siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa di Atas Awan dan Infiltrasi Besi Eiffel
Paris di malam hari dari atas Menara Eiffel tampak seperti hamparan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Namun, bagi The Justice Widows, pemandangan itu adalah medan tempur vertikal yang paling menantang maut. Mereka tidak sedang naik lift seperti turis pada umumnya; mereka sedang memanjat kerangka besi raksasa itu dari sisi luar, menantang angin kencang yang menderu-deru.
"Bel, ini ide paling buruk yang pernah lo buat! Gue benci ketinggian! Gue benci besi dingin! Dan gue bener-bener benci daster yang nggak ada kantong buat naruh hand sanitizer!" Maya Adinda berteriak di sela deru angin. Ia menggunakan sarung tangan magnetik untuk menempel pada pilar baja Menara Eiffel.
Dasternya saat ini adalah The Aero-Glow Phantom, sebuah maha karya teknologi tekstil yang bisa mengeraskan seratnya menjadi zirah ringan saat terkena tekanan udara tinggi. Motifnya? Gradasi warna langit malam Paris yang membuat Maya nyaris menyatu dengan kegelapan, jika saja ia berhenti berteriak.
Bella Damayanti berada lima meter di atasnya, bergerak dengan ketangkasan seekor macan kumbang. Ia menggunakan tali serat karbon yang terhubung ke payung titaniumnya untuk melakukan lompatan-lompatan taktis di antara balok-balok besi.
"Fokus, May! Kalau lo jatuh sekarang, gue nggak bakal sempet jemput lo di bawah. The Empress of Silk sudah ada di lantai observasi tertinggi. Dia sedang menghubungkan konsol The Ghost Silk ke pemancar utama menara!"
Siska Paramita berada di antara mereka berdua, membawa tas ransel yang mendesis. Ia membawa "Adonan Penetralisir" dalam bentuk cair yang harus disemprotkan ke antena pusat. "Suhu di sini turun drastis, Bel! Cairan penetral gue bisa membeku kalau kita nggak sampai ke pemanas ventilasi dalam dua menit!"
Begitu mereka melompati pagar lantai observasi ketiga yang ditutup untuk umum, lampu sorot raksasa menara mendadak berputar dan mengunci posisi mereka.
"Selamat datang di puncak dunia, para Janda," suara The Empress of Silk menggema lewat sistem audio menara. "Sayang sekali kalian datang saat peragaan busana terakhir saya akan dimulai."
Tiba-tiba, dari lantai kayu observasi, muncul belasan "Manekin Pembunuh"robot-robot tanpa wajah yang dibalut kain The Ghost Silk. Karena kain tersebut memiliki kemampuan membelokkan cahaya, manekin-manekin itu tampak seperti bayangan yang transparan, hanya terlihat sebagai riak udara yang bergerak cepat.
"Gue nggak bisa liat mereka dengan jelas!" Maya panik, mengayunkan lipstik granatnya secara asal.
"Pakai insting, jangan pakai mata!" Bella membuka payungnya dan mengaktifkan mode radar sonar. "Siska, pukul jam dua! Maya, merunduk, ada serangan dari jam sepuluh!"
Siska berputar, mengayunkan sutil titaniumnya dengan tenaga penuh. PRANG! Sutilnya menghantam kerangka logam manekin yang transparan. "Kalian mungkin nggak kelihatan, tapi bau oli kalian nggak bisa bohong!" Siska kemudian menyemprotkan uap cabai dari alat masak portabelnya. Partikel cabai itu menempel pada kain transparan para manekin, membuat siluet mereka terlihat jelas karena warna merah cabai.
"Nah, sekarang kalian kelihatan kayak cabe-cabean raksasa!" seru Maya. Ia melemparkan gelang mutiara lavendernya.
BOOM!
Ledakan lavender itu merusak sistem sensor manekin, membuat mereka bergerak kacau dan saling bertabrakan.
Bella menerobos barisan manekin dan melompat ke arah konsol utama tempat The Empress of Silk berdiri. Sang Permaisuri sedang mengenakan daster legendaris terakhir The Eternity Thread, sebuah jubah yang ditenun dari serat syaraf manusia dan emas murni.
"Kamu tidak mengerti, Bella," ujar The Empress sambil menangkis serangan payung Bella dengan tongkat peraknya. "Ayahmu menciptakan teknologi ini untuk mengakhiri konflik. Dengan benang-benang ini, aku bisa memastikan tidak ada lagi kerusuhan, tidak ada lagi kejahatan. Semua orang akan bergerak dalam satu harmoni yang sempurna."
"Itu bukan harmoni! Itu perbudakan!" Bella melakukan tendangan memutar yang mengenai bahu The Empress. "Manusia bukan boneka jahitmu!"
The Empress tertawa dingin. Ia menekan tombol di konsolnya. "Sudah terlambat. Sinyal pengaktifan akan dimulai dalam 60 detik. Seluruh warga Paris yang memakai pakaian berbahan serat sintetis produksi sindikatku akan menjadi pion-pionku."
Siska dan Maya berusaha mencapai antena pusat di atas konsol, tapi mereka dihalangi oleh perisai energi benang laser yang sangat rapat.
"Bel, perisainya terlalu kuat! Sutil gue nggak bisa nembus!" teriak Siska frustrasi.
Maya melihat ke arah daster macan pink keberuntungannya yang ia lipat rapi di dalam tas kecil di pinggangnya daster asli dari Bab 1 yang sudah berkali-kali diperbaiki. Ia teringat kata-kata Master Tailor di Tibet "Daster ini memiliki jiwa, Maya. Karena ia menyimpan cinta dan kenanganmu."
"Siska... aku tahu cara nembus perisai ini," bisik Maya, suaranya mendadak tenang dan berani.
"May? Jangan aneh-aneh!"
"Daster macan aku... ini satu-satunya benda yang nggak punya teknologi mikro-chip dari agensi. Ini murni kain katun dan cinta janda. Perisai laser itu dirancang buat nangkep teknologi modern, dia nggak bakal ngenalin serat katun organik!"
Maya membungkus tangan dan sutil Siska dengan daster macan pink-nya. Ia memegang tangan Siska, dan bersama-sama mereka menerjang perisai laser itu. Benar saja, laser-laser itu bergetar hebat tapi tidak meledakkan mereka karena daster Maya bertindak sebagai isolator murni yang "kuno".
"SEKARANG, SIS!"
Siska menusukkan sutilnya yang sudah dibaluri cairan penetral ke jantung antena.
ZAPPPPP! SPARK!
Arus pendek raksasa menjalar ke seluruh sistem pemancar. Konsol The Empress meledak, melempar wanita itu ke belakang. Sinyal pengaktifan terputus tepat di angka 00:01.
The Empress of Silk berdiri dengan susah payah, jubah emasnya kini hangus dan kehilangan cahayanya. Ia menatap ketiga janda itu dengan penuh kebencian. "Kalian... kalian menghancurkan mahakarya berabad-abad hanya dengan sepotong kain katun murah?!"
"Itu bukan cuma kain katun, Tante," Maya berdiri tegak, memegang dasternya yang kini sedikit hangus di bagian ujungnya. "Itu daster yang aku pakai saat aku pertama kali mutusin buat bangkit lagi setelah jadi janda. Itu daster yang punya harga diri!"
Bella mendekati The Empress dan memborgolnya dengan borgol magnetik terkuat. "Permainan berakhir, Permaisuri. Paris tetap bebas, dan benang-benangmu sudah putus."
Saat polisi internasional dan tim agensi baru (yang kini dipimpin oleh Master Tailor yang tobat) tiba di puncak menara, fajar mulai menyingsing di ufuk timur Paris.
Bella, Siska, dan Maya turun dari menara menggunakan lift wisata yang sudah berfungsi kembali. Mereka duduk di bangku taman di bawah Menara Eiffel, lelah secara fisik dan mental.
"Gue baru sadar," kata Bella sambil menatap langit. "Ayah gue... dia sengaja bikin kita jadi tim. Bukan cuma karena gen kita, tapi karena dia tahu, tiga orang janda yang nggak punya beban hidup lagi adalah kekuatan paling jujur di dunia."
Siska menghela napas, menyandarkan kepalanya di bahu Bella. "Gue cuma pengen mandi air hangat dan masak mie instan pakai telur. Tanpa bumbu kimia, tanpa racun saraf."
Maya melihat daster macannya yang kini berlubang-lubang. Ia tersenyum tipis, lalu mengeluarkan ponselnya. "Guys... liat nih."
Ia membuka aplikasi Instagram. Di sana, ribuan orang memposting foto diri mereka di Paris dengan tagar #SafeInParis. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di atas menara, tapi mereka merasa bahagia.
"Kita berhasil, kan?" tanya Maya.
"Kita berhasil, May," jawab Bella.
"Tapi Bel," Maya tiba-tiba teringat sesuatu. "Janji belanja tas di Champs-Élysées pake kartu agensi masih berlaku kan? Aku butuh tas baru buat nyimpen daster macan aku yang bersejarah ini."
Bella tertawa lebar, suara tawa yang sudah lama tidak terdengar. "Berlaku, May. Berlaku banget. Bahkan kalau lo mau beli tokonya sekalian, gue ijinin."
"YESS!" Maya melompat kegirangan, melupakan rasa capeknya. "Siska! Ayo! Tokonya buka jam sembilan! Kita harus jadi pelanggan pertama!"
Siska menggelengkan kepala, tapi ikut berdiri. "Boleh, tapi habis itu kita cari sarapan yang beneran. Aku bosen makan makanan spionase."
Tiga janda muda itu berjalan menyusuri trotoar Paris menuju kemegahan kota, meninggalkan bayangan Menara Eiffel di belakang mereka.
The Justice Widows telah menyelesaikan misi Paris mereka. Dan bagi siapa pun yang berani mencuri jemuran atau mencoba menguasai dunia, berhati-hatilah... karena sutil, payung, dan daster macan selalu siap untuk menghantam kembali.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣