Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. MENCARI MODAL AWAL
Pada hari Senin pagi, setelah mengantar Hadian dan Alea bermain di rumah Pak Soleh, Rian masuk ke kamar mereka di rumah panggung dan membuka sebuah kotak kayu kecil yang selalu dia simpan dengan aman. Di dalamnya terdapat beberapa barang berharga yang dia bawa dari rumah lama di kota – sebuah jam tangan antik yang dulunya miliki ayahnya, sebuah rantai emas kecil yang pernah diberikan oleh Novi saat ulang tahun pertama mereka menikah, sebuah kamera foto jadul yang dia beli dengan menabung selama bertahun-tahun, dan beberapa perhiasan kecil lainnya yang pernah menjadi milik keluarganya.
Dia melihat setiap barang dengan hati yang penuh dengan kenangan. Jam tangan itu pernah menjadi teman setia ayahnya saat bekerja di sawah, rantai emas itu adalah bukti cinta awalnya dengan Novi, dan kamera itu pernah digunakan untuk mengabadikan momen-momen bahagia keluarga mereka sebelum semua kesulitan datang. Namun dia tahu bahwa untuk memulai kehidupan baru dan merealisasikan rencana mereka untuk mengembangkan lahan pertanian serta usaha kecil, dia membutuhkan modal awal yang tidak bisa dia dapatkan hanya dengan bekerja sebagai pekerja lepas.
“Harusnya ini adalah cara yang paling baik,” bisiknya dengan suara yang lembut, menyortir barang-barang tersebut satu per satu. Dia memilih beberapa barang yang paling berharga dan masih memiliki nilai jual tinggi – jam tangan antik, kamera foto jadul, dan rantai emas kecil – kemudian membungkusnya dengan kain bersih dan menyimpannya di dalam tas kecil yang kuat.
Setelah siap, Rian berjalan menuju pusat desa di mana terdapat sebuah toko barang antik dan emas kecil yang dikenal oleh penduduk desa. Jalanannya cukup jauh, namun dia tidak keberatan berjalan kaki karena dia ingin menghemat uang untuk keperluan yang lebih penting. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Pak Soleh yang sedang pulang dari pasar desa dengan membawa beberapa benih tanaman.
“Kamu mau kemana, Rian?” tanya Pak Soleh dengan suara yang ramah, melihat tas kecil yang dibawa oleh Rian dengan ekspresi yang penuh dengan perhatian.
Rian menjelaskan tentang rencananya untuk menjual beberapa barang berharga untuk mendapatkan modal awal. Pak Soleh mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian memberikan senyum yang penuh dengan dukungan.
“Itu adalah keputusan yang bijak, Rian,” ujarnya dengan suara yang hangat. “Kita terkadang harus melepaskan barang-barang berharga untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Jika kamu membutuhkan bantuan atau ingin berbicara sebelum menjualnya, aku selalu ada di sini untukmu.”
Rian merasa sangat terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Pak Soleh. Setelah berpisah, dia melanjutkan perjalanannya dan sampai di toko barang antik sekitar satu jam kemudian. Toko tersebut terletak di sebuah rumah kayu tua yang diubah menjadi tempat usaha, dengan berbagai barang antik dan emas yang dipajang dengan rapi di dalamnya.
Pemilik toko, Pak Darmo, seorang pria berusia lanjut dengan wajah yang ramah, segera menyambut Rian dengan senyum hangat. Dia mengenal Rian sebagai cucu dari keluarga petani yang dulu terkenal di desa, dan dengan senang hati melihatnya kembali ke kampung halaman.
“Apa yang bisa kubantu, Rian?” tanya Pak Darmo dengan suara yang lembut, melihat barang-barang yang dibawa oleh Rian dengan mata yang penuh dengan minat.
Rian dengan hati-hati membuka bungkusan dan menunjukkan jam tangan antik, kamera foto jadul, dan rantai emas kecil. Dia menjelaskan asal-usul setiap barang dan mengatakannya bahwa dia perlu menjualnya untuk mendapatkan modal awal untuk mengembangkan lahan pertanian dan usaha kecil keluarganya.
Pak Darmo memeriksa setiap barang dengan sangat cermat, mengeluarkan kaca pembesar untuk melihat detail jam tangan dan kamera. Setelah beberapa saat, dia menoleh ke arah Rian dengan ekspresi yang serius namun penuh dengan pengertian.
“Barang-barang ini memiliki nilai yang cukup tinggi, Rian,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Jam tangan ini adalah produk tahun 70-an yang masih dalam kondisi baik, kamera ini juga langka dan banyak dicari oleh kolektor, dan rantai emas ini memiliki kadar yang baik. Aku bisa memberikan uang sebesar tiga juta rupiah untuk ketiga barang ini. Apakah kamu setuju?”
Rian merasa sedikit terkejut mendengar jumlah uang yang ditawarkan. Itu adalah jumlah yang cukup besar bagi dia, dan akan cukup untuk memulai lahan pertanian kecil serta membeli beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan. Meskipun hatinya merasa sakit harus melepaskan barang-barang berharga yang memiliki nilai sentimental tinggi, namun dia tahu bahwa ini adalah langkah yang perlu dia ambil untuk masa depan anak-anak dan keluarganya.
“Aku setuju, Pak Darmo,” jawab Rian dengan suara yang tegas namun penuh dengan emosi. “Terima kasih banyak telah memberikan harga yang adil untuk barang-barang ini.”
Pak Darmo segera mengambil uang dari laci kas dan memberikannya kepada Rian dalam amplop putih yang tebal. Dia juga memberikan kartu nama dan mengatakan bahwa jika suatu hari nanti Rian ingin membeli kembali barang-barang tersebut, dia akan dengan senang hati menjualkannya kembali dengan harga yang sama.
“Barang-barang ini akan aku jaga dengan baik, Rian,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghormatan. “Mereka adalah bagian dari sejarah keluarga kamu, dan aku akan memastikan bahwa mereka jatuh ke tangan yang benar jika aku harus menjualnya nanti.”
Rian mengucapkan terima kasih yang dalam dan segera berjalan pulang dari toko. Dia menyimpan amplop uang dengan sangat hati-hati di dalam tasnya, merasakan beratnya yang memberikan harapan baru bagi keluarganya. Di jalan pulang, dia berhenti di pasar desa untuk membeli beberapa kebutuhan penting – benih sayuran dan jagung, beberapa alat pertanian sederhana seperti cangkul dan garu, serta beberapa bahan makanan untuk keluarga.
Ketika dia sampai di rumah panggung, Hadian dan Alea segera berlari ke arahnya dengan wajah yang penuh dengan kegembiraan. Mereka melihat tas belanjaan yang dibawa oleh ayahnya dengan mata yang penuh dengan rasa ingin tahu, serta memperhatikan bahwa wajah ayahnya tampak lebih lega dan penuh dengan harapan.
“Papa, apa yang kamu beli ya?” tanya Alea dengan suara yang ceria, menarik lengan ayahnya dengan lembut.
Rian membuka tasnya dan menunjukkan barang-barang yang dia beli, kemudian memberitahu anak-anak tentang rencananya untuk menjual barang berharga dan uang yang dia dapatkan darinya. Hadian melihat ayahnya dengan mata yang penuh dengan rasa hormat, sementara Alea menangis pelan karena menyadari bahwa ayahnya telah melepaskan barang-barang berharga untuk kebaikan keluarga.
“Kamu tidak perlu menangis, sayang,” ujar Rian dengan suara yang lembut, menepuk punggung putrinya dengan penuh kasih sayang. “Barang-barang itu hanya benda mati. Yang paling penting adalah kita memiliki satu sama lain dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. Uang yang kita dapatkan akan digunakan untuk membuat lahan pertanian kita tumbuh dan memberikan kehidupan yang layak bagi kita semua.”
Hadian mengangguk dengan penuh pengertian. “Kita akan bekerja lebih keras lagi ya, Papa,” jawabnya dengan suara yang jelas. “Aku akan membantu merawat kebun dan lahan pertanian agar uang yang kamu hasilkan dari menjual barang-barang itu tidak terbuang percuma.”
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan mulai menyortir barang-barang yang baru dibeli. Rian membuat daftar rinci tentang bagaimana uang tersebut akan digunakan – sebagian untuk membeli benih dan alat pertanian, sebagian untuk membangun kandang ayam dan memperbaiki fasilitas rumah, dan sebagian kecil akan disimpan sebagai cadangan darurat.
Di malam hari itu, mereka makan malam bersama dengan Nenek Siti dan Pak Soleh di rumah panggung. Rian memberitahu mereka tentang uang yang dia dapatkan dan rencana penggunaannya. Pak Soleh segera menawarkan untuk membantu membangun kandang ayam dan membersihkan lahan pertanian pada hari libur, sementara Nenek Siti menawarkan untuk mengajarkan mereka cara membuat pupuk organik dari bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar desa.
“Dengan modal yang kamu miliki sekarang, Rian,” ujar Pak Soleh dengan suara yang penuh dengan keyakinan, “kita bisa mulai membersihkan lahan pertanian peninggalan orang tuamu minggu depan. Aku akan menyuruh beberapa anak muda desa untuk membantu kita. Bekerja bersama-sama akan membuat pekerjaan lebih cepat selesai dan lebih menyenangkan.”
Rian merasa sangat bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh keluarga dan tetangga desa. Dia melihat anak-anaknya yang sedang bermain dengan bahagia di sekitar rumah, dan tahu bahwa semua pengorbanan yang dia lakukan sebanding dengan kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik yang akan mereka dapatkan. Meskipun dia harus melepaskan barang-barang berharga yang memiliki kenangan mendalam, namun dia yakin bahwa dia telah membuat keputusan yang benar – keputusan yang akan membawa keluarga mereka menuju kehidupan yang lebih layak dan penuh dengan harapan di desa yang mereka cintai.
Di langit malam yang penuh dengan bintang-bintang, Rian melihat ke arah lahan pertanian yang terletak di kejauhan. Dia merasakan tekad yang semakin kuat dalam dirinya untuk membuat lahan tersebut kembali produktif dan menjadikan keluarga mereka sebagai contoh bagi penduduk desa tentang bagaimana kerja keras dan kebersamaan bisa mengubah keadaan buruk menjadi lebih baik. Uang yang dia dapatkan dari menjual barang berharga itu bukan hanya modal awal untuk usaha mereka, tapi juga simbol dari harapan baru yang sedang mereka bangun bersama-sama sebagai keluarga yang utuh dan cinta satu sama lain.