NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Sakit Tak Berdarah

"Pasien semalam itu, sebenarnya kenapa sih?"

"Yang mana?"

"Yang dibawa dokter Lukas. Yang katanya jatuh di kolam."

"Oh, itu. Entahlah. Tapi kata Viona, kondisinya normal. Detak jantung, nadi, paru-paru, semua oke katanya. Tidak ada masalah."

"Tapi kenapa ibunya nangisi dia udah kek mau mati aja anaknya?"

"Mau mati apanya. Kata Viona, tadi di kamarnya ada cowok pas dia lagi kontrol."

"Aaah..., jangan-jangan dia ribut sama pacarnya. Lalu cari perhatian dengan pura-pura sakit. Lagunya anak sekarang kan begitu..."

Obrolan dua suster di kantin rumah sakit itu menarik perhatian Sasa sejak dia datang. Sebelumnya Sasa merasa ngantuk sekali, jadi dia memutuskan untuk membeli kopi sebelum menjenguk Nasya. Tak disangka dia mendengar sesuatu yang dia yakini ada hubungannya dengan Nasya.

Tak mau berlama-lama lagi di sana, dia segera pergi ke kamar Nasya. Dan dia bertemu dengan Yumna di lift.

"Tante...?!" Yumna tak menyangka akan bertemu tantenya.

"Lho, kamu di sini? Sudah enakan emangnya?" tanya Sasa yang masih diliputi rasa khawatir pada keponakannya itu.

"Kalau aku di sini, artinya aku baik-baik saja kan..." jawab Yumna.

"Tapi kamu masih pucat, Yumna. Jangan bohongi Tante." balas Sasa sambil mengusap pipi Yumna.

"Aku nggak apa-apa, Tante." sahut Yumna. "Tante kok sudah di sini juga?" Yumna kemudian balik tanya.

"Tante mau jenguk Nasya." jawabnya.

Yumna tersenyum tipis. Tak ingin menerka-nerka isi hati Sasa. Dia tak mau ambil pusing, kalau pada akhirnya Sasa juga tidak mempercayainya. Tapi lebih simpati pada Nasya.

"Kok nggak etis sekali rasanya, kalau Tante tidak jenguk dia." katanya kemudian.

"Aku tidak mungkin memberitahu Yumna, kalau aku kesini untuk menemukan jawaban atas rasa penasaranku sejak semalam."

___

"Apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai jatuh?" Damar bertanya setelah memeluk Nasya yang sedang duduk di kasurnya.

"Kakak bukannya sedang ada urusan di luar kota?" tanya Nasya basa-basi.

"Aku khawatir sama kamu. Makanya aku langsung pesen tiket." jawab Damar.

"Segitu berartinya aku buat kak Damar. Sampai dia bela-belain meninggalkan pekerjaannya." Nasya membatin dengan bangganya.

"Maaf, sudah buat kakak khawatir." balas Nasya.

"Ngomong apa sih..." sahut Damar. "Kamu juga kenapa bisa sampai tenggelam? Kamu kan bisa berenang..." ujar Damar.

"Aku nggak tahu. Kejadiannya cepat banget." gumam Nasya.

Nasya seolah sedang mengingat kejadian semalam. Dengan tangan Damar yang masih menggenggamnya.

"Seperti ada yang narik tangan aku. Aku panik banget. Apalagi memang kondisiku udah nggak enak sebelumnya." tutur Nasya.

"Sudah aku duga. Pasti ada yang nggak beres. Kamu kan bisa berenang, mana mungkin tenggelam dalam kolam." begitulah reaksi Damar.

"Tapi..., ada yang bilang katanya kak Yumna yang sengaja narik aku. Terus dia kepeleset. Dan kita sama-sama jatuh." katanya lagi.

"Yumna...?!" Damar bergumam pelan.

"Jangan-jangan..." Nasya menatap Damar, lalu menggenggam tangan Damar lebih erat dari sebelumnya.

"Kak Yumna tahu aku dekat sama kak Damar. Jadi dia mau celakai aku..." Nasya berubah ketakutan.

"Ssstt...!!" Damar kemudian memeluk Nasya. Berusaha menenangkannya. "Dia nggak mungkin berani melakukan itu. Jangan takut ya. Ada aku, aku akan melindungi kamu." ujarnya.

"Tapi kak, aku takut sekali. Bagaimana kalau itu benar?" sahut Nasya. "Kak..., aku takut...!!" rengek Nasya.

Tanpa sepengetahuan keduanya, Yumna dan Sasa melihat dan mendengar semuanya. Saking terkejutnya, Yumna tiba-tiba mundur dengan langkah yang bergetar. Dia tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.

"Yumna...!!" seru Sasa ketika Yumna berbalik dan keluar dari ruangan itu.

Nasya dan Damar pun menoleh. Mereka tidak mendapati sosok yang disebut namanya oleh Sasa. Mereka hanya melihat Sasa yang kemudian menghilang di balik pintu.

"Kak..., kak Yumna...!!"

"Tunggu sini ya..."

Damar mengecup kening Nasya sebelum akhirnya keluar dari kamar rawat itu.

"Aah..., akhirnya dia tahu juga. Kak Yumna..., kamu pasti sekarang sudah nangis kejer kan. Setelah sekian lama respon kamu biasa saja dengan semua ulahku. Sekarang kamu pasti akan meluapkan segala kekesalan kamu. Dan aku akan dengan senang hati bantu kamu menikmati penderitaan itu."

___

Langkah Damar yang lebar, membuatnya lebih cepat menyusul Yumna. Sasa yang sedang memeluk Yumna, adalah orang pertama yang menyadari kehadiran Damar. Lalu dia melepaskan pelukannya.

"Yumna..., kita perlu bicara." ujar Damar.

Yumna sama sekali tidak menoleh pada Damar.

"Jika kamu tidak ingin, kita bisa pergi, Yumna..." kata Sasa, dengan tatapan tajam yang tertuju pada Damar.

"Tante bisa pergi duluan. Aku akan selesaikan masalah ini sekarang." balas Yumna.

"Kamu yakin?" Sasa tidak tega harus meninggalkan Yumna sendirian.

Yumna hanya mengangguk, sambil tersenyum tipis. Sasa akhirnya menjauh dari mereka. Namun dia tidak benar-benar pergi. Dia masih memantau mereka diam-diam. Dia khawatir akan terjadi sesuatu pada Yumna.

"Yumna..., karena kamu sudah melihat semuanya. Aku tidak akan menutupinya lagi. Maaf, kita akhiri saja sampai di sini." kata Damar.

"Sejak kapan kalian bersama?" tanya Yumna.

"Kamu tidak perlu tahu itu. Yang jelas, aku sudah menyadari semuanya. Kalau di hatiku memang hanya ada Nasya." jawabnya.

Dada Yumna semakin sesak saja mendengar ucapan Damar. Awalnya dia masih mengharapkan Damar meminta maaf dan membujuknya. Tapi ternyata Damar justru mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang. Tanpa basa-basi. Yang sukses menambah luka di hati Yumna.

"Aku sudah lama ingin mengatakan ini sama kamu. Tapi Nasya selalu melarangku. Dan sekarang, aku sudah tidak perlu menutupinya lagi. Aku harap, kamu tidak menyakiti Nasya karena hal ini. Karena ini bukan salah dia. Aku yang memilihnya. Mulai hari ini, siapapun yang menyakiti Nasya. Akan berurusan denganku. Sekalipun itu kamu. Dan soal tadi malam, aku harap tidak terjadi lagi. Kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada Nasya karena ulah kamu. Aku tidak akan segan membalasnya. Ini peringatan terakhir dariku. " tutur Damar mengancam Yumna.

Setelah mendengar semua itu, Yumna berbalik dan beranjak dari tempatnya. Dia tak berniat membalas semua ucapan Damar. Dia memilih pergi dan menerima semuanya begitu saja. Meski rasa sakit itu begitu menyiksanya.

Sosok yang selama ini dia percaya, yang selalu jadi tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya. Ternyata diam-diam mencintai Nasya. Adiknya yang selalu membuat masalah dengannya. Jadi selama ini dia salah tempat dalam mengadu. Sekarang..., dia tak lagi memiliki sandaran.

"Yumna...!"

Yumna yang berjalan dengan tatapan kosong, menoleh karena seseorang memanggil namanya. Lalu orang itu kembali memeluknya. Siapa lagi kalau bukan Sasa. Sasa kemudian mengajak Yumna pergi.

"Aku boleh menginap di rumah Tante?" tanya Yumna ketika mereka dalam perjalanan ke rumah Yumna.

"Tentu boleh, tante malah senang. Kita langsung ke tempat Tante?" balas Sasa.

Yumna mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Yumna mengirim pesan pada bibi Nuri, kalau dia akan menginap di rumah tantenya.

___

Sasa selama ini tinggal terpisah dengan orang tuanya. Dia memiliki sebuah rumah yang dia bangun dari hasil kerja kerasnya sendiri. Dan baru setahun ini dia tempati. Karena dia tak ingin lagi tinggal bersama orang tuanya, yang selalu memaksanya menikah dengan pria pilihan mereka. Dia benar-benar terganggu dengan hal itu.

"Semua sudah siap, bi...?" tanya Sasa pada ART yang selama ini mengurusnya.

"Sudah, nona." jawab bi Sinta.

"Terimakasih ya." balas Sasa sambil mengusap bahu bibinya.

"Ayo Yumna, Tante antar ke kamar kamu."

Sasa membawa Yumna ke lantai 2, di sanalah letak kamar yang dia siapkan untuk Yumna.

"Tidak semewah kamar kamu. Tapi semoga kamu betah ya." kata Sasa setelah membuka pintu sebuah kamar.

"Tante tidak tahu saja. Kamarku tak seperti dulu lagi..." Yumna membalas dalam batinnya sendiri.

"Terimakasih, Tante." kata Yumna.

Yumna tetap tersenyum setiap kali membalas ucapan sang tante. Tapi Sasa tahu betul, senyuman keponakan itu mengandung banyak sekali luka. Yang mungkin akan sulit untuk terobati.

"Yumna, jika kamu percaya sama Tante. Tante siap mendengar semua yang menjadi beban di hati kamu. Kamu boleh bercerita banyak hal sama Tante. Anggap saja Tante ini teman kamu." tutur Sasa sambil mengusap pipi Yumna.

"Teman...?! Aku bahkan lupa, kapan terakhir kali aku bertemu teman-temanku. Dan..., apa mereka masih menjadi temanku saat ini?"

"Baiklah, kamu istirahat dulu. Tante tidak akan ganggu kamu. Kalau butuh apa-apa minta sama bi Sinta. Jangan sungkan." begitulah pesan Sasa sebelum keluar.

Setelah pintu kamar kembali tertutup. Yumna berjalan mendekati jendela. Memejamkan matanya, hingga air matanya kembali jatuh dari sudut mata yang masih bengkak dan perih.

"Kenapa aku jadi seperti ini? Orang-orang yang aku sayangi, satu per satu pergi meninggalkan aku. Perlahan mereka menyakitiku. Kenapa...??!!"

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!