NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Ketukan pintu pelan terdengar di pintu kamar yang sedang Nara tempati.

“Nara?” suara Indah begitu lembut terdengar dari luar.

“Iya, Bu,” jawab Nara cepat.

Nara membuka pintu dan Indah masuk sambil membawa beberapa paper bag besar dengan logo butik ternama.

“Ini baju gantimu,” kata Indah sambil meletakkannya di atas ranjang.

“Kalau kurang, bilang ibu, ya.”

Mata Nara langsung berbinar. Melihat begitu banyak baju, padahal tadinya Nara pikir calon ibu mertuanya hanya akan memberi satu atau dua stel saja.

“Terima kasih banyak, Bu,” ucap Nara tulus.

“Banyak sekali bu..” ucap Nara lagi.

Indah tersenyum hangat. “Kamu sekarang anak ibu juga.”

Kalimat itu membuat dada Nara menghangat.

Setelah Indah keluar, Nara segera membuka kantong-kantong yang diberikan oleh Indah, Ada dress rumah yang sederhana tapi elegan, piyama berbahan lembut, bahkan beberapa set pakaian yang terlihat mahal.

Nara memilih satu set baju sederhana berwarna krem lalu mengganti pakaiannya.

Begitu kain itu menyentuh kulitnya, Nara terdiam kagum.

“Halus banget…” gumam Nara.

“Dan adem…” Nara terkikik geli sendiri.

Baju yang dibawakan Indah begitu pas di tubuh Nara, nyaman seperti dibuat khusus.

Nara menatap dirinya di cermin yang ada di kamar Arkan dan tersenyum malu.

“Aku kelihatan beda…” kata Nara sambil tersenyum bahagia.

Nara lalu merebahkan tubuh di ranjang empuk milik Arkan lagi, memeluk bantal sambil menghela napas bahagia.

Dan tepat saat itu, ponselnya berdering. Nama Arkan muncul di layar. Video call.

Jantung Nara langsung berdegup lebih cepat.

Nara mengusap wajahnya sebentar, memastikan rambutnya tidak berantakan, lalu menerima panggilan dari Arkan.

Wajah Arkan muncul, rapi, tampan, dan menatap Nara lembut.

“Kamu sudah mau tidur?” tanya Arkan.

“Sudah,” jawab Nara dengan senyum lebar.

“Aku di kamar kamu.” kata Nara, memberitahu Arkan.

Arkan terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.

“Kamar kita nanti.” jawab Arkan dan berhasil membuat wajah Nara langsung panas.

Di layar ponselnya, Nara menatap pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, bukan lagi sekadar bos, bukan lagi orang yang menolongnya, tapi pasangan hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya, Nara benar-benar merasa, ini nyata. Bukan mimpi.

***

Keesokan paginya, suasana rumah Indah terasa lebih ramai dari biasanya.

Nara baru saja selesai sarapan ketika suara klakson mobil terdengar di halaman.

“Itu pasti Arkan,” ujar Indah sambil tersenyum penuh arti.

Seperti refleks, jantung Nara langsung berdebar.

Nara berdiri cepat, merapikan bajunya, lalu berjalan keluar. Di sana Arkan sudah menunggu di samping mobil hitamnya, mengenakan kemeja rapi dengan senyum yang selalu berhasil membuat Nara gugup.

“Kamu siap?” tanya Arkan lembut.

Nara mengangguk. “Siap.”

Sepanjang perjalanan, Nara tidak berhenti tersenyum. Ini pertama kalinya ia pergi bersama Arkan setelah resmi dilamar, rasanya berbeda, lebih hangat, lebih berdebar, dan penuh perasaan yang sulit dijelaskan.

Tujuan pertama mereka adalah butik gaun pengantin.

Begitu masuk, mata Nara langsung berbinar melihat deretan gaun putih yang menggantung anggun, berkilau terkena cahaya lampu.

“Ya Tuhan…” bisik Nara pelan.

Seorang staf membawa sebuah gaun dari dalam ruangan khusus. Gaun itu panjang, dengan detail renda halus dan payet yang berkilau lembut, tidak berlebihan tapi tampak sangat mewah.

“Ini yang Tuan Arkan pilihkan,” kata staf itu.

Nara menutup mulutnya saking kagum.

“Cantik banget…” suaranya hampir tak terdengar.

Padahal dalam hati, Nara sempat bermimpi bisa mendesain gaun pengantinnya sendiri, sederhana, sesuai seleranya. Namun melihat gaun di depannya, semua keinginan itu langsung menguap.

"Gaun ini seperti dari dongeng." bisik Nara di telinga Arkan.

“Kalau kamu mau ganti desain—” Arkan mulai bicara.

Nara cepat menggeleng. “Enggak-enggak,” kata Nara tulus.

“Aku suka banget. Ini bagus sekali.” kata Nara.

Arkan tersenyum lega. “Yang penting kamu bahagia.” jawab Arkan.

Setelah ukuran disesuaikan dan beberapa detail dicatat, mereka melanjutkan perjalanan ke toko perhiasan.

Begitu masuk, cahaya dari etalase kaca langsung memantul ke segala arah.

Cincin-cincin berlian tersusun rapi, berkilau seperti bintang.

Seorang pegawai membawa sebuah kotak kecil beludru hitam.

Saat dibuka, napas Nara langsung tercekat.

Di dalamnya ada sepasang cincin dengan berlian besar di tengah, dikelilingi taburan kecil yang membuatnya makin bersinar.

“Pak Arkan…” Nara menelan ludah.

“Ini… cantik banget…” Nara berbisik di telinga Arkan.

“Coba,” kata Arkan sambil mengambil salah satunya.

Tangan Arkan menggenggam jari Nara dengan hati-hati, lalu menyematkan cincin itu.

"Pas." kata Arkan

Nara menatap jarinya yang kini berkilau, matanya berkaca-kaca. “Pasti mahal banget…” gumam Nara.

Pegawai itu menyebutkan nominal harga cincin yang dipakai oleh Nara. Dan seketika dunia Nara seperti berhenti berputar.

“Hah?!” Nara refleks memegang dadanya.

“Segitu?!” Nara mencoba memastikan.

Arkan terkekeh kecil melihat ekspresi Nara.

“Kamu mau pingsan?” tanya Arkan.

“Pak Arkan… ini bahkan lebih mahal dari harga rumah di kampungku!” protes Nara panik.

Arkan tersenyum lembut. “Kamu jauh lebih berharga dari itu.”

Kalimat itu membuat pipi Nara memanas, sekaligus hatinya meleleh.

Nara menunduk malu sambil masih menatap cincin di jarinya.

Dalam hati Nara berbisik, "Ternyata benar, hidupku benar-benar berubah sejak bertemu Arkan."

Dan perubahan itu terasa seperti mimpi indah yang belum ingin Nara bangunkan. Tapi Nara yakin ini nyata.

Setelah urusan gaun dan cincin selesai, Arkan tidak langsung mengantar Nara pulang.

“Kita makan dulu,” ujar Arkan sambil membuka pintu mobil untuk Nara.

“Kali ini aku yang pilih tempat,” kata Nara semangat.

Arkan tersenyum, “Oke, terserah calon istriku.”

Nara tersenyum malu, apalagi Nara juga tidak menyangka, kalau Arkan orangnya bisa romantis. Padahal awal mereka bertemu Arkan sangat angkuh dan sombong.

Nara membawa Arkan ke sebuah restoran Jepang yang cukup terkenal.

Begitu masuk, aroma khas sushi dan saus kedelai langsung membuat perut Nara berbunyi pelan.

Matanya berbinar melihat menu. Dulu, Nara hanya bisa beli sushi versi murah di pinggir jalan, itu pun jarang. Sekarang, di depannya tersaji potongan salmon segar, tuna merah mengilap, dan aneka sushi cantik yang terlihat seperti di drama Korea.

“Ya ampun…” gumam Nara bahagia.

“Ini surga makanan.” kata Nara yang membuat Arkan tertawa kecil.

“Kamu lucu banget kalau lagi senang.” kata Arkan.

Nara langsung mengambil sumpit dan mulai makan dengan penuh semangat.

“Enak banget, Pak Arkan! Ini beneran beda jauh sama yang biasa aku makan!” kata Nara dengan mulut penuh makanan.

“Mulai sekarang kamu nggak perlu versi KW lagi,” jawab Arkan santai. “Kalau mau makan, ya yang terbaik.” lanjut Arkan.

Nara mengunyah sambil tersenyum lebar, merasa hidupnya benar-benar naik level dalam waktu singkat.

Di tengah kesibukan Nara menyerang sushi demi sushi, Arkan tiba-tiba bertanya dengan nada ringan,

“Kamu ingin pergi honeymoon ke mana?” tanya Arkan.

“Huek!" Nara langsung tersedak sashimi.

Arkan refleks menarik botol air mineral dan menyodorkannya ke Nara.

“Pelan-pelan saja makannya,” kata Arkan sambil sedikit panik tapi tetap tersenyum.

Nara minum cepat sampai napasnya kembali normal.

“Pak..tiba-tiba banget ngomongnya jadi honeymoon” keluh Nara.

“Kenapa?” Arkan tampak polos. “Itu pertanyaan normalkan?.”

“Secepat itu mikirin honeymoon?” tanya Nara sambil menatap Arkan curiga.

Arkan mengangkat bahu santai.

“Loh, habis menikah memang harus honeymoon, kan?”

Pipi Nara langsung panas. Entah kenapa kata honeymoon di kepala Nara bukan cuma soal liburan, tapi juga hal-hal yang bikin jantungnya berdebar tidak karuan.

Nara buru-buru menunduk, pura-pura fokus ke sushi.

“Belum kepikiran,” jawab Nara pelan.

“Aku aja masih nggak percaya sebentar lagi nikah.” lanjut Nara.

Arkan menatap Nara lembut.

“Aku mau bawa kamu ke tempat yang indah. Biar itu jadi awal hidup kita.”

Nara menggigit bibirnya pelan, mencoba menahan senyum yang ingin mekar.

Dalam hati, Nara bergumam, "Dulu hidupku cuma tentang bertahan, sekarang rasanya seperti mimpi yang terlalu manis." Nara tersenyum sendiri, karena Nara bahagia.

"Kenapa?" tanya Arkan yang membuat Nara panik.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!