Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Derita Nana Belum Usai
Terima kasih,” ulang Nana pelan, namun kali ini jelas. Ia menatap Jordan lurus. “Karena… untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri di depanku dan bilang aku layak dibela.”
Jordan tercekat.
“Tadi,” lanjut Nana lirih, “sakit. Sangat sakit.” Bibirnya bergetar, tapi ia tetap bicara. “Tapi juga… aku jadi yakin. Semua yang aku takutkan itu nyata. Dan sekarang… semuanya sudah jelas.”
Jordan menggeleng pelan. “Aku malah membuat hubunganmu dengan Dimas… dengan wanita itu… makin buruk.”
Nana tersenyum kecil. Senyum yang rapuh, tapi jujur. “Tidak, Dok. Hubungan kami sudah rusak sejak awal. Aku cuma terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”
Ia menatap langit-langit sebentar, lalu kembali ke Jordan. “Kalau Dokter tidak mengatakannya… mungkin aku masih akan terus menyalahkan diriku sendiri."
Jordan merasa dadanya semakin sesak.
“Lalu sekarang?” tanyanya pelan.
Nana menarik napas panjang. “Sekarang aku tahu… aku memang harus berhenti.”
Jordan menggeleng pelan. Kali ini lebih tegas. “Bukan itu, Nana.”
Nana terdiam. Alisnya sedikit berkerut, matanya menatap Jordan dengan bingung.
“Bukan… berhenti?” ulangnya ragu.
Jordan menarik napas dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama menekan dadanya.
“Yang aku maksud… aku ingin semuanya jelas. Statusmu. Posisi kamu. Kamu bukan seseorang yang bisa diperlakukan setengah-setengah, digantung, atau disalahkan sendirian.”
Ucapan itu jatuh begitu saja—jujur, tanpa lapisan pengaman.
Nana membeku.
Ia menatap Jordan beberapa detik, cukup lama sampai Jordan sendiri merasa
jantungnya berdetak terlalu keras. “Dokter… maksudnya apa?” tanyanya akhirnya, suaranya datar tapi jelas kaget.
Jordan terdiam sepersekian detik, lalu—anehnya—tertawa kecil. Tawa singkat, canggung, seolah ia sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. “Maaf,” katanya sambil mengusap tengkuk. “Sepertinya aku terlalu frontal.”
Nana tidak menjawab. Ia hanya tersenyum miring—senyum smirk tipis yang biasanya muncul saat ia ingin menutupi perasaan yang tidak ingin ia jelaskan.
Senyum yang membuat Jordan kembali terdiam.
Keduanya sama-sama tidak bicara untuk beberapa saat.
Suara jam dinding terdengar jelas, berdetak pelan tapi konstan. Di luar, angin malam menyelinap lewat jendela yang sedikit terbuka.
“Aku sebenarnya…” Jordan memecah keheningan, kali ini lebih pelan. “Aku juga kesepian, Nana.”
Nana menoleh. Matanya melembut, tidak menyela.
“Aku pergi dari rumah,” lanjut Jordan, “karena aku lelah diperlakukan seolah hidupku harus mengikuti rencana orang tuaku.” Ia tertawa hambar. “Aku dijodohkan. Dengan perempuan yang bahkan tidak mengenalku, sama seperti aku tidak mengenalnya. Semua sudah disiapkan—bisnis keluarga, pernikahan, masa depan.”
Ia menghela napas. “Padahal aku cuma ingin jadi dokter. Menolong orang. Itu saja.”
Nana menelan ludah. Ada sesuatu di cara Jordan bicara—tenang, tapi menyimpan luka yang lama.
“Di keluargaku,” Jordan melanjutkan, “dokter itu… pilihan kedua. Pekerjaan yang ‘mulia’, kata mereka, tapi tidak menghasilkan sebanyak pebisnis. Ibuku pernah bilang…” suaranya merendah, “…kalau hidup dari menolong orang itu tidak akan pernah membuatku benar-benar dihargai.”
Nana tercekat. Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan apa yang ia alami.
“Aku sempat ragu menolong mu,” aku Jordan jujur. “Bukan karena kamu. Tapi karena aku tahu… sekali aku masuk, aku tidak akan bisa pura-pura netral.”
Ia menatap Nana lurus. “Dan saat aku melihat kamu direndahkan tadi—dianggap tidak pantas, tidak layak, seolah keberadaan mu cuma beban—aku teringat ibuku. Nada suaranya. Cara ia menilai hidup orang lain.”
Jordan menggeleng kecil. “Saat itu aku tahu… aku tidak bisa diam.”
Nana menunduk. Tangannya mencengkeram selimut, lalu perlahan mengendur. “Jadi… Dokter tidak menolongku cuma karena permintaanku saja tapi karena dokter pernah berada di posisiku?"
Jordan tersenyum kecil. “Ya, kamu bener Nana. Aku menolongmu karena itu. Aku tidak ingin merasakan sakit yang aku rasakan sebab tujuan seorang dokter bukan menyakiti tapi menyembuhkan."
Nana dan Jordan saling menatap sekilas, lalu senyum manis terpancar di bibir keduanya tapi di sisi lain ada gadis yang mengepalkan tangannya seolah tidak terima akan situasi ini.
"Oh, ternyata wanita ini yang membuat Jordan tidak mau menerimaku?"
***
Bersambung...