Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitting
Nana, bunda Anara bersama Ayzel dan ke dua putranya siang itu sampai di studio bridal. Tidak lama kemudian bibi Nana datang diantar supir, karena suaminya masih ada perlu. Sedangkan Kim Roan? Tidak perlu di tanya lagi ke mana dia, karena sudah pasti mencari keberadaan Naira di seantero Bandung.
Mereka di bawa masuk untuk nanti bertemu dengan pemilik studio bridal yang tidak lain adalah putri sahabat bunda Anara, dan kebetulan nenek Altezza dan Haziel tersebut mengenalnya.
“Mari nyonya, silahkan masuk! Nona Fransiska bilang akan datang15-20 menitan lagi, dia habis meeting dan masih terjebak macet.” Karyawan studio bridal membukakan pintu untuk mereka.
Bunda Anara mengangguk. “Terimakasih,” ucapnya.
Mereka lantas duduk di ruang yang memang khusus di sediakan untuk orang-orang terdekat Fransiska.
“Ya ampun cucuku,” heboh mama Haruna saat melihat Altezza dan Haziel, dia langsung menghampiri Haziel dan mengambilnya dari gendongan Ayzel. Mama Haruna meng3cup gemas pipi adik Altezza, bocah itu sampai menggeliat kegelian.
“Ehek...cu...cu...kut...kut,” Haziel merentangkan ke dua tangannya pada sang mama, dia tidak mau di gendong sang oma karena dia ingin menyu su pada Ayzel.
“Baru berapa lama ini tidak ketemu oma, tapi sudah lupa. Tidak mau ikut oma nih?” mama Haruna kembali menggemas Haziel, Ayzel hanya bisa terkekeh melihat bibinya seperti itu.
“Ekhee...oma, adek tu lapal. Mau minta cucu, oma ndak ada cucu na cih. Jadi adek ndak mau ikut oma itu, mauna ikut cama mama. Mama pu na cumbel nutlici buat adek,” celetuk Altezza yang selalu jadi penterjemah untuk sang adik.
Semua tergelak mendengar ucapan bocah tiga tahun itu.
“Oma sudah tua jadi ndak bisa kasih susu buat adek,” jawab mama Haruna.
“Kamu ini, Run. Tidak pernah berubah,” sahut bunda Anara. “Selalu saja menggoda pria-pria tampan,” lanjutnya.
"Pria-pria tampan dua ini beda, Anara. Cucu sendiri," balas mama Haruna.
Nana dan Ayzel melotot. “Bibi play Girl?” spontan ucap Nana.
“Ck...dulu, Nana. Masa lalu,” jawab mama Haruna. “Sebelum bibi bertemu pamanmu yang tampan itu,” imbuh mama Haruna.
Mereka terkekeh mendengar ucapan mama Haruna, Nana baru tahu kalau bibinya saat muda ternyata punya banyak mantan. Haziel sampai mendongak keatas menatap mamanya yang ikut tergelak, sementara Altezza bocah itu anteng dan tidak goyah sambil minum susu dari botol minumnya.
“Euum. Adek kaget ya mama tertawa? Maaf ya sayang,” Ayzel mengusap kepala putra ke duanya tersebut, putranya lantas kembali mengambil nutrisinya dari sang mama yang belum tuntas.
Nana sambil melepas rindu dengan bibinya, gadis itu juga sudah lama tidak bertemu dengan mama Haruna. Selain kerena kesibukan Nana juga karena kesibukan bibi dan pamannya, Kim Roan putra mereka memilih umtuk menjadi asisten Alvaro dari pada menjadi CEO perusahaan sang papa. Karena itu paman Haejong sampai saat ini masih aktif di perusaannya sendiri.
Ceklek
Suara pintu ruangan di buka dari luar saat merek masih asik bercengkerama.
“Siang tante Ana. Maaf aku terlambat,” seorang wanita sepantaran Ayzel masuk ke dalam ruang tamu, dia menyapa bunda Anara.
“Tidak apa-apa, sayang. Maklum hari aktif pasti jalanan padat, tante yang harus minta maaf karena mendadak mengabari. Tante bersyukur kamu ada waktu,” bunda Anara berdiri, ke duanya saling berpelukan.
“Buat tante pasti Siska luangkan waktu,” jawab Fransiska yang tidak lain adalah desainer sekaligus pemilik studio bridal tersebut. “Jadi, mana calon si tuan muda kulkas itu tan? Aku terkejut ada yang mau sama dia,” lanjut Siska.
Bunda Anara tergelak. “Alvin beruntung dapat dia, Siska. Tapi Nana yang harus banyak bersabar dapat Alvin,”
Fransiska atau Siska langsung mengedarkan pandangannya kesekeliling, dianatara mereka yang duduk di sofa ada satu gadis muda canti dengan rambut hitam panjang. Siska langsung menghampirinya. “Pasti nona cantik ini,” ucapnya mengulurkan tangan pada Nana. "Fransiska,"
“Nana,” dia membalas uluran tangan Siska.
“Calon menantuku cantik, kan?”
“100 persen cantik tan. Keturunan Indo-Korea pula, pasti nanti hasilnya sama kayak anak-anak Zeze. Premium semua,” gelak tawa memenuhi ruangan itu.
“Plemium itu apa, mama?” tanya Altezza yang merasa mendapatkan kosa kata baru.
“Premium itu artinya bagus, sayang. Kualitas terbaik,” Ayzel memberi penjelasan pada putranya.
“Belalti abang cama dek plemium ya, mama? Tadi onty bilang anak mama plemium cemua,” celetuk Altezza.
Ayzel menghela napas, punya putra secerdas Altezza kadang membuatnya ketar-ketir. Sementara itu Fransiska tergelak, dia takjub mendengar ucapan putra sulung Ayzel.
“Iya, nak. Kamu memang bibit unggul alias premium,” bukan Ayzel melainkan mama Haruna yang menjawab.
“Ehee. Tapi Ezza ndak mau di jual, onty bilang penculik caja ceteles kalau culik Ezza. Apalgi kalau nanti Ezza dan adek di jual. Kata onty Ezza banak mau na,” balasnya menjawab sang oma.
“Tidak ada yang jual atau mau culik Ezza. Sebelum di culik papa culik duluan itu penculiknya,” jawab Ayzel, dia tertawa mendengar ucapan putranya.
“Cucu tante memang top,” Fransiska mengacungkan jempol kearah bunda Anara. “Kalau begitu yuk semua! Kita ke ruang koleksi gaun yang ada di sini,” Fransiska lantas membawa mereka semua ke tempat koleksi gaun-gaun pengantin yang dia rancang.
Fransiska sendiri yang menemani mereka, dia juga memberikan saran gaun mana saja yang cocok untuk karakter Nana. Gadis dua puluh empat tahun tersebut mencoba satu per satu gaun yang di pilihkan Fransiska, bunda Anara, Ayzel dan mama Haruna menjadi penilai mana yang pas untuk Nana.
“Bagaimana tan? Ini cocok sekali untuk calon mantu tante,” ucap Fransiska dengan gaun putih yang tidak terlalu banyak manik ataupun aksen lainnya.
Bunda Anara mengangguk, dia lantas menoleh ke samping. “Bagiamana, Run?” tanyanya pada mama Haruna.
“Aku juga setuju dengan Siska, Anara. Nana sudah cantik dari sananya, dia pakai apapun akan terlihat cantik. Tapi gaun yang ini cantik banget di badan dia,” imbuh mama Haruna.
“Nana suka tidak, nak?” tanya bunda Anara, karena pedapat Nana lah yang akhirnya akan sangat penting.
Nana mengangguk. “Suka bun,” jawabnya. “Mbak Zeze!" panggil Nana pada sang kakak ipar yang sedang memangku Altezza, bocah itu akan bermanja pada mamanya di saat sang adik tidur.
“Hmm?” Ayzel lantas berdiri sambil menggendong putra sulungnya yang tidak mau lepas dari sang mama, baginya Ayzel adalah hak miliknya penuh saat sang adik tidur.
Nana berbisik pada Ayzel.
“Kamu sudah yakin?” tanya Ayzel diangguki Nana.
“Baiklah! Nanti mbak sampaikan,” jawab Ayzel.
“Kalian sedang bicara apa, sih?” kepo bunda Anara.
“Ada deh bun. Rahasia anak muda,” jawab Ayzel.
Sebelum kembali duduk, Ayzel diam-diam mengambil potret Nana dengan gaun pengantin yang saat ini dia pakai. Dengan jahil dia mengirimkan potret Nana pada Alvin, lebih jahil lagi lagi Ayzel memberi stiker pada wajah Nana.
Take a picture 📷
“Calon istri beres fitting gaun,”
“Kenapa muka di stiker?”
“Biar kamu penasaran,”
“Ck...tidak usah di kirim kalau begitu,”
“Sengaja,”
“Terserah!”
Ayzel terkekeh membaca pesan balasan dari Alvin. “Ngambek dia,” monolognya dalam hati, Ayzel berharap Nana bisa membuat Alvin bisa bersikap lebih hangat. Sang adik begitu dingin dan datar terhadap siapapun kecuali keluarganya, Ayzel tahu meskipun diantara ke duanya masih belum ada rasa. Namun dia yakin lambat laun ke duanya akan saling jatuh hati, sama seperti dirinya dulu saat bersama dengan Alvaro.
Siang itu akhirnya mereka sudah menentukan gaun mana yang akan di pakai Nana, bahkan baju untuk keluarga juga sudah bunda Anara tentukan sekaligus bersama mama Haruna. Khusus untuk para pria, Alvin sudah mengurus semuanya. Bahkan untuk dua keponakan kecilnya tersebut, baginya bukan hal yang sulit untuk melakukan semua hal dalam waktu yang singkat.
aku kalau baca bocil candel gumusss bnggt suka suka ❤️
punya nada dan author Kenz ketawa sendiri,pada di luar Nurul kata" mereka
menyakiti istri sama anak dan suatu saat paham ,ada gitu yah
ga ngeh aku
secar mereka hampir gagal
kejutan untuk Nana?
Hanya Author yg tau
kaya lagi viral lakinya menggatal ma LC 🤭
berperang sama masalalu tuh capek karena apa saraf"nya yg lembut kaya lelembut jadi terganggu alias oleng tapi bentar doang sih ya kan Thor
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣