NovelToon NovelToon
Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama / Enemy to Lovers
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.

Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
​"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
​Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Laki-Laki Jantan

​Suara raungan mesin V12 memecah kesunyian kawasan elite Pondok Indah malam itu. Bukan suara mobil biasa, melainkan aumanVeleno GT hitam matte—mobil yang sama yang ada di dalam foto yang menghancurkan hubungan Alea dan ayahnya semalam.

​Rigel mematikan mesin tepat di depan gerbang besi setinggi empat meter yang menjulang angkuh. Di depannya berdiri Mansion Utama Ardiman, sebuah bangunan klasik modern yang lebih mirip benteng pertahanan daripada rumah tinggal.

​Rigel menarik napas panjang, menatap logo huruf "A" berlapis emas di gerbang itu.

​"Oke, Rigel. Lo udah biasa bedah otak manusia selama berjam-jam. Ngadepin satu calon Bapak mertua galak harusnya nggak lebih susah dari misahin pembuluh darah halus," gumamnya menyemangati diri sendiri.

​Dia melirik jam tangan-nya. Pukul sepuluh malam. Waktu yang sangat tidak sopan untuk bertamu, apalagi ke rumah orang yang membencinya setengah mati. Tapi Rigel tidak peduli. Dia tidak bisa membiarkan Alea tidur di hotel dan makan bekal rantang selamanya. Dia laki-laki, dan laki-laki tidak bersembunyi di balik punggung wanita.

​Rigel membuka pintu mobil yang terangkat ke atas itu. Dia turun dengan tenang. Malam ini dia tidak memakai jas dokter ataupun hoodie santai. Dia mengenakan kemeja hitam polos yang digulung sampai siku dan celana bahan rapi. Simpel, tapi aura dominannya menguar kuat.

​Baru saja kakinya menyentuh aspal, tiga orang sekuriti berseragam safari lengkap langsung berlarian keluar dari pos penjagaan. Wajah mereka tegang, tangan sudah siap di pentungan, seolah Rigel adalah teroris yang mau meledakkan rumah.

​"Berhenti di sana!" bentak kepala sekuriti yang badannya seukuran lemari dua pintu. "Ini properti pribadi! Dilarang parkir sembarangan di depan gerbang utama! Mundurkan mobil Anda!"

​Rigel tidak mundur. Dia justru berjalan santai mendekati gerbang, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.

​"Selamat malam, Pak," sapa Rigel ramah, tapi matanya tajam menatap si kepala sekuriti. "Saya mau bertemu Pak Gavin Ardiman."

​Kepala sekuriti itu, yang bernama Pak Jono, menyipitkan mata. Dia memindai Rigel dari atas ke bawah. Dia mengenali wajah ini. 

Ini dokter yang pernah datang jemput Non Alea naik mobil butut. Tapi kenapa sekarang bawa mobil monster seharga puluhan miliar?

​"Pak Gavin sudah istirahat," tolak Pak Jono ketus. "Beliau tidak terima tamu. Apalagi tamu yang tidak ada di daftar janji temu. Silahkan pergi sebelum saya panggil polisi patroli."

​"Saya rasa Pak Gavin belum tidur. Lampu ruang kerjanya di lantai dua masih menyala," Rigel menunjuk jendela besar di lantai atas mansion yang masih terang benderang.

​"Wah, ngeyel ya Mas ini!" Pak Jono melangkah maju, membusungkan dadanya untuk mengintimidasi. "Denger ya, Mas Dokter. Saya tau Mas siapa. Mas yang bikin Pak Gavin ngamuk kemarin, kan? Perintah Bapak jelas: Kalau Mas Rigel berani nongol di sini, usir paksa. Kalau perlu seret."

​Dua sekuriti lain di belakang Pak Jono mulai memutar-mutar pentungan mereka, mencoba menakuti Rigel.

​Rigel tersenyum tipis. Sama sekali tidak terlihat takut. Dia malah menyandarkan bahunya di pilar gerbang dengan santai.

​"Pak Jono, kan?" Rigel membaca name tag di dada sekuriti itu. "Pak, saya datang baik-baik. Saya nggak bawa senjata, saya cuma bawa nyali. Tolong sampaikan ke Pak Gavin kalau saya ada di sini."

​"Nggak bisa! Pergi!" bentak Jono. "Saya nggak mau dipecat gara-gara ngeladenin kamu! Kamu pikir karena kamu bawa mobil mahal ini, saya jadi takut? Pak Gavin mobilnya lebih banyak!"

​"Saya nggak minta Bapak takut. Saya minta Bapak profesional," suara Rigel berubah sedikit lebih berat, menekan. "Ini urusan laki-laki. Antara saya dan bos Bapak. Kalau Bapak menghalangi saya, dan Pak Gavin tau saya datang tapi Bapak usir, Bapak yakin dia nggak bakal marah? Siapa tau dia justru nunggu saya buat melampiaskan emosinya?"

​Pak Jono terdiam. Logika Rigel ada benarnya. Bosnya itu sedang dalam mode "senggol bacok". Kalau dia tau musuhnya datang menyerahkan diri tapi malah diusir, bisa-bisa Jono yang kena damprat karena dianggap menghalangi kesempatan Gavin buat memaki orang.

​"Tapi perintahnya dilarang masuk..." gumam Jono ragu.

​"Saya nggak minta masuk sekarang. Saya cuma minta Bapak telepon ke dalam," bujuk Rigel. "Telepon interkom itu. Bilang saya di sini. Biar Pak Gavin sendiri yang putuskan mau usir saya atau bukain gerbang."

​Jono dan anak buahnya saling pandang. Akhirnya, Jono menghela napas kasar dan berjalan menuju pos satpam. Dia menyambar gagang telepon yang terhubung langsung ke ruang kerja Gavin.

​Rigel menunggu dengan sabar di depan gerbang besi yang dingin. Angin malam menerpa wajahnya, tapi keringat dingin sedikit menetes di punggungnya. Jantungnya berdegup kencang. Ini pertaruhan. Kalau Gavin menolak, Rigel harus memanjat pagar—dan itu pasti tidak elegan.

​"Halo? Pak Gavin?" suara Jono terdengar gugup saat berbicara di telepon. "Maaf mengganggu malam-malam, Pak... Itu... anu... di depan gerbang ada tamu."

​Hening sejenak. Jono mendengarkan suara bentakan dari seberang sana. Wajah Jono memucat.

​"I-iya Pak, saya sudah usir! Tapi dia nggak mau pergi! Dia maksa mau ketemu Bapak!" Jono melirik Rigel dengan tatapan panik. "Namanya Rigel, Pak. Dokter Rigel."

​Terdengar suara teriakan keras dari gagang telepon, bahkan Rigel bisa mendengarnya samar-samar dari jarak lima meter. Gavin sedang murka.

​"Bapak tanya dia mau apa?" tanya Jono pada Gavin di telepon. Lalu Jono menatap Rigel, menutup speaker telepon dengan tangan.

​"Mas! Pak Gavin nanya, punya nyali berapa kamu dateng ke sini?! Mau cari mati?!" teriak Jono menyampaikan pesan bosnya.

​Rigel menegakkan badannya. Dia berjalan mendekat ke arah pos satpam, menatap lurus ke arah Jono yang memegang telepon. Sorot matanya penuh determinasi.

​"Sini, Pak," Rigel menunjuk gagang telepon itu.

​"Eh, mau ngapain?"

​"Sampaikan pesan saya persis seperti ini. Jangan dikurangi, jangan ditambah," ucap Rigel tegas.

​Jono menelan ludah, sedikit terintimidasi oleh aura otoriter yang tiba-tiba keluar dari sosok dokter muda itu. "O-oke. Apa pesannya?"

​Rigel menatap kamera CCTV yang ada di atas gerbang, seolah sedang menatap langsung ke mata Gavin yang mungkin sedang memantau dari layar monitor di dalam sana.

​"Bilang sama Pak Gavin," ucap Rigel lantang dan jelas.

​"Calon mantunya yang 'anak penjual obat' sudah datang. Saya di sini mau minta kopi, bukan mau minta warisan."

1
Mineaa
wkwkwkwk.....kopi ga tuh.......
aya Aya wae nich dokter satu......
Arix Zhufa
nah ini calon suami idaman....pasti klo udh nikah gk bakal pelit sama istri
Savana Liora: iya. mantap yak
total 1 replies
Arix Zhufa
mau baca cerita soal mama kiana & papa gavin ach
Savana Liora: bacalah kak. dijamin seru. dinikahi sang duda kaya judulnya
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
hati hati Alea macan mau ngamuk mending siap siap panggil pawangnya 🤣🤣
Mineaa
duiiihh..... papa gavin lg konslet kaya nya......hati hati pa.... mulutmu harimaumu....
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....
Tarwiyah Nasa
waht Alea mewarisi sifat kiana
Aidil Kenzie Zie
up lagi donk tor lagi sert
Aidil Kenzie Zie
👍 Dok
Nisa Naluri
hahahahah🤣....ngakak
Bu Dewi
lanjut kak
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kirain Rigel bakal pamer
Savana Liora: lihat lanjutannya besok. lebih daripada pamer
total 1 replies
Arix Zhufa
makin seru aja
Aidil Kenzie Zie
Papa Gavin nggak dicek dulu siapa sebenarnya dokter Rigel
Savana Liora: nantik2 katanya
total 1 replies
Arix Zhufa
ini adek tiri ya min?
Savana Liora: iya kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
panggil Mama Kia pawang papa Gavin
Aidil Kenzie Zie
Alea masuk jebakan Batman Arka 🤣🤣
Arix Zhufa
si arka dpt dobel untung...
Arix Zhufa
keren lo cerita nya
Arix Zhufa
gak mgkn Rigel jatuh cinta tiba2
Arix Zhufa
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!