Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan yang Tak Terlihat
Cahaya pagi menyusup melalui celah-celah dinding batu Trick Tower, menerangi debu yang beterbangan seperti serpihan salju abu-abu. Raito, Mira, Gon, dan Killua berdiri di ruangan terakhir sebelum pintu keluar fase kedua. Ruangan ini berbeda dari yang lain—luas, bulat, dengan langit-langit tinggi yang gelap dan lantai batu polos yang terlihat terlalu bersih untuk tempat seperti ini. Di tengah ruangan hanya ada satu meja kayu sederhana, dan di atasnya sebuah kotak kaca transparan berukuran sebesar kotak sepatu.
Di dalam kotak itu ada sebuah kunci perak kecil, berkilau samar di bawah sinar matahari yang masuk.
Di dinding seberang, tertulis dengan huruf besar berwarna merah darah:
“Satu kunci, satu pintu keluar. Hanya satu orang yang boleh mengambil kunci dan pergi. Sisanya akan tetap terperangkap selamanya. Waktu tersisa: 30 menit.”
Raito merasa perutnya mual. Dia sudah melihat terlalu banyak darah di ruangan sebelumnya. Tubuhnya masih gemetar karena adrenalin yang belum surut sepenuhnya. Kini, di ruangan ini, hanya ada empat orang: dirinya, Mira, Gon, dan Killua.
Empat orang. Satu kunci.
Gon memiringkan kepala, memandang kotak itu dengan ekspresi penasaran seperti anak kecil melihat mainan baru. “Wah… ini jebakan yang menarik ya?”
Killua mendengus, tangan masih di saku celana. “Menarik buat orang gila. Ini tes terakhir fase kedua. Mereka ingin lihat apakah kita mau saling bunuh demi lolos.”
Mira melipat tangan di dada, mata tajam memindai ruangan. “Aku sudah dengar rumor tentang ruangan ini. Disebut ‘Ruang Pengkhianatan’. Tidak ada jebakan fisik—tidak ada panah, tidak ada lantai runtuh. Yang ada hanya godaan.”
Raito menelan ludah. “Jadi… kalau kita nggak ambil kunci, semua mati di sini?”
“Benar,” jawab Mira. “Timer 30 menit itu nyata. Setelah habis, gas atau apa pun akan keluar. Atau mungkin dinding akan runtuh. Pokoknya, kita nggak akan keluar hidup-hidup kalau nggak ada yang mengambil kunci.”
Gon menggaruk kepala. “Tapi kalau satu orang ambil kunci, dia lolos sendirian. Yang lain mati. Itu nggak adil!”
Killua menatap Gon dengan ekspresi setengah kesal setengah geli. “Hidup nggak adil, bocah. Itu poinnya.”
Raito diam saja. Dia memandang kunci itu. Kecil, sederhana, tapi terasa seperti bom waktu. Pikirannya berputar: dia tidak ingin mati di sini. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia ada di dunia ini. Tapi membunuh orang lain demi lolos? Itu terlalu jauh.
Dia ingat kilatan putih yang membawanya ke sini. Apakah itu takdir? Atau hukuman? Atau hanya nasib sial?
“Kalau kita hancurkan kotaknya?” usul Raito tiba-tiba.
Mira menggeleng. “Sudah dicoba orang sebelumnya, katanya. Kotak itu dilindungi Nen—atau semacam kekuatan aneh. Kalau dipaksa, ruangan ini akan meledak atau jebakan lain aktif.”
Killua mengangguk pelan. “Benar. Aku bisa rasakan ada aura di sekitar kotak itu. Bukan aura biasa. Ini jebakan yang dirancang untuk memaksa pilihan.”
Gon melangkah maju. “Kalau gitu… gimana kalau kita nggak ambil kunci sama sekali? Mungkin ada cara lain keluar!”
Killua memutar bola mata. “Kamu terlalu optimis. Ini ujian Hunter Association. Mereka nggak kasih jalan pintas gratis.”
Timer di dinding mulai berdetak pelan. Angka merah besar: 29:58… 29:57…
Suasana semakin tegang.
Mira memecah keheningan. “Kita punya waktu 30 menit untuk memutuskan. Kalau mau berkelahi, mulai sekarang. Kalau mau negosiasi, bicara. Kalau mau menunggu keajaiban… silakan.”
Gon tersenyum lebar. “Aku nggak mau berkelahi sama kalian! Kalian semua keren kok!”
Killua menatap Gon dengan tatapan aneh—seperti orang yang baru pertama kali melihat sesuatu yang benar-benar asing. “Kamu beneran nggak takut mati ya?”
Gon menggeleng. “Takut sih takut. Tapi aku percaya kita bisa cari jalan keluar bareng!”
Raito merasa ada sesuatu yang bergerak di dadanya lagi. Aliran hangat itu—lebih kuat sekarang. Seperti ada cahaya kecil yang mencoba menerobos kegelapan di dalam dirinya. Dia tidak tahu apa itu, tapi rasanya… memberi kekuatan.
Dia maju selangkah. “Aku punya ide.”
Semua mata tertuju padanya.
“Kalau kita semua sepakat nggak ambil kunci, apa yang terjadi?” tanya Raito.
Mira mengangkat alis. “Mungkin timer habis dan kita mati.”
“Atau,” lanjut Raito, “mungkin ujian ini bukan tentang siapa yang ambil kunci, tapi siapa yang mau mengorbankan diri demi yang lain. Atau… siapa yang nggak mau mengorbankan siapa pun.”
Killua tertawa kecil—suara yang dingin. “Kamu terlalu naif. Dunia ini nggak kerja kayak gitu.”
“Tapi coba pikir,” balas Raito. “Kalau salah satu dari kita ambil kunci dan pergi, orang itu akan hidup dengan rasa bersalah selamanya. Kalau kita semua mati, nggak ada yang lolos. Tapi kalau kita tunggu sampai akhir… mungkin ada pintu lain yang terbuka.”
Gon bertepuk tangan kecil. “Iya! Kayak tes kepercayaan!”
Mira menghela napas panjang. “Kalian semua gila. Tapi… aku nggak punya rencana lebih baik.”
Killua memandang mereka satu per satu. Matanya berhenti di Gon paling lama. Lalu dia mengangkat bahu. “Baiklah. Aku ikut main game kalian. Tapi kalau timer habis dan nggak ada apa-apa, aku akan bunuh kalian semua sebelum mati.”
Mereka semua tertawa kecil—tawa gugup, tapi ada sedikit kelegaan di dalamnya.
Timer terus berdetak: 20:00… 19:59…
Mereka duduk melingkar di lantai, membicarakan hal-hal kecil untuk mengisi waktu. Gon bercerita tentang pulau tempat dia dibesarkan, tentang ayahnya yang hilang, tentang memancing ikan besar. Killua mendengarkan dengan ekspresi bosan, tapi sesekali bertanya detail. Mira bercerita sedikit tentang masa lalunya—tentara bayaran, perang di negara kecil, dendam pada perusahaan senjata. Raito mendengarkan, tapi dia tidak bercerita banyak tentang dunianya. Dia takut kalau bicara, semuanya akan terasa terlalu nyata—bahwa dia benar-benar terjebak di dunia lain.
Saat timer tinggal 5 menit, suasana berubah lagi.
“Kalau kita mati di sini,” kata Raito pelan, “setidaknya aku nggak sendirian.”
Gon tersenyum. “Kita nggak akan mati! Aku yakin ada cara!”
Killua mendengus. “Kamu terlalu percaya diri.”
Tapi di mata Killua, ada sesuatu yang berbeda—sedikit keraguan, sedikit harapan.
Timer: 1:00… 0:59…
Mereka berdiri. Semua mata tertuju pada kotak kaca.
0:30…
Tiba-tiba, suara klik keras terdengar. Kotak kaca terbuka sendiri. Kunci perak itu melayang keluar, lalu jatuh ke lantai dengan denting kecil.
Di dinding belakang, pintu besar batu terbuka pelan. Cahaya terang menyilaukan menyembur masuk.
Di atas pintu, tertulis huruf baru:
“Selamat. Kalian lolos. Ujian ini bukan tentang pengkhianatan—tapi tentang kepercayaan.”
Gon berteriak kegirangan. “Lihat! Aku bilang kan!”
Killua memandang pintu itu dengan mata terbelalak. “Nggak mungkin…”
Mira tersenyum tipis—senyum pertama yang Raito lihat darinya. “Mereka memang licik. Membuat kita pikir harus saling bunuh, padahal jawabannya adalah tidak membunuh sama sekali.”
Raito memungut kunci itu. Dingin di tangannya. Dia menatapnya sejenak, lalu melemparkannya ke dalam kotak lagi. Kotak menutup sendiri.
Mereka berjalan keluar bersama.
Di luar Trick Tower, matahari sudah tinggi. Peserta lain yang lolos mulai berkumpul di lapangan terbuka. Beberapa terluka parah, beberapa sendirian. Tapi Raito, Mira, Gon, dan Killua keluar bersama—tanpa darah di tangan mereka.
Examiner fase kedua—seorang wanita berambut pirang pendek—menatap mereka dengan ekspresi terkejut. “Kalian… lolos Ruang Pengkhianatan tanpa korban?”
Gon mengangguk riang. “Iya! Kami cuma duduk bareng!”
Wanita itu tersenyum kecil. “Langka sekali. Selamat. Kalian lolos ke fase ketiga.”
Mira menepuk bahu Raito. “Kamu beruntung punya ide gila itu.”
Raito tersenyum lemah. “Bukan ide gila. Cuma… nggak mau mati sendirian.”
Killua berjalan mendekat. Untuk pertama kalinya, dia menatap Raito langsung. “Kamu aneh. Tapi… lumayan.”
Gon tertawa. “Kita temenan yuk!”
Raito tidak langsung menjawab. Tapi di dadanya, aliran hangat itu semakin kuat. Seperti cahaya yang mulai membesar.
Mereka berempat berjalan menjauh dari menara, menuju fase berikutnya.
Raito tidak tahu apa yang menanti di depan. Tapi untuk pertama kalinya sejak terlempar ke dunia ini, dia merasa tidak sepenuhnya asing.
Ada orang-orang di sampingnya—meski baru kenal, meski dunia ini kejam.
Dan cahaya kecil di dalam dirinya mulai terasa seperti… harapan.