Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Dan semua petualangan itu akan dimulai hari ini…01 Juni 2026.
“Total yang akan dilatih cuma sedikit, delapan belas orang. Aku gak terlalu terbebani, kuperhatikan mereka juga orang-orang cerdas.”
Garra tersenyum mendengar celoteh salah satu teman Korea-nya, Lee Jong Hwa, sembari memperhatikan seluruh peserta pelatihan yang hadir di ruang rapat Byul Hospital.
“Jadi, selama sepuluh hari pertama aku percayakan mereka ke kamu,” ujar Garra.
“Gwaenchana(Gak masalah),” sahut Jong Hwa.
Segera, Min Gyu menyalakan proyektor LCD, sebelum kemudian salah satu dokter dengan nametag bertuliskan ‘Choi Min Seok’ mulai berdiri membuka suara.
“Selamat datang untuk seluruh peserta proyek Klinik Internasional Byul Health. Saya, Choi Min Seok, selaku Dokter Spesialis Bedah Tulang di rumah sakit ini. Dan hari ini…”
Dengan celoteh yang terdengar Saputri beserta para pengikutnya pun masih sempat dengan kebiasaan mereka.
“Kak, cakep. Boleh buat saya? Hehehe..” ujar Siska.
“Serahmu. Bilang sama Ibu, tuh,” ujar Firdha.
“Mulai Kak Sis, gatal,” sindir Rifa.
“Hahaha…gak, weh. Usaha,” sahut Siska.
“Maka sudah punya tunangan,” ujar Echa.
“Iya,” sahut Jeni menambahi.
“Belum pasti, Kak, eh,” kata Siska.
“Balikan sama Kharis, tuh, nah,” ucap Echa yang diikuti cekikikan geli dari sekitarnya.
“Maaak, kapan-kapan jadian. Bisanya balikan,” omel Siska.
“Di sini nda ada yang bebulu. Kamu, kan, suka yang bebulu hitam manis.”
Hampir tersembur minumannya, Firdha hanya bisa mendorong cukup kuat lengan Echa yang berusaha abai, sementara yang lain hampir meledak tawa namun, tertahan tatkala melihat Saputri melirik kesal.
“Hush! Diam.”
Mendengar teguran Saputri, keributan mereka pun sedikit mereda walau senyum geli masih mereka kulum.
“Jadi, sesuai dengan susunan…”
Malamnya ke-18 orang ‘terpilih’ itu, termasuk suami dari Saputri berkumpul di apartemen yang diisi Jeni, Rifa, Echa dan Dewinta.
“Dua bulan belajar Bahasa Korea, tuh, kaya apa caranya? Ini maju gila, mundur mati,” omel Kharisma.
“Dijalani aja lagi,” sahut Irfan seraya tertawa renyah.
“Gak, Pak. Targetnya, tuh, ngadi-ngadi. Dua bulan di pake Belajar Bahasa Korea. Sebulan buat belajar obat dari mereka. Tiga bulan penyesuaian. Balik Tenggarong nda beotak lagi,” kembali Kharis mengomel dan Irfan hanya tertawa, “Fit, tahan kau diet diantara para makhluk Hawa yang doyan makan, nih,” tambahnya sembari memperhatikan Fitra yang hanya melamun sedari tadi.
“Boleh dicoba, lah, Ris. Mana tau jadi kaya mereka. Atletis,” sahut Fitra.
“Heee…nda usah banyak dipikir. Dinikmatilah dulu. Termasuk untung, lho, ini. Berangkat dibiayain penuh, disanguin lima ratus ribu won. Sepuluh hari habis ini kita dikasi 1.5 juta won. Selama pelatihan digaji lebih besar daripada waktu kita kerja di tempat lama,” ujar Hardi.
“Tumben betul, Pak,” sambar Echa yang diiringi tawa mereka sesaat.
“Mak, lah, Kak. Kalo masalah duit, tuh, siapa aja langsung logis,” sahut Hardi.
“Gak. Buktinya bos yang kemaren gak logis. Empat belas orang ditukar cuma sama tiga milyar. Orang jual diri aja gajinya tiga tahun lebih dari itu,” omel Jeni.
“Kalo itu gak nyangkal aku, Kak. Gak ada harga dirinya kita dibikin,” sahut Hardi.
“Haaa…dah sampe sini. Yang penting kita jalani, untung banyak,” celoteh Saputri.
“Jadi, rencana kita apa ini? Kita cuma dikasih jatah kegiatan dari Senin sampai Jumat. Weekend gak ada kegiatan apa gitu?” tanya Orvina.
“Jalan gak, sih, Bu? Rugi betul sudah di sini gak digunakan baek-baek,” ujar Rifa.
“Betul, lah. Ngapain diem aja,” sahut Anggun.
“Aaarrgh…kalian jalan, lah. Aku mau tidur kalau weekend,” sahut Kharisma usai menggeliat malas di sofa.
“Awas kamu ikut kalo kita semua jalan,” ujar Maeve, Kakak Sepupunya.
“Lah, semua ikut? Kau juga Fit? Di? Ali? Ikut kelean?” tanya Kharisma gusar.
“Senin sampai Jumat. Jam enam pagi kita udah di suruh ke gym. Jam tujuh baru selesai, setengah delapan udah sarapan. Jam delapan siap-siap. Dari jam sembilan pagi sampai jam lima empat sore kita pelatihan. Weekend aja lagi kita nyantai, Dok. Kapan lagi sudah di tempat orang bagus gini gak jalan,” jelas Ali penuh semangat.
“Setuju aku sama pacarku, Dok,” sahut Trinia.
“Heh! Kelean juga?” tanya Kharisma pada Fitra dan Hardi.
Langsung Fitra dan Hardi mengangguk tegas. Dan pada akhirnya, Kharisma pun menghela napas keras dan memilih menyetujui seluruh ide teman-temannya.
“Tapi, Sa, menurutmu nanti kita nyari dokter lain gak, sih? Terus, masalah penanggung jawab tetep kamu atau gimana nanti?” tanya Orvina yang kali ini tampak serius dan yang lain pun langsung menatap Saputri penuh tanya.
“Aku tetep penanggung jawab. Cuma kalo arahan yang kudapat dari Dokter Jong Hwa sama Pak Sagarra, total tenaga medis termasuk cleaning service, keamanan sama bagian administrasi itu hampir sekitar delapan puluh orang.”
“Cah gendeng,” ujar Maeve, “dia mau bangun klinik ato rumah sakit?”
“Gini, jadi aku sudah dijejali sama semua rincian yang mereka keluarkan dan yang mau dibangun ini, klinik utama bertaraf internasional 24 jam. Jadi, untuk dapatkan akreditas serta ijinnya pun bakalan ngelewati jalur yang bener-bener kaya perang. Semua anggota yang dibagi pun sudah kubentuk, yang jelas aku berharap banyak sama kamu, Vi, selaku penanggung jawab dokter umum. Tapi, nanti kamu bakal dibantu sama Dokter Jae Hyung, Dokter Jin Seok dan Dokter Hoon dari pihak mereka. Terus untuk bagian spesialis nanti Dokter Jong Hwa sama Dokter Min Seok yang urus. Bagian keperawatan aku percayakan sama Siska, Trinia, Ali, nanti dibantu juga dari pihak mereka Perawat Joo Heon, Perawat Juh Yeon, Perawat Da Hyun dan Perawat Hong Seok.”
“Bu, maaf, Joo Heon, tuh, yang mana?” tanya Siska.
“Haiyaaah, Kaaak, Kaaak, cakep, Kak,” sambar Rifa.
“Bukaaan, eh, tadi, kan, kita ngumpul sama mereka juga di ruang rapat,” sahut Siska.
“Hahaha…nda papa, eh. Joo Heon, tuh, yang dari awal ngawal kita,” ujar Saputri.
“Lah, perawat, kah, itu?” ujar Echa.
“Baru tau juga aku,” sahut Jeni.
“Hahahaha, aku juga baru tau. Kaget juga tadi, karena kalo liat mukanya nda meyakinkan. Tapi, ternyata dia salah satu perawat unggul di sini,” jelas Saputri.
“Udah, udah, diem. Lanjut, Dok,” omel Kharisma.
“Hahaha…iya. Jadi, kebidanan tetap aku percayakan sama Firdha, Fara, ya. Tapi, nanti dibantu juga sama pihak mereka, Bidan Tae Hee, Bidan Haru, Bidan Woo Joo, Bidan Sae Ra dan Bidan Siryl. Cuma, Bidan Siryl ini katanya sementara aja, nda ikut ke Tenggarong.
Untuuuk…bentar, ada catatanku.”
Sibuk sejenak dan tiba-tiba bel pintu berbunyi. Sesaat mereka saling melihat dan pada akhirnya, Irfan yang membuka pintu usai melihat sosok di layar pantau.
“Masuk, Pak,” ujar Irfan.
Tampak Garra tersenyum manis diiringi Joo Heon dibelakangnya. Otomatis mereka yang tengah berkumpul santai pun membuka barisan, diikuti Kharisma yang hampir turun dari sofa namun, Garra memberi isyarat untuknya agar tetap di tempat. Garra pun memilih duduk di lantai, tepat dibelakang Echa, sementara Joo Heon memilih duduk di kursi bar bersama Irfan dan Hardi.
“Santai, lanjut aja dulu. Nanti baru aku ngomong,” ujar Garra.
“Penting gak, Pak?” ujar Saputri.
“Gak terlalu kayanya. Cuma susunan yang tadi siang ada berubah sedikit.”
“Eh, jangan, sampaikan dulu, Pak. Soalnya saya lagi ngasi tau soal bagian masing-masing,” ujar Saputri.
“Oh! Sampai mana udah?”
“Sampai bagian kebidanan,” sahut Saputri.
“Oke, sisanya aku lanjut,” ujar Garra diikuti mereka yang langsung beralih menatap Garra, “untuk bagian Apoteker Dewinta nanti dibantu Dokter Jong Hwa, Apoteker Seong Jun sama Apoteker Nam Gil. Bagian administrasi umum mencakup semua bagian nanti Pak Irfan dibantu sama Min…”
Tiba-tiba bel berbunyi dan mereka pun mengalihkan pandangan pada pintu utama, untuk kedua kali Irfan tersenyum setelah melihat layar pantau. Dia mempersilahkan Min Gyu masuk bergabung dan ikut duduk di kursi bar. Sesaat Echa melirik Jeni yang sibuk dengan ponselnya, tampak sekilas dia tersenyum sipu dan membuat Echa tidak tahan untuk menyenggol lengannya.
“Diem,” bisik Jeni.
“Heleh, gitu bilang gak jatuh,” cibir Echa.
“Dah, ah, diem,” bentak Jeni.
“Jadi, lanjut, ya,” ujar Garra dan diiyakan dengan yang lain, “bagian administrasi umum mencakup semua bagian dari masalah jaminan kesehatan, keselamatan kerja, asuransi jiwa, keamanan, pengawasan jaringan internal fasilitas elektronik klinik dan kebersihan jadi tanggung jawab Pak Irfan, dibantu Min Gyu sama Shin Won, Hong Seok, Yuto dan Hansol. Untuk bagian keuangan dan aset, Jeni, Laisha, Rifa dibantu sama dr. Kyu Jong, Dong Ho, Min Gyu, Jae Ho daaan…ditambah anggota baru, AJ. Bagian Asisten Apoteker ada Anggun nanti dibantu sama Asisten Apoteker Sang Won, Se Hyuk, Sara, Yuri, dan Da Hye. Pengingat aja, Perawat Da Hyun sama Asisten Apoteker Da Hye ini kembar identik, takut kalian salah orang waktu di lapangan. Untuk Echa ini juga ada perubahan, nanti kamu masuk double tapi, aku ambil utamanya, jadi, kamu masuk sekretaris, tata usaha, aset, sama bagian obat. Dokter umum yang lain bisa ikuti arahan Dokter Saputri sama Dokter Orvina untuk seluruh kegiatan persiapan akreditas di Tenggarong. Jadi, selama di sini, kita juga sambil nyiapin segala keperluan akreditas, karena targetku, dua minggu setelah pulang dari sini, kita langsung buka. Ada yang ditanyakan?”
Tampak Echa mengangkat tangan ragu.
“Iya? Kenapa?” tanya Garra.
“Gak, itu semua kerjaan saya gak dibantu kaya yang lain?” tanya Echa ragu.
“Oh! Sekretaris, tata usaha, kamu sama aku. Aset bareng Jeni. Obat bareng Anggun.”
“Mak, lompat-lompat, dong,” keluh Echa.
“Gaaak, nanti pas prakteknya kamu dominan sama aku. Aset untuk pengecekan ulang pas tutup buku sama awal bulan. Obat selingan jaga, sayang surat ijinmu soalnya. Cuma belajarnya aja yang lompat-lompat sementara ini. Bisa, kok, bisa. Intinya jangan dipikirkan tapi, dikerjakan, dijalani.”
Tampak Echa menghela napas pasrah dan hanya menerima semua. Dibalik kericuhan sekelilingnya terlihat Garra tersenyum dan mengacungkan kepalan tangannya memberi semangat.
“Serah,” ucap Echa kesal tanpa suara.