Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 . Manipulatif Kenzo
Kenzo, Celine, dan seluruh anggota keluarga Arumi—termasuk Raline dan Raka—tengah berada di rumah sakit kandungan untuk membuktikan apakah Arumi benar-benar mengandung atau tidak. Kehebohan di pernikahannya tadi memunculkan banyak wartawan yang datang ke rumah sakit untuk meliput berita yang sedang panas di media sosial.
Ceklek.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter keluar membawa hasil pemeriksaan Arumi. Semua mata langsung tertuju padanya, napas seolah tertahan menunggu vonis.
“Bagaimana, Dok?” tanya Maya mewakili semua orang yang berada di sana.
“Maaf, Bapak dan Ibu. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehamilan pada Saudari Arumi,” jelas dokter tersebut.
“Tapi, Dok, hasil tespeknya menunjukkan garis dua. Saya melihatnya sendiri,” ucap Maya lagi dengan suara gemetar.
“Hasil tespek tidak selalu akurat, Bu. Biasanya itu karena tespek yang sudah terlalu lama atau pengaruh hormon yang membuat hasilnya tidak akurat,” jawab dokter dengan nada profesional.
“Jadi Arumi sama sekali tidak hamil?” ucap Celine dengan suara dingin.
“Benar, Nona. Arumi sama sekali tidak hamil.”
“Lihat, dia sengaja mengacaukan pernikahan kita dengan mengaku-ngaku dia hamil. Aku juga yakin video yang beredar itu hasil editan untuk mengacaukan acara pernikahan kita,” ucap Celine menatap ke arah keluarga Arumi dengan tatapan tidak suka.
Mendengar kegaduhan itu, para wartawan yang menunggu di luar ruangan langsung masuk ke dalam, menyerbu seperti ombak yang pecah tanpa ampun.
“Pak Kenzo, apa benar Nona Arumi memalsukan kehamilannya?”
“Pak Kenzo, bisa jelaskan sebenarnya apa yang terjadi antara Anda dan Arumi? Siapa Arumi sebenarnya?”
“Benarkah Bapak berselingkuh dengan Arumi?”
Cercar para wartawan tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas.
“Tenang, tenang. Ini tidak seperti yang kalian semua lihat. Saya akan mencoba menjelaskannya,” ucap Kenzo akhirnya, berusaha menjaga ketenangannya. “Atas kegaduhan yang terjadi, saya pertama-tama minta maaf. Ini sebenarnya hanyalah kesalahpahaman antara saya, Arumi, dan Celine.”
Ia menatap lurus ke arah kamera. “Arumi adalah mantan kekasih saya. Sebelum saya menikah kembali dengan Celine, saya sempat menjalin hubungan dengan Arumi saat istri saya, Anes, baru saja meninggal. Tapi itu tidak berlangsung lama sampai akhirnya saya memutuskan untuk menikahi Celine, yang merupakan sahabat istri saya sendiri.”
“Peristiwa hari ini di pernikahan saya, saya rasa hanyalah bentuk kekecewaan Arumi yang tidak terima saya tinggalkan. Atas kegaduhan dan ketidaknyamanan di pesta pernikahan saya, saya ucapkan beribu-ribu maaf kepada semua pihak yang terkait.”
Kenzo kemudian menarik tangan Celine lalu merangkulnya erat di depan kamera.
“Sayang, maafkan aku. Karena ulahku, pernikahan yang seharusnya bahagia ini jadi rusak karena berita tidak benar ini,” ucap Kenzo sambil memamerkan kemesraan mereka di hadapan wartawan.
Maya tak terima. Ia menyela keromantisan itu dengan wajah memerah. “Tidak! Itu tidak benar! Dia memang memacari anak saya dan menyelingkuhi Celine!” ucap Maya dengan suara tinggi.
“Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Kenzo! Kamu harus menikahi Arumi!” ucapnya sambil menarik baju Kenzo.
“Maaf, Ibu. Tapi saya sudah menikah dengan Celine. Saya tidak mungkin menikahi Arumi juga. Saya dan dia hanya sepasang mantan kekasih,” ucap Kenzo, berusaha tetap tenang di depan wartawan agar tidak merusak citranya sebagai CEO perusahaan.
“Tapi kamu sudah merusaknya! Kamu harus bertanggung jawab!”
“Maaf, Ibu. Jangan membuat saya membeberkan aib Arumi di sini. Saya tidak ingin menyakitinya.”
Para wartawan kembali mendekat, kamera semakin dekat ke wajah Kenzo.
“Aib apa, Pak? Kami perlu tahu karena sepertinya masalah ini cukup mengguncang privasi dan kenyamanan semua orang.”
Kenzo memasang wajah memelas. “Sebenarnya saya dan Arumi putus karena Arumi sering berganti pasangan. Dia tidak hanya memacari saya, tapi juga rekan-rekan bisnis papanya yang lain.”
Penjelasan itu membuat Maya dan Hendra terbelalak.
“Tidak mungkin apa yang kamu katakan,” ucap Hendra hampir tak percaya.
Kenzo lalu menampilkan layar ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto mesra Arumi dengan pria muda maupun pria tua. Para wartawan sontak meliputnya tanpa ampun.
Celine tersenyum miring melihat semua itu. Ia lalu mengeluarkan air mata buatannya. “Aku sangat tidak menyangka, di hari pernikahan yang seharusnya bahagia ini justru dirusak dengan drama murahan tidak bermoral seperti ini. Ayo, sayang, kita harus segera pergi dari sini. Aku sudah tidak tahan dengan semuanya,” ucap Celine sambil menggandeng tangan Kenzo, menariknya keluar dari kerumunan.
Raline menatap keduanya saat mereka berlalu di hadapannya. “Aku sudah tahu orang-orang licik seperti kalian tidak akan kalah hanya dengan satu serangan. Tapi tenang saja, ini baru permulaan untuk aku menyingkirkan Arumi,” batin Raline.
“Ayo, Mas. Sepertinya kita juga harus pergi,” ajak Raline setelah selesai menyaksikan semua kehebohan itu.
Raka mengangguk. Namun sebelum mereka pergi, Hendra justru menahan tangan Raline.
“Raline, bukankah kamu seharusnya prihatin dengan kondisi adikmu? Dia baru saja difitnah dan tidak mendapatkan keadilan,” ucap Hendra.
“Aku harus melakukan apa, Pa? Apa Papa tidak mendengar penjelasan Kenzo barusan? Dia memang suka berganti pasangan. Seharusnya anak kesayangan Papa itu dikirim ke desa untuk memperbaiki perilakunya,” ucap Raline, membuat Maya terbelalak.
“Raline, dia baru saja mengalami ketidakadilan, tapi kamu malah menyuruh Papa mengirimnya ke desa? Di mana hati nuranimu, Raline?”
“Justru karena aku masih memiliki hati nurani, makanya aku menyuruh dia dikirim ke pedesaan. Apa Mama dan Papa tidak sadar? Setelah semua ini, para wartawan dan media sosial pasti akan menyerangnya habis-habisan—entah itu dengan komentar jahat atau menjatuhkan nama keluarga, dan tentunya nama perusahaan kita juga akan kena imbasnya karena dia.”
“Jadi sebelum anak kesayangan Mama dan Papa itu menjadi gila di sini, lebih baik dia dikirim ke pedesaan untuk berternak ayam, sapi, dan kambing bersama nenek,” jelas Raline.
Hendra terdiam, memikirkan kata-kata anaknya itu.
“Raline ada benarnya. Sepertinya Arumi memang harus dikirim ke pedesaan demi kewarasannya sekaligus untuk mengubah perilaku buruknya.”
“Mas, kenapa kamu malah menyetujui ucapan Raline? Arumi tidak pernah hidup susah, apalagi tinggal di pedesaan. Dia akan menderita di sana, Mas,” ucap Maya dengan suara bergetar.
“Di desa ataupun di sini, kita sama-sama susah, Maya. Setidaknya di sana Arumi bisa menenangkan pikirannya dan tinggal dengan layak bersama mantan ibu mertuaku.”
“Mas…” ucap Maya mencoba menentangnya.
“Keputusanku sudah bulat. Anak itu akan aku kirim ke pedesaan,” ucap Hendra tegas, lalu berlalu meninggalkan keributan itu.
Raline tersenyum miring, lalu ikut pergi dari sana sambil mendorong kursi roda suaminya.
______
Malam harinya, Raline dan Raka saling bertatapan di atas ranjang setelah kejadian di pernikahan Kenzo. Raline menarik tangan Raka, memeluknya erat, lalu menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang laki-laki itu. Meski Kenzo hanyalah mantan suaminya, ia pernah menjadi laki-laki yang sangat ia cintai sepenuh hatinya, dan Celine adalah sahabat sejak kecil, sejak mereka masih di panti asuhan—tumbuh dan berkembang bersama. Rasa pengkhianatan itu masih begitu melekat, menusuk dan melukai hatinya tanpa ampun.
“Kenapa hidup ini tidak pernah adil, Mas? Seperti setiap orang-orang jahat selalu mendapatkan keberuntungan mereka.”
“Hidup memang tidak pernah adil untuk siapa pun, Raline. Tapi meskipun begitu, keadilan pasti akan mencari jalannya sendiri untuk orang-orang yang tidak ingin kalah,” jawab Raka sambil mengelus rambut perempuan itu. Ia tahu Raline sedang begitu rapuh. Perempuan itu terus berusaha terlihat ceria, meskipun Raka tahu setiap malam Raline selalu mengigau ketakutan. Ia tak pernah menemukan tidur yang benar-benar nyaman—entah apa yang pernah menimpanya hingga ia menjadi seperti itu.
“Aku tidak ingin menjadi orang yang kalah, Mas. Aku ingin memperjuangkan keadilanku. Orang-orang yang menyakitiku harus menerima pengadilan mereka.”
“Kamu pasti bisa, Raline. Aku akan mendukungmu,” jawab Raka.
“Aku mempercayaimu, Mas. Aku harap kamu akan terus seperti ini, meski kamu tahu yang sebenarnya tentangku nanti.”
“Apa maksudmu, Raline?” tanya Raka, menghentikan elusannya.
“Aku tahu kamu belum sepenuhnya mempercayaiku, Mas, tapi aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku akan memberitahumu setelah semua ini selesai.”
“Apa ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku?”
“Kamu akan tahu begitu waktunya tepat nanti, Mas,” ucap Raline, lalu memejamkan matanya dan terlelap.
Raka menatap perempuan itu yang kini tertidur, melihat butiran air mata yang tertahan di sudut matanya—sisi lemah yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selain dirinya.
“Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku, Raline?” batin Raka.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuan ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤