NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Jarum di Balik Selimut

Malam di Rumah Sakit Medika Adiwangsa terasa lebih sepi dari biasanya. Banyak lampu koridor yang mati. Pak Baskara berdiri di salah satu sudut yang gelap. Dengan setelan hitamnya, dia hampir tidak terlihat.

Pukul dua pagi. Waktu ketika seisi rumah sakit sudah tertidur, meninggalkan koridor tanpa penjagaan.

​​"Tim satu, posisi?" bisik Pak Baskara melalui earpiece kecilnya.

​​"Sudah di depan pintu darurat, Pak. Jalur CCTV sudah dialihkan untuk sepuluh menit ke depan," jawab sebuah suara di seberang.

Pak Baskara melangkah tenang. Tak ada kesan dia sedang menyusup; pembawaannya terlalu berwibawa, lebih mirip orang penting yang datang menjenguk keluarga. Namun, tangannya memegang tas kecil berisi peralatan medis steril dan botol sampel kosong.

Begitu sampai di depan ruang ICU, dua orang penjaga bertubuh tegap. Orang suruhan Hendrawan mulai kehilangan kesadaran karena kantuk yang tak tertahan. Dengan gerakan cepat, seorang perawat yang sudah diatur oleh Pak Baskara datang membawa nampan makanan, mengalihkan perhatian mereka sejenak. Itulah celah yang dibutuhkan Pak Baskara untuk menyelinap masuk.

Klik. Pintu ICU tertutup rapat.

Aroma antiseptik yang tajam tercium di hidung Pak Baskara. Ia segera mendekati tempat tidur Pak Adiwangsa. Pria tua itu terlihat sedang tidur, namun napasnya terdengar berat, tidak seperti orang yang sedang menjalani pemulihan normal.

Mata Pak Baskara tertuju pada botol infus yang menggantung. Cairan kuning pucat itu masih ada di sana, mengalir setetes demi setetes ke dalam pembuluh darah Pak Adiwangsa.

​​"Bertahanlah, Pak," bisik Pak Baskara.

Dengan tangan yang sangat stabil, ia menusukkan jarum suntik ke kantong infus tersebut, memindahkannya ke dalam botol kecil yang sudah ia siapkan. Setelah dirasa cukup, ia segera menutup botol itu dan memasukkannya ke dalam saku jas. Ia juga mengambil sisa botol obat yang sempat dibuang Dokter Gunawan di tempat sampah medis. Sebuah kecerobohan yang akan menjadi senjata bagi Aruna.

Baru saja ia hendak melangkah keluar, pintu ICU terbuka sedikit. Pak Baskara segera bersembunyi di dalam kamar mandi, menutup pintunya rapat-rapat tanpa suara.

​"Bagaimana kondisinya?" Suara itu berat dan dingin. Suara Hendrawan.

​"Masih stabil, Pak. Formula itu bekerja lambat sesuai permintaan Anda. Sarafnya akan mati perlahan tanpa meninggalkan jejak racun jika otopsi dilakukan secara standar," jawab suara Dokter Gunawan yang terdengar sangat berbeda dari saat ia bicara dengan Aruna. Tidak ada nada ramah sama sekali.

Pak Baskara menahan napas. Tangannya mengepal di balik pintu. Ia merekam seluruh pembicaraan itu menggunakan ponselnya.

"Bagus. Begitu dia tidak bernapas lagi, Aruna akan sangat hancur sehingga dia akan menyerahkan seluruh sahamnya padaku demi 'ketenangan' ayahnya. Terus pantau dosisnya," perintah Hendrawan sebelum akhirnya mereka keluar kembali.

Keesokan paginya, Aruna menerima paket cokelat kecil. Isinya sebuah flashdisk dan selembar hasil laboratorium dari orang-orang kepercayaan Pak Baskara.

Aruna membaca baris demi baris hasil lab tersebut dengan tangan gemetar.

Hasil Analisis Sampel X:

Komposisi: Succinylcholine dosis rendah dikombinasikan dengan pengencer darah ilegal.

Efek: Melumpuhkan otot secara permanen jika digunakan jangka panjang, berisiko gagal napas mendadak.

Aruna terlihat pucat, namun matanya menatap dingin. Itu bukan vitamin. Itu adalah racun kelumpuhan yang didesain untuk membunuh ayahnya secara perlahan tanpa terdeteksi sebagai pembunuhan.

Aruna memasang flashdisk itu ke laptopnya. Rekaman suara Hendrawan dan Dokter Gunawan terdengar jelas.

​"Sarafnya akan mati perlahan... Aruna akan sangat hancur..."

​​"Kalian meremehkanku," gumam Aruna pelan.

Tiba-tiba, kunci kristal di leher Aruna mulai memancarkan cahaya biru kehijauan yang muncul dari dalam batu. Rasa hangat mulai menyebar ke dadanya. Kabut hitam yang selama ini menutup hatinya mulai sirna oleh satu tujuan jelas: Melindungi Ayahnya.

Pintu menuju Hutan Sanubari yang selama ini terkunci oleh dendam, kini perlahan mulai terbuka karena niat tulus untuk menyelamatkan nyawa. Aruna memejamkan mata. Kali ini, saat ia memutar kunci itu, keheningan di sekitarnya perlahan hilang. Ia mendengar suara air terjun yang deras dan terasa murni.

"Aku kembali, Ibu," bisik Aruna. "Dan kali ini, aku akan membawa pembalasan yang sesungguhnya."

***

Begitu membuka mata, Aruna tidak lagi menghirup udara apartemen yang pengap. Paru-parunya dipenuhi oksigen murni yang berbau embun dan bunga malam. Langit Hutan Sanubari kembali berwarna ungu keemasan, namun kali ini aliran sungai di bawah kakinya mengalir lebih deras, seolah mengikuti detak jantung Aruna yang menuntut pembalasan.

Aruna berlari menuju pohon perak raksasa. Di sana, ibunya sudah menunggu, namun kali ini bayangannya terlihat lebih nyata.

​"Ibu, aku tidak punya banyak waktu," kata Aruna sambil berusaha mengatur napasnya. "Paman Hendrawan... dia memberikan racun pada Ayah. Aku harus menyelamatkannya, tapi aku juga ingin dia merasakan apa yang Ayah rasakan."

Ibunya mendekat, jemarinya yang lembut menyentuh kening Aruna. "Hutan ini memberimu kehidupan, Aruna. Tapi untuk melawan racun mereka, kamu harus membuat penawar yang bukan hanya menyembuhkan, tapi juga membalikkan semuanya."

Ibunya menunjuk ke arah akar pohon yang terendam dalam kolam air terjun pemurni. "Ambillah Sari Akar Karma. Jika dicampurkan dengan air terjun ini, ia akan menjadi penawar bagi ayahmu. Namun, jika kamu meneteskan sisa racun itu ke dalam akar ini, ia akan menciptakan Gema Rasa Sakit."

Aruna mengangguk paham. Ia segera mengambil botol kecil berisi sisa racun dari saku jaketnya. Dengan tangan gemetar, ia meneteskan satu tetes cairan kuning itu ke salah satu akar pohon yang hitam.

Tiba-tiba, akar itu bergetar. Hutan Sanubari mengirimkan gelombang suara yang rendah. Cahaya ungu gelap tumpah keluar, membentuk sebuah kristal kecil berwarna hitam gelap di telapak tangan Aruna.

"Ini adalah Gema Rasa Sakit," suara ibunya bergema. "Siapa pun yang mencium aroma kristal ini saat ia sedang berbohong, sarafnya akan merasakan sensasi terbakar yang sama dengan apa yang ia berikan pada orang lain. Tidak akan membunuh, tapi akan membuatnya mengakui segalanya karena rasa sakit yang tak tertahankan."

Aruna mengepalkan tangannya. Di tangan kanan ia memegang botol penawar untuk ayahnya, dan di tangan kiri ia memegang kristal pembalasan untuk pamannya.

​"Terima kasih, Ibu. Kali ini aku tidak akan membiarkan dendam menutup pintuku lagi. Aku adalah penjaga hutan ini, dan aku adalah pelindung Adiwangsa," tegas Aruna.

Cahaya terang kembali menyilaukan mata Aruna.

Aruna bangun dari tidurnya di sofa apartemennya. Cahaya matahari pagi mulai merambat di dinding. Di tangannya, botol penawar dan kristal hitam itu benar-benar ada. Ini bukan sekadar mimpi. Ia segera menghubungi Pak Baskara.

​"Pak Baskara, siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang. Saya punya 'vitamin' baru untuk Ayah, dan sebuah kejutan kecil untuk Paman Hendrawan."

Suara Aruna terdengar sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih mengerikan daripada saat ia mengamuk beberapa hari lalu. Ia berdiri, mengenakan blazer hitamnya, dan menatap pantulan dirinya di cermin.

​"Permainan dimulai, Paman," bisiknya pelan.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!