NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Restoran kecil itu tidak terlalu ramai siang hari. Bau harum makanan yang baru saja dimasak menyambut mereka ketika Elena menggandeng Leon masuk. Anak itu tampak lebih bersemangat dari biasanya, matanya sibuk mencari-cari sosok yang ia harapkan ada di sana.

Dan benar saja, di sudut ruangan dekat jendela, Steve duduk seorang diri dengan laptop terbuka dan secangkir kopi di sampingnya. Wajah ramahnya langsung berubah cerah ketika melihat Elena masuk bersama Leon.

“Eh, Elena? Leon?” serunya sambil berdiri dan melambaikan tangan.

Elena terkejut, matanya membesar sejenak sebelum akhirnya tersenyum canggung. “Steve… kamu di sini?”

Steve menutup laptopnya dan menghampiri mereka. “Iya, aku sering kerja di sini kalau lagi suntuk di BioLabs. Wah, kebetulan sekali.” Ia lalu berjongkok menatap Leon. “Hei, bocah pintar! Apa kabar?”

Leon tersenyum lebar, memeluk Steve seakan sudah akrab sekali. “Uncle Steve! Leon baik… Leon lapar sekali. Boleh makan bareng Uncle Steve, kan?”

Elena menatap anaknya dengan bingung. “Leon…” gumamnya, agak malu dengan tingkah putranya yang tiba-tiba manja sekali pada Steve. Padahal baru dua kali ini mereka bertemu.

Steve tertawa hangat. “Tentu saja boleh. Ayo, kita duduk di mejaku saja.”

Mereka bertiga duduk bersama. Leon memilih kursi di samping Steve, meninggalkan Elena di seberangnya. Sambil memesan makanan, Leon terus mengobrol dengan Steve, menanyakan hal-hal kecil dengan wajah antusias.

“Uncle Steve, kenapa rambutmu selalu rapi sekali?”

“Karena Uncle harus terlihat keren kalau kerja, biar tidak kalah sama orang lain di kantor,” jawab Steve sambil tersenyum.

Leon mengangguk-angguk serius. “Uncle juga pintar masak, kan?”

Steve tertawa kecil. “Lumayan. Tapi pasti kalah sama Mama kamu.”

Elena hanya tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa kikuknya. Ia tidak mengerti kenapa anaknya tiba-tiba bersikap seperti ini pada Steve, tapi tidak menyangka Leon akan seberani ini.

Ketika makanan datang, Leon memakannya perlahan, lalu tiba-tiba berkata dengan polos, “Uncle Steve, kalau Uncle menikah dengan Mama, Leon bisa punya Papa baru, kan?”

Elena tersedak air minumnya, wajahnya langsung memerah. “Leon!” serunya pelan tapi tajam.

Elena buru-buru meraih tangan Leon di bawah meja, menatapnya tajam. “Sayang, jangan bicara sembarangan seperti itu…” katanya pelan, berusaha menutup rasa malunya.

Ia mengangkat wajahnya ke arah Steve, tersenyum kaku. “Aku minta maaf, Steve… anak ini memang suka asal bicara. Kau tahu Leon… imajinasinya selalu berlebihan.”

Steve, yang sempat tertegun, akhirnya tersenyum hangat untuk meredakan ketegangan. “Tidak apa-apa, Elena. Jujur saja… aku memang kaget, tapi aku juga senang Leon bisa bicara sejujur itu.”

Elena tercekat, tidak tahu harus menjawab apa.

Steve menatapnya serius, suaranya merendah seolah hanya ditujukan padanya. “Kau pernah bilang padaku kalau kau sudah berpisah dengan suamimu, kan? Elena… aku tidak akan berbohong, aku menyukaimu.” Ia menoleh sekilas pada Leon, lalu tersenyum. “Dan kalau kau mau, aku bisa menjadi Papa untuk Leon. Aku serius.”

Elena tercekat. Matanya melebar, jantungnya berdentum keras.

“Steve…” hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya, sebelum ia buru-buru berdiri. “Aku… aku ke toilet dulu.”

Ia bergegas masuk ke toilet wanita, menutup pintu dengan cepat. Napasnya memburu, tangannya gugup memegang wastafel.

“Bagaimana bisa… Leon tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukankah sebelumnya dia begitu senang saat tahu Alexander adalah Papanya?” gumamnya pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Kenapa… kenapa Leon jadi aneh hari ini?”

Namun suara berderit pintu membuatnya terhenti.

Klik.

Suara kunci diputar dari dalam. Elena menoleh dengan cepat, matanya membola saat melihat siapa yang berdiri di sana.

Alexander.

Pria itu masuk dengan langkah tenang tapi penuh aura mengancam. Pintu ditutup perlahan di belakangnya, dan suara kunci kembali terdengar saat ia memutarnya.

“Elena,” suaranya rendah, dingin, tapi penuh tekanan.

Elena refleks mundur beberapa langkah, punggungnya hampir menabrak wastafel. “Bagaimana… bagaimana kau bisa ada di sini?” bisiknya ketakutan.

Alexander tidak menjawab. Ia hanya melangkah mendekat, matanya menatap Elena tajam, seolah menelanjangi seluruh isi hatinya. Dalam sekejap tubuhnya sudah menghimpit Elena ke dinding, membuat wanita itu tak punya ruang untuk lari.

“Alex…” suara Elena tercekat, matanya membesar. “Apa yang kau—”

“Diam.” Alexander menunduk, wajahnya mendekat begitu cepat hingga Elena bisa merasakan hangat napasnya di pipinya. “Kau benar-benar membuatku marah, Elena.”

Elena menelan ludah, jantungnya seolah pecah. “Apa… apa yang kau lakukan di sini?”

Alexander menyeringai tipis, tapi matanya gelap dipenuhi amarah. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak melihatmu duduk bersama pria itu? Kau bahkan membiarkan Leon bertanya… tentang menjadikannya Papa barunya.”

Elena ternganga. 'Jadi… dia mendengar semuanya.'

“Alex…”

Alexander menunduk lebih dekat, suaranya berbisik tapi menusuk. “Kau sudah terlalu jauh, Elena. Aku sudah memperingatkanmu, dan sekarang… kau benar-benar menantang kesabaranku.”

Alexander menunduk begitu cepat, dan sebelum Elena sempat mengelak, bibirnya sudah direbut paksa. Ciuman itu bukan sekadar ciuman, itu adalah klaim, sebuah tanda kepemilikan yang membuat Elena bergetar hebat.

“Elena…” gumamnya di sela desahan, suaranya serak, penuh amarah sekaligus keinginan yang mengikat. Tangannya menahan kedua pergelangan Elena di dinding, membuat wanita itu tak bisa bergerak.

“Lepaskan aku…” Elena berusaha mendorong dadanya, tapi tubuh Alexander terlalu kuat. Air matanya menetes, campuran antara marah, takut.

Alexander berhenti sejenak, menatap matanya dengan sorot yang begitu tajam hingga Elena tak berani bernapas. “Dengar baik-baik, Elena,” bisiknya berat. “Kau hanya milikku. Kau tidak bisa bersama pria lain. Tidak Steve, tidak siapapun.”

“Alex—”

“Aku tidak peduli. Tubuhmu, hidupmu, bahkan napasmu… semuanya hanya milikku. Mengerti?”

Elena menggeleng keras, bibirnya bergetar. “Kau gila… aku bukan milikmu… aku—”

Namun kata-katanya kembali terhenti saat Alexander kembali menunduk dan mencium bibirnya, kali ini lebih dalam, lebih mendesak, seolah ingin menegaskan ucapannya. Ciuman itu membuat Elena hampir kehilangan kekuatan di kakinya, tubuhnya gemetar, hatinya berperang hebat antara rasa takut dan kenyataan pahit bahwa bagian dari dirinya bereaksi pada pria itu.

Alexander melepaskan ciuman itu perlahan, dahinya menempel pada dahi Elena. Napasnya berat, suaranya nyaris seperti geraman.

“Jangan pernah… sekalipun… mencoba pergi dariku. Aku tidak akan membiarkanmu, Elena. Sampai kapanpun.”

Plak!

Suara tamparan keras bergema di dalam toilet sempit itu. Telapak tangan Elena bergetar hebat setelah mendarat di pipi Alexander, meninggalkan bekas merah yang jelas.

“Menyedihkan!” Elena berteriak, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah. “Kau pikir aku ini apa? Boneka? Barang yang bisa kau klaim sesukamu? Kau salah besar, Alexander!”

Alexander terdiam. Rahangnya menegang, matanya berkilat tajam antara terkejut dan murka. Perlahan, ia menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu, namun ia tidak mundur.

“Beraninya kau menamparku…” suaranya rendah, nyaris bergemuruh.

“Aku akan lebih dari sekadar menampar kalau kau berani menyentuhku lagi tanpa izinku!” Elena menegakkan tubuhnya, mencoba menahan gemetar di seluruh badannya. “Aku bukan milikmu, Alexander. Aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku hanya wanita yang melahirkan putramu. Bahkan kita tidak ada hubungan apapun. Jadi berhenti memaksakan kehendakmu padaku!”

Alexander menatapnya lama, sorot matanya gelap, dalam, penuh gejolak yang sulit ditebak. Napasnya kasar, tangannya mengepal, seakan berjuang menahan diri agar tidak kembali meledak.

“Elena…” katanya akhirnya, suaranya serak, berat. “Kau bisa membohongi semua orang. Tapi kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Kau bereaksi padaku. Tubuhmu… jantungmu… semuanya berteriak padaku.”

“Elakanku padamu bukan karena aku menginginkanmu! Itu karena aku takut! Karena aku muak denganmu!” Elena melawan tatapan itu dengan segala keberaniannya, air matanya jatuh satu per satu. “Kau hanya monster yang mengambil tanpa pernah memberi. Kau tidak pernah mengerti, Alex. Tidak pernah…”

Sejenak hening. Hanya terdengar napas keduanya yang memburu.

Alexander menutup mata, rahangnya mengeras. Saat ia kembali menatap Elena, sorotnya tajam. Namun ia memilih tidak berkata lagi.

Dengan gerakan cepat, ia membuka kunci pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Elena yang masih berdiri terpaku dengan tubuh bergetar hebat.

Wanita itu jatuh terduduk di lantai toilet, menutup wajahnya dengan kedua tangan, isakannya pecah. Ia benci Alexander, benci dirinya sendiri, benci perasaan yang kacau setiap kali pria itu mendekat.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!