George Zionathan. Pria muda yang berusia 27 tahun itu, di kenal sebagai pemuda lemah, cacat dan tidak berguna.
Namun siapa sangka jika orang yang mereka anggap tidak berguna itu adalah ketua salah satu organisasi terbesar di New York. Black wolf adalah nama klan George, dia menjalani dua peran sekaligus, menjadi ketua klan dan CEO di perusahaan Ayahnya.
George menutup diri dan tidak ingin melakukan kencan buta yang sering kali Arsen siapkan. Alasannya George sudah memiliki gadis yang di cintai.
Hidup dalam penyesalan memanglah tidak mudah, George pernah membuat seseorang gadis masuk ke Rumah Sakit Jiwa hanya untuk memenuhi permintaan Nayara, gadis yang dia cintai.
Nafla Alexandria, 20 tahun. Putri Sah dari keluarga Alexandria. Setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa di paksa menjadi pengganti kakaknya menikah dengan putra sulung Arsen Zionathan.
George tetap menikahi Nafla meskipun tahu wanita itu gila, dia hanya ingin menebus kesalahannya di masalalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 IGTG
George turun langsung ke perbatasan dan kedatangannya di sambut dengan berbagai ekspresi, mereka yang tidak bersalah tentu saja tetap santai.
Sementara mereka yang terlibat dengan kekacauan yang Rick buat, menundukkan pandangannya dengan tubuh yang gemetar.
George keluar dari mobilnya, angin di padang pasir seakan menyambut datangnya sang iblis, menerpa wajah tampan nan garang itu.
Tatapan tajam dengan air muka datar. George melirik kesamping di mana wanita cantiknya berjalan menghampirinya.
Nafla, wanita yang merupakan istri sah nya itu, ikut bersamanya.
“Selamat Datang, Tuan!" Sapa mereka serempak sembari membungkukkan badannya. George hanya mengangguk sebagai jawaban.
George meraih tangan istrinya dan berjalan kearah bangunan yang terlihat biasa saja, tetapi dari bangunan itu ada beberapa sumber uang George.
“George!! Kau.. Sialan!" Dari arah samping seorang wanita tiba-tiba saja menyerang.
George menarik Nafla mundur sesaat, lalu meraih pinggang ramping sang istri, dan melakukan gerakan memutar, sehingga kaki Nafla bisa membalas serangan wanita itu.
“Tuan, kau datang?" Wanita itu menyudahi serangannya. Tersenyum menyambut kedatangan Tuannya.
“Hmm" Jawabnya tanpa melepaskan tangannya dari pinggang ramping Nafla.
“Dia.."
George melirik Nafla. “Dia, istriku."
“Ouh..Selamat datang, Nyonya." Nafla mengangguk kecil sebagai jawabannya.
George kembali berjalan bersama istrinya. “George, sepertinya wanita itu menyukaimu."
“Tidak semua wanita menyukai suamimu." Jawabnya.
Kedatangan bukan untuk membahas masalah wanita, George mengecek barangnya yang hilang. Lagi pula Nafla tidak perlu merasa cemburu, George bukan penggila wanita.
“Queen, kau adalah orang kepercayaanku, kumpulkan semua anggotamu, aku tunggu kalian di ruang latihan." Kata George.
“Baik, Tuan." Queen bergegas pergi melaksanakan perintah dari George.
Sementara pria berbadan kekar itu, berjalan menuju ruangan pelatihan, Nafla terus mengikutinya.
“George, bagaimana kalau aku berkhianat?" Ucap Nafla tanpa menoleh.
“Kau selalu punya pilihan Nafla, lakukan saja apa yang kau mau." Jawab George.
George kembali memeriksa, tidak tanggung-tanggung barang yang Rick curi hampir mengosongkan gudang. Bagaimana bisa anak buahnya tidak mengetahui hal itu.
Seandainya hanya menerima suap untuk meloloskan kendaraan yang Rick pimpinan untuk transaksi, mungkin George masih bisa memaklumi nya.
“Ini bukan lagi pencurian, tapi perampokan, Queen, bagaimana bisa kau tidak tau sama sekali?" Nafla menaikan sebelah alisnya.
“Anda menuduh saya, Nyonya?"
Nafla diam untuk sesaat, lalu dia menggelengkan kepalanya.
Malam hari, George kembali membawa istrinya menuju markas besar.
“Tidurlah, perjalanan masih lumayan jauh."
Nafla menggelengkan kepalanya. Rombongan yang di pimpin oleh Max ada 10 mobil terdiri dari lima sampai enam orang penumpang saja di dalamnya.
Max dan Xavier memang menyarankan untuk melakukan perjalanan di malam hari. Untuk menghindari warga yang berkeliaran di siang hari
“George, apakah perjalanan menuju markas selalu sepi seperti ini?" Tanya Nafla, dia merasa heran, sejak tadi tidak melihat warga sekitar yang melintas.
“Tidak juga Nyonya, biasanya mereka akan tutup di jam sembilan malam." Timpal Xavier.
“Benarkah? tapi sekarang belum jam 9" Ujar Nafla.
Hening untuk sesaat, hanya suara mesin mobil yang terdengar, beberapa toko memang sudah terlihat tutup, tidak ada lampu warga yang menyala.
Jika seperti ini, biasanya warga bersembunyi karena akan ada kelompok perampok yang menghadang truk makan atau barang-barang elegal yang menghasilkan uang.
“Putar balik!!"
Sayangnya beberapa kelompok bermunculan dari balik rumah warga, menghujani mobil Black Wolf dengan peluru dan juga anak panah.
“Sialan!! Kita terkepung." Kata George.
Musuh tidak mau berhenti dan melakukan penembakan secara brutal pada mobil George.
Tidak ingin mati sia-sia, Nafla melemparkan beberapa peledak asap, tujuannya agar mereka bisa melarikan diri.
“Xavier, bawa Nafla pergi!"
Dalam keadaan seperti ini, pandangan mereka tidak begitu jelas, Xavier lebih dulu membawa Nafla, namun sayangnya satu tembakan melesat mengenai lutut Xavier.
Bugh
George mundur beberapa langkah karena mendapatkan tendangan di perutnya.
“George, bagaimana rasanya?" Ucap seseorang dengan tawa meremehkan.
Tidak perlu menebak lagi, dari suara dan aroma parfumnya saja George sudah bisa menebak.
“Rick, kau berkhianat?"
Rick mengangkat kedua bahunya acuh, sembari memainkan ujung pistolnya.
“Aku tidak berkhianat, George, aku hanya melakukan apa yang paman Arsen katakan, milikmu juga milikku, milik Felix juga melikku, aku tidak perlu sungkan untuk melakukan apapun."
George berdiri dengan tegak. Mata yang tajam itu mengamati sekeliling. Yang berdiri di belakang Rick ada beberapa anak buahnya.
Tanpa aba-aba Rick kembali menyerang, kali ini George bisa menghindari setiap tinjuan yang Rick layangkan.
Bugh
George menendang Rick membuat pemuda itu hampir tersungkur.
“Lumayan, ternyata kakimu memiliki kekuatan, George."
Lagi George menyerang dengan mengayunkan pisau, Rick yang terlambat menghindar terkena goresan di lengannya.
“Fuck!!.. Kau curang George!" Rick mengumpat.
George menarik sudut bibirnya. “Aku hanya mengimbangi pecundang sepertimu."
“Jangan terlalu senang dulu George.. Tembak mereka!!"
George menoleh, sial dia hampir melupakan istrinya yang terkepung.
Dor
Dor
“Rick, apa yang kau lakukan?!!"
Xavier kembali tertembak di lengan, sementara Max dia hanya tergores.
“Apa kau pikir aku main-main? aku menantangmu George."
pemuda yang di pikir tidak tertarik di dunia gelap, ternyata cukup membahayakan.
“Jangan melewati batasanmu, Rick, aku tidak membunuhmu karena menghormati Ayahmu." kilatan amarah yang begitu jelas. kedua tangan mengepal erat.
“Kau bukan menghormati Ayahku, tetapi kau memang tidak mampu George. kau terlalu lemah untuk menjadi seorang pemimpin."
George menatap Rick dengan tatapan tajam, aura seketika berkali-kali lebih mendominasi dari biasanya, siluet matanya begitu gelap, dia siap untuk menghabisi Rick jika memang itu yang di inginkan oleh pemuda itu.
Rick menelan ludahnya kasar, dia sadar tengah memancing emosi dari iblis yang sebenarnya sudah memberikannya kesempatan untuk hidup.
Gengsi dan harga diri tentu saja yang di pertaruhkan, tidak mungkin dia pergi begitu saja, sebab pertarungan dirinya sendiri yang memulai. Di tengah lamunannya tiba-tiba saja.
Bugh
Bugh
“Argghhh!!"
Bayangan dan kilatan yang begitu cepat, membuat Rick tidak menyadari jika Nafla menyerangnya. Pemuda itu jatuh tersungkur.
Nafla berdiri dengan sebelah kaki yang menginjak punggung Rick, kedua tangan wanita itu terdapat dua belati kecil.
”Sialan!!" Rick kembali mengumpat, lengannya terasa perih.
George menarik sudut bibirnya, Nafla selalu bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kau selalu membuatku terkesan."
Nafla memutar bola matanya malas. “Jangan membual, kita harus segera pergi dari tempat ini, bocah sialan ini memiliki banyak koneksi dengan musuhmu."
George menganggukkan kepalanya. Sementara Max membantu Xavier berdiri, Sama-sama terluka.
“Habisi mereka yang berkhianat, dan bawa Rick ke markas utama."
“Tuan, bagaimana jika Tuan Arion.. "
“Ambil semua asetnya untuk menjadi jaminan, aku sudah terlalu baik."
kau bkn aq kesel ngakak