Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG PENGKHIANATAN
Lampu laboratorium berpijar putih pucat, memantul pada dinding kaca yang dingin, menciptakan atmosfer yang mencekam. Di dalam ruangan kedap suara itu, Scarlett berdiri di hadapan Jane dengan tatapan yang mampu menguliti keberanian siapa pun. Namun, Jane tetap pada pendiriannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu, bersumpah demi apa pun bahwa tidak ada satu pun orang luar yang menyentuh dokumen itu saat berada di tangannya.
Melihat ekspresi Jane yang nyaris histeris, Scarlett tahu gadis itu tidak sedang berbohong secara teknis. Jane terlalu dangkal dan ceroboh untuk melakukan spionase industri sebersih ini. Namun, yang mengejutkan adalah serangan balik yang dilontarkan Jane dengan penuh dendam.
"Devan adalah suamimu!" teriak Jane, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Scarlett. "Kamu tahu setiap jengkal proyek ini! Aku punya ribuan alasan untuk curiga kalau kamulah yang sengaja membocorkan data itu ke Grup Laksmana untuk menyenangkan suamimu, lalu menjadikanku tumbal untuk menutupi jejakmu!"
Scarlett terdiam. Ia tidak membuang tenaga untuk mendebat logika Jane yang bengkok. Ia tahu waktu adalah musuh terbesarnya sekarang. Masalah pengkhianatan ini akan ia selesaikan nanti, namun saat ini, ia harus melahirkan kembali algoritma yang telah dicuri dalam sisa waktu yang mustahil.
Jam demi jam berlalu. Layar monitor di hadapan Scarlett dipenuhi dengan barisan kode berwarna merah—tanda kegagalan sistem yang berulang. Kepalanya berdenyut hebat, matanya mulai berbayang karena kelelahan yang luar biasa.
Tanpa suara, Mavin masuk membawa kantong berisi makan malam. Scarlett memakannya dengan cepat, nyaris tanpa rasa, lalu jemarinya kembali menari di atas keyboard. Mavin tidak banyak bicara; ia hanya berdiri di sampingnya, memberikan saran-saran teknis yang tajam setiap kali Scarlett menemui jalan buntu.
Suasana itu membangkitkan memori lama. Masa kuliah mereka, masa ketika dunia terasa lebih sederhana meskipun mereka harus bergadang semalaman demi sebuah proyek. Namun sekarang, taruhannya bukan lagi nilai akademis, melainkan nyawa perusahaan dan harga dirinya.
"Pulanglah dulu," bisik Mavin saat melihat tangan Scarlett sedikit gemetar karena kafein dan stres. "Otakmu butuh istirahat agar bisa berpikir jernih besok. Kita tidak bisa menang jika jenderal kita tumbang karena kelelahan."
Scarlett tidak memprotes. Mereka berjalan keluar bersama dalam keheningan malam Nordigo yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu apartemennya, Scarlett berhenti. Ia menatap punggung Mavin, keraguan besar menggelayut di hatinya.
"Mavin," panggilnya lirih.
Mavin menoleh, satu tangannya masih memegang kunci pintu apartemennya sendiri yang berada tepat di sebelah. "Hm? Ada apa?"
Scarlett menggigit bibir bawahnya, menatap lurus ke mata Mavin yang tenang. "Aku pernah mencintai Devan. Dan di mata hukum, kami masih suami istri. Kamu... apa kamu benar-benar tidak pernah curiga kalau aku yang menyerahkan dokumen itu kepadanya?"
Pertanyaan Jane tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, meracuni rasa percaya dirinya.
Mavin terdiam sejenak, lalu tawa tenang yang menghangatkan suasana keluar dari bibirnya. "Tidak. Sedetik pun tidak. Lagipula, jika kamu paham kondisi internal Grup Laksmana, kamu akan tahu kalau tuduhan itu tidak masuk akal."
Scarlett mengernyit bingung. "Maksudmu?"
"Proyek robot pintar Grup Laksmana dipimpin langsung oleh Vivian," jelas Mavin dengan nada serius. "Aku percaya, meski kamu mencintai Devan, kamu tidak akan pernah kehilangan akal sehat sampai rela menyerahkan hasil jerih payahmu sebagai hadiah untuk Vivian. Kamu terluka sampai seperti ini juga karena dia, bukan?"
Scarlett terpaku. Ia memang tidak memantau perkembangan Grup Laksmana sedetail itu. Mengetahui Devan menyerahkan proyek sebesar itu ke tangan Vivian membuatnya merasa seperti ditampar kenyataan berkali-kali. Devan benar-benar menggunakan segalanya untuk mengangkat wanita itu, bahkan jika harus menginjak istrinya sendiri.
"Jangan berpikir macam-macam lagi. Tidurlah," pesan Mavin lembut sebelum masuk ke apartemennya.
Scarlett menghela napas panjang dan masuk ke rumahnya yang gelap. Ruangan itu kosong, namun aroma maskulin yang familiar masih tertinggal di udara. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Devan secara fisik. Mungkin dia sedang merayakan kesuksesan pencurian data itu bersama Vivian, pikir Scarlett sinis.
Namun, saat ia melangkah menuju ruang tamu untuk menyalakan lampu, selembar kertas putih di atas meja kopi menarik perhatiannya. Ia memungutnya dengan tangan gemetar. Di sana, tergores tulisan tangan yang kuat, tajam, dan penuh karakter—tulisan yang sangat ia kenal selama lima tahun ini.
[Hubungi aku segera setelah melihat ini.]
Hanya tujuh kata, namun sanggup membuat jantung Scarlett berdegup kencang karena amarah dan kecurigaan. Tidak ada kata tolong, tidak ada kata maaf. Hanya perintah. Apa yang diinginkan Devan sekarang? Apakah pria itu ingin memastikan kehancurannya, atau ada racun lain yang ingin ia teteskan ke dalam hidup Scarlett tepat sebelum ia bebas?
Scarlett meremas kertas itu hingga hancur. Ia tidak akan menelepon. Jika Devan ingin bicara, biarkan pria itu melihatnya di atas panggung tujuh hari lagi.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.