NovelToon NovelToon
Balas Dendam Suamiku!

Balas Dendam Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pelakor / Keluarga / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
​Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.

Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Hotel

Pagi itu, suasana di apartemen Gio terasa sangat tenang. Hanya ada suara dengung rendah dari mesin pendingin ruangan dan aroma tajam biji kopi yang baru saja digiling. Gio berdiri di ruang kerjanya, perlahan menuangkan air panas ke atas filter, membiarkan uap tipis menerpa wajahnya.

Sambil menunggu kopinya siap, matanya tak lepas dari layar laptop yang terbuka lebar di meja kayu miliknya. Di sana, segalanya terpampang jelas, semua aktivitas dalam ponsel Adrian berada di bawah pengawasannya.

Sejauh ini, pemandangan di layar itu masih membosankan. Hanya deretan email pekerjaan dan situs-situs berita yang biasa diakses Adrian. Gio menyesap kopi pertamanya, merasakan pahit yang familiar di lidahnya. Namun, ketenangan itu pecah saat sebuah notifikasi muncul di pojok kanan layar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Kalimatnya singkat, namun cukup untuk membuat suasana hati Gio berubah seketika:

Kamu free nggak hari ini?

Aku kangen

Gio merasakan gejolak mual di perutnya. Ia segera memeriksa riwayat percakapan dengan nomor tersebut, namun hasilnya nihil. Hanya ada satu pesan itu. Kosong.

Gio tersenyum sinis. Ia mengerti isi pikiran pria itu. Adrian sengaja tidak menyimpan nomor itu, bahkan mungkin rutin menghapus percakapannya agar Arini tidak menaruh curiga jika sewaktu-waktu ponselnya diperiksa. Sebuah langkah klasik dari seseorang yang sedang bermain api.

Ia terus memperhatikan layar, menunggu reaksi apa yang akan diberikan Adrian. Tak butuh waktu lama, balasan muncul. Adrian mengiyakan. Dan yang membuat darah Gio mendidih adalah kalimat lanjutannya, mereka setuju untuk bertemu di sebuah hotel siang ini.

Gio tidak butuh melihat lebih banyak lagi. Dengan gerakan kasar, ia menutup laptopnya hingga menimbulkan suara dentuman kecil di ruangan yang sunyi itu. Ia tidak lagi memedulikan kopinya yang masih mengepul.

Diambilnya kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu ia melangkah keluar dengan rahang yang mengeras. Jika Adrian pikir permainannya akan berjalan mulus hari ini, dia salah besar. Gio akan memastikan itu.

Gio melajukan mobilnya membelah kemacetan Jakarta yang mulai memadat. Di balik kemudi, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang tidak sabar. Pikirannya melayang pada Arini, lalu kembali pada percakapan menjijikkan yang ia baca di layar laptop tadi.

Gedung hotel mewah dengan fasad kaca yang menjulang tinggi itu akhirnya terlihat. Gio memutar kemudinya memasuki area lobi, menyerahkan kunci pada petugas valet dengan gerakan cepat. Sebelum melangkah masuk, ia meraih topi hitam dan masker dari laci dasbor. Dengan sekali gerak, ia menyamarkan identitasnya. Setidaknya dengan ini, Adrian tak akan mengenai wajahnya.

Gio memilih duduk di sebuah sofa kulit di sudut lobi yang agak gelap namun memiliki sudut pandang luas ke arah meja resepsionis. Ia menyandarkan punggung, berpura-pura sibuk dengan ponselnya, meski matanya tajam mengawasi setiap orang yang melewati pintu putar otomatis di depan sana.

Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya sosok yang ia tunggu muncul.

Adrian datang. Dan seperti dugaannya, ada seorang gadis muda di sampingnya yang sesekali bergelayut manja di lengannya. Mereka berjalan menuju meja resepsionis dengan tawa kecil yang terdengar sumbang di telinga Gio.

Meski jaraknya terpaut beberapa meter, suasana lobi yang eksklusif dan tenang membuat suara Adrian terdengar cukup jelas.

"Satu kamar VIP, atas nama saya," ujar Adrian pelan namun tegas.

Gio memperhatikan bagaimana Adrian merogoh dompetnya, melakukan transaksi singkat itu tanpa beban sedikit pun. Gadis di sampingnya tampak merapikan rambut, sesekali membisikkan sesuatu yang membuat Adrian tersenyum lebar. Pemandangan itu benar-benar membuat Gio muak.

Setelah menerima kartu akses, keduanya melangkah menuju lift, hilang di balik pintu perunggu yang tertutup rapat.

Begitu lampu indikator lift bergerak naik, Gio bangkit dari duduknya. Ia membenarkan posisi topinya, lalu berjalan tenang menuju meja resepsionis yang baru saja ditinggalkan Adrian.

Petugas resepsionis menyambutnya dengan senyum profesional. "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

"Saya mau pesan kamar VIP," jawab Gio singkat, suaranya berat di balik masker.

"Kalau bisa, yang satu lantai atau berdekatan dengan rekan saya yang baru saja check-in, Pak Adrian."

Petugas itu mengangguk ramah, jari-jarinya menari di atas keyboard tanpa curiga. Gio mengeluarkan kartu kreditnya, menaruhnya di atas meja.

Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Gio bergegas pergi dari sana dan segera masuk ke dalam lift. Ia menekan tombol lantai 10.

Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka. Ia keluar dari sana dan melihat sekelilingnya. Deretan pintu kamar tertutup rapi, ia melihat satu persatu nomor pintu itu hingga Ia berhenti di pintu kamar nomor 120.

"Ini dia kamar mereka," gumamnya.

Gio melihat pintu kamar itu sejenak. Ia tidak mengetuk apalagi mendobrak. Ia tidak akan membuat keributan seperti itu.

Gio berjalan menuju pintu kamar selanjutnya, kamar yang sudah ia pesan. Ia mengeluarkan kunci kamar itu dan bergegas masuk ke dalam sana.

Tempat ini cukup luas, ada dapur, ruang tamu, balkon, dua kamar lagi di dalamnya dan furnitur dari barang-barang yang tidak bisa di sebut "murah".

Gio lalu masuk ke dalam kamar pertama. Ia mendekat ke dinding, lalu menempelkan telinganya. Seperti kamar ini kedap suara, dan dinding kamar ini tidak berdampingan dengan dinding kamar Adrian.

Gio pun keluar dan masuk ke kamar satunya. Kali ini Gio bisa mendengar sedikit suara di sebelahnya. Ya, seperti dinding kamar ini yang berdampingan dengan dinding kamar Adrian.

Ia langsung mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari saku jaketnya, sebuah mikrofon pengarah (directional mic) dan alat perekam.

Ia menempelkan alat itu ke dinding yang berbatasan langsung dengan kamar sebelah.

Melalui earpiece, suara di sebelah menjadi jauh lebih jelas. Suara gemericik air, denting gelas, bahkan obrolan manja keduanya kini dapat Gio dengar.

Sementara itu di kamar Adrian

Di atas kasur yang empuk itu, Adrian tengah berbaring sambil mengelus pelan pucuk kepala Erina yang ada di sampingnya.

Gadis itu tersenyum dan menatap Adrian dengan tatapan manja. "Sayang, kamu kapan sih ceraikan istri kamu?"

Adrian melirik Erina dan menghela napas. "Aku belum bisa sayang,"

Erina lantas mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, ia berpangku tangan dan wajahnya berubah menjadi kesal.

"Katanya kamu sayang sama aku? Sampai kapan kamu mau gantungin aku terus?" ucap Erina.

"Semuanya ngga perlu terburu-buru Erina. Kalau aku ceraikan Arini sekarang, bisa-bisa dia dan keluarganya tahu tentang hubungan kita dan aku bisa kehilangan jabatan aku," jelas Adrian.

"Okey, fine!"

Adrian tertawa kecil. Ia lalu menarik gadis itu kembali berbaring disampingnya. Ia mengelus kepala Erina dengan lembut lalu memberikan kecupan manis padanya.

"I love you, Adrian,"

"I love you more, Erina."

Di kamar Gio

"Iyuh! Menjijikkan!" ucap Gio.

Telinganya terasa ternodai saat mendengar percakapan antara keduanya. Seharusnya ia hanya merekam saja, tidak perlu mendengarkan perbincangan antara keduanya.

1
gina altira
bangkitlah Arini
Zia Zee
justru yg ngga marah itu yg bahaya
Zia Zee
muak banget, soalnya pasang watados
Lili Inggrid
lanjut
Zia Zee
Author, ttp semangat yaa nulisnya! ini novel bagus bangett!!
Zia Zee
Mulut Gio emang minta dicabein,, hahaha
Zia Zee
🤣🤣
Zia Zee
bacaa sinopsisnya menarik. makin masuk kesini alurnya rapi, diksinya bagus, tokoh utama ngga menye², cusss lanjut bacaaa
gina altira
Ooh ternyata Adrian itu aslinya Kere,, yg kaya itu Arini.
gina altira
Hadeuh bentar lg didepak tuh sama Arini.
gina altira
Sabar, jgn grasak grusuk
gina altira
Nah gini wanita berkelas, ga usah viral " an gitu
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
Arini kuat banget yaa😭jarang ada wanita yang bertahan dengan kepura puraan di saat suaminya telah melakukan perselingkuhan
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
keren kaka🔥🔥🔥
Iva Ranetta: thank youu 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!