Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Pesantren, Rutinitas yang Mengobati Luka
[Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Bijel sampai di pesantren Queen Al-Falah. Ia sangat capek. Ia parkir di dekat ndalem tengah, mengembalikan kunci ke Kang Resya, lalu kembali ke ndalem barat. Sampai di ndalem barat, ia memasak, mencuci baju dan menjemurnya, membersihkan rumah. Setelah kecapean, ia ketiduran di ruang santai yang dekat dengan ruang keluarga.]
(Di Ndalem Tengah)
Bijel: (dengan nada lelah) "Kang Resya, ini kuncinya. Terima kasih."
Kang Resya: (dengan nada khawatir) "Ning Abigail sudah pulang? Ning baik-baik saja?"
Bijel: (dengan nada datar) "Saya baik-baik saja. Terima kasih."
(Di Ndalem Barat)
Gus Arya: (bergumam dalam hati) "Siapa yang masak dan membersihkan rumah sepagi ini? Apa mungkin mbak ndalem sudah datang?"
(Gus Arya melihat tas Bijel dan terkejut)
Gus Arya: (bergumam dalam hati) "Bijel? Dia sudah pulang?"
(Gus Arya menemukan Bijel tidur di ruang santai)
Gus Arya: (bergumam dalam hati, dengan nada khawatir) "Ya Allah, Bijel berkeringat sekali. Pasti dia kecapean."
[Siang hari Bijel bangun, ia sholat Dhuhur lalu makan di meja makan, bersama Arya. Ia memang belum sepenuhnya menerima pernikahannya dengan Arya, tapi ia mencoba membuka hati dan menerima pelan-pelan semua ini. Ia melayani Arya, mengambilkan makanan untuk suaminya dulu, lalu ia sendiri baru mengambil makan. Mereka makan bersama dengan karakter Bijel yang sama dengan watak Arya, tapi Arya berusaha selalu mengalah, dan Bijel memang keras kepala sekali.]
(Di Meja Makan)
(Bijel mengambilkan nasi dan lauk untuk Arya tanpa berkata apa-apa)
Gus Arya: (dengan nada lembut) "Terima kasih, Bijel."
(Bijel hanya mengangguk dan kemudian mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri)
Gus Arya: (mencoba membuka percakapan) "Kamu sudah istirahat cukup?"
Bijel: (dengan nada datar) "Sudah."
Gus Arya: "Kamu masak apa hari ini?"
Bijel: (dengan nada singkat) "Seperti yang kamu lihat."
(Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat. Arya mencoba untuk mencairkan suasana, tapi Bijel tetap dingin dan acuh tak acuh)
Gus Arya: "Bijel, tentang kejadian kemarin..."
Bijel: (memotong perkataan Arya) "Jangan dibahas."
(Bijel melanjutkan makannya dengan tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Arya menghela napas dan memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan. Ia tahu bahwa Bijel masih membutuhkan waktu untuk menerima semua ini.)
Gus Arya: "Bijel, kamu suka masakan ini?"
Bijel: (mengangkat bahu, tanpa menatap Arya)
Gus Arya: (mencoba topik lain) "Tadi malam di Malang udaranya dingin ya?"
Bijel: (tetap diam, hanya mengangguk kecil)
Gus Arya: "Kamu ada urusan apa di Malang?"
Bijel: (dengan nada dingin) "Bukan urusanmu."
Gus Arya: (mencoba lagi, dengan nada lebih lembut) "Bijel, apa kamu capek? Mau aku pijitin?"
Bijel: (dengan nada ketus) "Tidak perlu."
Gus Arya: (menghela napas, mencoba untuk tidak menyerah) "Bijel, aku tahu kamu masih marah sama aku. Tapi, aku mohon, bicaralah denganku. Jangan diam seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
Bijel: (tetap diam, tidak merespon Arya. Ia hanya melanjutkan makannya dengan tenang)
Gus Arya: (dengan nada sedikit bercanda) "Ehm, Bijel, kamu tahu nggak? Kemarin waktu aku ke ndalem tengah, aku lihat kucingnya Uti melahirkan. Lucu banget anak-anaknya."
Bijel: (tidak merespon)
[Gus Arya berusaha mengganti topik dg cerita masa kecil. Karena mereka berdua dari kecil sudah kenal, tapi hanya berbeda tempat tinggal saat mereka menginjak remaja.]
Gus Arya: (mencoba topik lain) "Oh iya, kamu ingat nggak waktu kita masih kecil, kita sering main di sungai dekat pesantren?"
Bijel: (tetap diam, tapi sedikit mengangkat kepalanya, seolah tertarik dengan topik itu)
Gus Arya: "Dulu kita sering rebutan ikan kecil di sungai itu. Kamu selalu menang karena kamu lebih jago berenang dari aku."
Bijel: (sedikit tersenyum tipis, tapi kemudian kembali bersikap dingin)
Gus Arya: (semangat karena melihat reaksi Bijel) "Kamu ingat juga kan waktu kita jatuh dari pohon mangga? Kamu nangis karena lututmu berdarah."
Bijel: (dengan nada datar, memecah keheningan) "Itu sudah lama."
Gus Arya: (senang karena akhirnya Bijel berbicara) "Iya, tapi itu kenangan yang indah kan? Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang masa kecil kita ke aku?"
Bijel: (kembali diam dan melanjutkan makannya)
[Arya merasa frustrasi karena usahanya untuk mencairkan suasana selalu gagal. Ia tahu bahwa Bijel masih sangat marah dan kecewa padanya. Ia hanya bisa berharap bahwa Bijel akan segera membuka hatinya dan mau berbicara dengannya.]