NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Solusi

Telepon masih berlangsung mereka sama-sama memikirkan solusi untuk permasalahan ini sama sama terdiam di tempatnya masing-masing.

Rendra menyandarkan punggung, menatap lurus ke depan seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bersuara lagi, kali ini nadanya lebih hati-hati.

“Gini, La... gue kepikiran satu cara.”

Lala menjawab “Cara apa?”

Rendra menghela napas kecil. “Ini mungkin kedengeran agak nekat. Tapi menurut gue... win-win.”

“Lo bikin gue makin deg-degan,” jawab Lala dengan nada penasaran.

“Masih berhubungan sama yang gue minta ke lo. Gimana kalo... gue jadi pacar pura-pura lo?”

Kalimat itu jatuh di antara mereka, pelan tapi berat.

Lala membeku. “Hah?”

“Dengerin dulu,” cepat Rendra. “Buat lo, mama lo berhenti nyodor-nyodorin kandidat. Ada jawaban jelas kalo ditanya. Buat gue...” ia berhenti sejenak, lalu jujur, “gue juga butuh itu.”

“Karena Fikri?” tebak Lala.

Rendra mengangguk walaupun Lala tidak bisa melihatnya. “Biar jelas batasnya. Biar dia tau gue nggak sendirian, dan nggak bisa seenaknya dateng ke hidup gue.”

Lala menatap Rendra lama. Otaknya berputar cepat.

“Ren... ini bukan ide main-main.”

“Gue tau,” jawab Rendra tenang. “Makanya gue ngomong sekarang, bukan asal nyeletuk.”

“Tapi kalo mama gue minta ketemu?” suara Lala mulai pelan.

“Lo tau sendiri kan, mama gue tuh... bisa nanya macem-macem. Dari kerjaan, keluarga, sampe rencana nikah.”

“Kalo itu kejadian, biar jadi urusan gue.”

“Hah?”

“Serius,” katanya mantap. “Gue yang hadapin. Gue yang jawab. Lo nggak perlu mikir harus ngomong apa, takut salah ngomong, atau keburu panik.”

Lala menggeleng pelan. “Lo kayak terlalu santai ngomongnya.”

“Ini cuma pura-pura, tapi sikapnya nggak main-main. Kalo mau jalan, ya jalan bener.”

Lala terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

“Dan kalo... gue malah bikin lo makin ribet?” tanyanya lirih.

“La, kita ini sama-sama lagi kebawa arus. Kalo bisa saling jadi pelampung sebentar, kenapa nggak?” jawab Rendra dengan nada menenangkan.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Kali ini bukan karena kehabisan kata. tapi karena pilihan itu mulai terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar ide.

Telepon masih tersambung. Di seberang sana, Rendra menunggu jawaban Lala dengan sabar, tanpa menyela. Hanya suara napas mereka yang sesekali terdengar.

Lala menatap langit-langit kamarnya. Banyak hal berkelebat di kepalanya mamanya, tekanan yang tak henti, rasa lelah yang sudah lama ia pendam, dan sosok Rendra yang entah sejak kapan selalu ada di sela-sela harinya.

“Ren,” akhirnya ia bersuara.

“Iya?”

“Gue setuju.”

Rendra terdiam sesaat, seolah memastikan ia tidak salah dengar.

“Serius?”

“Iya,” ulang Lala, kali ini lebih mantap. “Tapi satu ya.”

“Apa?”

“Ini beneran cuma pura-pura. Jangan sampe malah bikin kita ribet sendiri.”

Terdengar tawa kecil dari seberang. “Deal. Kita bikin aturannya jelas.”

“Dan kalo nanti mama gue mulai nanya yang aneh-aneh—”

“Urusan gue,” potong Rendra cepat. “Gue janji.”

Lala tersenyum kecil. “Lo yakin banget ngomongnya.”

“Karena gue nggak mau lo tambah kepikiran,” jawab Rendra. Nada suaranya tenang, nyaris menenangkan.

“Makasih ya, La. Beneran.”

“Sama-sama,” balas Lala pelan. “Makasih juga.”

Beberapa detik hening, tapi kali ini terasa nyaman.

“Udah malem,” kata Rendra kemudian. “Tidur. Jangan mikir aneh-aneh lagi.”

“Ngatur,” Lala terkekeh kecil.

Rendra ikut tertawaa

“Good night, La.”

“Iya. Good night.”

Telepon pun ditutup.

Lala meletakkan ponselnya di samping bantal. Dadanya masih terasa hangat, pikirannya masih penuh, tapi kali ini bukan oleh tekanan melainkan oleh satu keputusan yang entah kenapa terasa menenangkan.

Matanya terpejam perlahan.

Hari-hari setelah percakapan itu berjalan… cukup aneh.

Tidak ada yang benar-benar berubah secara kasat mata, tapi Lala bisa merasakannya. Ada sesuatu yang bergeser, sedikit saja, seperti perabot yang dipindahkan diam-diam di malam hari. tidak terlihat, tapi terasa janggal saat dilewati.

Rendra masih Rendra.

Masih mengirim chat receh, masih nelepon cuma buat nanya, “Lo udah makan belum?” atau “Capek nggak hari ini?”

Bedanya, sekarang pertanyaan-pertanyaan itu terdengar punya bobot lain.

Lala membalas seperti biasa. Sekenanya dan bertanya balik.

Padahal, beberapa kali ia mendapati dirinya membaca ulang pesan Rendra sebelum membalas. Memikirkan nada. Memikirkan kata. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.

Di kantor, Lala tetap tenggelam dalam rutinitas. Laporan, meeting, kopi sore di pantry. Brian masih ada di sekitarnya, tetap menjaga jarak, tapi perhatian kecil itu masih sesekali muncul. Entah sejak kapan.

Mungkin sejak Brian melihat dirinya di pentry sedang bengong waktu itu.

Pikir Lala. Tetapi kali ini Lala menanggapinya lebih datar. Bukan dingin, tapi cukup untuk menjaga batas.

Dirumah mamanya masih seperti biasa. Masih bertanya, masih Menyelipkan harapan di sela-sela obrolan ringan.

“La, kamu beneran nggak mau coba sama Arga?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, seolah bukan pertama kali diucapkan.

Lala yang baru keluar kamar, lalu duduk berhadapan. Rahangnya sedikit mengeras.

“Aku kan udah bilang ke Mama,” jawabnya pelan tapi tegas. “Aku nggak tertarik, Mah.”

Mamanya menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggung.

“Plis, La.” Kali ini nada suaranya lebih lembut, tapi tetap menusuk. “Coba dipikir lagi.”

Lala memejamkan mata sejenak. Lelahnya bukan karena pertanyaannya. tapi karena harus menjawab hal yang sama berulang kali.

“Tolong hargai keputusan aku, Mah.” Suaranya mulai turun, seperti orang yang kehabisan tenaga untuk berdebat. “Aku capek jelasin hal yang sama.”

Mamanya tidak langsung menjawab. Ia menatap Lala lama, lalu berkata pelan,

“Mama bukan nggak ngehargai kamu.”

Nada itu berubah lebih dalam, lebih personal.

“Kamu tau sendiri alasan Mama pengen kamu cepet nikah.”

Kalimat itu menggantung di udara. Alasan yang Lala tahu. Alasan yang selalu dipakai.

Alasan yang tak pernah benar-benar bisa ia bantah.

Mamanya maju sedikit, menyentuh tangan Lala.

“Tolong coba sekali aja.”

Suaranya kini hampir memohon.

“Kalo memang kamu sama Arga nggak cocok, yaudah. Selesai. Setelah itu Mama janji nggak maksa lagi.”

Lala menunduk, menatap jemarinya sendiri. Kepalanya penuh. Dadanya sesak.

Ia tahu mamanya tidak bermaksud jahat. tapi niat baik pun bisa melelahkan kalau terus dipaksakan.

“Mama nggak pernah minta yang macem-macem ke kamu,” lanjut mamanya lirih.

“Cuma kali ini aja.”

Kata cuma itu yang selalu berat.

Lala menarik napas panjang. Ia sedang mencari kata yang tepat. kata yang tidak akan melukai, tapi juga tidak mengorbankan dirinya sendiri.

Namun sebelum ia sempat bicara, mamanya sudah kembali bersuara.

“Kalau memang kamu nggak mau,” ucapnya, kali ini lebih dingin, lebih tegas,

“yaudah. Siapa?”

Lala mengangkat kepala, bingung.

“Siapa yang lagi deket sama kamu.”

Tatapan mamanya mengunci wajah Lala. Tidak marah, tapi penuh tuntutan.

“Bawa dia ke sini.”

“Kenalin dia ke Mama.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.

Lala terdiam.

Pikirannya langsung melompat ke percakapan beberapa hari lalu,

ke tawa kecil di telepon, ke kesepakatan yang awalnya terdengar ringan.

Rendra.

Nama itu berputar di kepalanya, membawa rasa aman sekaligus takut.

Ia belum siap mengucapkannya.

Belum siap menjelaskan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Mamanya menunggu. Tidak mendesak, tapi jelas tidak akan melepas.

Dan untuk pertama kalinya, Lala sadar, ia sudah berdiri di titik di mana berpura-pura atau jujur sama-sama punya risiko. Ia hanya bisa diam. Karena jawabannya, apa pun itu, akan mengubah banyak hal setelahnya.

Lala menghela napas panjang.

Diamnya terlalu lama sampai mamanya menoleh, menunggu jawaban yang tak kunjung datang.

“Iya, Mah,” ucap Lala akhirnya. Suaranya pelan, nyaris ragu.

“Ada.”

Mamanya tidak langsung tersenyum. Ia justru mengamati wajah Lala, seolah mencari celah kebohongan.

“Siapa?” tanyanya hati-hati.

“Nanti,” jawab Lala cepat. “Nanti aku kenalin.”

Ada jeda singkat.

Lalu mamanya mengangguk kecil, cukup puas dengan jawaban itu.

“Yaudah,” katanya sambil berdiri. “Kalau memang serius, Mama tunggu.”

Kata serius itu menempel di kepala Lala bahkan setelah ia masuk ke kamarnya.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!