Gak jelas!”

Kini giliran Ayunda yang marah pada Elang.

“Aku tahu mas marah karena masalah pindah asrama, terus mas balas dengan sikap kayak tadi? Kelewatan tau mas.” Ayunda menyilangkan kedua tangan nya di dada.

“Maaf, tadi mas niatnya cuma iseng aja karena dipikir kan dia mau ketemu temen nya. Mas juga gak tau dia akan selama itu sama kita. Orang mas cuma basa basi.”

“Mas gak ngerti.” Ayunda mulai bergetar saat bicara. Matanya mulai nanar. Melihat hal itu, elang merasa sangat bersalah pada Ayunda.

“Dek, mas minta maaf.”

“Susah banget aku pengen lupain dia, kenapa harus ketemu lagi, ketemu lagi. Hati aku tuh sakit, aku tuh kayak sesek nafas tau gak? Satu sisi aku benci sama dia, benci sama keluarganya, tapi di sisi lain perasaan aku sama dia tuh gak berubah sama sekali. Aku masih cinta dan suka sama dia. Isi kepala dan hati aku perang. Aku marah, aku kesel, tapi aku …. Aku juga sayang sama dia.”

Air mata ayunda tidak mampu dibendung lagi.

“Dek, maaf.” Elang berusaha meraih tangan ayunda, namun gadis itu pergi meninggalkan Elang.

“Gue aja.” Alex melarang Elang saat hendak mengejar Ayunda.

Gadis itu berjalan menyusuri trotoar kota yang selalu saja ramai. Sementara Alex mengikuti dari belakang untuk memastikan agar Ayunda tetap aman.

Entah sudah berapa jauh mereka meninggalkan tempat makan tadi. Bahkan Alex merasa sudah lelah.

“Sendirian aja, Neng. Gabung sama abang yuk.”

Bugh!

Ayunda yang takut karena digoda oleh pengamen, dia terperanjat karena terkejut tiba-tiba Alex menonjok pengamen tersebut.

“Berani ya lo godain dia.”

“A-ampun, Bang. Ampun.” Pengamen itu ketakutan saat Alex dengan sangar nya menarik baju orang tersebut. Bahkan beberapa orang mulai berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ada juga yang berusaha melerai.

“Kak, udah. Aku takut.”

“Kurang ajar lo! Sini gue habisi lo sekalian.”

“Pak, udah, Pak.” Orang-orang menarik tubuh Alex untuk menjauh dari pengamen yang kurus itu. Namun Alex masih tetap berusaha untuk menarik pria malang tersebut.

“Kak, udah.” Ayunda berusaha mendorong tubuh Alex agar menjauh.

Alex terus meracau, memaki laki-laki itu.

“Mas, maaf ya. Kakak saya emang emosian. Tolong terima ini untuk berobat. Mas pergi sekarang, nanti dia tambah marah.”

Pengamen itu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah lalu segera pergi.

Barulah Alex mulai reda saat pengamen itu benar-benar hilang dari pandangannya.

“Kak, jangan begini aku takut.”

“Kamu gak apa-apa kan? Apa dia menyentuhmu?” Alex memindai sekujur tubuh Ayunda.

“Aku gak apa-apa.”

Ayunda juga meminta maaf pada orang-orang sekitar dan juga berterimakasih karena sudah membantu.

“Maaf, aku tadi emosi melihat dia menatap kamu.”

“Iya, tapi jangan begini. Aku takut kalau tiba-tiba dia ada temen nya terus ngeroyok kakak, gimana?”

Alex tersenyum. “Sabuk aku hitam.”

“Iya, tetep aja kalau dikeroyok mah bisa babak belur. Coba lihat, tangan kakak sakit gak tadi habis nonjok orang itu?”

Ayunda meraih tangan Alex. Dan benar saja, punggung tangan dan ruas jarinya merah. Tidak ada yang bisa dilakukan ayunda selain mengusap dan meniup tangan Alex.

Lagi-lagi tubuh Alex bergerak mendahului otak dan hatinya. Dia mengecup kening Ayunda.

Mata ayunda terbuka lebar, dia begitu kaget dengan apa yang dilakukan teman Elang tersebut.

Sadar dengan apa yang dilakukannya diluar kendali Alex sendiri, Alex hanya bisa diam. Dia ingin minta maaf tapi otaknya berkata lain.

“Aku tidak akan minta maaf kali ini.”

Ayunda menengadahkan wajahnya untuk bisa menatap Alex.

“Entahlah, tapi tubuhku selalu bergerak lebih cepat dari logika dan hatiku. Rasanya, aku selalu ingin melakukan hal yang tidak pernah aku rasakan pada wanita lain.”

“Kakak suka ya sama aku?”

Reaksi Ayunda benar-benar diluar prediksi Alex. Dia pikir Ayunda akan marah atau bahkan menamparnya. Tapi nyatanya?

“Ya.” Dengan tegas Alex menjawab meski sebenarnya dia masih ragu dengan perasaan nya sendiri.

“Tapi kakak kan tahu dan mendengar dengan jelas apa yang aku katakan tadi pada Mas Elang.”

“Hmmm.”

“Jangan suka sama aku, Kak. Kakak akan sakit hati nantinya.”

“Pelan-pelan saja. Aku tidak melarang kamu untuk berhenti suka sama dia. Jalani saja seperti air mengalir. Kita ikuti ke mana waktu akan membawa perjalanan kita.”

“Jadi, malam ini aku di tembak?”

Alex tertawa melihat raut wajah Ayunda yang begitu polos melayangkan pertanya yang jawabannya sudah jelas.

“Ayo kita pulang.” Alex menggenggam tangan Ayunda. Mereka kembali berjalan menuju tempat pertemuannya dengan sopir yang akan menjemput.

Di kamar Ayunda.

Melihat tangan nya, lalu mengusap kening, lalu memegang bibirnya.

Berkali-kali ayunda melakukan hal itu. Dia masih heran dengan apa yang terjadi padanya.

“Kenapa kak Alex memborong semuanya? Kenapa juga harus dia? Itu kan ciuman pertama aku. Lah dianya malah udah nikah. Bener-bener gak adil. Zayan, maaf ya bibir aku keburu dicium kak Alex.”

Gadis itu terlihat gelisah, dia duduk depan cermin lalu melakukan gerakan yang sama seperti di awal. Kembali lagi merebahkan tubuhnya di atas kasur. Berjalan menuju balkon untuk memandang langit yang bintang nya hanya ada beberapa biji.

“Tau ah, malah gak bisa tidur jadinya.”

Kata orang jika sudah tidur, minum susu hangat akan sangat membantu. Ayunda turun ke dapur untuk menyeduh susu.

Di pertengahan anak tangga saat dia turun, ayunda melihat elang yang tertidur di atas sofa depan televisi. Matanya tidak pernah beralih menata pria itu, langkahnya melambat.

Ayunda berdiri tidak jauh dari Alex yang sedang tertidur itu.

Jika dilihat-lihat, dia memang tampan. Tubuhnya bagus, baik, mapan juga. Tidak punya kekurangan sama sekali.

“Dek, ngapain?” Tanya Elang yang kebetulan keluar juga dari kamar.

Ayunda menggelengkan kepala sambil terus menatap Alex.

“Kenapa? Suka kamu sama dia? Dia emang ganteng sih, mas akui.”

“Hmm. Dia memang ganteng banget. Wajahnya nyari sempurna.”

“Hahaha. Makanya buka mata kamu lebar-lebar. Di dunia ini yang ganteng bukan cuma Zayan.”

“Emang boleh ya kalau aku suka sama kak Alex?”

“Jangan!” Jawab Elang tegas.

“Ih, kenapa?” Tanya Ayunda heran. Di saat itu juga Ayunda baru bisa mengalihkan pandangan nya.

“Dia udah tua. Sama mas aja tua dia, gimana sama kamu. Duda pula.”

“Masalahnya apa? Kan kalau lebih tua, lebih dewasa, lebih bisa membimbing aku. Lebih ngemong.”

“Ngemong, hahaha. Ngemong dia bilang. Mau pacaran apa mau jadi pengasuh?”

“Ya maksdunya kalau lebih dewasa kan lebih bisa sabar dan lebih bisa membawa aku ke jalan yang benar.”

Elang tertawa. Mereka berdua pergi ke dapur sambil berdebat masalah umur dan kedewasaan seseorang.

Alex tersenyum tipis.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!