Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
"Apa anda berniat membawa mertua anda ikut serta Buk Norma?" ucapnya.
Norma kian bingung.
"Maksud anda?" tanyanya lagi.
"Ah tidak. Ini sudah menjadi pembicaraan kita kemarin. Jika anda sudah menandatangani surat kontrak, dengan kata lain anda menyetujui untuk tinggal di tempat yang telah di sediakan" jelas Prakoso.
Norma mengangguk setuju, lalu mengikuti Prakoso menuju parkiran.
Prakoso mengambil tas Norma lalu memasukkan kedalam bagasi, membuka pintu mobi bagian penumpang. Norma membimbing putrinya, lalu ikut masuk. Setelahnya Prakoso masuk ke bagian depan sebelah pengemudi.
"Jalan Sur!" ucap Prakoso pada pak supir.
Suryo menghidupkan mesin, lalu perlahan menjalankan laju kendaraan.
"Kita hendak kemana Mak?" tanya Nuri. Iya sedang nyemil buah apel pemberian Prakoso, yang sebelumnya telah di cuci.
"Kita akan ke rumah baru. Apa Nuri mau tinggal dirumah baru?" Balas Norma.
"Mau Mak. Nuri tak ingin lagi tinggal bersama ante Ria, Nek Mariah, Kakek Darman. Mereka semua jatah!" Nuri jadi kesal jika ingat keluarga Ayahnya.
"Hust!" Norma meletakkan jari telunjuknya ke bibir sang anak "Tak baik bicara macam tu, Nek Mariah, kakek Darman dan ante Ria adalah keluarga kita. Mereka tidak jahat, hanya saja cara mereka menyayangi berbeda dari mamak. Nuri faham?" Norma tidak ingin menanamkan kebencian terhadap anaknya.
Gadis kecil itu hanya mengangguk. Sedangkan melalui kaca atas kemudian, Prakoso menatap ibu dan anak itu.
Mobil berhenti di parkiran supermarket. Prakoso langsung turun, lalu mengetuk kaca bagian penumpang. Norma membuka setengah kaca jendela mobil.
"Saya akan belanja kebutuhan untuk hunian yang Ibuk Norma tinggali. Ada keperluan yang anda inginkan?" tanya Prakoso lalu menoleh pada Nuri "Nuri mau makan apa? Tapi ice cream, coklat, dan permen sementara pemulihan ini belum boleh di konsumsi" ujar Prakoso lembut.
Nuri melirik ke atas, jari telunjuk bertumpu di dagu.
"Roti coklat dan susu boleh Paman?" tanya polos.
"Boleh. Lainnya? mainan misalnya?" Prakoso bertanya lagi.
Nuri melirik sang ibu dengan wajah memelas, mata yang berkedip lucu.
"Itu saja sudah cu...._"
"Boleh. Asalkan coklat dan manisnya di batasi. Mainan boneka saja ya, karena ada nya cuma itu di supermarket ini" potong cepat pria paruh baya ini.
Nuri mengangguk senang, Norma hanya menghela nafas berat.
Prakoso berbalik, berjalan menuju supermarket, masuk kedalam.
.
Beberapa menit kemudian, tampak Prakoso keluar dari supermarket. Di susul seorang pria muda, mengenakan seragam karyawan mendorong rolling belanja dengan aneka bahan makanan yang banyak. Keduanya menuju belakang mobil.
Prakoso membuka bagasi, lalu satu persatu bahan makanan di masukkan kedalam. Semua barang telah di masukkan, Prakoso menutup bagasi mobil. Iya merogoh saku, mengeluarkan lembaran uang warna biru.
"Ini tips untuk mu" Iya mengulurkan uang pada pria muda.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi" ucap pria tulus, senang.
Prakoso hanya mengangguk, lalu kembali masuk mobil. Suryo kembali menjalankan mobil, membelah jalanan kabupaten menuju kota kecamatan.
Satu jam kemudian, mobil masuk ke halaman tidak seberapa luas. Di tumbuhi beberapa pohon dan bunga anggrek. Rumah panggung bergaya modern tampak simple elegan, dengan view kiri kanan dan belakangnya terdapat kebun jeruk yang luas sejauh mata memandang.
Ibu dan anak itu turun dari mobil. Nuri sejenak terpaku melihat aneka anggrek dalam pot, bergelayut di dahan pohon.
"Mak, cantik betul rumahnya. Mak itu!_" tunjuknya pada kebun jeruk bagian kiri samping rumah "Banyak betul pohon dan buahnya" ujar Nuri kagum.
"Itu belum matang. Nanti jika saat sudah menguning, matang sempurna, Nuri boleh ikut memanen" ujar Prakoso seraya mengeluarkan tas dan barang lainnya dari bagasi.
"Yeeeey" Nuri girang sekali.
Seorang wanita dewasa, kisaran umur 48 tahun dan wanita tua 50 tahun mendatangi mereka.
"Buk Norma, ini Mak cik Syam. Beliau dan suaminya yang menjaga rumah ini" mengenalkan wanita tua.
"Yang ini, Buk Salbiah. Dia di tugaskan untuk membantu merawat Nuri nantinya. Untuk sementara ini, Buk Salbiah ini tidak akan menginap."
Kedua wanita tersebut memperkenalkan diri,
Berbasa-basi.
"Nuri, boleh Paman bicara sebentar dengan Mamak? Nuri masuk dulu bersama Mak cik Syam, mau?" ucap Prakoso.
"Sip paman" Lalu Nuri menggandeng tangan Mak cik Syam tanpa canggung.
"Ayo Nek" ucapnya.
Lalu Salbiah, Mak cik Syam dan Nuri berjalan menuju rumah panggung.
Norma senang sekali anaknya telah sembuh, gadis itu juga mudah beradaptasi dengan orang yang baru di kenalnya.
"Keperluan untuk sebulan sudah di sediakan. Nantinya Mak cik Syam hanya akan belanja sayur dan lauk pauk untuk setiap Minggu" jelas Prakoso, lalu mengulurkan ponsel.
"Apa ini Pak?" Norma mengernyit bingung.
"Gunakan ponsel ini untuk berkomunikasi dengan Bapak Syakir. Nanti jika ada keperluan lain atau hal darurat anda bisa langsung hubungi saya" jawabnya.
"Terima kasih Pak" angguk Norma.
"Baiklah, kalau begitu saya mohon undur diri" Prakoso menuju motor lalu mengendarainya.
Setelah kepergian Prakoso, Norma berjalan pelan melihat sekitar pekarangan yang asri ini. Menghirup dalam udara yang bersih, segar. Iya duduk di bangku, di bawah pohon mangga yang rindang.
"Aku seperti lepas dari sarang harimau, tapi masuk ke sangkar emas" lirihnya.
Tapi setidaknya Norma sedikit bernafas lega. Karena tidak akan di buat seperti babu gratisan lagi, tidak akan dimanfaatkan Daria iparnya, maupun Darman mertuanya.
Setelah puas menikmati waktu sendiri, Norma beranjak, berjalan menuju hunian sederhana nan elegan itu.
Saat kaki melangkah masuk, Iya sejenak terpaku. Hunian yang tampak sederhana dari luar, ternyata mewah di dalamnya. Dirinya di sambut dengan hawa dingin dari AC, wangi dari pengharum ruangan. Ruang tamu yang minimalis dengan sofa kayu jati, beralaskan busa lembut, lampu gantung kristal elegan. Kaki nya melangkah menuju bagian ruang keluarga yang lebih luas dari ruang tamu. TV ukuran 26 inci, permadani bulu, sofa bed multifungsi.
"Buk Norma. Mau di buat minuman apa?" Tanya Mak cik Syam membuyarkan lamunan Norma.
"Tidak perlu bersusah payah Mak cik. Nanti saya bisa buat sendiri" tolaknya halus.
"Em, saya mau bebersih dulu Mak cik" ucapnya lagi.
"Oh hampir saja lupa. Ini kamar Ibuk. Nah di dalamnya terdapat dua kamar yang terhubung dengan kamar Nuri" ucap Mak cik Syam, iya membuka kamar di ruang keluarga.
"Terima kasih, kalau begitu saya izin bebersih dulu" Norma membungkuk sejenak, lalu melangkah pelan masuk kamar.
.
.
Setelah makan malam, Norma menghubungi Nomor Daria yang sempat Iya tulis di note kecil.
"Ria, bisa bicara dengan Ibuk sebentar?" tanya Norma.
.
Bersambung.....