Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Malam itu udara terasa dingin, detak jantung Arion berdetak tak terkendali dengan kaki yang terasa berat.
Helaan napas terdengar keluar dari bibirnya, dia gugup saat kakinya berhenti dan melihat keluarga Harvey duduk di ruang tunggu.
"Apa Aurora belum selesai di tangani?" gumam Arion, dia menatap dari jauh seolah mencari jawaban atas apa yang ia khawatirkan.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk maju, menemui dan meminta izin untuk ikut menunggui Aurora malam ini.
"Selamat malam!" sapa Arion, suaranya rendah dan serak.
"Malam, kau di sini?" tanya Kaynen.
"Iya, Kak, bagaimana keadaan Aurora, Kak?" tanya Arion.
"Belum ada kabar, dan dokter sedang berusaha!" jelas Kaynen, dia menatap Arion dengan mata penuh kecurigaan.
"Silakan duduk, Ar!" kata Adeline.
Arion mengangguk dia segera duduk untuk ikut menemani Aurora dan menunggu kabar tentang keadaan gadis cantik berkata indah itu.
Pintu terbuka, mereka semua bangun saat melihat dokter keluar dari ruangan UGD dimana Aurora berada.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Adeline yang sejak tadi paling khawatir bertanya, sebagai ibu dia tentu yang paling sakit saat melihat sang putri terbaring tak berdaya.
"Nona Aurora tidak apa, dia hanya mengalami luka ringan di kepala dan sedikit syok itu sebabnya Nona Aurora pingsan," jelas Dokter.
Mereka semua menarik napas lega, rasanya pundak mereka yang sejak tadi berat langsung ringan saat mendengar Aurora tak apa dan hanya mengalami syok.
"Lalu apa kami bisa menjenguknya, Dok?" kembali Adeline bertanya sebab ia tak sabar.
"Kalian bisa menjenguk setelah Nona Aurora di bawa ke ruang perawatan," jawab Dokter.
Mereka semua mengangguk dan akhirnya dengan sabar menunggu hingga brankar itu di bawa keluar oleh perawat.
"Sayang," panggil Adeline, dia melihat Aurora masih betah menutup mata.
"Sudah, Ma! Biarkan Aurora istirahat!" kata Aruna, dia memang tak begitu suka Aurora. Namun, melihat gadis itu tak berdaya ia pun merasakan sakit.
Brankar di dorong, Aurora di bawa ke ruang perawatan untuk masa pemulihan akibat trauma ringan yang ia alami.
...****************...
Sedangkan di rumah Harvey.
"Bukan aku yang menyakiti Aurora, Ma!" ucap Anjani, dia tadi pulang di antar supir yang sudah stanby di belakang hotel dengan beberapa pengawal.
Tubuh Anjani gemetar, dia tadi di tarik paksa dari toilet dan di bawa pulang dengan sedikit paksaan.
Anjani takut, tubuhnya gemetar sebab mengingat bagaimana Aurora pingsan dan sakit akibat tamparan Adeline padanya tadi.
"Kenapa, Ma?" tanya Anjani, dia mengusap pelan pipinya yang memerah akibat tamparan dari Adeline.
Air mata mengalir pelan, dari mata indah Anjani, jelas ia tahu akibat dari kejadian ini bukan hanya skorsing atau hukuman potongan uang jajan. Namun, mungkin saja ada banyak yang akan dia dapatkan dari semua itu.
Pagi harinya.
Pagi ini, matahari mulai keluar menghasilkan warna cerah yang indah, suasana hangat menambah kesan menenangkan yang tak pernah membosankan.
SRAK!
Suara besi tirai yang di buka menghasilkan bunyi nyaring, cerahnya sang surya langsung menerobos masuk dan menerpa langsung wajah cantik gadis yang masih terlelap.
"Selamat pagi, sayang!" Adeline menyapa senyumnya hangat layaknya sang surya.
"Pagi," bala Aurora, dia tersenyum lembut pula, "Dimana yang lain, Ma?" tanya Aurora juga.
"Sedang mencari sarapan, kamu mau sarapan apa hari ini?" tanya Adeline dia menggenggam erat tangan putih Aurora yang tak di pasang infus itu.
"Aku belum ingin sarapan, Ma, aku hanya butuh istirahat sebentar lagi, bolehkan?" izin Aurora.
"Tentu, istirahat lah sayang!"
Aurora mengangguk, dia langsung memejamkan matanya sebab jujur saja ini adalah tidur ternyaman setelah permasalahan yang di timbulkan Anjani. Dan tak akan ia biarkan tidur nyamannya terganggu hanya karena sarapan pagi.
'Kali ini aku lepaskan kau karena aku masih mau istirahat, tapi mungkin bukan hanya aku yang akan memberikan kamu pelajaran, Anjani! Karena aku ingin orang lain yang bergerak,' batin Aurora dengan senyum tipis yang tak Adeline sadari.
...****************...
Di ruang makan keluarga Draco
suasana pagi yang biasanya hangat kini dipenuhi kegelisahan. Seluruh anggota keluarga sudah duduk mengelilingi meja, kecuali Arion yang belum juga muncul.
Arjuna, sang kepala keluarga, menatap tajam ke kiri dan kanan, matanya mencari putranya.
"Araina, di mana Arion? Biasanya jam segini dia sudah turun," tanya Arjuna dengan suara serak, matanya menyiratkan kekhawatiran yang tak tertahan.
Araina terdiam, ragu akan bercerita atau tidak, Ia menghembuskan napas panjang, lalu menatap sang ayah dan ibu dengan mata yang mulai memerah. "Arion masih di rumah sakit, Dad... menemani Aurora. Kemarin, Aurora pingsan... karena siksaan Anjani."
Keheningan seketika menyergap. Elva dan Arjuna saling bertatapan, seolah berusaha menyerap kata-kata yang mengguncang dunia mereka.
"Kamu yakin Anjani tega melakukan itu? Hal semengerikan itu?" suara Elva bergetar, penuh campuran sedih dan marah.
Araina mengangguk tegas, suaranya mengandung kebencian yang tak bisa disembunyikan. "Yes, Mom. Anjani itu... tak tahu malu. Kenapa keluarga Harvey tak menyerahkan Anjani kembali ke orang tua kandungnya saja? Kenapa malah membuat hidup Aurora sengsara seperti ini?"
Sakit hati dan kemarahan berkecamuk dalam keluarga Draco. Namun di balik semuanya, pertanyaan besar dan luka mendalam terus menghantui mereka apakah keadilan masih berpihak pada yang lemah?
"Lalu bagaimana keadaan Aurora sekarang?" tanya Arjuna, matanya menatap tajam ke arah Araina, sambil tangannya menggenggam roti yang sudah diolesi selai, tapi tak juga masuk ke mulutnya.
Araina menahan nafas, niat menyuapkan makanannya tiba-tiba terhenti. Suaranya pelan, bergetar, "Aurora... baik-baik saja, Dad. Hanya... syok dan pusing." ada kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan.
Arjuna menatap mereka berdua sejenak, " baiklah, Kita cepat selesaikan sarapannya, lalu langsung ke rumah sakit menjenguk Aurora." Suaranya tegas.
Kemudian mereka bertiga melanjutkan sarapannya hingga selesai sebelum pergi ke rumah sakit dimana Aurora di rawat.
...****************...
Di kantin rumah sakit, hiruk-pikuk memenuhi udara, orang-orang berlalu-lalang sibuk membeli sarapan atau sudah selesai menyantapnya dengan wajah yang penuh beban.
Di sudut yang agak sepi, tiga pria duduk bersama, dikelilingi piring-piring bubur ayam yang mulai kosong dan segelas air putih yang berembun di tepinya.
Tapi meski sarapan sudah usai, mereka tak segera beranjak. Diam-diam, ketegangan menggantung berat di antara mereka.
Arion menatap tajam ke arah Baskara dan Kaynen, suaranya bergetar tapi penuh amarah yang tertahan.
"Lalu, apa sebenarnya yang akan kalian lakukan pada Anjani? Ini sudah keterlaluan! Kalau kalian tak sanggup memberi keadilan untuk Aurora, biar aku yang menegakkannya."
Baskara membalas dengan nada dingin dan tegas, seolah melepas badai yang lama terpendam. "Tenanglah. Kali ini, aku pastikan hukuman untuk Anjani setimpal. Dia telah melukai putriku, dan aku tak akan membiarkannya begitu saja."
Kaynen menimpali dengan senyum penuh keyakinan yang mengandung bayang-bayang rencana tersembunyi. "Percayalah, segala sesuatunya sudah kami atur. Hasilnya? Kamu pasti tak akan kecewa."
Matanya menyiratkan janji akan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang Arion bayangkan. Suasana yang semula biasa kini berubah menjadi ladang konflik yang siap meledak di mana rasa sakit, dendam, dan keadilan saling beradu tanpa ampun.
"Oke," Arion menganggukkan kepala dengan berat hati, suaranya penuh harap yang bergetar. "Aku tunggu kabar baik dari Om Baskara dan Kak Kaynen. Jangan sampai kalian mengecewakan aku... Aku benar-benar berharap ini bukan sekadar harapan kosong."
Matanya menatap tajam, menggambarkan rasa ragu dengan kepercayaan yang ia paksakan.
Setelah itu mereka bangkit dan berjalan pergi meninggalkan kantin, menuju ruang perawatan Aurora.
selalu d berikan kesehatan😄