Tabib Wi Lu mendapati dirinya dituduh meracuni Kaisar dan dipaksa menikahi Putri Yu Ming, pewaris tahta yang penuh dendam. Dengan reputasi tercoreng dan pengawasan ketat, Wei Lu harus melawan intrik licik Pangeran De, paman Kaisar, yang sebenarnya merencanakan kudeta dengan memanipulasi ilmu farmasi. Saat Yu Ming menjadikannya musuh, Wei Lu diam-diam menggunakan kejeniusan medisnya untuk membongkar konspirasi Pangeran De, menyelamatkan Kekaisaran dari wabah buatan, dan akhirnya mengungkap kebenaran di balik kematian Kaisar. Perjalanan ini memaksa Yu Ming menghadapi prasangkanya dan secara bertahap belajar mempercayai Wei Lu , mengubah pernikahan politik mereka menjadi pernikahan sejati yang di dasari cinta, kejujuran, dan penyembuhan bagi seluruh kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandat Pengasingan Diri
...untuk mengatur kekaisaran yang sekarat ini, Yang Mulia.”
Suara Wei Lu, yang semula berbisik, kini terdengar dingin dan lugas, sebuah tuduhan terbuka yang tersembunyi di balik formalitas. Ia tidak mengancamnya dengan kematian, ia mengancamnya dengan Pangeran De.
Wajah Yu Ming memerah karena amarah. Ia telah kehilangan kesabarannya. Wei Lu telah memaksanya mengakui bahwa setiap keputusannya, yang didorong oleh kebencian, justru menguntungkan musuh bebuyutan mereka.
“Cukup, Wei Lu!” bentak Yu Ming, suaranya sedikit gemetar. “Kau tidak punya hak untuk menentukan bagaimana aku menjalankan istana ini, apalagi—"
“—menentukan siapa yang paling kau percayai?” potong Wei Lu, melangkah mundur perlahan, memberi hormat singkat yang terasa seperti penghinaan.
“Saya telah membersihkan korupsi. Saya telah mendiagnosis racun. Dan balasan yang saya terima adalah pengasingan dan dicap pembunuh. Jika Anda tidak bisa membedakan antara penyelamat dan pengkhianat, maka Pangeran De memang layak mendapatkan gudang obat-obatan itu.”
Pangeran De, yang selama ini menyaksikan drama itu dengan senyum kecil, tiba-tiba merasa terancam oleh kegarangan Wei Lu yang tak terduga. Ini bukan lagi pertunjukan penangkapan yang ia inginkan; ini adalah transfer racun ke Yu Ming.
“Yang Mulia Ratu,” Pangeran De melangkah maju, tangannya lembut diletakkan di lengan Yu Ming.
“Perdana Menteri yang dicerca ini hanya berusaha memprovokasi Anda. Abaikan retorika kosongnya. Keangkuhannya adalah alasan mengapa ia dipecat.”
Yu Ming memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam. Sentuhan Pangeran De terasa menenangkan, tetapi kata-kata Wei Lu masih berputar di benaknya. Ia tidak bisa membiarkan Wei Lu memenangkan pertarungan mental ini.
“Perdana Menteri Wei Lu,” kata Yu Ming, nada suaranya kembali dingin dan formal.
“Permintaan Anda untuk menyerahkan kendali penuh kepada Pangeran De ditolak. Saya akan memerintah, dan saya akan mengamankan aset kerajaan. Sekarang, serahkan lencana Perdana Menteri Anda.”
Wei Lu tersenyum tipis. Yu Ming masih belum mau mempercayai Pangeran De sepenuhnya. Itu adalah celah kecil.
Tanpa ragu, Wei Lu melepaskan liontin emas yang melambangkan jabatan Perdana Menteri dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja marmer. Suara denting logam itu bergema di Aula Singgasana.
“Gelar sudah dikembalikan,” kata Wei Lu.
“Saya akan pergi ke perbatasan, seperti yang Anda perintahkan. Saya akan kembali ketika saya telah membersihkan nama saya, atau ketika Anda membutuhkan saya.”
Jenderal Xu segera maju, meraih lengan Wei Lu. “Ayo, Wei Lu. Kau bukan lagi siapa-siapa di sini.”
Wei Lu membiarkan dirinya ditarik. Ia tahu, di mata semua orang yang hadir, ia adalah pecundang. Seorang pria yang naik terlalu cepat, jatuh lebih cepat lagi, dan sekarang dikirim ke kematian yang lambat di tengah wabah dan amarah rakyat.
Pangeran De menyaksikan Wei Lu diusir dari Aula Singgasana. Ia tidak bisa menahan kegembiraan.
Setelah pintu aula tertutup, Pangeran De mendekati Yu Ming, yang masih duduk kaku di singgasana.
“Akhirnya, Yang Mulia,” bisik Pangeran De, suaranya penuh kelegaan.
“Ancaman itu telah hilang. Kekaisaran ini akan kembali stabil. Sekarang, mari kita bicara tentang siapa yang harus ditunjuk sebagai Perdana Menteri sementara. Saya sarankan Jenderal Xu, agar kita memiliki kendali militer yang kuat atas pasokan.”
Yu Ming mengangguk, tetapi tatapannya kosong. Ia merasa menang, tetapi kemenangan ini terasa hampa dan pahit. Ia telah menyingkirkan pembunuh ayahnya, tetapi kata-kata terakhir Wei Lu membuatnya ragu: apakah ia baru saja membiarkan musuh yang lebih besar masuk ke dapur istana?
***
Pangeran De, yang yakin Wei Lu akan segera dihukum mati oleh wabah atau penduduk desa yang marah, segera mengambil alih kantor Perdana Menteri. Ia memerintahkan agar semua catatan, buku, dan bahkan jarum akupuntur Wei Lu disita dan dibakar.
“Saya tidak ingin ada jejak iblis farmasi itu tersisa di istana ini,” perintah Pangeran De kepada Jenderal Xu, sambil merapikan jubahnya di depan cermin kantor.
“Kirimkan beberapa pengawal yang paling loyal kepada kita untuk memastikan Wei Lu tidak mencoba melarikan diri dari Provinsi Yi. Dan pastikan dia tidak mendapatkan bantuan logistik apa pun dari siapa pun.”
Sementara Pangeran De sibuk merayakan kemenangannya dengan menguasai kantor PM, Wei Lu sedang dibawa melalui lorong-lorong belakang istana menuju gerbang utara. Ia tidak diizinkan kembali ke kamar pribadinya, hanya ke ruang ganti kecil untuk mengambil kotak obat pribadinya yang kecil.
Di lorong gelap di dekat ruang pengarsipan tua, Wei Lu memberi isyarat kepada Jenderal Xu bahwa ia perlu berhenti sebentar untuk memeriksa perban di lengannya. Jenderal Xu, yang membenci Wei Lu tetapi menghormati formalitas fisik, mengizinkannya dengan enggan.
Saat Wei Lu bersandar di dinding, tangan kanannya tersembunyi di balik jubahnya, ia melihat sekilas seorang pria muda yang berpakaian seperti pelayan pengarsipan, membersihkan lampu minyak di sudut. Pria itu, bernama Feng, adalah salah satu asisten farmasi Wei Lu yang paling terpercaya, yang ia tanam di departemen yang dikendalikan Pangeran De.
Wei Lu menatap Jenderal Xu, memastikan pengawal itu tidak memperhatikan.
“Perban ini harus diganti, Jenderal,” kata Wei Lu, suaranya pelan.
“Saya tidak ingin darah saya menodai lantai istana.”
Jenderal Xu mendengus. “Cepatlah.”
Wei Lu mengangguk ke arah Feng. Feng, tanpa mengangkat wajahnya, mengerti.
Di dalam kotak obat pribadinya, Wei Lu telah menyembunyikan gulungan perkamen yang sangat tipis. Ini adalah Mandat Pengasingan Diri sesungguhnya yang ia tulis untuk dirinya sendiri.
Gulungan itu berisi analisis mendalamnya tentang racun yang direkayasa Pangeran De di Provinsi Yi, termasuk petunjuk tentang bahan baku yang paling mungkin digunakan sebagai pengganti Sanguis Draconis dan Batu Air Mata Naga di daerah perbatasan. Yang paling penting, gulungan itu memuat diagnosis politik: Pangeran De sedang menggunakan wabah itu untuk menguji coba 'Penjernih Pikiran' skala besar.
Wei Lu tidak bisa membawa gulungan ini ke perbatasan; terlalu berisiko jika disita. Dia harus meninggalkannya di istana, di tangan seseorang yang bisa mengamati Yu Ming dan Pangeran De.
Dengan gerakan cepat yang hanya dipahami oleh seorang tabib, Wei Lu membuka perban di lengan kanannya, sengaja membuat darah segar merembes.
“Aduh,” desis Wei Lu, menarik perhatian Jenderal Xu.
“Saya butuh kain bersih. Pelayan!”
Feng segera mendekat, membawa seember air kotor dan kain lap.
“Bawakan kain bersih dari ruang arsip,” perintah Wei Lu, suaranya sedikit lebih keras, memastikan Jenderal Xu mendengar perintah yang masuk akal.
Saat Feng membungkuk untuk mengambil kain lap di kakinya, Wei Lu menjatuhkan kotak obatnya. Kotak itu mendarat dengan bunyi tumpul.
“Dasar ceroboh!” gerutu Jenderal Xu.
Feng berlutut, berpura-pura mengumpulkan isi kotak yang tidak berantakan. Dalam sedetik yang tersembunyi dari pandangan Jenderal Xu, Wei Lu menyelinapkan gulungan perkamen itu ke saku jubah Feng, yang berisi jarum akupuntur kecilnya yang berharga.
“Bawakan aku kain bersih itu sekarang juga,” desis Wei Lu.
Feng berdiri tegak, wajahnya pucat karena tegang, tetapi matanya menunjukkan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Jenderal Xu menyuruh Feng pergi dengan cepat.
Wei Lu menutup perban di lengannya, darahnya masih merembes. Darah itu adalah pengorbanan kecil untuk kebebasan.
“Mari kita pergi, Jenderal,” kata Wei Lu, melangkah maju.
Saat ia berjalan pergi, ia merasakan kelegaan yang dingin. Ia telah dibebaskan dari sangkar emas dan pengawasan Yu Ming. Kelemahan politiknya telah menjadi kekuatan strategisnya.
***
Wei Lu dibawa ke Gerbang Utara. Tidak ada kereta mewah. Tidak ada pengawal kerajaan. Hanya seekor kuda yang kurus dan seekor keledai yang membawa perlengkapan minimalnya.
“Perdana Menteri yang terbuang,” cibir Jenderal Xu.
“Ini adalah akhir dari karier Anda. Jangan kembali ke Ibu Kota.”
Wei Lu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kendali keledainya. Ia menoleh ke belakang, ke arah benteng istana yang menjulang tinggi di bawah langit senja. Ia tahu Yu Ming sedang mengamatinya, entah dari jendela atau dari Aula Singgasana.
Ia telah menanam benih keraguan. Sekarang, ia harus menanam penyembuhan.
Ia menunggangi kudanya ke arah Provinsi Yi, ke dalam kekacauan wabah yang ia yakini sepenuhnya direkayasa oleh Pangeran De.
Sementara itu, di lorong gelap, Feng kembali dengan kain lap bersih, tetapi ia tidak memberikannya kepada Jenderal Xu. Ia menunggu hingga lorong itu kosong, lalu ia meraba saku jubahnya. Gulungan tipis itu ada di sana, terbungkus erat di antara jarum-jarum akupuntur.
Feng bergegas ke ruang arsip yang dingin dan menutup pintu. Ia membuka gulungan itu di bawah cahaya lilin yang berkedip. Matanya menyapu tulisan tangan Wei Lu yang teliti.
Di bagian bawah gulungan, ada instruksi yang ditulis dengan kode rahasia yang hanya dipahami oleh lingkaran dalam medis mereka.
Kaisar meninggal karena racun aditif.
Wabah adalah percobaan untuk Penjernih Pikiran massal.
Tugasmu:
1. Analisis logistik Pangeran De di gudang obat 3.0.
2. Pantau Ratu Yu Ming. Amati reaksinya terhadap ketiadaanku.
3. Dan yang paling penting, tunggu sinyal dari perbatasan. Ketika aku mengirimkan kode "Angin", kau harus—
Tiba-tiba, pintu ruang arsip dibuka dengan kasar.
Feng terkejut. Ia segera menyembunyikan gulungan itu di balik punggungnya.
Pangeran De berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam menyapu ruangan itu. Ia sedang mencari catatan lama tentang Wei Lu yang mungkin belum sempat ia bakar.
“Kau di sini, pelayan?” tanya Pangeran De, suaranya lembut, tetapi mematikan.
“Apa yang kau sembunyikan di balik punggungmu?”
Feng gemetar. Ia tahu jika gulungan ini ditemukan, bukan hanya Wei Lu yang dihukum mati, tetapi ia dan seluruh jaringannya.
“Tidak ada apa-apa, Yang Mulia Pangeran,” jawab Feng, suaranya tercekat.
“Hanya kain lap kotor—”
Pangeran De melangkah maju, senyum tipis di wajahnya.
“Kain lap kotor? Aku akan melihatnya.” Pangeran De mengulurkan tangan.
“Berikan itu padaku, sekarang. Atau aku akan—"