Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Masuk Angin
Matahari mulai cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela kaca yang terbuka.
Gus Hafiz menutup kitab di tanganya perlahan. Pandangannya lurus keara santrinya.
"Bak, kita cukupkan sampai di sini," ucapnya tenang. Lalu pandangannya menyapu seisi kelas, dan berhenti tepat pada satu bangku.
"Anisa Fadillah."
Nama itu meluncur jelas, membuat Anisa tersentak. Pikirannya yang sejak tadi melayang entah kemana kini kembali membeku.
"I... iya...Gus, saya," jawabnya terbata.
"Coba jelaskan kembali, apa yang saya sampaikan," kata Gus Hafiz.
"Apa hikmah dari zikir yang tadi saya terangkan?"
Anisa terdiam.
Kepalanya kosong.
Kalimat-kalimat tadi seperti lewat begitu saja, tanpa sempat singgah. Anisa membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Matanya mencari jawaban, ujung sepatunya ia tendang kan ke kaki Nabila, Nabila menoleh. Namun tak berani memberitahunya, karena ia tahu Gus Hafiz tak akan mentolerir jika ketahuan dirinya memberitahu Anisa.
"Bil...Bila..." bisik Anisa.
"Anisa..." Panggil Gus Hafiz sekali lagi.
Nada suaranya kali ini lebih tegas.
Anisa mencengkram ujung meja.
Anisa mendadak menggeleng.
Dan kelas mendadak sunyi.
"Maaf Gus... saya tidak bisa jawab."
Sahutnya jujur setengah putus asa.
Ada desah tipis dari beberapa santri.
Wajah Gus Hafiz tak berubah, tapi sotoy matanya tajam, bukan marah melainkan kecewa yang tertahan.
"Pelajaran bukan untuk dilamunkan," ujarnya tegas.
"Di kelas saya, siapa pun yang tidak memperhatikan, tetap harus bertanggung jawab."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
"Sebagai konsekuensi, kamu saya beri tugas tambahan,"
Anisa menelan ludah.
"Buat ringkasan materi hari ini dan hafalkan zikir harian," kata Gus Hafiz.
"dan lengkap dengan artinya. Setor minggu depan."
Sontak Anisa mendongak.
"Apa..." ucapnya reflek.
Anisa berdiri memasang wajah protes.
"Ngapunten Gus, boleh ganti hukuman yang lain, jangan menghafal."
Kelas senyap, mereka menatap Gus Hafiz dan Anisa bergantian.
"Misalnya...?" tanya Gus Hafiz, alisnya terangkat tipis.
Anisa mengangkat napas dalam.
Saya nyuci WC saja, seminggu nggih, Gus."
Suara Anisa terdengar putus asa. Karena hal yang tidak ia suka itu menghafal, sungguh membosankan.
Gus Hafiz menyipit, mempertajam pandangan. Dan beberapa santri sampai menahan napas, karena ulah Anisa.
Gus Hafiz menatap Anisa lama, bahkan terlalu lama.
"Nggak bisa." ujarnya tegas.
"Hukuman bukan untuk menghindari sesuatu yang tidak kamu suka." nada suaranya tenang, tapi tak memberi ruang tawar menawar.
"Duduk," perintahnya singkat.
Anisa terdiam rahangnya mengeras menahan kesal. Ia kembali duduk perlahan, menunduk dengan ngedumel dalam hati.
***
Sore di pondok pesantren turun perlahan.
Membawa cahaya jingga yang jatuh miring ke jendela kamar Anisa.
Remaja itu berdiri di sana, bersandar pada kusen, menatap halaman tanpa benar-benar melihat, apa pun. Pikirannya berkelana terlalu jauh. Akhir-akhir ini ia sering melamun, tenggelam dalam bayang-bayang pertanyaan, yang tak kunjung menemukan jawaban.
Bagaimana caranya ia bisa lepas dari aturan pondok?
Bagaimana caranya ia bisa kabur...dari Gus Hafiz, manusia yang Anisa anggap paling menyebalkan.
Satu nama itu, membuat dadanya sesak. Bukan karena takut, lebih ke perasaan asing yang tak ia mengerti.
Saat Anisa masih tenggelam dalam lamunannya, langkah pelan terdengar dari arah samping kamar. Gus Hafiz lewat, berhenti tepat di depan kolam kecil, berisi ikan hias koleksinya, yang terletak persis di bawah jendela kamarnya.
Terlihat Gus Hafiz menggulung lengan kemejanya, lalu berjongkok, mengontrol kolam dengan jaring kecil di tangan. Menyerok daun kecil yang jatuh ngambang di kolam.
Gus Hafiz mengangkat wajahnya, tatapannya naik, tak sengaja menemukan Anisa di balik jendela.
Berapa detik berlalu dalam diam.
Lalu Gus Hafiz dengan suara tenangnya membuka bibirnya.
"Hafalkan zikirnya." ucap Gus Hafiz.
Ia kembali menunduk menyerok daun daun yang gugur.
Anisa membeku. Tak ada jawaban keluar dari bibir Anisa, yang ada rasa kesal yang tak bisa ia jelaskan. Tanpa berkata apa pun, Anisa langsung meraih daun jendela dan menutupnya dengan gerakan cepat.
cek lek.
Suara kayu bertemu kayu itu terdengar tegas.
Di luar Gus Hafiz berhenti sejenak, tangannya masih memegang serok, matanya tertuju pada jendela yang kini tertutup rapat.
Gus Hafiz menghela napas pelan...
lalu melanjutkan pekerjaannya. Gus Hafiz paham, ada perlawanan yang tak diucapkan, dari cara Anisa menutup jendela.
***
Suasana ndalem lebih sunyi dari biasanya.
Umi Laila dan kiai Rasid sejak siang tadi berangkat menghadiri pertemuan rutin para pimpinan pondok, se-provinsi.
Di ndalem, hanya tinggal Gus Hafiz dan anisa saja.
Anisa duduk menekuk lutut di atas ranjang, Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu.
"Ya... sebentar." sahutnya bergegas merapikan jilbabnya.
Anisa membuka pintu pelan, terlihat laki-laki berdiri membelakangi pintu.
"Iya Gus, ada apa?" tanya Anisa dengan wajah tertunduk.
"Bisa tolong buatkan saya teh?"
Anisa terdiam sesaat, lalu mengangguk.
"Nggih Gus." jawabnya cepat. Bahkan terlalu cepat.
Anisa menutup pintu, dan berjalan menuju dapur. Gus Hafiz duduk di kursi meja makan, menunggu Anisa membawa teh hangat.
"Tehnya Gus." ucap Anisa sambil mundur satu langkah. Anisa tak sengaja menangka wajah Gus Hafiz yang pucat. Namun Anisa enggan untuk bertanya.
"Terima kasih."
"Nggih" sahut Anisa singkat.
Dan Anisa dengan cepat kembali ke kamar.
Gus Hafiz mulai meminta kepalanya yang semakin berat.
Setelah tehnya Ia habiskan, Gus Hafiz kembali ke kamarnya.
Tepat tengah malam, ponsel Anisa berdering, ia terlonjak, tak pernah-pernahnya ponselnya berbunyi tengah malam.
Umi Laila.
Anisa menelan ludah, satu nama itu selalu membuat Anisa gemetaran.
"Assalamu'alaikum, Umi."
"Wa'alaikumussalam, Nduk." Suara Umi Laila terdengar lembut tapi ada kekhawatiran.
"Umi dapat kabar, Nduk. Masku ndak enak badan, mungkin masuk angin."
Anisa langsung duduk.
"Oh...iya Umi, terus Nisa harus gimana, Um? "
Tanya Anisa dengan polosnya.
"Tolong kamu lihat ke kamarnya sebentar, ya Nduk." pinta Umi Laila.
"Umi dan Romo masih di luar kota. Umi mau kamu bantu masmu."
Anisa terdiam sejenak.
"Nggih, Mi... insya Allah."
"Ya wis, gitu aja, Nduk."
Umi Laila menutup sambungan teleponnya.
Anisa menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya bangkit. Dengan langkah ragu, ia keluar kamar dan berhenti di depan pintu kamar Gus Hafiz.
Ia menarik napas dalam...
Lalu mengetuk pintu.
Tak ada jawaban. Anisa pun memutuskan mendorong pintu perlahan.
Lampu kamar redup, Gus Hafiz berbaring dengan posisi miring ke kanan.
Dahinya sedikit berkerut dengan selimut sampai kedadanya.
Anisa melangkah masuk.
Gus Hafiz yang setengah terpejam terkejut dan langsung duduk.
"Kamu... ada apa?" suara Gus Hafiz terdengar serak.
Anisa mendekat beberapa langkah ke sisi ranjang Gus Hafiz.
"Kata Umi, Gus masuk angin," ucapnya canggu.
"Umi minta Nisa, bantu Gus."
Terlihat jelas di wajah Anisa keraguan, saat bertanus.
"Biasanya kalau masuk angin di kasih apa?"
Gus Hafiz menatap Anisa ragu. Tapi tetap ia sampaikan.
"Dikerok." Jawab Gus Hafiz singkat.
Anisa mendelik, tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Kalau ndak bisa ya ndak papa, nanti saya bisa panggil Pak Solikin saja." sambungnya.
Anisa terdiam, pesan Umi Laila kembali terngiang, di kepalanya.
Anisa meremas roknya lalu mengangkat wajahnya.
"Ndak apa-apa Gus, saya coba"
Gus Hafiz menatapnya sesaat memastikan remaja dihadapannya.