Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 . Kecurigaan
Pernikahan yang seharusnya bahagia justru menjadi sebaliknya. Kini di apartemen tidak hanya ada mereka berdua, tetapi juga ada Arumi sebagai istri siri Kenzo karena video di pernikahan mereka. Video itu, serta keributan yang terjadi saat pesta pernikahan akibat ulah Arumi dan keluarganya, membuat Kenzo terpaksa mengambil tindakan dengan menikahi Arumi di acara pernikahannya dengan Celine secara siri. Desakan para tamu, ditambah Arumi yang mengaku telah hamil dan bahkan menunjukkan hasil tespeknya di hadapan semua orang, membuat Kenzo mau tidak mau menikahinya hari itu juga.
Celine dan Arumi kini tengah memperebutkannya. Arumi memegang tangan Kenzo sebelah kanan, sedangkan Celine memegang tangan sebelahnya lagi.
"Kamu pergilah, ini bukan tempatmu, wanita murahan!" ucap Celine mendorong Arumi untuk menjauh.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun selagi suamiku berada di sini."
"Ini suamiku secara sah hukum dan negara, sedangkan kamu hanya menikah siri dan tidak tercatat sama sekali. Harusnya kamu tahu diri, pergilah sebelum aku menginjak kepalamu juga," ancam Celine.
Sedangkan Kenzo benar-benar lelah. Pernikahan kebut semalam yang menguras tabungan serta tenaganya malah berujung kacau, ditambah lagi sekarang ia harus menanggung malu sekaligus membereskan skandalnya agar tidak berpengaruh pada perusahaan.
"Meskipun pernikahanku tidak tercatat di negara, tapi setidaknya semua orang tahu jika Kenzo adalah suamiku juga," ucap Arumi, yang membuat mereka saling menarik Kenzo ke kanan dan ke kiri seperti berebut mainan.
Kenzo tidak tahan. Ia benar-benar muak dengan pertikaian ini. Ia hanya ingin istirahat dari Arumi ataupun Celine. Ia ingin lari menjauh dari dua orang tersebut.
"Aaakkkhhh...!" Kenzo berdiri, menyibakkan kedua tangan yang memeganginya serta memperebutkannya sejak tadi.
"Stop untuk memperebutkan aku lagi. Aku sangat lelah sekarang," ucap Kenzo berlari ke kamar lalu menghempaskan pintu kamar dengan kuat, membuat dua wanita itu tersentak.
"Ini karenamu," ucap Arumi.
"Karenamu!" balas Celine, berusaha berlari manja ke pintu kamar dan membuka pintu, namun ternyata pintu kamar itu dikunci oleh Kenzo.
Tok... tok... tok...
"Kenzo, buka pintunya, aku ingin masuk!" teriak Celine.
"Diamlah, Celine. Aku butuh istirahat jika kamu tidak ingin suamimu ini berakhir di kamar jenazah!" teriak Kenzo dari dalam kamar.
Celine menghentakkan kakinya, menatap kesal ke arah Arumi.
"Yaa... istri siri, ingat ya, kamu di sini hanya sebagai pembantu, tidak lebih. Jika kamu ingin menjadi nyonya, kembalilah kepada orang tuamu yang miskin itu atau mengemis lah kepada kakakmu yang selalu kamu hina itu," ucap Celine, lalu masuk ke kamar sebelahnya, meninggalkan Arumi yang masih terduduk di atas sofa.
"Iiiissss... dasar jalang sialan," Arumi menarik napas dalam. "Lalu di mana aku harus tidur jika mereka berdua mengisi kedua kamar apartemen ini?" ucap Arumi menghentakkan kakinya. "Aaakkkhhh, Kenzoooo..." ucapnya merengek, namun tak ada jawaban apa pun dari Kenzo.
"Bukan ini yang aku inginkan, tapi... hiks... hiks...kembali pun sama saja." ucap Arumi menutup wajahnya, menangis di telapak tangannya.
Namun di sisi lain, di dalam kamar, Kenzo malah membuka Instagram Raline, menyelidikinya. Entah kenapa auranya begitu menakutkan baginya. Apalagi di tengah keributan antara keluarganya tadi, ia justru tak ikut membela Arumi, malah terlihat bahagia—senyum sinisnya dan tatapan seolah semua kejadian di pernikahan tadi sudah ia seting sedemikian rupa.
"Sebenarnya siapa Raline? Kenapa aku merasa kejadian ini ada sangkut pautnya dengan dia? Tidak mungkin, kan, dugaanku soal dia adalah Anes itu benar?" Wajah Kenzo seketika memutih pucat karena memikirkan hal tersebut.
"Tidak... tidak... aku harus percaya kata-kata Celine. Orang mati tidak mungkin bisa hidup lagi, apalagi sampai bereinkarnasi. Mungkin apa yang aku lihat dan aku rasakan hanya sekadar perasaanku saja karena aku takut," ucapnya sambil menelan ludah.
____
Pagi harinya, setelah membuka brankas, Raline menemukan semua harta bendanya yang berharga—mulai dari sertifikat kepemilikan apartemen, BPKB mobil sport yang digunakan oleh Celine dan Kenzo, uang tunai, hingga emas dan perhiasan—masih utuh dan belum tersentuh sedikit pun oleh Celine ataupun Kenzo.
“Yaa… akhirnya aku bisa memiliki hartaku lagi,” ucap Raline tersenyum puas di dalam kamarnya saat membuka brankas tersebut.
Sejak pagi buta, Raline memang meminta pisah mobil dan tidak berangkat ke kantor bersama Raka, karena ia ingin mengurus semua ini. Bahkan bukan hanya itu—Raline juga meminta izin kepada Raka untuk mengendarai mobil sendiri hari ini, sekaligus cuti setengah hari karena ada hal penting yang harus ia urus. Raline ingin menjual apartemen dan juga mobil yang selama ini dikendarai Kenzo. Ia tidak akan membiarkan laki-laki dan perempuan itu hidup senang menikmati harta miliknya.
Setelah berhasil mengambil semua surat yang ia perlukan, Raline keluar dari mandi dan segera mengendarai mobilnya menuju tempat penjualan dan penggadaian aset properti. Raline tidak tahu bahwa Raka mengikutinya. Begitu Raline keluar dari gerbang, Raka langsung memberi isyarat pada sopirnya untuk mengikuti mobil Raline dari belakang.
Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Lisensimu memiliki SIM saja tidak ada, bahkan sebelumnya kamu tak pernah mengemudi—kenapa tiba-tiba sekarang kamu bisa mengendarai mobil tanpa rasa takut seperti itu? batin Raka, terus memperhatikan mobil Raline yang melaju di depan. Aku akan mencari tahu semuanya, Raline. Sikapmu begitu aneh saat pernikahan Kenzo kemarin. Aku yakin kamu mengenal Kenzo jauh sebelum kalian bertemu saat kita makan siang di restoran waktu itu.
Tak berapa lama, Raline berhenti di sebuah gedung penjualan aset dan properti. Begitu Raline masuk ke dalam gedung itu, Raka segera meminta sopirnya menurunkan kursi rodanya. Dengan bantuan sopir, Raka mengikuti Raline masuk ke dalam gedung secara diam-diam dan mendengarkan seluruh pembicaraan Raline dengan seorang agen properti.
“Aku ingin menjual asetku, sebuah apartemen mewah dan juga satu unit mobil sport secara cepat. Aku butuh penjualan ini segera diproses hari ini agar penghuni apartemen itu pergi dari sana.”
“Kalau untuk membeli apartemen serta mobil sport ini dengan cepat, kami tidak bisa menjaminnya, Nona. Ini sebuah gedung mewah dan mobil mahal, sangat sulit menemukan pembelinya jika Nona meminta hari ini juga,” ucap agen properti tersebut.
“Aku tidak perlu kalian mencairkan uangnya untukku hari ini. Yang aku inginkan, penghuni apartemen itu terusir hari ini juga dari sana. Katakan jika Anes Maheswari sudah menjual gedung serta mobil sportnya begitu kalian menemui penghuni apartemen itu.”
Ucapan itu membuat Raka sontak terbelalak. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka pintu ruangan tersebut dan meraih sertifikat serta surat-surat itu dari atas meja dengan cepat.
“Mas Raka?” Raline terkejut begitu melihat keberadaan Raka di sana.
.
.
💐💐💐Bersambung 💐💐💐
Waduh kira - kira gimana ya reaksi Raka pas lihat sertifikat apartemen yang akan di jual oleh Raline adalah nama Anes Maheswari?? 😨
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuan ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat