Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pintar atau aneh
Dalam keadaan masih memiliki bekas darah di baju, Daniel dan Theor mengikuti rencana Roxane untuk pergi menemui Elena. Kaisar tidak melarang karena sudah sakit kepala, sayangnya ketiganya belum mendapatkan izin masuk dari Duke.
Awalnya Duke tidak mau memberi izin, tapi karena ada Daniel dia jadi mau tidak mau mengizinkan. Ketiganya di pandu ke rumah kaca taman samping kamar Elena, sedangkan Elena yang tiba-tiba mendapatkan tamu tak diundang terkejut.
Elena buru-buru mandi dan bersiap, dia berpikir ada urusan apa sampai mereka datang menemuinya. Begitu sampai di rumah kaca, Elena syok melihat bekas darah mengering di pakaian Daniel dan Theor.
"Astaga, apa yang terjadi? apa ada serangan?." Kaget Elena.
"Mereka bertengkar." Jujur Roxane mengadu.
"Bertengkar?." Elena terkejut, dia duduk dengan rasa penasaran sampai lupa memberi salam.
"Iya, apa kau sudah tau jika Isabella kabur dari penjara?." Ucap Roxane.
"Apa?!! Tentu saja aku tidak tau, bagaimana dia bisa kabur?." Elena syok part dua.
"Itu lah yang sedang terjadi, Theor marah karena namanya belum sempat di bersihkan tapi Isabella malah kabur. Dia menuduh Daniel pelakunya, tapi bukan intinya mereka bertengkar karena itu." Ucap Roxane sakit kepala.
"Lalu.. alasan kalian datang untuk apa?." Elena tiba-tiba loading.
Krik..krik..Krik...
Suasana tiba-tiba hening, mereka jadi canggung dan bingung. Kenapa mereka datang, semuanya karena Roxane.
"Elena, aku tau kau pintar. Apa kau tau cara mencari dimana Isabella? yang membawa kabur Isabella adalah Pendeta Agung. Karena itu pasti masalahnya lebih rumit dari dugaan, aku pikir kau bisa sedikit memberikan saran atau rencana. Karena mereka berdua benarva dan tidak bisa diajak kerja sama." Ucap Roxane.
"Hmmm, jadi kau membutuhkan pendapatku?." Ucap Elena berpikir.
"Ya, setidaknya diantara kita semua kau lah yang paling tenang dan pintar. Di banding mereka berdua yang hanya tau bertengkar saja, aku sampai serangan jantung karena mereka." Roxane stres.
"Jika pelaku utama adalah pendeta agung, artinya ini sebuah konspirasi orang dalam. Bisa untuk pengkhianatan, pemberontakan atau mungkin kepentingan pribadi. Isabella selama ini dikenal sebagai anak yang polos, ceria, lucu dan lugu. Tapi itu belum sepenuhnya benar, ibarat kehidupan manusia yang pasti memiliki rahasia. Karena itu aku berpikir, lebih baik mencaritau tentang Isabella terlebih dahulu untuk menyambung benang merah." Ucap Elena dengan tenang.
"Kan! kau pasti bisa menemukan caranya." Roxane langsung merasa bangga.
"Mencaritahu tentang Isabella?." Gumam Daniel.
"Benar, darimana asal-usulnya. Siapa saja yang pernah berinteraksi dengannya, apakah dia memiliki pendukung rahasia atau selama ini dia justru menjalankan sebuah misi tersembunyi. Itu semua masih dugaan, karena itu harus dicari tahu." Ucap Elena tenang.
"Bukankah aku dulu sudah pernah mengatakan dia mencurigakan, dia tidak kenal dengan Elena padahal mereka dari panti asuhan yang sama." Ucap Theor, masih sensi pada Daniel.
"Apa? panti asuhan?." Roxane tidak mengerti.
"Aku pernah di culik dan hidup di panti asuhan perbatasan Utara sejak bayi sampai berusia 14 tahun, dari usia 15 sampai 16 aku bekerja di toko bunga dan hidup disana. Sampai akhirnya Ayah menemukanku dan aku kembali ke sini, selama aku di panti asuhan aku dekat dengan Ibu panti serta anak-anak yang lain. Tapi, bukan berarti aku harus kenal semuanya. Bisa saja Isabella anak pemalu dan jarang terlihat, karena itu aku tidak curiga sama sekali." Ucap Elena, bicara dengan dewasa.
"Astaga, fakta apa ini." Roxane telat info.
"Aku bertemu dengan Isabella pertama kali saat sedang berkunjung ke gereja perbatasan. Di sana Isabella sedang menjadi relawan, aku berkenalan dan dia mengatakan berasal dari panti asuhan sana." Jujur Daniel, mengingat moment.
"Relawan?, padahal dulu Ibu panti melarang keras para anak anak untuk menjadi relawan di gereja. Selain tidak resmi, banyak anak hilang saat bekerja menjadi relawan." Elena bicara berdasarkan ingatan dalam tubuh.
"Jika sampai ada anak hilang, bukankah seharusnya program itu ditutup? tapi kenapa sampai saat aku datang itu masih di buka, dan terlihat sangat brguna dan membantu banyak orang kelaparan." Ucap Daniel.
"Aku tidak tau, kita hanya melihat apa yang mereka perlihatkan. Jadi aku tidak bisa berspekulasi apa-apa, kecuali jika di cari tau lebih dalam maka akan terlihat aslinya." Ucap Elena.
"Aku akan mencaritau." Ucap Theor.
"Tidak bisa sendirian. Kita harus mencari tahu semua ini bersama-sama agar bisa melihat sendiri dan percaya." Ucap Elena.
"Maksudmu, kita akan datang ke tempat itu?." Roxane merinding.
"Ya, kita menyamar sebagai gelandangan untuk tau seperti apa isi dari gereja itu. Sebenarnya ada apa yang tersembunyi di sana, ini tentu saja berbahaya." Ucap Elena, suka petualangan.
"Tapi.... tapi aku tidak bisa berkelahi, bagaimana jika terjadi sesuatu di dalam." Roxane sadar diri.
"Ada yang namanya insting bertahan hidup, kau hanya perlu percaya jika kau bisa melindungi dirimu sendiri. Kau juga harus percaya pada rekan, meskipun tidak bisa berkelahi kau masih memiliki kelebihan lain." Ucap Elena tersenyum penuh arti.
"Apa itu?." Roxane sendiri tidak tau.
"Menjadi umpan." Jawab Elena tanpa dosa.
"A-A-APAAAAAA!!! Elena kau jahat sekali, bagaimana jika aku mati hah?!." Roxane langsung pucat pasi.
"Tenanglah, kita berdua akan menjadi umpan karena kita perempuan dan jarang di curigai. Para pria akan menyusup lewat jalan lain, intinya hanya kita berdua yang masuk lewat depan." Ucap Elena.
"Kau.. kau akan melindungi ku kan?." Roxane sudah ketakutan duluan.
"Tentu saja." Elena mengangguk.
"Yasudah, kapan kita akan pergi?." Ucap Roxane.
"Sekarang." Elena langsung berdiri dengan semangat.
Daniel, Theor dan Roxane tercengang, apalagi melihat binar cerah di mata Elena. Seperti mendapatkan mainan baru, Elena langsung memanggil Merida untuk meminjam pakaian sederhana.
Dalam sekejap mata, mereka sudah berganti pakaian seperti rakyat jelata. Roxane menggunakan rambut palsu berwarna hitam, sedangkan Elena bergelung di lumpur sampai terlihat sangat kotor dan bau.
"Ewhhhh... apa yang kau lakukan Elena." Roxane syok.
"Harus totalitas, jangan sampai di curigai. Cepatlah mandi lumpur, ini pasti berhasil." Ucap Elena, sudah menjadi manusia lumpur.
Dengan berat hati, Roxane, Daniel dan Theor bergelung di lumpur sampai basah dan mengering. Setelah mereka acak-acakan, Elena mulai melakukan brifing.
"Oke, sebelum kita pergi menjalankan misi. Kita harus mulai membuat kode, kita tidak tau apa yang akan terjadi di dalam. Jika kita terkena hipnotis atau semacamnya, kita perlu membuat Kode rahasia." Ucap Elena.
"Benar, jadi apa kode itu." Roxane berdebar.
"Jika kita tanpa sengaja berpapasan, maka aku dan Roxane akan mengucapkan HAI dan kalian berdua menjawab TAYO. Mudah di ingat kan?." Ucap Elena.
"Oh baiklah, tapi.. memangnya Tuan Duke mengizinkan kita pergi?." Celetuk Roxane.
"Tenang saja, ayo bersiap." Elena memimpin jalan.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍