NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Kakak tersayang

“ITU EL.” Cemas Glenn berlari kearah wanita itu.

“EL…” Sang kakak yang sedari tadi mencoba menghubungi ponsel Elaine, segera berlari saat dari jauh melihat adiknya.

“Syukurlah…” Damian mendekap erat Elaine, “Aku mencarimu, apa kau terluka?” Cemas Damian memperhatikan sekujur tubuh adiknya untuk memastikan.

“Kakak… ikut aku.” Pinta El menarik kakaknya dengan segera, ia berlari secepatnya menuju Killian yang terluka, “Ada yang terluka parah disana dan…”

El terdiam bingung. Tidak ada pria itu. Lian telah pergi. El mencari ke segala arah namun tak menemukan pria itu lagi.

“Ada apa El?” Bingung Damian, bahkan wanita itu mengabaikan pergelangan kaki dan lututnya yang terluka.

“Tadi ada yang terluka parah, dia menolongku tapi…”

SRAAAK

“Cemaskan dirimu. Kau yang terluka saat ini. Kita pergi sekarang ke rumah sakit.” Tegas Damian menggendong adiknya.

El hanya terdiam. Ia patuh saat itu. Hanya menatap jendela tempatnya melompat bersama pria itu. Setidaknya kejadian tadi adalah nyata.

Damian melepas topeng yang sedari tadi menutup wajah El, memberikan kain penutup untuk menutupi kepalanya, adiknya cukup patuh untuk selalu memakai topeng itu. Ia paham pekerjaan kakaknya dapat mempengaruhi orang terdekatnya, kakaknya dapat terancam jika musuh mengetahui identitas El sebagai orang tercintanya.

Tak jauh. Lian belum pergi, ia bersama Hansen melihat dari belakang, Elaine digendong oleh pria bertubuh tinggi tegap. Ia belum sempat melihat wajah El, namun sorot mata wanita itu tidak akan ia lupakan.

Hansen tanpa perintah dari Lian, mengambil topeng milik El dan menyerahkannya pada Lian.

...****************...

“Dimana handphone mu?” Kesal Damian, semakin menjadi amarahnya saat mengetahui pergelangan kaki adiknya retak, “Aku sudah suruh kau tetap dikamar. Bagaimanapun aku akan menjemputmu. Apa sulit untuk patuhi hal itu.”

“Kau tahu aku mencarimu bersama Glenn hingga ke kamar mu. Tapi kau tidak ada disana. Apa yang kau lakukan?”

El hanya terdiam merasa bersalah dan ketakutan.

“Hentikan.” Bisik Glenn menenangkan Damian, “Setidaknya dia selamat.”

“Pergelangan kaki nya retak, Lututnya cedera, tangannya melepuh.” Kesal Damian, “Apa kini kau paham kenapa aku selalu melarangmu bersama ku?”

El perlahan mengusap air matanya. Tak pernah ia melihat kakaknya semarah ini.

BIP BIP BIP

“Ada apa lagi?” Suara Damian masih terlihat kesal dan membentak. Sudah berapa kali El tersentak karenanya.

Pria itu menerima panggilan telepon. Raut wajahnya semakin kusut. El saat itu berada diruang tamu rumahnya. Hasil pemeriksaan itu mengatakan pergelangan kakinya memang retak dan menyebabkan memar dan entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk lari mencari pertolongan tadi.

“Pergilah, aku akan bersamanya malam ini.” Sahut Glenn menyadari ada tugas penting memanggil Damian malam itu.

“Jangan kembali ke Malice sebelum luka mu sembuh total.” Perintah Damian.

Belum sempat El membela diri kakaknya sudah keluar dari rumah itu. Mengabaikan adiknya.

“Mengertilah. Kakakmu hanya cemas.” Ucap pelan Glenn, pria itu meletakkan ponsel Elaine dimeja besar.

“Aku sudah dewasa Glenn. Aku tahu apa yang aku perbuat.” Ucap El pergi meninggalkan pria itu untuk kembali kekamarnya.

Sayangnya ia lupa akan cedera kakinya itu menyulitkan dirinya untuk menaiki anak tangga.

SRAAAAAKK

Dengan sigap Glenn mengangkat tubuh El. Menggendongnya menuju kamar Elaine.

“Sudah dewasa?” Ledek Glenn, “Bahkan tubuhmu masih ringan seperti anak sekolah.”

“Tidak ada yang memasak untuk ku di Malice.” Keluh El.

“Salah mu berkuliah disana.”

“Kampus kedokteran di Malice peringat 1 kau tahu aku mendapat beasiswa disana.”

“Yaa… Aku lupa sampai dokter ini tidak bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Ck…” Kesal El, Glenn selalu dapat meledeknya. “Jadi kau senggang hari ini?” Tanya El.

“Tidak.” Jawab Glenn sembari membuka pintu kamar itu.

“Bukannya tadi kau bilang akan menemaniku?”

“Ya El.” Glenn dengan lembut menaruh El diatas ranjangnya, “Menjagamu sama saja tugas tambahan untuk ku.”

“Ck…” El mengerutkan dahinya.

“Ganti pakaianmu aku akan memanggil bibi Wen untuk membantumu.” Ucap Glenn mengacak rambut El dan meninggalkannya dikamar itu, “Tidurlah. Jika butuh sesuatu kau bisa menghubungi ku.”

El hanya terdiam. Selama ini Glenn selalu meluangkan waktunya untuk El. Tak peduli sesibuk apapun, jika El membutuhkannya maka Glenn akan segera tiba.

Bahkan disaat El meminta kakaknya untuk menemani, Damian justru meminta Glenn menggantikannya. Meski begitu rasa sayang Damian sangat besar pada El.

El tak dapat tidur malam itu. Ia membuka layar laptopnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Matanya tertuju pada file photo kenangan Damian dengan dirinya dan tentu Glenn ada disana juga. Ia tidak dapat menyimpan photo tersebut di ponselnya. Kakaknya melarang, demi keamanan Damian menyembunyikan identitas El sebagai adiknya.

Teringat oleh El saat terjadi kecelakaan beruntun. Seharusnya Damian dan El saat itu pergi berlibur bersama kedua orang tuanya kerumah kakek. Namun sang ibu bekerja sebagai dokter medis dibutuhkan tenaganya saat itu. Damian menunggu ibunya dirumah sakit, sedangkan Elaine mengikuti sang ayah kerumah kakek.

Glenn saat itu seorang diri dirumah sakit. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan itu, yang setelah dewasa ia menyadari bahwa kecelakaan itu tidak terjadi begitu saja.

“Ibu…” Tangis El kecil, saat itu.

Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun saat pintu basement dirumah kakeknya terbuka. Ia hanya melihat sosok ibunya bersama Damian dan Glen.

Yang ia ingat malam kejadian itu, rumah kakeknya didatangi banyak orang. Ia mengira itu adalah tamu ayahnya. Sampai akhirnya…

“Tetaplah disini dan jangan bersuara.” Sang ayah mengunci El dalam basement.

“Apa kita sedang bermain sembunyi dan tangkap?” Tanya El menahan tangan sang Ayah yang hendak menutup pintu.

“Ya sayang. Kakek akan menjadi serigalanya, jadi bersembunyilah disini. Ayah akan kembali nanti. Jangan keluar jika tidak dibuka pintunya, janji?”

El mengangguk semangat. Ia sangat patuh. Namun sayangnya hingga pagi menjelang, sang ayah tak kembali. Begitu pula kakeknya. Hanya sang ibu memeluknya dengan erat.

Sejak saat itu El tidak menyukai tempat gelap dan sempit, sang ibu mengetahui suaminya terbunuh akhirnya jatuh sakit. Dan selang beberapa tahun meninggal.

“Kakak…” El menggenggam erat tangan Damian. Bahkan sejak itu Glenn juga sudah disisinya.

“Semua akan baik-baik saja. Kakak disini bersama mu.” Damian mendekap adiknya.

Glenn sejak diasuh oleh keluarga Eloise merasa tidak dibedakan. Ia sebatang kara saat itu. Bahkan sejak kecil El lebih sering menghabiskan waktu bersama Glenn dibandingkan Damian. Damian sejak saat itu selalu menghabiskan waktunya dengan belajar dan berlatih fisik.

Ia merasa kematian ayah dan kakeknya ada yang janggal. Tujuan hidupnya saat itu, berdiri di departemen keamanan. Untuk menguak kasus ayahnya. Dan saat ini bukan hanya bekerja di bagian departemen keamanan, Damian bertugas di bagian pasukan khusus agen rahasia negara. Kasus yang ditangani bukan hal remeh dan kecil lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!