Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Dokter keluarga mereka tiba di rumah dengan cepat. Rizal, yang masih pucat dan sedikit mual, kini sudah berbaring di sofa ruang keluarga, ditemani Hayu.
Setelah memeriksa Rizal, mulai dari tekanan darah, suhu, hingga mendengarkan keluhan mual dan keengganan terhadap bau tertentu—dokter tertawa kecil.
“Selamat, Bapak Rizal. Tidak ada yang serius. Ini bukan keracunan makanan,” ucap dokter itu sambil menutup tasnya.
Rizal menatap bingung. “Lalu, kenapa saya mual-mual, Dok? Sampai muntah begitu.”
Dokter datang dan mengatakan Rizal terkena sympathy pregnancy atau couvade syndrome.
“Itu adalah sindrom kehamilan simpatik, Pak. Sebuah fenomena psikosomatik di mana calon ayah ikut merasakan gejala fisik kehamilan istrinya. Mual, muntah, nafsu makan berubah, bahkan kadang sakit punggung. Semua ini karena tingkat hormon stres dan empati Bapak yang sangat tinggi terhadap Ibu Hayu,” jelas Dokter itu sambil tersenyum geli.
Rizal terdiam, menatap Hayu yang kini menahan tawa.
“Jadi, ini gara-gara dia yang hamil, saya yang mual?” tanya Rizal dengan nada tidak percaya, menunjuk Hayu.
“Ya, kurang lebih begitu, Pak. Itu adalah tanda cinta yang sangat kuat!” canda Dokter.
“Ibu Hayu, tolong jangan terlalu stres dan jangan jauh-jauh dari suaminya. Bapak Rizal butuh dukungan mental dari Ibu.”
Setelah dokter memberikan resep vitamin dan obat anti-mual untuk Rizal, ia pun pamit.
Rizal masih merasa kesal, terutama karena ia mual hanya karena melihat sandwich tuna milik istrinya.
Ia segera bangkit dari sofa.
Rizal mengambil masker kain di meja samping, lalu ia kasih minyak kayu putih di bagian dalamnya.
“Mulai sekarang, aku akan pakai ini di dapur,” gerutu Rizal sambil memasang maskernya. Ia menatap Hayu yang masih tertawa.
“Dan kamu, Hayu, jangan pernah makan sandwich tuna itu lagi di depan hidungku! Aku tidak mau muntah lagi!”
Hayu mendekat, memeluk suaminya yang kini bermasker.
“Maaf, Mas. Tapi kamu lucu sekali kalau lagi mual. Aku janji, aku akan makan semua makanan yang membuatmu mual di luar dapur. Dan aku akan selalu menemanimu saat kamu mual.”
Rizal menghela napas pasrah, mencium kening Hayu di balik maskernya.
Menjadi calon Ayah ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan.
Meskipun Rizal sudah dibekali obat anti-mual dari dokter, sindrom kehamilan simpatiknya tidak hilang sepenuhnya.
Justru, gejala itu berkembang menjadi hal yang lebih aneh.
Siang itu, Hayu sedang bersantai di sofa ruang keluarga, menikmati mangga muda yang dibelikan Rizal.
Rizal duduk di sebelahnya, membaca laporan perusahaan sambil sesekali mencuri pandang ke arah Hayu.
Tiba-tiba, Rizal menutup laporannya. Wajahnya menunjukkan ekspresi serius, bercampur antara ngidam dan rasa malu.
“Sayang,” panggil Rizal dengan suara berat.
“Ya, Mas?”
Rizal menelan ludah. “Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba aku ingin rujak buah yang asam sekali, Yu. Yang bumbu kacangnya pedas, dan buah-buahannya yang masih mengkal. Bikin air liurku menetes.”
Hayu menoleh. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat.
Hayu menatap wajah suaminya yang terlihat memelas, persis seperti orang yang sedang ngidam.
Lucunya, Hayu sendiri tidak terlalu ingin makanan asam.
“Mas? Kamu ngidam? Padahal aku yang hamil, kenapa kamu yang minta rujak buah yang asam begitu?”
Rizal menghela napas, mengakui fakta memalukan itu.
“Aku tahu, ini gila. Tapi sejak aku kena sindrom itu, seleraku berubah drastis. Aku butuh yang asam, Sayang. Tolong, ya? Buatkan aku rujak buah sekarang. Kalau tidak, sepertinya aku akan mual lagi.”
Hayu tersenyum geli. Ia mencubit pipi suaminya.
“Baiklah, calon Ayah yang sedang ngidam. Tunggu di sini, Ratu-mu akan membuatkan rujak paling asam yang pernah kamu cicipi. Tapi kamu harus janji, jangan lari ke kamar mandi lagi, ya?”
Rizal langsung bersemangat.
“Janji! Aku akan menunggu di sini sampai rujak itu datang!”
Hayu segera bangkit dari sofa. Ia tahu, permintaan Rizal adalah perintah mutlak yang harus segera dipenuhi sebelum suaminya benar-benar mual lagi.
Hayu menuju dapur, di mana dua pelayan sedang membereskan sisa sarapan.
“Mbok, tolong kupaskan buah-buahan ya. Yang ada mangga muda, bengkuang, dan jambu air. Potong kecil-kecil,” pinta Hayu.
Hayu ke dapur dan meminta pelayan mengupas buah-buahan untuk bahan rujaknya.
Setelah buah-buahan siap, Hayu menyiapkan cobek.
Ia mengambil kacang, cabai rawit, gula merah, dan asam jawa.
Dengan penuh semangat, Hayu mengulek bumbu rujak itu.
Ia sengaja menambahkan banyak cabai dan asam jawa, sesuai dengan permintaan Rizal yang harus ekstrem.
Bau pedas dan asam segera memenuhi dapur.
Hayu mencicipi sedikit dan senyum puas muncul di wajahnya. Ini pasti akan memuaskan ngidam suaminya.
Setelah selesai, Hayu membawa piring besar berisi potongan buah dan mangkuk berisi bumbu rujak kental yang pedas ke ruang tamu.
Rizal yang melihat rujak itu datang, matanya langsung berbinar-binar.
Ia segera mengambil mangkuk bumbu dan mencocol mangga muda ke dalamnya.
“Aduh, ini dia!” seru Rizal, matanya terpejam menikmati rasa asam, manis, dan pedas yang meledak di mulutnya.
Hayu mengambil satu potong jambu air, berniat mencicipi sedikit.
Namun, sebelum tangannya sampai ke bumbu, Rizal sudah menarik mangkuk bumbu itu menjauh darinya.
“Hei, Sayang, kamu nggak boleh minta ya,” ucap Rizal, memeluk mangkuk bumbu itu dengan protektif.
“Ini untuk aku semuanya.”
Rizal menatap Hayu dengan tatapan serius, namun ada jejak ngidam yang lucu di matanya.
Ia seolah takut rujak itu akan habis jika Hayu ikut mencicipi.
Melihat tingkah suaminya yang sangat kekanak-kanakan dan egois karena ngidam, Hayu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari suaminya itu.
“Baik, Tuan Calon Ayah,” balas Hayu sambil tertawa geli.
“Silakan habiskan. Aku akan makan sisa mangga muda yang tidak dicocol bumbu saja. Jangan sampai sakit perut ya, Mas!”
Rizal mengangguk puas, kembali menikmati rujak asam pedasnya, sama sekali tidak peduli bahwa dialah yang sedang mengalami gejala kehamilan.
Hayu duduk di sofa, bersandar nyaman sambil memperhatikan Rizal yang kini benar-benar fokus menghabiskan satu piring penuh rujak buah asam pedas.
Ekspresi wajah Rizal berubah-ubah dari menyeringai menahan pedas, hingga puas karena rasa asam yang diinginkan terpenuhi.
Itu adalah pemandangan yang sangat langka.
Hayu melihat suaminya yang menikmati rujak yang biasanya Rizal tidak doyan rujak.
Biasanya, Rizal hanya menyukai makanan manis dan mewah.
“Mas, kamu lucu sekali kalau lagi ngidam. Seumur hidup aku baru lihat kamu makan rujak sebanyak ini,” goda Hayu.
Rizal hanya bergumam sambil menyendok bumbu rujak terakhir.
“Aku juga aneh, Sayang. Padahal aku paling benci yang asam-asam. Efek calon Ayah memang luar biasa.”
Setelah selesai, Rizal menoleh ke Hayu, wajahnya kembali serius, memikirkan urusan keamanan.
“Sayang, besok temani aku ke kantor,” ucap Rizal.
“Aku harus menghadiri rapat penting yang tidak bisa diwakilkan. Aku juga tidak mau kamu di sini sendirian, meskipun pengamanan sudah sangat ketat.”
Rizal menambahkan, ia tidak ingin Hayu kesepian dan cemas di rumah, apalagi setelah ancaman dari Tiyas.
Keberadaan Hayu di dekatnya akan membuatnya lebih tenang saat bekerja.
Hayu menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Ia mengerti kekhawatiran suaminya.
“Tentu, Mas. Aku akan ikut. Aku juga lebih tenang kalau berada di dekatmu,” jawab Hayu.
“Tapi aku janji, aku akan duduk diam di ruang kerjamu. Aku tidak akan mengganggu.”
Rizal tersenyum lega. “Terima kasih, Sayang. Besok kita ngantor bersama.”