Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 tujuh bintang mati dan hutan tulang
Gunung Tujuh Bintang, markas besar aliansi musuh, seharusnya menjadi tempat yang memancarkan aura kemegahan. Dalam ingatan banyak kultivator, gunung ini selalu diselimuti oleh kabut tipis berwarna pelangi yang membiaskan cahaya bintang di malam hari—sebuah fenomena alam yang indah dan menenangkan.
Namun, saat Su Lang dan ketiga muridnya tiba di kaki gunung pada senja hari kedua, pemandangan yang menyambut mereka adalah mimpi buruk.
Kabut pelangi itu telah lenyap, digantikan oleh uap merah pekat yang berbau logam karatan dan darah busuk. Pepohonan di sekitar kaki gunung telah layu, batang-batangnya menghitam dan bengkok seperti tangan orang mati yang mencoba menggapai langit. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung. Hanya keheningan mutlak yang sesekali dipecahkan oleh suara glug-glug dari parit-parit irigasi yang kini dialiri cairan kental berwarna merah gelap.
"Ini bukan lagi sekte," gumam Chen Ling, wajahnya memucat sambil menutup hidung dengan lengan bajunya. Sebagai pemilik Tubuh Roh Tanaman, dia bisa merasakan penderitaan alam di tempat ini lebih tajam dari siapa pun. "Tanahnya... tanahnya menjerit, Guru. Energi kematian di sini begitu pekat hingga mematikan akar rumput."
Su Lang berjongkok, menyentuh tanah yang lengket. Ujung jarinya mendesis sedikit.
"Formasi Pengorbanan Darah," kata Su Lang datar. "Zhao telah mengubah seluruh gunung ini menjadi tungku alkimia raksasa. Dia tidak hanya mengorbankan musuh, dia juga mengorbankan murid-muridnya sendiri dan energi kehidupan gunung ini."
Mata Li Yun menyala dengan kemarahan. "Dia membunuh rakyatnya sendiri? Apa gunanya menjadi Ketua jika tidak ada yang dipimpin?"
"Bagi orang gila yang mengejar kekuatan, manusia hanyalah bahan bakar," Su Lang berdiri, membersihkan tangannya. "Ingat ini baik-baik. Inilah yang terjadi jika seorang kultivator kehilangan 'Hati Dao'-nya dan diperbudak oleh alat."
Su Lang menatap ke puncak gunung, tempat sebuah aura merah menyala seperti mata iblis yang menatap balik ke arah mereka.
"Ayo naik. Kita akhiri penderitaan tempat ini."
Mereka tidak berjalan di jalan setapak utama. Jalan itu telah dipenuhi oleh jebakan Rune Peledak Darah. Su Lang memimpin mereka memanjat tebing curam di sisi barat, menggunakan Langkah Bayangan Awan untuk bergerak vertikal.
Saat mereka mencapai pelataran gerbang tengah—batas pertahanan terakhir sebelum Aula Utama—mereka dihadang.
Bukan oleh pasukan manusia.
Tujuh sosok berdiri mematung di tengah pelataran batu luas itu. Mereka mengenakan jubah Tetua Balai Tujuh Bintang yang compang-camping. Kulit mereka berwarna abu-abu pucat dengan urat-urat hitam yang menonjol. Mata mereka kosong, putih sepenuhnya tanpa pupil.
Di dada masing-masing sosok itu, tertanam sebuah pasak besi hitam yang berpendar merah, seolah memaku jiwa mereka agar tidak lepas dari tubuh yang sudah mati.
"Itu... Tetua Lie Fen?" Li Yun terkesiap, menunjuk salah satu sosok yang tubuhnya hangus sebagian—bekas ledakan di Kota Awan Putih.
"Mayat Hidup," kata Su Lang dingin. "Zhao membangkitkan mayat para tetua yang mati, termasuk Lie Fen yang baru saja kubunuh tiga hari lalu. Dia menggunakan teknik boneka darah."
Tujuh sosok itu bergerak serentak saat merasakan hawa kehidupan. Gerakan mereka tidak kaku seperti zombie biasa; gerakan mereka cepat, tajam, dan mematikan. Mereka mempertahankan ingatan otot dan teknik tempur semasa hidup, namun tanpa rasa takut atau sakit.
"Tujuh Bintang Maut," Su Lang mencabut Pedang Naga Hitam. "Li Yun, Lin Yue, tahan empat yang di kiri. Chen Ling, dukung mereka. Aku akan mengurus tiga yang terkuat di kanan, termasuk Lie Fen."
"Baik, Guru!"
Pertempuran pecah.
Li Yun melesat maju, Cakar Guntur-nya beradu dengan pedang besar milik salah satu mayat hidup.
CLANG!
Li Yun terdorong mundur. "Kuat sekali! Tenaga fisiknya dua kali lipat dari saat mereka hidup!"
Mayat hidup tidak membatasi penggunaan otot. Mereka menggunakan 100% kekuatan serat otot tanpa peduli jika otot itu robek.
"Jangan adu tenaga!" teriak Lin Yue. Dia meluncur di atas lapisan es yang dia buat, menghindari sabetan tombak dari mayat hidup lain. "Bekukan persendiannya!"
Lin Yue menembakkan Pita Sutra Es. Kain itu melilit kaki dua mayat hidup, lalu membeku seketika. Namun, mayat-mayat itu tidak peduli. Mereka terus bergerak maju, mematahkan tulang kaki mereka sendiri demi melepaskan diri dari es, lalu merangkak dengan kecepatan mengerikan.
"Mereka gila!" Chen Ling panik. Dia melempar Bom Racun Hijau. Asap beracun menyelimuti mayat-mayat itu.
Tapi tidak ada efek.
"Guru! Racun saraf tidak bekerja! Mereka tidak bernapas dan tidak punya saraf!" teriak Chen Ling.
Su Lang, yang sedang menangkis serangan bola api Lie Fen (yang kini berwarna hijau mayat), memberikan instruksi tanpa menoleh.
"Chen Ling! Gunakan Benih Parasit Anggrek Darah! Jangan racuni mereka, tapi makan tubuh mereka! Mayat adalah pupuk terbaik!"
Mata Chen Ling berbinar. Benar juga!
Dia segera merogoh tasnya, mengambil segenggam benih merah. Dia melemparkannya ke arah mayat hidup yang sedang merangkak.
"Tumbuhlah!"
Benih-benih itu masuk ke dalam luka-luka di tubuh mayat hidup. Dalam hitungan detik, akar-akar tanaman menjalar keluar, menembus daging busuk, menyerap sisa-sisa energi darah di dalamnya. Tanaman itu tumbuh menggila, melilit tulang dan otot mayat hidup tersebut, mengunci gerakan mereka secara fisik dari dalam.
"Berhasil!" sorak Chen Ling.
Sementara itu, Su Lang menghadapi Lie Fen dan dua mayat tetua lainnya.
Lie Fen versi mayat hidup jauh lebih berbahaya. Dia tidak peduli jika apinya membakar tubuhnya sendiri. Dia melontarkan Telapak Matahari Mati bertubi-tubi.
Su Lang bergerak tenang di antara ledakan api hijau. Domain Api Biru-nya aktif, membentuk perisai panas yang membakar habis energi kematian sebelum menyentuhnya.
"Zhao... kau benar-benar penghinaan bagi seni penempaan," desis Su Lang.
Bagi Su Lang, menempa mayat manusia menjadi senjata adalah hal yang menjijikkan. Penempaan sejati adalah memuliakan material, bukan menajiskan kehidupan.
Su Lang melihat pasak besi di dada Lie Fen.
[Analisis Sistem: Pasak Pengendali Jiwa.]
[Struktur: Besi Meteor Darah.]
[Kelemahan: Inti Rune di bagian kepala pasak.]
"Akhiri ini."
Su Lang melompat tinggi. Pedang Naga Hitam di tangannya membesar, diselimuti api biru dan emas.
Seni Naga: Hukuman Penempa!
Bukannya menebas leher, Su Lang menukik turun dan menusukkan ujung pedangnya tepat ke arah pasak besi di dada Lie Fen.
CRAK!
Ujung pedang Su Lang menghancurkan pasak besi itu.
Seketika, api hijau di mata Lie Fen padam. Tubuhnya yang tadinya bergerak liar tiba-tiba kaku, lalu ambruk menjadi tumpukan daging tak bernyawa.
Su Lang tidak berhenti. Dia bergerak secepat kilat.
Tusuk. Hancurkan. Tusuk. Hancurkan.
Dalam sepuluh napas, dua mayat hidup lainnya juga tumbang setelah pasak pengendali mereka dihancurkan.
Di sisi lain, Li Yun dan Lin Yue melihat cara Su Lang.
"Hancurkan pasak di dadanya!" teriak Li Yun.
Dia membiarkan satu mayat hidup menusuk bahunya (luka ringan berkat zirah yang dia pakai), demi mendapatkan jarak serang. Cakar kanannya menghantam dada mayat itu.
Krak! Pasak hancur.
Lin Yue menggunakan esnya untuk membentuk tombak, melemparkannya dengan presisi sniper, menghancurkan pasak mayat terakhir yang sudah terikat akar tanaman Chen Ling.
Hening kembali.
Tujuh Bintang Maut kini benar-benar mati.
Su Lang berjalan mendekati mayat Lie Fen. Dia melihat wajah mantan musuhnya itu. Ada ekspresi damai yang aneh setelah pasak itu dicabut, seolah-olah jiwa mereka berterima kasih telah dibebaskan.
"Istirahatlah," kata Su Lang pelan. "Dendam kita lunas."
Dia menatap gerbang Aula Utama yang menjulang tinggi di depan mereka. Pintu gerbang itu terbuat dari tulang belulang yang disusun rapi, memancarkan aura jahat yang membuat udara bergetar.
"Zhao ada di dalam," kata Su Lang. "Siapkan diri kalian. Apa yang akan kalian lihat di dalam mungkin akan menghantui tidur kalian selamanya."
Li Yun menelan ludah, memegang bahunya yang terluka. "Kami siap, Guru. Setelah melihat ini... saya rasa tidak ada yang lebih buruk."
"Jangan terlalu yakin," gumam Su Lang.
Dia menendang gerbang tulang itu.
BLAAAM!
Pintu hancur berkeping-keping.
Interior Aula Utama Balai Tujuh Bintang telah berubah total.
Lantai marmer putih telah hilang, digantikan oleh kolam darah raksasa yang mendidih. Di tengah kolam itu, terdapat sebuah pulau kecil yang terbuat dari tumpukan tengkorak.
Dan di atas singgasana tengkorak itu, duduklah Ketua Besar Zhao.
Tapi dia tidak lagi terlihat seperti manusia.
Tubuh bagian bawahnya telah menyatu dengan kolam darah, membentuk tentakel-tentakel merah yang menjijikkan. Kulitnya melepuh, dan di dadanya... tertanam sebuah kepingan logam hitam yang berdenyut seperti jantung.
Fragmen Kuali Penempa Surga (Ke-4).
Fragmen itu tampak menderita. Warna aslinya yang hitam legam kini bercampur dengan urat-urat merah korupsi. Fragmen itu menjerit—sebuah suara frekuensi tinggi yang membuat Kuali di dalam inventaris Su Lang bergetar marah.
"Kau datang..." suara Zhao bergema, bukan dari mulutnya, tapi dari seluruh ruangan. "Pembawa Kuali..."
Su Lang melangkah masuk, Domain Api Biru-nya langsung aktif, mendorong uap darah menjauh dari murid-muridnya.
"Kau terlihat buruk, Zhao," kata Su Lang santai, meski matanya waspada penuh.
"Buruk? TIDAK! AKU INDAH!" Zhao tertawa gila. "Aku telah menyatu dengan Artefak Suci! Aku merasakan kekuatan penciptaan! Darah adalah material terbaik! Tulang adalah logam terkuat! Aku bisa menciptakan kehidupan abadi!"
"Itu bukan penciptaan," potong Su Lang dingin. "Itu polusi. Kau memaksa fragmen suci untuk memakan kotoran. Kau tidak layak menyebut dirimu penempa."
"LAYAK ATAU TIDAK, KEKUATAN ADALAH BUKTI!"
Zhao mengangkat tangannya. Kolam darah bergejolak.
Seni Darah Terlarang: Golem Raksasa!
Darah di kolam itu naik, memadat, dan membentuk sesosok raksasa darah setinggi sepuluh meter. Raksasa itu tidak memiliki wajah, hanya lubang mulut besar yang meneteskan cairan korosif.
"Makan mereka!" perintah Zhao.
Raksasa darah itu melayangkan tinjunya ke arah kelompok Su Lang.
"Mundur!" Su Lang mendorong murid-muridnya ke belakang.
Dia maju sendirian. Pedang Naga Hitam di tangannya menyala terang. Dia tidak menahan diri lagi.
Seni Naga: Tebasan Pemutus Sungai!
Su Lang menebas vertikal. Gelombang api biru membelah raksasa darah itu menjadi dua dari kepala hingga selangkangan.
Namun, darah itu tidak mati. Bagian yang terbelah itu menyatu kembali dalam sekejap mata.
"Percuma!" Zhao tertawa. "Darah tidak bisa dipotong! Selama kolam ini ada, pasukanku tak terbatas!"
Su Lang mengerutkan kening. Cairan memang musuh alami tebasan fisik. Dan dengan fragmen kuali yang memperkuat regenerasi Zhao, pertarungan atrisi (stamina) akan merugikan Su Lang.
"Li Yun! Lin Yue! Chen Ling!" teriak Su Lang tanpa menoleh. "Kalian urus tentakel-tentakel yang mencoba naik ke tepian! Jangan biarkan mereka menyentuhku! Aku harus fokus pada Zhao!"
"Serahkan pada kami!"
Li Yun dan yang lainnya membentuk formasi segitiga di pintu masuk, menahan gelombang anak buah darah (blood minions) kecil yang mulai bermunculan dari pinggir kolam.
Su Lang menatap Zhao. Dia harus menghancurkan sumbernya. Tapi kolam darah itu terlalu besar untuk diuapkan seketika, bahkan dengan Api Roh.
Kecuali... dia menggunakan api yang lebih panas. Atau menyerapnya.
Mata Su Lang berbinar.
Kuali Penempa Surga. Fungsi utamanya adalah memurnikan.
"Zhao, kau bilang kau ingin menyatukan fragmen kita, kan?" Su Lang menyeringai buas. "Ayo kita lihat, kuali siapa yang akan memakan siapa."
Su Lang melakukan hal gila.
Dia melompat.
Bukan ke arah Zhao, tapi langsung terjun ke dalam kolam darah yang mendidih itu.
"GURU?!" teriak murid-muridnya panik.
"HAHAHA! BODOH! KAU MENGANTAR NYAWA!" Zhao tertawa histeris. "Darahku akan melelehkan dagingmu dan menjadikanmu bagian dari diriku!"
Tubuh Su Lang tenggelam ke dalam cairan merah pekat itu.
Di dalam kegelapan merah yang panas dan korosif, Su Lang menahan napas. Perisai Qi-nya berdesis, terkikis dengan cepat. Rasa sakit mulai merayap.
Tapi Su Lang tenang.
"Sistem. Keluarkan Kuali Penempa Surga (3/9). Aktifkan Mode Pemurnian Mutlak."
[Peringatan: Mode ini akan mengonsumsi Poin Dedikasi dalam jumlah besar per detik.]
"Ambil semuanya! Bakar semua poin reputasi, poin dedikasi, semuanya!"
Di dalam kolam darah, sebuah cahaya emas tiba-tiba meledak.
Kuali hitam milik Su Lang muncul, membesar hingga seukuran rumah. Mulut kuali itu terbuka lebar, menciptakan pusaran air (vortex) di dalam kolam darah.
WUUUUUNG!
"Apa... apa yang terjadi?!" Tawa Zhao terhenti.
Dia merasakan darah di kolamnya—sumber kekuatannya—disedot dengan kecepatan gila-gilaan ke dasar kolam.
Bukan hanya disedot. Darah itu masuk ke dalam kuali Su Lang, dibakar oleh Api Roh Langit Biru dan Jantung Api Bumi yang bekerja bersamaan, lalu dimurnikan menjadi uap putih yang tidak berbahaya.
Permukaan kolam turun drastis. Satu meter... dua meter... lima meter.
"TIDAK! BERHENTI! ITU DARAHKU!" Zhao panik. Dia mencoba mengendalikan darah itu untuk menyerang kuali, tapi Kuali Penempa Surga milik Su Lang memiliki otoritas lebih tinggi (3 fragmen vs 1 fragmen).
"Fragmenmu menangis, Zhao," suara Su Lang terdengar dari dalam kuali yang bersinar. "Dia minta tolong untuk dibebaskan darimu."
Dalam waktu satu menit, kolam darah itu kering.
Hanya menyisakan Zhao yang duduk di singgasana tengkoraknya, kini tampak kerdil dan telanjang tanpa selimut darahnya. Tentakel-tentakel di tubuhnya layu dan putus.
Su Lang melompat keluar dari kuali, mendarat di depan Zhao. Dia kering, bersih, dan memancarkan aura suci.
Kuali Su Lang melayang di belakangnya, berputar pelan, memancarkan tekanan yang membuat fragmen di dada Zhao bergetar ketakutan.
"Sekarang," Su Lang menempelkan ujung pedangnya ke dahi Zhao. "Mari kita bicara tentang siapa yang sebenarnya dewa di sini."
Zhao menatap Su Lang dengan horor mutlak. "Kau... kau bukan manusia... kau monster..."
"Aku adalah Ketua Sekte," koreksi Su Lang.
Dia tidak membunuh Zhao dengan pedang.
Su Lang mengulurkan tangannya, mencengkeram fragmen hitam di dada Zhao.
"Kembalilah."
Su Lang menarik paksa.
SRAAAK!
"AAAAARRRGGGHHHH!"
Zhao menjerit saat fragmen itu dicabut dari dagingnya. Tanpa fragmen yang menopang hidupnya, tubuh Zhao yang sudah rusak akibat ritual terlarang langsung hancur. Dagingnya meleleh, tulangnya menjadi debu.
Dalam hitungan detik, Ketua Besar Zhao, musuh terkuat di Wilayah Selatan, hanya tinggal tumpukan abu basah di atas singgasana tengkorak.
Su Lang menggenggam fragmen ke-4 itu. Fragmen itu masih merah, panas, dan penuh energi jahat.
[Mendapatkan: Fragmen Kuali Penempa Surga (4/9) - Terkorupsi.]
[Status: Tidak Stabil. Butuh pemurnian segera.]
Su Lang berbalik menatap murid-muridnya yang berdiri terpaku di pinggir kolam kering. Mereka selamat.
"Kita menang," kata Su Lang, mengangkat fragmen itu tinggi-tinggi.
Namun, sebelum sorak kemenangan terdengar, tanah berguncang hebat.
Runtuhnya Zhao dan keringnya kolam darah menyebabkan ketidakstabilan pada struktur gunung yang sudah dilubangi.
RUMBLE!
Atap aula mulai retak.
"Lari!" teriak Su Lang. "Gunung ini akan runtuh!"