Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Paparazi
“Glenn…” Sebut Elaine tertegun saat ia tiba di apartemennya. Sosok pria itu tengah berhadapan dengan sebuah laptop di dalam kamar tidurnya.
Saat Elaine tiba di apartemen, ia melihat sebias cahaya keluar dari celah pintu kamar tidur Glenn.
“Kau sudah pulang?” Sapa Glenn dan menenggak birnya.
“Kenapa telpon dari kakakmu tidak diangkat?” Tanyanya pelan. “Kau tahu dia cemas memikirkanmu.”
“Kapan kau tiba?” Tanya Elaine mengalihkan pembicaraan.
“Semalam.”
“Apa Damian yang menyuruhmu untuk datang menemui ku?”
“Ya…” Glenn melangkah mendekati adik kecilnya itu, “Kau kemana? Dengan siapa?” Tanya Glenn langsung.
“Itu pertanyaan dari Damian.” Sahut Glenn lagi saat tak ia temukan jawaban keluar dari Elaine.
“Aku berlibur ke Krestovya bersama teman ku.”
Elaine beranjak keluar dari kamar tidur Glenn menuju dapur. Kegugupannya membuat dirinya haus. Ia berharap tidak ada hal lain mengenai dirinya untuk dibahas.
“Teman? Siapa dia? Apa aku mengenalnya?”
Hampir seluruh teman bahkan termasuk pria yang mendekati Elaine, Glenn mengenalnya. Elaine sejak kecil akan selalu terbuka padanya.
“Mungkin.” Jawab Elaine singkat, jawaban yang membuat dahi Glenn mengkerut seakan berpikir siapa kemungkinan orang tersebut.
“Laine…”
“Glenn aku lelah. Aku akan beristirahat sebentar.” Sela Elaine mengambil tasnya dan bergegas pamit menuju kamar tidurnya.
BIP BIP BIP
“Ya…”
“Dia sudah pulang? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Damian pada Glenn dari panggilan diponselnya.
“Dia baik-baik saja.”
“Kenapa dia tidak menghubungi ku?”
“Dia baru pulang dari Krestovya.” Ucap Glenn menoleh dan menatap pintu besar berwarna gelap. Tak ada bias cahaya dalam kamar itu, “Dia tidur.”
“Krestovya?”
“Hanya berlibur dengan temannya seperti waktu di Malcorra.”
“Baiklah. Jika dia sudah bangun minta untuk menghubungi ku.”
Begitulah Damian. Sejak meninggalnya sang Ibu, ia semakin protektif menjaga adiknya. Usia mereka terpaut cukup jauh. Sehingga Damian masih menganggap Elaine adalah anak kecil. Dan akan selalu menjadi adik kecil baginya.
...****************...
“Apa kau yakin itu kakaknya?” Tanya Araya.
“Sepertinya begitu, tapi…” Math terdiam sejenak melihat beberapa lembaran photo yang dikirim oleh mata-mata yang ia sewa, mata-mata yang pada dasarnya ia seorang paparazi yang selalu mengintai Mathew juga.
Mathew menjanjikan bayaran berupa photo cardnya secara eksklusif untuk paparazi tersebut.
“Aku tidak merasa mereka mirip seperti saudara kandung pada umumnya.” Ujar Math.
“Aku juga merasa begitu. Apa menurutmu mereka sama seperti aku dan Lian?”
“Entahlah.”
Beberapa video bahkan mulai mereka putar. Video saat Elaine belanja bersama Glenn untuk mengisi kebutuhan dapur mereka dan hingga mengantar jemput Elaine kerumah sakit atau kampusnya, hal biasa yang akan dilakukan Glenn jika ia berada di Malice. Sudah tiga hari paparazi itu mengikuti Elaine kemanapun ia pergi.
“Cari tahu lebih detail tentang kakaknya itu, aku merasa dia menyukai perempuan itu bukan sebagai adik.” Sahut Araya.
Video itu terhenti. Meninggalkan momen Glenn mengelus rambut dan mendekap Elaine dengan tatapan penuh cinta di bandara. Glenn akan kembali ke Amber city.
“Baiklaaah…” Math menghela nafas panjang dan beranjak berdiri, “Aku akan pulang, pagi-pagi sekali aku harus terbang, ada pemotretan di luar negri. Mungkin tiga hari lagi aku akan kembali. Nanti aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu perkembangan selanjutnya.”
Araya melangkah mendekati Math, seorang artis papan atas. Tak kalah tampannya seperti Killian. Ia mencium lembut bibir pria itu, cukup lama. Math tidak mengelaknya, ia hanya shock tindakan Araya yang begitu tiba-tiba.
“Terimakasih Math.” Ucapnya, “Bermalamlah disini. Ini sudah larut.”
Math terdiam, otaknya sedang berpikir. Menunggu tindakan apalagi yang akan dilakukan oleh Araya.
“Selama ini kau begitu peduli padaku, bahkan ditengah jadwal yang begitu padat.” Araya memeluk hangat tubuh pria itu, “Kau tidak kekurangan apapun, apa yang kau inginkan?”
“Kau lebih tahu apa yang ku inginkan.” Jawab pelan Math.
Araya kembali mencium bibir pria itu. Dibalas dengan ciuman Math yang cukup liar. Hingga pria itu memberanikan diri menggendong Araya ke atas ranjangnya.
Ciuman liar itu semakin memanas. Bahkan Araya membuka pengikat tali pakaiannya, membuat degup jantung Math semakin cepat beradu.
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan.” Lembut Araya dan menjilat bibir merah pria itu.
Mendapatkan inisiatif lebih dulu dari Araya jelas Math tak akan menyiakannya. Malam itu ia bermalam dirumah Araya. Menikmati balasan atas perbuatannya selama ini. Melepaskan rindu yang akan ia lewati selama tiga hari tak bertemu nantinya.
Hentakan dan eluhan dari wanita itu mewarnai kamar tidurnya. Pria itu sendiri sudah menantikannya sejak lama, tak akan ia hentikan begitu saja permainan tubuh itu. Persetan dengan jadwal terbangnya dipagi buta ini. Dengan bermandikan peluh keringat ia menghujam tubuh Araya secara brutal.
“Aku… keluarkan dimana…?” Suara berat dan penuh hasrat itu bergumam ditengkuk leher Araya.
Araya tak menjawab. Ia menikmati hentakan permainan itu.
“Aya… aku akan keluar…” Lirih berat Math lagi dalam setiap hentakannya.
Araya melingkarkan kakinya pada kedua tubuh Math. Tak ingin ia menyudahi permainan ranjang itu.
Math semakin membenamkan tubuhnya pada dekapan Araya. Mengeluarkan hasrat nikmat tubuhnya yang menyatu dalam wanita itu. Mungkin tubuh itu menjadi milik Mathew seutuhnya, namun tidak dengan hati Araya.
Math merebahkan tubuhnya tepat disisi Araya.
“Kau melewatkan penerbangan mu.”
“Lebih baik. Daripada aku melewatkan malam ini tanpa mu.” Jawab Math.
Araya berdiri menyelimuti tubuhnya dengan sprei yang sudah berantakan akibat perbuatan panas mereka, “Aku akan mengantar mu.” Ujar Araya.
Tentu keluarga Vane mampu menyediakan akomodasi apapun itu. Pagi itu Araya bersama Math terbang keluar negeri dengan pesawat pribadi ayahnya. Rick Vane.