Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Jantung Melati berdetak lebih cepat. Bukan karena rahasianya terbongkar, tapi karena anak di hadapannya ternyata melihat… lebih dari yang ia kira.
“Mahen…” suaranya nyaris bergetar.
Anak itu menatap lurus. Tidak ada nada menuduh. Hanya fakta yang diucapkan polos.
“Aku tahu kok, Ma. Papa masih gengsi. Papa kalau lihat Mama itu suka beda. Tapi Papa pura-pura biasa aja.”
Melati terdiam. Wajahnya menghangat.
“Kok Mahen tahu?” tanyanya pelan.
Mahendra mengangkat bahu kecilnya. “Soalnya Papa kalau lihat Mama, tatapannya lama. Terus kalau Mama dekat, Papa suka salah tingkah. Kayak tadi sore.”
Melati langsung teringat kejadian di meja makan. Cokro yang hampir tersedak. Tatapan yang terlalu lama. Sentuhan singkat di punggungnya.
“Tapi Papa itu sayang,” lanjut Mahen pelan. “Cuma Papa kayak takut.”
Kalimat itu membuat Melati terdiam cukup lama, bahkan dirinya juga sempat merasakan hal itu, hanya saja ia takut berharap terlalu jauh. Takut hanya jadi pengganti, atau suatu hari nama “Rani” benar-benar kembali mengambil tempat.
“Mahen,” katanya lembut, “yang penting sekarang, Papa tetap Papa kamu. Dan Mama…” ia berhenti sepersekian detik, “…Mama akan tetap di sini. Selama kalian mau Mama.”
Mahendra langsung memeluknya lagi. Kali ini lebih erat, anak itu seolah tidak ingin wanita dihadapannya itu pergi.
“Aku mau,” bisiknya.
Air mata Melati akhirnya jatuh juga, pelan tanpa suara, ia sadar betul kehadirannya hanya sebagai ibu sambung, tapi kasih sayang yang ia curahkan tidak ada kebohongan di dalamnya.
"Makasih sudah menerima Mama apa adanya," ujar Melati pelan.
"Aku juga terima kasih banyak, karena Mama sudah ada di sini," sahut Mahendra pelan.
Sementara di luar kamar, tanpa mereka sadari, Cokro berdiri. Ia tidak berniat menguping. Tapi saat hendak mengetuk, ia mendengar potongan kalimat anaknya.
“Papa masih gengsi…”
Rahangnya mengeras, tapi hatinya melunak. Ia berdiri diam, mendengar suara Melati yang menenangkan. Tidak ada nada menuntut, bahkan suara keluhan pun tidak keluar sama sekali dari mulutnya. Perempuan itu tidak bertanya soal Rani, ia tidak memaksa dan tidak menyudutkan satu sama lain.
Dan hal itu membuat hati Mahendra kuat, tidak dendam meskipun masih menyimpan kekecewaan.
Melihat semua kejadian itu. Dada Cokro terasa sesak oleh sesuatu yang sulit ia namai. Ia laki-laki dewasa. Seharusnya tegas. Seharusnya tidak goyah.
"Seharusnya aku lebih berusaha seperti Melati," gumam Cokro.
Ia ingin mendekat, tapi gengsi terlalu menahannya. Ia takut jika langkahnya salah, Melati mengira ia hanya mencari pengganti. Ia takut jika terlalu cepat, ia dianggap belum selesai dengan masa lalu.
Padahal yang tidak ia sadari. Ia sudah lama selesai. Dan yang belum selesaihajya keberaniannya jujur pada Melati, jika perlahan hangat itu mulai terasa menjadi nyaman, dan rasa itu tidak pernah ia temukan ditempat manapun selain ini.
Cokro akhirnya berdeham pelan sebelum masuk, dan kedua orang itu sempat terkejut.
Mahendra langsung menoleh. “Papa?”
“Iya. Belum tidur?”
“Sudah mau,” jawab Mahen cepat.
Cokro melirik Melati. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Dan entah kenapa… kali ini tidak ada yang cepat-cepat memalingkan wajah.
Sunyi, melambat diantara keduanya, mereka masih terdiam meskipun dalam benak masing-masing tidak ada kecanggungan sama sekali, entah kenapa diam masih begitu betah dan bertahan.
“Papa cuma mau bilang,” Cokro membuka suara, sedikit kaku, “apa pun yang terjadi… Papa tidak akan pergi.”
Kalimat itu sederhana. Tapi berat. Mahendra tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Lalu anak itu benar-benar merebahkan tubuhnya, diatas ranjang, seliimut sudah membalut tubuhnya setengah dada, lampu sudah nyala temeran.
Lalu Melati berdiri hendak keluar kamar, namun saat melewati Cokro… langkah mereka hampir bersamaan. Bahu mereka bersentuhan tipis, entah sengaja atau tidak. Tapi cukup membuat aliran listrik kecil menjalar.
Cokro menahan napas. Wangi sabun yang sama seperti sore tadi masih samar tercium.
“Terima kasih,” ucap Cokro pelan, nyaris seperti bisikan.
“Untuk apa?” tanya Melati.
“Untuk… bertahan.”
Deg.
Melati menatapnya. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu di mata lelaki itu. Bukan hanya gengsi. Bukan hanya ragu.
Ada rasa. Yang belum berani diucapkan.
“Mas tidak perlu berterima kasih,” jawab Melati pelan. “Saya di sini bukan karena terpaksa.”
Kalimat itu seperti pukulan lembut di dada Cokro. Ia menelan ludah, gadis yang selama ini ia pikir tidak bisa mengimbangi justru datang menjelma sebagai perempuan yang berpikir dewasa dengan usia yang terbilang muda.
Untuk pertama kalinya, gengsi itu retak sedikit, ia mulai memberanikan diri untuk berbicara jujur meskipun sulit.
“Tapi kalau suatu hari…,” Cokro berhenti, mencoba merangkai kalimatnya dengan hati-hati, “masa lalu datang lagi… kamu tidak perlu merasa kalah.”
Melati tersenyum tipis. Bukan senyum rapuh. Tapi senyum tenang, dan nyaris menyiapkan diri.
“Saya tidak sedang bersaing dengan siapa pun, Mas.”
Dan kalimat itu. Membuat Cokro sadar satu hal. Perempuan ini tidak pernah meminta posisi. Tidak pernah menuntut tempat, tapi perlahan ia sudah mengambil ruang paling dalam tanpa disadari.
Sunyi kembali menyelimuti lorong kamar, hanya ada jarak satu langkah di antara mereka, Cokro terdiam, posisi cukup dekat tapi ia tidak ingin menyentuh, ataupun sekedar mengusap kepala seperti layaknya suami pada umumnya.
Mereka berdiam terlalu lama, hingga pada akhirnya Cokro memutuskan untuk melangkah duluan, Melati hanya terdiam, namun yang bikin ia sedikit terkejut, kali ini Cokro tidak masuk ke ruang kerjanya, justru ia masuk ke dalam kamar keduanya.
"Apa gak salah lihat, Mas Cokro masuk ke kamar kita," gumam Melati pelan.
Bersambung ....