Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selikur (21)
Malam pertama di tengah ladang Padi Baja berlalu dengan sangat lambat, selambat tetesan air dari kran laboratorium yang bocor. Bulan menggantung tinggi di langit, bersaing dengan cahaya ungu neon yang memancar dari tanaman padi mutan di sekeliling dua sosok manusia yang duduk mematung.
Feng Shura tampak seperti patung dewa perang yang terbuat dari batu giok. Punggungnya tegak sempurna, napasnya halus dan tak terdengar, wajahnya tenang seolah sedang menikmati tidur di kasur sutra. Di sekeliling tubuhnya, partikel cahaya ungu tampak tertarik dan berputar lembut, masuk ke dalam pori-porinya dengan harmoni yang indah. Itu adalah teknik kultivasi tingkat tinggi: Penyatuan Napas Semesta.
Sementara itu, di sebelahnya... ada Han Jia.
Han Jia tampak seperti cacing kepanasan yang dipaksa duduk diam. Matanya terpejam, tapi alisnya berkerut hebat seolah sedang memecahkan rumus kalkulus multidimensi. Bibirnya bergerak-gerak cepat tanpa suara, merapal sesuatu yang terdengar seperti mantra, tapi sebenarnya adalah omelan ilmiah.
"Hera, cek status glukosa darah. Aku merasa pusing. Apakah otakku kekurangan gula?"
"Negatif, Profesor. Itu hanya efek bosan. Anda baru duduk empat jam," jawab Hera santai.
Han Jia membuka sebelah matanya, melirik Shura yang tampak begitu damai. Rasa iri dan kesal langsung menyergapnya.
"Shura," bisik Han Jia.
Hening. Shura tidak menjawab.
"Shura!" bisik Han Jia lebih keras. "Jangan pura-pura mati!"
Shura menghela napas panjang tanpa membuka mata, merusak ritme napas sempurnanya. "Ada apa lagi, Han Jia? Kita sedang dalam fase krusial. Jika kau memecah konsentrasiku, energinya bisa berbalik menyerang jantungku."
"Jantungmu aman, aku sudah memindainya!" bantah Han Jia. "Aku cuma mau tanya... apa yang kau pikirkan supaya bisa diam begitu? Aku sudah mencoba menghitung jumlah bintang, menghitung akar kuadrat dari dua juta, bahkan menghitung berapa kali Othor membuatku sial, tapi aku tetap tidak bisa tenang!"
Shura membuka matanya perlahan. Tatapannya tajam namun lelah. "Aku tidak memikirkan apa-apa, Han Jia. Kosongkan pikiranmu. Bayangkan dirimu adalah air yang tenang."
"Air?!" Han Jia mendengus. "Air itu tidak pernah tenang secara molekuler! Molekul H2O selalu bergerak dalam gerak Brown! Bagaimana aku bisa membayangkan sesuatu yang secara fisika tidak diam?!"
Shura memijat pelipisnya. "Baiklah, kalau begitu bayangkan kau adalah batu."
"Batu juga terdiri dari atom yang bergetar! Tidak ada yang benar-benar diam di alam semesta ini kecuali suhu nol mutlak!" Han Jia mulai berceramah. "Dan kita tidak mungkin mencapai nol mutlak di sini karena suhu lingkungan 24 derajat Celcius!"
"Demi Langit..." Shura mengerang frustasi. "Han Jia, bisakah kau berhenti menganalisis segalanya barang semenit saja? Cukup rasakan energinya! Rasakan kehangatan yang menjalar di tulang punggungmu!"
"Kehangatan itu namanya gesekan antar sel!" Han Jia tidak mau kalah.
Tiba-tiba, suara krucuk... krucuk... yang sangat nyaring dan panjang terdengar memecah perdebatan filosofis itu.
Suara itu berasal dari perut Han Jia.
Shura menahan senyum. "Sepertinya 'gesekan antar sel'-mu sedang lapar, Profesor."
Wajah Han Jia memerah padam, untungnya tertutup kegelapan malam. "Itu bukan lapar! Itu adalah... emmm... resonansi lambung! Gas di dalam perutku sedang mengalami pemuaian karena perubahan suhu malam!"
"Sebut saja lapar, Han Jia. Tidak usah pakai bahasa langit," ledek Shura.
"Diam! Kita tidak boleh makan selama 48 jam! Ini aturan sistem sialan itu!" Han Jia kembali memejamkan mata dengan paksa. "Hera! Putarkan musik Heavy Metal di kepalaku! Aku butuh distraksi dari suara perutku sendiri!"
Jam demi jam berlalu. Menjelang subuh, ujian sesungguhnya datang. Bukan monster, bukan penjahat, tapi... nyamuk.
Nyamuk-nyamuk rawa yang ukurannya sebesar lalat mulai berdatangan, tertarik pada panas tubuh dua manusia bodoh yang duduk diam di tengah sawah.
Ngiiiing....
Seekor nyamuk mendarat di hidung mancung Shura. Sebagai pendekar terlatih, Shura tidak bergerak sedikitpun. Dia menggunakan sedikit aura pelindung untuk membuat nyamuk itu terpental tanpa harus memukulnya.
Elegan.
Efektif.
Tapi Han Jia?
PLAK!
Han Jia menampar pipinya sendiri dengan keras.
PLAK!
PLAK!
"Sialan! Parasit penghisap darah!" Han Jia mengumpat sambil menggaruk lehernya yang bentol. "Hera! Kenapa kau tidak mengaktifkan perisai anti-serangga?!"
"Maaf, Profesor. Poin energi Anda tidak cukup. Anda menghabiskannya untuk membeli bibit Padi Baja kemarin. Nikmatilah proses alaminya," jawab Hera tega.
"Shura!" panggil Han Jia lagi dengan nada merengek. "Bagaimana caranya kau tidak digigit? Kulitmu terbuat dari badak ya?"
Shura, yang masih terpejam, menjawab dengan tenang. "Aku mengalirkan energi ke permukaan kulit. Nyamuk tidak bisa menembusnya. Cobalah lakukan. Alirkan 'listrik'-mu ke kulit."
"Alirkan listrik..." Han Jia bergumam. Ia mencoba berkonsentrasi. Bukan membayangkan 'Qi', tapi membayangkan medan elektrostatis. Ia membayangkan kulitnya dialiri tegangan rendah seperti pagar listriknya.
Tiba-tiba, tubuh Han Jia bergetar halus. Cahaya ungu dari padi di sekitarnya seolah tersedot ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
"Peringatan! Lonjakan energi terdeteksi! Sinkronisasi mencapai 40%!"
"Whoa..." Han Jia merasakan sensasi aneh. Rasa gatalnya hilang, digantikan rasa kesemutan yang nyaman. Tubuhnya terasa ringan, seolah gravitasi berkurang setengahnya.
Shura membuka matanya kaget. Ia melihat Han Jia kini dikelilingi aura tipis berwarna keperakan.
"Kau berhasil..." gumam Shura takjub. "Kau benar-benar jenius, Han Jia. Kau bisa menguasai teknik dasar pertahanan tubuh hanya dalam semalam, padahal murid perguruan butuh waktu berbulan-bulan."
Han Jia membuka matanya. Ada kilatan cahaya perak di pupil matanya. Ia tersenyum sombong.
"Tentu saja! Ini bukan teknik pertahanan tubuh, Shura. Ini adalah... emmm... Manipulasi Medan Bio-Magnetik!" Han Jia mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya yang bersinar samar. "Aku baru saja memerintahkan elektron di kulitku untuk menolak benda asing. Nyamuk-nyamuk itu tidak berani mendekat karena takut tersetrum!"
Shura menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Terserah kau sebut apa. Tapi lihat..." Shura menunjuk ke arah Padi Baja di sekeliling mereka.
Tanaman padi itu kini merunduk ke arah mereka berdua, seolah sedang menyembah raja dan ratu baru mereka. Cahaya ungu padi itu semakin terang, berdenyut seirama dengan detak jantung Han Jia dan Shura.
"Kita baru setengah jalan, Profesor," ucap Shura. "Satu hari lagi. Dan kurasa... setelah ini, kita akan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia biasa."
Han Jia menyeringai, melupakan rasa laparnya. "Tentu saja. Kita akan menjadi Buruh Tani Lanjutan paling berbahaya di sejarah alam semesta. Ayo lanjut! Aku ingin segera melihat hadiahku!"
Dan di kejauhan, dari arah kandang ayam, terdengar teriakan samar si mata-mata cantik.
"HEI! KALIAN BERDUA! JANGAN CUMA DUDUK! LEPASKAN AKU! DI SINI BAU TAHI AYAM!"
"Hera," gumam Han Jia tanpa membuka mata. "Bisakah kau kirim nyamuk-nyamuk tadi ke kandang ayam? Biar dia punya teman."
.
"Permintaan diproses dengan senang hati, Profesor."