Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi yang Bergulir
Langit sore mulai menggelap ketika Ravindra keluar dari gedung kantor. Pendingin ruangan masih tertinggal di kulitnya, tapi dadanya hangat oleh rencana kecil yang ia simpan sejak siang. Di tangan kirinya, buket bunga berwarna pucat. Di tangan kanan, kantong kertas berisi makanan favorit Tafana yang ia pesan khusus, takut keburu habis.
Ia membuka pintu mobil, meletakkan semuanya di kursi penumpang dengan hati-hati, seperti barang rapuh. Mesin belum sempat dinyalakan ketika ponselnya bergetar.
Sekali. Dua kali. Terus-menerus. Nama Yunika memenuhi layar.
Ravindra menghela napas, menatap lurus ke depan, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
Di ujung sana, terdengar suara gaduh. Langkah cepat. Logam beradu. Instruksi pendek dan tergesa. Di balik semua itu, muncul suara perempuan yang tenang—terlalu tenang untuk situasi yang riuh.
“Bapak Ravindra, benar? Saya dokter dari rumah sakit Medika. Mohon tetap tenang. Ibu Yunika mengalami pendarahan hebat dan saat ini sedang ditangani. Beliau menunjuk Anda sebagai wali.”
Jantung Ravindra berdegup keras.
“Kami perlu persetujuan segera untuk tindakan kuretase. Waktunya mendesak.”
Dunia seperti berhenti sepersekian detik.
“Saya menyetujuinya,” ucap Ravindra cepat, tanpa berpikir. “Lakukan saja. Saya ke sana sekarang.”
Telepon terputus. Mesin mobil menyala bersamaan dengan napas Ravindra yang memburu. Buket bunga terguling saat mobil melaju terlalu cepat keluar dari area parkir.
-oOo-
Rumah sakit menyambutnya dengan bau antiseptik dan cahaya putih yang menusuk mata. Ravindra berlari kecil, menyebut nama Yunika berulang kali pada petugas UGD sampai akhirnya diarahkan ke sebuah lorong yang lebih sunyi.
“Sudah selesai tindakannya, Pak,” kata perawat.
Kalimat itu tak serta-merta menenangkan.
Dokter Ayudia menemui Ravindra tak lama kemudian. Wajahnya profesional, suaranya datar namun jelas.
“Ibu Yunika dibawa ambulans setelah pendarahan dari jalan lahir. Usia kehamilan sekitar tiga minggu. Kami tidak bisa mempertahankannya.”
Ravindra menelan ludah.
“Kemungkinan besar dipicu kelelahan fisik atau tekanan mental,” lanjut dokter itu. “Setelah ini, kondisi psikologisnya harus benar-benar dijaga. Kehilangan seperti ini bisa berdampak berat. Kalau dibiarkan, bisa berujung gangguan serius.”
Setiap kata menghantamnya tanpa ampun.
Anaknya.
Bukan sekadar kemungkinan—ia tahu itu anaknya. Dan ia juga tahu, betapa seringnya belakangan ia menghindari Yunika. Menunda balasan. Menunda pertemuan. Menunda keputusan. Bahkan sempat ingin pergi begitu saja, seolah semua yang ia lakukan tak akan menuntut balasan apa pun.
Ternyata hidup tidak memberi jalan kabur.
Ravindra berdiri di depan pintu kamar rawat inap cukup lama sebelum akhirnya mendorongnya perlahan.
Yunika terbaring pucat. Matanya sembab. Napasnya tidak teratur. Tangisnya tertahan, seperti takut terdengar tapi juga tak mampu berhenti.
Ravindra mendekat pelan, duduk di sisi ranjang, lalu mengusap rambut Yunika dengan hati-hati.
“Hei… udah ya,” suaranya lebih lembut dari yang ia rencanakan. “Jangan nangis. Everything is gonna be okay. Maaf… belakangan aku kurang jagain kamu. Aku lalai.”
Yunika terisak.
“Ini salah aku,” katanya lirih. “Aku nggak bisa jaga anak kita.”
“No, no,” Ravindra buru-buru menggeleng. “Jangan begitu. Kalau begitu gimana kalau berhenti salahin diri dan fokus penyembuhan aja.”
Ia menarik napas, menatap wajah Yunika lebih lama.
“Aku mau tanya… gimana bisa sampai begini?” suaranya turun. “Kenapa kamu... nggak bilang.”
Yunika menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Nggak tahu, aku juga nggak tahu aku hamil."
Ravindra menarik kedua tangannya agar bisa jelas menatap wajah wanita itu. Yunika memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Pandangannya basah, tapi ada sesuatu di sana yang sulit dibaca.
“Lagipula kalaupun tahu, apa bedanya?" katanya pelan. “Toh kamu udah bosan sama aku kan, mau ninggalin aku.”
Kalimat itu jatuh perlahan—tidak keras, tidak menuduh—namun cukup untuk membuat Ravindra sadar:
Ini bukan akhir. Ini baru permulaan. Dan ketidaktegasannya menyakiti wanita lain lagi."
-oOo-
Pintu rumah terbuka dengan bunyi khas yang sudah dihafal Tafana di luar kepala. Ia spontan bangkit dari sofa, wajahnya langsung mengembang oleh senyum yang lepas—senyum orang yang menunggu terlalu lama.
“Kamu—”
Kata itu menggantung.
Yang berdiri di ambang pintu adalah Darren.
“Oh.” Tafana berkedip sekali, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih pelan. “Darren?”
Darren mengangkat kantong plastik di tangannya. “Maaf, Kak. Bang Ravindra nitipin Kakak ke aku. Dia harus urus temannya di rumah sakit.”
Nada suaranya biasa saja. Terlalu biasa. Di dalam kepalanya, nama itu muncul tanpa perlu disebut: Yunika. Tapi Darren menelannya bulat-bulat. Ia tak menghakimi, karena tak akan membuat keadaan lebih baik—dan jujur saja, ia juga cemas.
Tafana tak bertanya lebih jauh. Alisnya justru mengerut oleh khawatir. “Astaga, siapa yang masuk rumah sakit? Parah nggak? Perlu kita jenguk, Dek?”
“Nggak usah.” Darren cepat-cepat mendekat, menaruh kantong di meja. “Kakak aja baru pemulihan. Nanti ke rumah sakit, malah sakit lagi. Baru tau rasa.”
Ia mengatakannya sambil tersenyum tipis, nada bercanda yang sengaja dilebihkan.
Tafana tertawa kecil, lalu menurut. “Iya, iya.”
Darren melirik dapur, lalu berjalan ke sana seolah itu wilayahnya sendiri. “Kakak udah makan belum? Kalau belum, biar aku masakin nasi sama lauk.”
Tafana menyandar di sandaran kursi, menatap punggung Darren dengan mata berbinar. “Wih. Kamu bisa masak sekarang?”
Darren menoleh sekilas. “Udah, jangan berisik.” Lalu, lebih lembut, “Kakak istirahat aja ya.”
Suara panci dan air mengalir memenuhi rumah. Tafana memejamkan mata, merasa hangat—bukan hanya karena perhatian, tapi karena rumah itu kembali berisi.
Di dapur, Darren mengaduk nasi dengan tangan sedikit gemetar. Kekhawatirannya tentang Yunika tak pergi. Ia hanya memilih menyimpannya rapat-rapat, seperti api kecil yang belum boleh menyala.
-oOo-
Ravindra kembali ke mobil dengan langkah berat. Pintu ditutup pelan, seolah suara sekecil apa pun bisa menghakiminya. Di kursi belakang, buket bunga masih tergeletak rapi—mawar pucat yang seharusnya ia letakkan di tangan Tafana, bersama kotak makanan dari restoran favoritnya.
Tangannya berhenti di udara.
Ia menghela napas panjang, lalu meraih keduanya.
Setidaknya ini bisa jadi penghibur, pikirnya, meski ada rasa bersalah kecil yang menyelinap karena niat awalnya telah bergeser arah.
Saat ia kembali masuk ke kamar rawat, Yunika menoleh. Wajahnya pucat, mata sembab, tapi ada kilau kecil ketika melihat bunga di tangan Ravindra.
“Hei, lihat,” kata Ravindra, memaksakan senyum. “Aku bawa apa. Ini buat kamu.”
Yunika menerimanya dengan kedua tangan, seolah benda rapuh. “Makasih,” ucapnya lirih, tapi tulus.
“Dan… aku tahu kamu nggak mau makan sembarangan,” lanjut Ravindra. Ia mengangkat kotak makanan. “Tapi tadi aku beli ini. Dari restoran langgananku. Bersih, enak. Menunya juga lumayan sehat.”
Yunika ragu sebentar, lalu mengangguk kecil. Ketika Ravindra menyuapinya pelan, ia menurut. Ravindra merasa dadanya mengendur—lega, terharu, dan sekaligus terikat. Bagaimanapun, perempuan ini celaka karena menampung anaknya.
Selepas selesai menyuapi makanan hingga habis, Ravindra pamit.
“Tunggu sebentar ya,” katanya kemudian. “Aku ambilin baju ganti di rumah kamu.”
Begitu pintu tertutup, langkah lain masuk.
Dokter Ayudia.
Ia tak duduk. Tak tersenyum. “Udah selesai aktingnya?” katanya datar. “Kamu puas, kan?”
Yunika menegang.
“Bagus. Sekarang mending kamu segera pulang dari rumah sakit ini,” lanjut Ayudia dingin. “Sebelum direktur tahu. Cepat.”
Tak lama setelah itu, kamar itu kosong.
Ketika Ravindra kembali, tangannya masih membawa kantong pakaian, dadanya langsung mengeras. Tempat tidur itu rapi. Terlalu rapi.
“Di mana Bu Yunika?” tanyanya panik.
Perawat menjawab singkat, “Ibu itu memaksa pulang, Pak. Jadi diizinkan oleh pihak rumah sakit.”
“Apa?” Ravindra meninggi. “Kenapa nggak bilang saya? Kan bisa tunggu saya dulu!”
Tak ada jawaban yang bisa mengejarnya.
Malam itu, Ravindra berdiri di lorong rumah sakit, sadar akan satu hal pahit:
Ia datang terlambat—bukan sekali ini saja.
Tak lama pesan dari Yunika datang. "Aku memutuskan pulang ke rumah. Kamu pulang aja, jaga istri kamu. Aku bisa kok sendiri."
Tak ada yang salah dengan kalimatnya. Tapi anehnya Ravindra merasa ditampar oleh rasa bersalah.
Ravinda kembali melesat menuju rumah Yunika, namun yang ditemuinya hanya kehampaan. Perempuan itu tak ada di sana.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅