Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Di Balik Lamaran
"Apa maksudnya Bayu?" tanya Anwar, tak percaya.
"Bang Rendi, mau Nadia jadi istri keduanya. Tapi, dia janji akan memenuhi segala keinginan Nadia. Dengan syarat, dia harus melahirkan anak sebanyak-banyaknya. Sebab istri pertama bang Rendi mandul," terang Bayu semakin membuat Nadia geleng-geleng kepala.
Nadia memilih diam. Dia tak menyela sedikit pun. Namun, melihat tangan ayahnya yang mengepal. Nadia tahu. Lelaki itu pasti akan menolak, lamarannya.
Anwar menyikut lengan Hesti. Dan perempuan itu juga menggeleng lemah.
"Ambilkan suguhan untuk tamu kita bu ..." Anwar kembali mendelik ke arah istrinya. Dan mau tak mau Hesti bangkit dan berjalan ke dapur.
"Bayu, kita keluar dulu yuk. Biarkan Rendi dan Nadia saling mengenal dulu," ajak Anwar sembari tersenyum ramah ke arah Rendi.
Rendi menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Apalagi, menurut penilaiannya, Nadia sosok istri yang tepat. Karena ia juga harus mengedepankan fisik. Dikarenakan Nadia ialah calon ibu untuk anak-anaknya kelak.
Anwar mengajak Bayu untuk sedikit lebih jauh dari teras. Dan sini lah keduanya. Di kursi beton yang ada dibawah pohon mangga.
"Kenapa kamu bawa dia kesini? Kamu pikir anak wak gak laku? Mana mau dijadikan istri kedua lagi," Anwar mengeplak bahu Bayu dengan keras.
"Tapi bukannya wak lagi cari jodoh buat Nadia? Jadi salahku dimana?" sahut Bayu, seraya mengusap bahunya.
"Tapi, tidak harus jadi istri kedua juga bodoh ..." Anwar menekan kata bodoh.
"Lah, aku salahnya dimana? Bukannya syarat utama yang kalian ajukan harus bertitel?" tanya Bayu. Bahkan, senyum penuh kemenangan terbit di bibirnya. Sekilas, bahkan Anwar tidak menyadarinya.
Anwar terdiam ... Cukup lama.
"Dan satu lagi. Belum tentu orang bertitel mau sama Nadia. Jadi, lebih baik kubur dalam-dalam impian kalian,"
Anwar mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia menonjok pipi Bayu. Namun, kewarasannya masih bekerja.
Tanpa menunggu jawaban dari Anwar, Bayu pun berlalu.
Dia teramat sangat puas, melihat mimik wajah lelaki tua bangka itu.
Dan yang pasti, sakit istrinya terbalaskan.
Iya, dulu Anwar pernah menghina istri Bayu. Sebab istrinya bukan orang bertitel. Dia hanya anak seorang petani biasa, yang berjodoh dengan Bayu.
Namun, karena tamatan SMA itulah, Anwar merasa jika Bayu bukan jodoh yang tepat untuk keponakan Hesti. Dia malah menghina jika nanti, istri Bayu akan merasa kikuk ketika jadi ibu persik.
Dan siapa tahu, karena mulut tajam Anwar. Istri Bayu, sempat mau menolaknya. Dia langsung minder.
Beruntung, Bayu dapat menyakinkan wanita yang di cintai itu.
"Jadi gimana bang?" Bayu menepuk bahu Rendi.
"Kalo dilihat dari fisik dan pinggulnya. Sepertinya dia bisa melahirkan banyak anak cantik untukku,"
"Bagaimana menurutmu? Nadia?" Bayu bertanya sembari menaik-turunkan alisnya.
"Bagaimana ayah?" Nadia bertanya balik, ketika ayahnya muncul dari pintu depan.
"E-emm .... Ma-masalah ini, biar kita pikirkan dulu," sahut Anwar terbata.
"Baiklah, aku akan datang lagi, minggu depan," ungkap Rendi, sembari menyesap minuman yang telah di suguhkan oleh Hesti.
...✨✨✨...
Begitu sang tamu berlalu. Hesti langsung menghubungi keponakannya. Dan jawabannya yang sama di dapatkan.
Sang keponakan beralasan, jika mereka hanya menyebutkan syarat utamanya hanya mempunyai titel.
"Ini penghinaan. Bahkan lelaki itu jauh lebih buruk dari Bagas," ungkap Anwar tak sadar.
"Jadi ayah mengaku bang Bagas baik?" celetuk Nadia tiba-tiba.
Anwar dan Hesti saling pandang. Diam beberapa saat.
"Setidaknya, jika dengan Bagas. Kamu jadi istri pertama," sahut Hesti kemudian.
Nadia pun bangkit. Meninggalkan orang tuanya yang masih emosi atas penghinaan yang di dapatkan.
Di kamar, Nadia membuka ponselnya. Dia kembali mengulir laman obrolannya denga Bagas.
Bahkan, sesekali dia memutarkan voice note yang dikirimkan lelaki, yang masih bertahta di hatinya.
"Aku rindu bang," lirihnya sendu, dengan tubuh bergetar.
...✨✨✨...
Di tempat lain. Bagas sedang memantau mobil pemotong padi. Sekarang, jadwal di panen di beberapa petak sawah.
Dia hanya mengerjakan sekitar delapan petak. Dan lainnya di sewakan ke tetangga ataupun ke kerabatnya yang membutuhkan.
Dan dari delapan petak sawahnya. Bagas hanya benar-benar mengerjakan sendiri satu petak sawah. Mulai dari, membuat pematang sawah, bajak, tabur benih, pupuk dan juga menyemprotnya.
Dan tujuh petak lainnya. Dia menyuruh orang lain, dengan memberi upah pada mereka semua.
"Dapat banyak Gas?" seorang lelaki menepuk bahunya.
"Alhamdulillah bang, lumayan dapat lima puluh karung," sahut Bagas, memperlihatkan karung-karung yang mulai di angkut oleh lelaki berbagai usia, untuk di bawa ke jalan.
"Dijual semua?"
"Yang ini iya bang, nanti untuk makan disisakan dari sewa aja," balas Bagas.
"Kamu beruntung ya Gas. Lahir di keluarga kaya, dan hanya melanjutkannya saja," papar lelaki itu, sembari menatap sawahnya yang sedang di potong.
"Alhamdulillah bang,"
"Bodoh sekali Anwar itu, masak menolakmu karena kamu bukan sarjana," lelaki itu mulai mengompori Bagas.
"Mau gimana lagi, mungkin ini cara Tuhan menunjukkan jika kami bukan jodoh," Bagas menjawab santai.
Dan itu bukan seperti tujuan lelaki itu. Dia hanya bisa merenggut masam.
"Aku jalan dulu pak, padiku udah habis diangkut,"
"Iya ..." lelaki tua itu hanya menganggukkan kepalanya.
Seperti biasa, ketika di jalan Bagas kembali menghitung karung padinya. Setelah itu, baru lah dia memberikan uang pada seorang lelaki agar bisa di bagikan pada orang-orang yang membantunya angkat padi tadi.
"Jadi, sekarungnya enam ribu kan bang? Ini uangnya pas. Dan kalian, boleh ambil minum sama wak Minah. Biar aku yang bayarkan," Bagas menunjukkan seorang janda yang duduk di bawah pohon. Disana, perempuan itu, menjajakan teh hijau yang sudah diisi dalam cup, dan berharga seribu rupiah.
"Wah terima kasih Bagas. Memang kamu paling mengerti," seorang bapak-bapak menyambut girang perintah Bagas.
"Bolehkah, aku ambil lebih dari satu?" seorang pemuda yang umurnya lebih muda dari Bagas bertanya malu-malu.
Dan jika dilihat, mungkin dia bukan orang kampung sini.
"Ambil lah, perorang hanya bisa ambil tiga," ungkap Bagas.
Tenyata, perbuatan ringan Bagas mendapatkan kebahagian untuk mereka semua. Termasuk janda tua yang mengucapakan terima kasih berulang kali pada Bagas.
Karena secara tak sengaja, Bagas melariskan dagangannya.
Ketika Bagas, menunggu mobil pengangkut padi, Anwar datang. Hari ini, dia juga panen di sawahnya, yang kebetulan berjarak tak jauh dari sawah milik Bagas.
Sejenak, padangan mereka bertemu. Namun, Bagas buru-buru memutuskan kontak matanya.
"Biasanya, kalo begini dia selalu mengirimkan Nadia uang kan?" gumam Anwar, penuh harap.
kebiasaan ih