NovelToon NovelToon
Ning Abigail

Ning Abigail

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat yang Terhenti: Kekhawatiran Keluarga dan Berita yang Menggemparkan

[Malam harinya di ndalem tengah ada rapat yg dipimpin Abah yai juga, Abi rasya, para pengurus putra lainnya, Gus arka, arzan,Ivan, Atha dan Faiq juga ikut hadir rapat, Gus Arya menyusul karena telat hadir.]

[Satu jam kemudian dg lemas juga muka yg pucet tp masih kelihatan wajah judes, dingin, cuek dan sorot mata yg tajam. bijel dg lemas menuju ke ndalem.]

[Sesampainya di ndalem, ia mengucap salam. Semuanya kaget karena bijel datang ke ndalem tengah. Lalu, bijel tanya ke Abi nya Abi rasya tentang keberadaan sang umi nida, setelah diberitahu ia langsung ke kamar Abi juga uminya, ia mengetuk kamar uminya juga bilang kalau ini bijel.]

Ning Abigail: (dengan suara lemas, mengetuk pintu kamar Abi dan Uminya) "Assalamualaikum... Umi... Ini Abigail..."

[Belum masuk melangkah ke dalam kamar, bijel dg kondisi lemas ia pingsan di pintu masuk, umi kaget, umi berteriak keras memanggil sang suami yaitu Gus Rasya abinya bijel.]

Ning Nida: (dari dalam kamar, terkejut mendengar suara Ning Abigail) "Waalaikumsalam... Masuk saja, Nak..."

[Namun, belum sempat Ning Abigail melangkah masuk, tubuhnya limbung dan ia pingsan di depan pintu kamar. Ning Nida yang melihat kejadian itu terkejut dan berteriak keras memanggil suaminya, Gus Rasya.]

Ning Nida: (berteriak histeris) "Ya Allah! Mas Rasya! Bijel pingsan!"

[Abi rasya mendengar suara teriakan sang istri lalu izin ke Abahnya yai Hamdan mau ke dalam sebentar, semuanya mendengar teriakan Ning Nida istri Gus Rasya, Abi mengizinkan, Abi rasya berlari ke kamar, sampai di kamar, ia kaget putrinya bijel pingsan di pintu masuk kamar, ia pun langsung mengangkat putrinya di taruh di atas ranjang kasurnya, umi menelpon dokter pribadi keluarga, rapat belum selesai 15 menit kemudian dokter datang, semua orang yg ada di ndalem tengah atau yg hadir di rapat kaget ada dokter mereka tanya" siapa yg sakit, lalu dokter tsb bilang ke Abah yai mencari kamar Ning nida , karena Abah yai Hamdan tau dokter tsb dokter pribadi keluarga ia mempersilakan dokter tsb langsung ke kamar anak dan menantunya. setelah sampai dokter memeriksa bijel.]

Gus Rasya: (terkejut dan panik) "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un! Bijel!"

[Gus Rasya segera berlari ke kamar. Sesampainya di kamar, ia melihat putrinya, Bijel, tergeletak pingsan di depan pintu kamar. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat putrinya dan membaringkannya di atas ranjang. Ning Nida dengan panik menelpon dokter pribadi keluarga.]

Ning Nida: (dengan nada panik, menelpon dokter) "Halo, Dokter? Ini saya Nida. Bisa tolong datang ke pesantren sekarang? Anak saya pingsan."

[Rapat yang sedang berlangsung terhenti karena teriakan Ning Nida. Semua orang yang hadir di ndalem tengah terkejut dan bertanya-tanya siapa yang sakit. Lima belas menit kemudian, dokter datang. Dokter tersebut langsung bertanya kepada Abah Yai Hamdan di mana kamar Ning Nida. Karena Abah Yai Hamdan tahu bahwa dokter tersebut adalah dokter pribadi keluarga, ia mempersilakan dokter tersebut untuk langsung menuju ke kamar anak dan menantunya.]

Abah Yai Hamdan: (dengan nada khawatir) "Siapa yang sakit, Dok?"

Dokter: (dengan nada sopan) "Saya dipanggil ke sini untuk memeriksa Ning Abigail, Yai."

Abah Yai Hamdan: "Oh, silakan, Dok. Kamarnya ada di sebelah sana."

[Setelah sampai dokter memeriksa bijel.]

Dokter: (setelah memeriksa Ning Abigail) "Kondisi Ning Abigail cukup mengkhawatirkan. Beliau mengalami dehidrasi, kurang cairan, banyak pikiran, dan juga maagnya kambuh."

Ning Nida: (dengan nada panik) "Ya Allah, terus gimana Dok?"

[setelah diperiksa dokter bilang kondisi bijel harus dibawa ke RS karena kondisinya yg dehidrasi, kurang cairan banyak pikiran serta maag nya yg kambuh. lalu dokter menelpon pihak RS tempatnya bekerja untuk mengirim ambulan ke pesantren Queen Al Falah.]

Dokter: "Sebaiknya Ning Abigail segera dibawa ke rumah sakit. Saya akan telepon pihak rumah sakit untuk mengirim ambulans ke sini."

[Dokter menelpon pihak RS tempatnya bekerja untuk mengirim ambulan ke pesantren Queen Al Falah.]

Dokter: (di telepon) "Halo, selamat malam. Saya Dokter Nia. Bisa tolong kirimkan ambulans ke Pesantren Queen Al-Falah sekarang? Ada pasien yang harus segera dibawa ke rumah sakit."

Pihak Rumah Sakit: (di telepon) "Baik, Dok. Kami akan segera mengirimkan ambulans ke sana."

[para peserta rapat selesai rapat bertepatan ambulans datang langsung mengeluarkan brankar, dan mereka semua lihat bijel yg pingsan dg muka yg amat pucat dgn cairan yg sudah terpasang di tangan kanannya, di gendong Gus Rasya menuju ke brankar ambulan. mereka semua kaget kalau itu Ning bijel.]

[Para peserta rapat selesai rapat bertepatan ambulans datang langsung mengeluarkan brankar, dan mereka semua lihat bijel yg pingsan dg muka yg amat pucat dgn cairan yg sudah terpasang di tangan kanannya, di gendong Gus Rasya menuju ke brankar ambulan. mereka semua kaget kalau itu Ning bijel.]

Suara Sirene Ambulans: (terdengar semakin mendekat) "Wiu...wiu...wiu..."

[Para peserta rapat yang sudah selesai langsung keluar dari ndalem tengah dan terkejut melihat ambulans datang. Mereka melihat Gus Rasya menggendong Bijel yang pingsan dengan wajah yang sangat pucat dan cairan infus yang sudah terpasang di tangan kanannya menuju ke brankar ambulans. Mereka semua kaget kalau yang sakit adalah Ning Abigail.]

Gus Arka: (terkejut) "Ya Allah, Bijel!"

Gus Arzan: (dengan nada khawatir) "Kenapa Bijel bisa sampai begini?"

Gus Ivan: (dengan nada prihatin) "Kasihan sekali Bijel."

Gus Atha: (dengan nada bertanya) "Sakit apa Bijel?"

Gus Faiq: (terdiam, menatap Ning Abigail dengan tatapan yang sulit diartikan)

[Abi rasya, umi nida dan nyai Dewi ikut ke RS mereka pamitan ke Abah yai Hamdan, lalu Abi rasya bilang Abah nanti nyusul aja sama Arya, biar kami duluan, Arya jangan lupa bawa mobil biar nanti bisa gantian jaga kalau misalkan perlu dirawat. setelah itu nyai Dewi Abi Rasya menemani bijel di ambulans, Ning nida menyetir membawa mobil sendiri dg nyai Dewi yg disampingnya ikut ke RS, Abah yai Hamdan dan Gus Arya arka, arzan, Ivan, Atha dan Faiq menyusul menggunakan mobil pribadi masing".]

Gus Rasya: (dengan nada panik, kepada Abah Yai Hamdan) "Abah, kami pamit ke rumah sakit dulu ya. Abah nanti menyusul saja sama Arya. Arya jangan lupa bawa mobil, biar nanti bisa gantian jaga kalau misalkan perlu dirawat."

Ning Nida: (dengan nada cemas) "Kami mohon doanya ya, Abah, semoga Bijel cepat sembuh."

Abah Yai Hamdan: (dengan nada bijaksana) "Iya, Nak. Abah akan segera menyusul. Kalian tenang saja, Abah yakin Bijel akan baik-baik saja."

[Setelah itu Nyai Dewi, Abi Rasya menemani Bijel di ambulans, Ning Nida menyetir membawa mobil sendiri dg Nyai Dewi yg disampingnya ikut ke RS, Abah yai Hamdan dan Gus Arya arka, arzan, Ivan, Atha dan Faiq menyusul menggunakan mobil pribadi masing".]

Suara Sirene Ambulans: (semakin keras) "Wiu...wiu...wiu..."

[Ambulans melaju dengan cepat meninggalkan pesantren, diikuti oleh mobil-mobil pribadi yang membawa keluarga ndalem. Suasana di ndalem tengah terasa tegang dan penuh kekhawatiran. Semua orang berdoa untuk kesembuhan Ning Abigail.]

Gus Arka: (dengan nada khawatir) "Semoga Bijel tidak apa-apa."

Gus Arzan: "Kita harus segera menyusul ke rumah sakit."

Gus Ivan: "Semoga Bijel cepat sembuh dan bisa kembali ke pesantren."

Gus Atha: (terdiam, berdoa dalam hati)

Gus Faiq: (dengan nada dingin) "Ayo, kita berangkat sekarang."

[Abah Yai Hamdan dan Gus Arya, Arka, Arzan, Ivan, Atha, dan Faiq menyusul menggunakan mobil pribadi masing-masing.Di dalam mobil, Gus Arya merasa sangat khawatir dan bersalah. Ia merasa bertanggung jawab atas kesehatan Ning Abigail. Ia juga merasa menyesal karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.]

Gus Arya: (dalam hati) "Ya Allah, semoga Ning Abigail baik-baik saja. Semoga Engkau memberikan kesembuhan kepadanya. Aku berjanji akan menjaganya dengan lebih baik lagi."

[Sementara itu, di dalam ambulans, Ning Abigail masih tidak sadarkan diri. Gus Rasya dan Nyai Dewi terus berdoa untuk kesembuhan putrinya. Mereka sangat khawatir dengan kondisi Ning Abigail. Mereka tidak tahu apa yang menyebabkan putrinya bisa sampai sakit seperti ini.]

Gus Rasya: (dengan nada khawatir) "Ya Allah, sembuhkanlah putriku. Jangan biarkan dia menderita."

Nyai Dewi: (dengan nada cemas) "Bijel, Nak, bangun sayang. Uti di sini."

[Di dalam mobil yang dikendarai Ning Nida, Nyai Dewi juga terus berdoa untuk kesembuhan cucunya. Ia merasa sangat sedih melihat cucunya sakit seperti ini. Ia berharap Ning Abigail bisa segera sembuh dan kembali ceria seperti dulu.]

Nyai Dewi: (dengan nada lirih) "Ya Allah, lindungilah cucuku. Berikanlah dia kekuatan untuk menghadapi cobaan ini."

[Semua orang yang menyayangi Ning Abigail merasa sangat khawatir dan cemas. Mereka berharap Ning Abigail bisa segera sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa. Mereka semua berdoa agar Allah SWT memberikan kesembuhan kepada Ning Abigail dan melindunginya dari segala macam penyakit dan marabahaya.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!