NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:44k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah kepergian suaminya tadi, Nara menangis tanpa suara, ia duduk sambil bersimpuh di tengah-tengah lututnya, air mata tanpa terasa jatuh membasahi kain roknya.

Ia benar-benar tidak menyangka jika cinta yang sudah dipilih, tidak benar-benar menjadi rumah, cintanya malah menjadikan ketakutannya sebagai beban pikiran.

"Aku tahu, aku salah, asal kamu tahu Mas, aku melakukan itu karena aku takut kehilangan," ucap Nara tenggelam diantara suara tangisnya.

Sejenak puing-puing ingatan mulai melintas di dalam pikirannya, dimana Nara kecil yang selalu dioper ke sana ke mari, ikut dengan Ibu tapi ayah sambungnya tidak benar-benar menerimanya, dan ibunya juga sibuk dengan anaknya yang baru lahir, dan begitu sebaliknya dengan ayah kandungnya.

"Bu .... Nara ingin makanan seperti teman yang ada di warung, ujung jalan sana," ucap Nara.

"Gak ada uang, ayahmu saja tidak pernah kirim apa-apa," sahut ibunya ketus, seperti menahan lelah yang berkepanjangan.

Nara tidak punya kekuatan untuk membalas kata-kata ibunya, anak itu hanya menunduk sambil menahan air mata yang hendak jatuh di pelupuk matanya.

"Minggu depan kamu libur, ikut saja sama Bapakmu, biar dia juga merasakan bagaimana merawatmu," ungkap ibunya.

Nara hanya terdiam, isaknya ia tahan agar sang ibu tidak mendengar rintihan hatinya sebagai seorang anak.

Satu Minggu berlalu begitu cepat, hari yang tidak diinginkan oleh Nara akhirnya datang juga, Bapaknya sudah menanti di ruang tamu dengan raut wajah yang tidak bersahabat, anda kata Nara bukan darah dagingnya sendiri mungkin ia memilih untuk menghindar.

"Ra, itu bapakmu sudah datang, kamu siap-siap sama," kata ibunya tegas.

Nara hanya manut tanpa ada bantahan, karena ia masih terlalu kecil untuk melawan. "Iya Bu."

Baju-baju Nara sudah dimasukkan ke dalam tasnya, anak itu keluar dari kamar dengan tatapan yang kosong benar-benar kosong, karena sebagai seorang anak, ia tidak pernah ditanya ataupun diharapkan.

"Ayo ikut Ayah," katanya terlalu singkat untuk hubungan antara ayah dan anak.

Nara hanya mengangguk, namun sebelum melangkah pergi Nara mencium punggung tangan ibunya.

"Ya sudah hati-hati," ucap sang Ibu seolah ingin anaknya cepat ikut dengan mantan suaminya.

Nara mengikuti langkah sang ayah dari belakang, tidak ada gandengan tangan, bahkan hanya sekedar ditanya. Sudah makan? Gimana kabarmu? Semuanya tidak ada, Nara bukanlah anak yang selalu mendapatkan perhatian kecil seperti itu.

Nara naik keatas motor ayahnya, tubuh dihadapannya itu sangat dekat, namun Nara merasa asing, hingga di perjalanan yang melewati pasar, Nara melihat penjual makanan dan Es buah yang bertengger di tepi jalan.

Nara ingin sekali membeli salah satu makanan itu, namun sayang ibunya tidak membekalinya uang, hingga anak itu memberanikan diri untuk meminta pada ayahnya.

"Yah," panggil Nara pelan.

"Ada apa?" sahut ayahnya datar.

"Boleh gak Nara, minta es buah itu," ucap anak itu suaranya nyaris tenggelam bersama angin jalanan.

"Ayah gak ada uang, adikmu dua di rumah, membutuhkan biaya banyak," sahut ayahnya itu.

"Tapi Nara pingin Yah," desak anak itu entah keberanian dari mana ia berani memaksa.

"Kalau dibilang gak punya uang ya gak punya, kamu paham gak?" sahut ayahnya itu dengan nada sedikit menyentak.

Nara menelan ludahnya kasar, harapannya untuk sekedar mencicipi manisnya es di tepi jalan tadi, musnah sudah, karena sang ayah yang selalu bilang tidak ada uang setiap kali ia memintanya.

Dan ingatan-ingatan kecil seperti itu, sampai sekarang masih terngiang di benak Nara, bagaimana ia ditinggalkan, bagaimana ia melihat kedua orangtuanya fokus terhadap keluarga barunya, dan tanpa sadar bayangan itu yang membuat Nara sampai sekarang takut untuk ditinggalkan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Waktu pulang, seharusnya digunakan untuk melepas rindu terhadap suatu keluarga. Tapi bagi suami Nara, rumah justru terasa seperti kelanjutan dari hari yang panjang, tidak ada ketenangan di hatinya yang ada hanya ketakutan istrinya yang justru ia jadikan beban.

Malam itu hujan turun tipis. Lampu teras sudah menyala ketika ia membuka pintu. Sepatunya dilepas pelan, jaket digantung rapi kebiasaan yang masih ia pertahankan meski kepalanya terasa berat.

Nara muncul dari dapur. Senyumnya cepat, matanya waspada. “Kamu kehujanan?” tanyanya. “Aku ambilin handuk.”

“Tidak,” jawabnya singkat.

Nara sudah setengah melangkah, lalu berhenti. Ia mengangguk kecil, seolah sedang belajar menerima penolakan yang sangat sederhana.

Di meja makan, dua piring tersaji. Masih hangat.

“Kamu belum makan lagi?” Nara bertanya, kali ini lebih hati-hati.

Suaminya menarik kursi, duduk tanpa menatap. “Aku sudah makan di kantor.”

“Oh.” Nara tersenyum. “Ya sudah. Aku simpan, ya.”

Ia membawa kembali satu piring ke dapur. Gerakannya rapi, terukur, seperti takut membuat suara yang salah.

Suaminya memperhatikan punggung itu lama. Ada rasa bersalah yang singgah sebentar, lalu pergi. Yang tersisa hanya lelah.

“Nara,” panggilnya.

Nara berbalik cepat. “Iya?”

“Kita nggak usah selalu makan bareng.”

Kalimat itu meluncur begitu saja datar dan tidak ada bentakan. Namun cukup untuk membuat Nara terpaku keheranan.

“Maksud kamu…?” tanyanya pelan.

“Kalau aku pulang malam, kamu nggak perlu nunggu. Nggak perlu masak. Nggak perlu ....” ia berhenti, mencari kata yang tidak menyakitkan. “Nggak perlu terlalu repot.”

Nara menelan ludah. “Aku nggak repot.”

“Tapi aku merasa direpotkan,” jawabnya jujur. Terlalu jujur.

Wajah Nara berubah. Senyum yang sejak tadi dipertahankan runtuh perlahan, entah apa yang ada di dalam benak suaminya itu, hingga dia tidak pernah melihat usahanya. “Aku cuma pengin rumah ini terasa hidup.”

“Buat kamu,” sahutnya. “Bukan buat aku.”

Sunyi menyela, diantara keduanya Nara mendekat, berdiri di depannya. Jarak mereka dekat, tapi terasa asing.

“Kamu pulang, aku nunggu. Kamu capek, aku siapin makan. Kamu diam, aku ajak ngomong. Salahnya di mana?” suara Nara bergetar.

Suaminya menghela napas. Tangannya meremas lutut sendiri. “Salahnya… aku nggak pernah diberi pilihan.”

“Apa maksudmu?”

“Aku selalu harus pulang cepat biar kamu tenang. Harus balas chat biar kamu nggak panik. Harus jelasin semuanya, seolah aku selalu sedang diuji.”

Nara menggeleng cepat. “Aku nggak menguji kamu.”

“Tapi rasanya begitu.”

Kalimat itu jatuh berat. Nara mundur selangkah. “Aku cuma takut.”

“Takut apa?” tanyanya, nada suaranya melembut sedikit.

“Takut kamu berubah. Takut kamu capek sama aku. Takut suatu hari kamu pulang dan memutuskan nggak mau ada di sini lagi.”

Kejujuran itu membuat udara makin berat,

Suaminya berdiri, lebih tinggi, semakin ia mendekat semakin terasa dingin tatapannya.

“Aku capek, Nara,” katanya lirih tapi tegas. “Setiap kali aku pulang, aku harus siap menghadapi ketakutanmu. Dan lama-lama… aku ikut takut pulang.”

Kata-kata itu menampar lebih keras dari teriakan mana pun, Nara tak sampai hati berpikir seperti itu, baginya menikah dengan pria pilihannya mampu mengerti dengan ketakutannya, ternyata tidak. Tidak seperti ini yang diinginkan.

Nara mematung. “Jadi aku alasan kamu nggak mau pulang?”

Ardan tidak langsung menjawab. Itu jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.

Malam itu, Ardan masuk ke kamar lebih dulu. Mengunci diri dalam sunyi. Nara tetap berdiri di ruang makan, menatap meja yang kembali kosong, hanya tersisa, dua piring, dua gelas, yang tadi sengaja ia siapkan.

Ia duduk perlahan, menunduk. Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya, Nara sadar:

bukan hanya ia yang kelelahan menjaga pernikahan ini, ternyata suaminya juga. Dan mungkin bagi Ardan, pulang merupakan hal yang paling melelahkan baginya.

Bersambung ....

Malamnya double up ya.

Kasih komennya dong biar aku tambah semangat ....

1
Linggo Yani
suka tapi sedih
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!