NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Setelah membantu Rania bersandar pada pohon, Rey memindahkan sepeda Rania dan motornya ke pinggir jalan. 

Dia kembali dengan peralatan dari motornya dan dengan cekatan memperbaiki sepeda Rania.

Dalam waktu singkat, sepeda itu sudah kembali seperti semula. Sementara itu, Rania duduk di bawah pohon, memperhatikan Rey dari kejauhan sambil memijat kakinya yang masih terasa nyeri.

Begitu selesai, Rey kembali menghampiri Rania. "Apakah kakimu masih sakit? Bagaimana kalau kita pergi ke dokter?" tanyanya dengan suaranya lembut namun penuh perhatian.

Rania menggeleng pelan. "Tidak perlu, kakiku hanya terkilir," jawabnya dengan nada dingin

Tiba-tiba, Rey berjongkok di depan Rania dan tanpa peringatan, menyentuh pergelangan kakinya yang sakit.

Rania terkejut, dengan cepat menjauhkan kakinya dan menatap Rey dengan pandangan ketakutan.

"He-hey, tenanglah," ujar Rey cepat-cepat, melihat reaksi panik Rania.

"Aku hanya ingin memastikan kondisinya. Aku tidak akan menyakitimu."

Tapi sebelum Rania sempat bereaksi, krekkk...

Rey tiba-tiba mengkeretekkan pergelangan kakinya dengan satu gerakan cepat. Rania yang belum siap untuk tindakan itu langsung terkejut, rasa sakit mendadak membuatnya berteriak tanpa sadar.

Plakkk! Sebuah tamparan ringan mendarat di pipi Rey.

"Kau bilang tidak akan menyakitiku, tetapi kenyataannya kau menyakiti kakiku!" teriak Rania

Rey tersentak, memegangi pipinya. "Maaf… aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu kesakitan. Aku hanya mencoba membantumu. Kadang, tulang yang terkilir memang butuh sedikit dipaksa untuk kembali ke tempatnya."

Tindakan Rey memang menyakitkan, tapi entah bagaimana, rasa nyeri di kakinya sedikit mereda setelahnya. perasaan marah perlahan hilang dari diri Rania.

"Sudah tidak sakit, kan?" tanya Rey sambil tersenyum tipis.

"Karena sekarang sakitnya sudah berpindah ke wajahku." Rey meringis sambil mengusap pelan pipinya yang masih merah.

Rania merasa sedikit bersalah mendengar ucapannya. "M-maaf, aku tidak bermaksud—"

"Sudahlah, tidak apa-apa," potong Rey dengan nada lembut.

Rey menatap Rania sejenak, lalu berkata, "Oh ya, sekarang kita selesaikan masalahmu tadi denganku." 

Rey kembali meraih kaki Rania, kali ini dengan gerakan lebih pelan dan hati-hati, memijatnya dengan lembut. meski masih ragu, Rania membiarkan Rey melakukannya.

"Kau benar," lanjut Rey tiba-tiba, nadanya serius, "Aku memang pria pembully. Aku juga sering membully Alice di sekolah."

"Tetapi itu dulu, sekarang aku berusaha berubah dan kau juga sudah tahu Alice memaafkanku."

Rania terdiam mendengar pengakuan itu . dia menatap Rey dengan mata yang sedikit melembut. Rey juga membalas tatapan Rania dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Apa kau sudah mempercayaiku sekarang?"tanya Rey 

Rania tetap diam dan tidak ingin berbicara 

Rey tidak menyerah."oh ya kita belum berkenalan, siapa namamu?"tanya Rey sekali lagi menatap Rania dengan intens

Rania sempat terpaku beberapa detik oleh tatapan Rey hingga akhirnya ia tersadar dan buru-buru bangkit kemudian bergegas pergi begitu saja dengan sepedanya.

"Hey, tunggu!" seru Rey, mencoba menghentikannya.

Namun, Rania tak menggubris panggilannya. Dia melaju dengan cepat, meninggalkan Rey yang masih berdiri di tempat

Tak jauh dari tempat Rey berdiri, dia melihat setangkai mawar merah tergeletak di jalanan. Bunga itu mungkin jatuh dari keranjang sepeda Rania. Rey memungutnya, mengangkat bunga itu ke hidungnya dan menghirup aromanya, sambil tersenyum kecil.

"Gadis bunga... mungkin itu namanya," gumam Rey sambil terkekeh pelan, membayangkan wajah Rania yang sekarang mengisi pikirannya. Meskipun Rania adalah anak jalanan, penampilannya bukan seperti anak jalanan kebanyakan. Dia terlihat bersih, rapi, dan juga cantik.

**

Keesokan harinya,

Alice  berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah, langkahnya terasa berat. Biasanya, ada Danzel yang akan menyapanya dengan senyuman dan berjalan bersamanya menuju kelas. Namun, beberapa hari terakhir ini, bayangan Danzel di sisinya seolah menghilang begitu saja.

Saat tengah melamun, Alice tiba-tiba melihat sosok Danzel. Namun, kali ini dia tak sendirian. Danzel terlihat berjalan di samping Rachel, wajahnya dipenuhi tawa, senyum bahagia menghiasi bibirnya. 

Mereka terlihat sangat asyik mengobrol satu sama lain. Danzel bahkan tak menoleh sedikit pun, seolah tak menyadari kehadiran Alice di dekatnya.Hati Alice seakan mencelus, tapi dia tidak bisa memalingkan tatapannya. Sakit yang begitu perih menggerogoti hatinya.

Rachel, yang menyadari keberadaan Alice, tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melirik Alice dengan pandangan sinis, bibirnya melengkung dalam senyum penuh kemenangan. Sengaja, Rachel menggenggam tangan Danzel lebih erat, lalu bersandar di bahunya, memperlihatkan betapa romantisnya mereka.

"Hai Alice...."sapa Rey tiba-tiba hingga membuat Alice terkejut 

Rey sedikit tertawa kecil."Maaf membuatmu terkejut."

Alice tersenyum setelah menyadari keberadaan Rey. "Tidak apa-apa."

"kau baik-baik saja hari ini?"tanya Rey

"y-ya tentu aku baik, memangnya kenapa?"balas Alice mencoba tegar

"Aku tahu kau sedang sedih."

Sedari tadi, Rey sudah memperhatikan Alice dan melihat bagaimana ekspresinya berubah ketika Danzel dan Rachel lewat. Rey tahu Alice terluka Bahkan, Rey juga merasakan perubahan Danzel yang semakin menjauh dari Alice.

"T-tidak... Aku..." Alice berusaha menutupi perasaannya, tapi 

"Maafkan aku, Alice," potong Rey tiba-tiba, nadanya penuh penyesalan.

Alice mengernyit, kebingungan. "Maaf? Untuk apa?"

"Kesedihanmu ini, berawal dari sesuatu yang aku dan teman-teman lakukan. Kita membuat Rachel merasa cemas tentang dirimu. Kita yang memanfaatkan rasa tidak amannya untuk membuatnya lebih mengendalikan Danzel. Dan kini, semuanya sudah menjadi seperti ini... Danzel berubah karena pengaruh Rachel."

Alice tersenyum menerima kenyataan itu.

"Kamu tidak perlu meminta maaf, Rey. Aku sudah tahu... cepat atau lambat, hal seperti ini pasti terjadi. Rachel mencintai Danzel, dan Danzel... dia juga mencintai Rachel."

Ia menatap Rey, matanya tenang meski dalamnya bergetar.

"Mereka berdua pantas bahagia. Aku tidak ingin menjadi alasan yang membuat salah satu dari mereka terluka. Lagipula, sejak awal... aku hanyalah sahabat bagi Danzel, bukan siapa-siapa."

Rey mengangguk mengerti. kemudian Rey mencoba menghibur Alice dengan mengajaknya berbincang-bincang hal lain sembari berjalan memasuki sekolah. dia juga menceritakan pertemuannya dengan Rania.

Cerita Rey menjadi hiburan bagi Alice di tengah kepiluan hatinya. dan untuk pertama kalinya Alice merasa aman dengan diri Rey yang sekarang.

**

Hallo gais selamat membaca, jangan lupa like banyak-banyak, komen dan share ya

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!