NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Yang Tersisa Setelah Nyaris Kehilangan

Lampu rumah sakit tidak pernah benar-benar padam.

Cahaya putih itu menggantung di langit-langit seperti pengingat yang kejam—bahwa hidup bisa berubah hanya dalam satu malam, hanya karena satu pertengkaran yang tak sempat diredam.

Rivena terbaring diam di ranjang rawat inap. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lebih kecil dari biasanya. Selang infus terpasang di punggung tangannya, monitor di samping ranjang berdetak pelan—ritme yang rapuh, tapi masih ada.

Dokter sudah pergi sejak beberapa menit lalu.

Kalimatnya masih menggema di ruangan itu.

Janinnya selamat. Tapi kehamilan ini menjadi lemah dan sangat rentan. Stres sekecil apa pun bisa berbahaya.

Kata selamat seharusnya membawa lega.

Namun bagi mereka yang berdiri di sisi ranjang itu, kata itu justru datang bersama rasa bersalah yang menusuk.

Varrendra berdiri kaku di dekat jendela. Tangannya mengepal, kuku menekan telapak sampai memutih. Ia tidak berani menatap langsung ke arah ibunya.

Karena setiap kali ia melihat wajah itu, satu ingatan muncul tanpa ampun:

suara pintu, nada suaranya sendiri yang meninggi, pertengkaran yang seharusnya bisa ditunda.

Di sisi lain ranjang, Gevano berdiri lebih dekat. Terlalu dekat. Seolah jarak beberapa sentimeter saja bisa membuat perbedaan antara kehilangan dan bertahan.

“Ini salahku,” ucapnya pelan.

Rivena membuka mata. Gerakannya lambat, seperti tubuhnya masih ragu untuk sepenuhnya kembali.

“Tidak,” katanya lirih. “Jangan mulai.”

“Tapi aku membiarkannya terjadi,” lanjut Gevano, suaranya berat. “Aku ikut bertengkar. Aku lupa—” ia menelan ludah, “—bahwa tubuhmu tidak lagi hanya milikmu sendiri.”

Varrendra berbalik. Wajahnya retak.

“Kalau aku tidak keras kepala,” katanya, suaranya bergetar. “Kalau aku tidak memaksa tinggal di rumah… kalau aku tidak menuntut jawaban—”

“Berhenti,” Rivena menyela. Kali ini lebih tegas, meski suaranya lemah. “Aku tidak ingin kalian saling menyalahkan.”

Namun air mata sudah jatuh dari mata Varrendra.

Ia melangkah mendekat, lalu berhenti. Seolah takut menyentuh ranjang itu akan membuat segalanya runtuh.

“Aku minta maaf,” katanya, lalu tangisnya pecah. Tangisan yang tidak ditahan, tidak disembunyikan. “Aku cuma—aku cuma takut kehilangan Mama. Dan sekarang aku hampir—”

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Tangisnya membuat Gevano menegang.

“Menangis tidak akan mengubah apa pun,” kata Gevano tajam, terlalu cepat. “Yang kita butuhkan adalah kendali. Bukan emosi.”

Varrendra menoleh, matanya merah. “Oh, tentu. Karena selama ini kendali Ayah berhasil, kan?”

“Jaga bicaramu,” balas Gevano.

“Kenapa?” Varrendra tertawa pahit di sela tangisnya. “Takut kenyataan? Kita bertengkar di depannya. Kita membuatnya stres. Dan sekarang Mama terbaring di sini—”

“Cukup!” suara itu memotong keras.

Seorang pria tua berdiri di ambang pintu.

Ayah Rivena.

Tatapannya tajam, tubuhnya tegak meski usia jelas menekan bahunya. Aura kepemimpinan yang tidak perlu diteriakkan—cukup hadir, dan ruangan langsung diam.

“Kalian ingin saling menghancurkan di rumah sakit?” katanya dingin. “Atau kalian ingin memastikan perempuan ini bertahan?”

Gevano terdiam. Varrendra menunduk.

Rivena menghela napas pelan. “Ayah…”

Pria tua itu melangkah masuk, mendekati ranjang. Untuk pertama kalinya sejak tiba, nada suaranya melunak. “Kau terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Rivena tersenyum tipis. “Aku memutuskan sesuatu.”

Gevano dan Varrendra langsung menoleh.

“Aku akan berhenti dari jabatanku,” ucap Rivena jelas, meski suaranya lemah. “Aku menyerahkan kendali penuh bisnis keluarga kepada Gevano.”

Gevano membeku. “Rivena, ini bukan saatnya—”

“Justru ini saatnya,” potongnya. “Tubuhku sudah memberi peringatan. Aku tidak bisa terus hidup seperti sebelumnya.”

Varrendra membuka mulut. “Mama, kau tidak harus—”

“Aku mau,” jawab Rivena, menatap anaknya. “Untuk pertama kalinya, aku mau memilih menjadi ibu. Menjadi istri. Bukan strategi. Bukan figur dominan. Hanya… manusia.”

Ruangan itu sunyi.

Ayah Rivena mengangguk pelan. “Keputusanmu tepat.”

Ia lalu menoleh ke Gevano. “Dan aku akan mengambil alih kepemimpinan misi menangkap ayah Selvina.”

Gevano terkejut. “Itu berbahaya.”

“Justru karena itu aku yang maju,” jawab pria tua itu tenang. “Kalian terlalu dekat dengan api ini. Terlalu emosional.”

Varrendra mengusap wajahnya, napasnya tersengal. “Aku minta maaf,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. “Aku seharusnya mendengarkan.”

Gevano mendengus. “Permintaan maaf tidak menghapus akibat.”

“Itu karena Ayah selalu mengukur segalanya dengan hasil!” Varrendra membalas. “Bukan perasaan!”

“Dan kau terlalu tenggelam dalam perasaan!” Gevano membentak balik.

“Cukup,” ayah Rivena berkata keras. “Kalian berdua salah. Dan kalian berdua masih hidup untuk memperbaikinya. Jangan sia-siakan itu.”

Varrendra terisak lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih malu.

Gevano mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Namun di balik sikap dingin itu, ada sesuatu yang retak.

Takut.

Rivena menutup mata. Mendengar mereka masih di sini—bertengkar, menyesal, bernapas—itu cukup.

Untuk sekarang.

Karena ia tahu satu hal dengan pasti:

Ia hampir kehilangan segalanya.

Dan kali ini, ia memilih bertahan—

bukan sebagai pemimpin,

bukan sebagai strategi,

melainkan sebagai seorang ibu

yang ingin melihat anaknya tumbuh

tanpa harus membayar dengan nyawanya sendiri.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!