Akira, cinta masa kecil dan satu-satunya cinta di hati Elio. Ketika gadis itu menerimanya semua terasa hangat dan indah, layaknya senja yang mempesona. Namun, di satu senja nan indah, Akira pergi. Dia tidak perna lagi muncul sejak itu. Elio patah hati, sakit tak berperih. Dia tidak lagi mengagumi senja. Tenggelam dalam pekerjaan dan mabuk-mabukan. Selama tiga tahun, Elio berubah, teman-temannya merasa dia telah menjadi orang lain. Bahkan Elio sendiri seolah tidak mengenali dirinya. Semua bermula sejak hari itu, hari Akira tanpa kata tanpa kabar.
3 tahun berlalu, orag tua dan para tetua memintanya segera menikah sebelum mewarisi tanah pertanian milik keluarga, menggantikan ayahnya menjadi tuan tanah.Dengan berat hati, Elio setuju melamar Zakiya, sepupunya yang cantik, kalem dan lembut. Namun, Akira kembali.Kedatangan Akira menggoyahkan hati Elio.Dia bimbang, kerajut kembali kasih dengan Akira yang perna meninggalkannya atau tetap menikahi sepupu kecilnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia Lamakkara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Reimon
Dua bulan telah berlalu sejak Reimon pergi ke Taiwan. Ibu Reimon masih khawatir tentang anaknya, tapi dia berharap bahwa Reimon bisa menemukan apa yang dia cari. Tiba-tiba, telpon rumah berbunyi. Ibu Reimon menjawabnya, dan mendengar suara Reimon di ujung sana. "Bu, aku Reimon," kata Reimon, dengan nada yang santai. "Aku sekarang di Taiwan. Sudah seminggu."
"Bukannya kamu berangkat dua bulan lalu?."
Reimon tertawa. "Itu....Rei bohong, bu. Maaf." Dia merasa bersalah mempermainkan ibunya.
"Waktu itu, Rei sebenarnya baru masuk blk. Kayak sekolah begitu untuk kursus bahasa singkat dan memperdalam keterampilan."
"Memangnya kamu punya keterampilan?."
"Ihh.... ibu, begini-begini, aku lulusan STM, bu.Ngertilah aku tentang las dan bangunan lain. Jangan meremehkan anakmu ini."
"Baguslah kalau ilmu yang kau dapat di sekolah bisa kamu gunakan. Setidaknya, tidak sia-sia ayahmu membelikanmu motor tiap tahun untuk kamu pake ke sekolah."
Mendengar perkataan ibunya di ujung sana, Reimon menggaruk kepalanya.
"Aku sekarang bekerja di perusahaan kontruksi. kalau berdasarkan kontrak kerja, aku akan berada disini kurang lebih tiga tahun."
"Lama juga, ya Rei."
"Mau gimana lagi, bu. Ini sudah perjanjian kerja kalau aku melanggar nanti di denda."
"Kasian kamu, nak."
"Hemm..." Erlang yang menguping pembicaraan anak dan istrinya bersuara."Apa yang kasian? dia sudah besar, sudah seharusnya mandiri. Banyak anak yang bahkan sebelum baligh sudah bekerja. Kamu saja yang terlalu memanjakannya."
Ibu Ine melototi suaminya.
"Ngomong-ngomong, apa kamu pacaran dengan Akira?."
"Hha?! pacaran dengan Akira? kok ibu bisa mikir begitu?."Reimon kaget mendengar pertanyaan ibunya. Kalau Elio dengar, dia pasti akan dicabik-cabik.
"Ibu, pacarku tuh Amelia. Masa aku pacaran sama cewek lain lagi."
"Bukannya, kalian putus."
"Dia yang mau putus, aku tidak mau. Aku akan mengejarnya lagi dan kembali menikah.'
"Begitu rupanya. Kupikir kamu kawin lari dengan Akira."
"Ibuuu...." Reimon menarik rambutnya, frustasi. Ini benar-benar bahaya tingkat tinggi.
"Jangan bicara seperti itu. Akira itu pacarnya Elio."
"Pacar apanya? mereka sudah putus."
"Elio masih suka sama Akira. Jangan bilang-bilang lagi aku dengan Akira."
"Satu kampung sudah sebar kamu kawin lari dengan Akira, makanya ibu bilang begitu. Ibu juga sudah bilang sama tante Suna-mu dan Elio kalau kamu sama Akira, mereka harus merestui kalian."
"Ibu...."Reimon makin panik. "Alamak, benar-benar dimutilasi aku ini sama Elio. Mungkin sebaiknya aku perpanjang kontrak sampai batas maksimal tinggal di Taiwan, 14 tahun." Pikir Elio.
"Ah...sudah ibu, Rei mau kerja. Nanti kapan-kapan kutelpon lagi." Reimon mengakhiri panggilannya.
"Kelihatannya kusut benar habis nelpon keluarga. Ada masalah?." Tanya Kang Adi teman satu mes Reimon. Sebenarnya, Reimon sudah pulang kerja dan sekarang ada di mes bersama pekerja indonesia lainnya.
"Masalah besar, masalah besar kang." Ujar Reimon duduk di samping kang Adi dan menceritakan perihal gosip dirinya dengan Akira, gadis pujaan sepupunya, Elio.
"Jadi, kamu digosipin bawa lari pacar sepupumu? viral begitu?." Edwin, senior yang datang berkunjung memperjelas. Bagas, dari batak, Ipung dari Surabaya datang berkerumun.
"Memangnya, orang di desamu nggak tahu kalau kamu ke Taiwan kerja?."
Reimon menggeleng. "Kecuali bapakku, nggak ada yang tahu."
"Jadi gini, Si Rei ini ke Taiwan kerja buat ngejar pacarnya yang ngambek dan jadi caretaker di Taiwan. Karena tahu nggak bakal diijinin sama ibu dan keluarganya, dia kabur. Diam-diam ke BLK. Kebetulan sponsornya si Akira, pacar sepupunya." Cerita kang Adi yang tahu persis kisah Reimon. "Sama orang desanya disangka kawin lari."
"Kalau nggak salah, menurut adat bugis kalau kawin lari begitu hukumannya berat, ya?." Kata Ipung. "Kalau hukum adat bugis, kalau kawin lari dua-duanya dibunuh kalau ditemukan sama keluarga pihak wanita. Benar, nggak?."
Bagas bertepuk tangan "Mampuslah kau , Rei! tinggal ajalah kau di Taiwan, nggak usah pulang. Daripada kau pulang ke tanah bugis langsung tamat." Ledek Bagas diikuti tawa riuh yang lain.
"Itu ...dulu. begitu. Sekarang, enggaklah." Kata Reimon kemudian.
"Di desa emang gitu, satu orang yang bicara semua pada percaya. Gosip paling cepat jadi." Kata Ipung.
"Dan banyak yang absurd. Orang desa itu emang imajinatif kalau soal gosip daripada orang kota. Itu bisa dipercaya." Mas Edwin mnambahkan.
"Aku sepakat. sepakat kali aku tentang itu. Gosip kalau di desa menyebar lebih cepat daripada sinyal 4G." Mereka malah sibuk berbagi pengalaman do gosipin tetangga.
"Kamu tinggal telpon sepupumu. Jelasin yang sebenarnya kalau kamu tuh kesini ngejar pacarmu. Kalau pacarnya dia nggak ke Taiwan, cuma sponsor aja." Kang Adi mngingatkan sebelum mereka bubar untuk kembali ke kamar masing-masing.
"Begitulah rencananya, kang."
Malam harinya, Reimon menelpon Elio.
"Kamu sekarang di Taiwan kerja apa?."
"Kerja konstruksi. Sekarang lagi bangun gedung apartemen. prediksinya akan selesai setahunan lebih klau nggak ada halangan dan nggak ada permintaan tambahan." Reimon menjelaskan pada Elio dan Lionel. Dia sudah memberitahu mereka tujuannya ke Taiwan untuk mengejar kembai cinta Amelia.
"Setelah itu selesai?."
"Nanti perusahaan yang nyariin kerjaan lagi."
"Kamu sudah ketemu Amelia?."
"Belum. Tapi aku sudah punya beberapa petunjuk. Tunggu beberapa bulan dulu baru aku temui dia."
"Jangan kelamaan menunggu, nanti dia kepincut cowok lain." Goda Lionel.
"Jangan sampailah."
"Gimana dengan Akira?."
"Dia nggak ke Taiwan. Lagi ikut pelatihan soft skill itu di Bekasi. Nanti juga balik ke situ. Katanya mau bikin kantor di kota. begitu saja yang kutahu."
"Elio sempat galau, dipikirnya kamu beneran jadian dengan Akira. Hampir aja...."Lionel tidak meneruskan kalimatnya karena Elio menepuk keras pundaknya sebagai peringatan menutup mulut.
"Aku nggak sebrengsek itu sama sepupu sendiri." Reimon mengelus dadanya. Dia tahu betul Elio cuckup kejam dalam bertindak.
"Setahuku, Akira masih jomblo. Kamu harus bergerak cepat karena banyak yang suka godain. Termasuk orang di BLK." Reimon memberikan informasi. Mereka mengobrol dan bercanda cukup lama.
"Kalau kamu nunggu kelamaan, bisa-bisa Akira kecantol orang kota."
Konsisten dan tetap percaya