Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pertemuan yang Tak Pernah Benar-Benar Usai
Beberapa jarak diciptakan bukan untuk memisahkan, tapi untuk mengingatkan bahwa pernah ada kedekatan yang terlalu dalam.
...Happy Reading!...
...*****...
Hari Minggu rasanya cuma numpang lewat. Belum sempat menghela napas lega, tahu-tahu Senin sudah datang tanpa permisi. Hari yang dibenci mayoritas umat manusia. Termasuk aku.
Senin adalah titik nol. Momen di mana semua orang kembali ke garis start dan berpura-pura semangat menjalani hidup. Hari ini, aku resmi ikut berakting dalam drama itu.
Setelah memarkir motor matiku yang lebih sering ngambek daripada bergerak, aku menyeret langkah ke dalam kantor. Begitu melewati pintu utama, suara familiar langsung menyapa dari arah resepsionis.
"Caca!"
Yasmine. Dengan senyum semelebar pintu tol, ia melambai seperti menyambut artis pulang kampung. Aku pun berjalan mendekat sambil menata napas yang masih enggan bekerja.
Di kantor ini, aku memang dekat dengan Yasmine. Walaupun tidak sedekat aku dengan Tasha. Tapi kami bertiga sering nongkrong bareng. Semacam trio gosip yang menjadikan vending machine sebagai ruang rapat tak resmi.
"Ada apa, Yas?" tanyaku malas.
"Tasha tadi WA gue. Katanya lo langsung ke ruang meeting. Dia telat, ada urusan."
Aku mengernyit. "Kenapa nggak bilang ke gue langsung?"
"Katanya lo nggak bales. Cek HP deh."
Oh. Mungkin dia kirim pas aku masih sibuk menyumpahi motor di pinggir jalan. Sampai sekarang aja aku belum sempat buka.
"Langsung ke ruang meeting? Sama siapa?"
Yasmine menaikkan satu alis. "Lo serius nanya? Klien baru lo itu. CEO Manterra."
Deg.
Saka Ardhananta.
Nama itu muncul seperti sirene darurat di kepala. Aku sempat berharap semua ini cuma mimpi buruk akibat kebanyakan micin. Tapi enggak. Ini kenyataan. Dan lebih kejam dari ekspektasi.
Pria itu benar-benar klienku sekarang. Dan lebih parahnya, dia sudah menungguku di ruang meeting. Sepagi ini. Terlihat dominan. Dan seperti biasa, terlalu sempurna.
Aku menelan ludah. Tentu saja dia sudah datang. Sejak dulu dia gak pernah main-main soal waktu. Bahkan saat masih SMA, dia terkenal sebagai manusia kalender hidup. Disiplin adalah napasnya.
Dan mengingat itu, aku malah senyum bodoh. Disambut tatapan Yasmine yang seperti melihat orang kerasukan.
"Ca. Lo kenapa senyum-senyum sendiri? Jangan bilang lo udah baper duluan sebelum meeting dimulai."
Aku langsung sadar posisi. Wajah kutarik kembali ke mode profesional. Atau setidaknya versi pura-puranya.
"Jadi gue ke atas sekarang?"
"Yap. Kata Tasha gitu. Good luck ya." Yasmine mengedipkan mata penuh makna.
Aku cuma mengangguk. Menuju mesin absen. Tempel kartu. Pintu terbuka. Lift menanti.
Sebelum masuk, aku menghela napas dalam-dalam. Dalam banget, kayak nyedot udara sisa dari Minggu malam. Dalam hati aku berdoa. Semoga hari ini bukan awal kehancuran karier... dan harga diri.
...*****...
Lift berhenti di lantai ruang meeting.
Pintu terbuka. Aku melangkah pelan. Seolah sedang menuju ruang sidang, bukan ruang meeting.
Langkahku berat. Bukan karena heels atau tas. Tapi karena isi kepala yang terlalu penuh. Takut Saka menyimpan dendam. Takut dia mempermalukanku. Takut dia bilang ke Mbak Rania bahwa aku tidak profesional. Takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan muka.
Takut semua luka lama dibuka di meja rapat.
Aku berhenti di depan pintu meeting. Masih tertutup. Aku tidak tahu apakah dia sudah di dalam atau belum. Tapi jantungku sudah berdentam sejak lantai dasar.
Kupaksa tangan ini bergerak. Menyentuh gagang. Membuka pintu.
Detik di jam tanganku terasa lambat, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak ingin kutemui.
Dan di sana.
Duduk tegap. Fokus. Dingin.
Saka Ardhananta. Pria yang dulu kukenal dari jauh, hingga jadi terlalu dekat. Sekarang duduk hanya beberapa meter dariku. Serius membaca dokumen, sesekali memindai layar laptop.
Cahaya pagi dari jendela menyelimuti sisi wajahnya. Membentuk siluet yang terlalu sempurna untuk jadi nyata.
Tatapannya tajam. Gerakannya tenang.
Wajahnya masih seperti dulu, tapi versi dewasa. Lebih matang. Lebih dingin.
Lebih... jauh.
Dan aku pernah melihatnya seperti ini.
Di perpustakaan. Di bangku taman belakang sekolah. Di kelas yang sepi saat istirahat.
Versi dirinya yang sedang belajar. Versi dirinya yang diam-diam membuatku jatuh terlalu dalam.
Kenangan itu muncul. Tanpa izin. Tanpa nalar. Berputar cepat seperti montase film remaja norak, tapi menyakitkan.
Sampai akhirnya seseorang menyentuh bahuku.
Aku menoleh dengan terkejut.
Mbak Rania berdiri di sana. Wajahnya ramah seperti biasa.
"Hai, Ca. Kenapa nggak masuk?"
Aku tersenyum kecil. Senyum latihan. Yang kupakai saat mencoba terlihat baik-baik saja.
"Baru mau masuk, Mbak."
"Yuk, bareng."
Dia berjalan lebih dulu. Tapi aku masih diam.
Mataku sempat bertemu dengan matanya. Sekilas. Tapi cukup untuk membuat napasku tercekat. Seperti ada gravitasi yang menarik seluruh keberanianku luruh tanpa jejak.
Tatapan itu seperti musim hujan yang kembali datang ke kota ini.
Dingin. Tapi familiar.
Dan lebih menyakitkan dari yang kupikir.
Apakah dia tahu aku sedang menatapnya sedari tadi?
Tapi pria itu hanya menoleh sebentar. Datar. Lalu kembali fokus ke laptop.
Seolah aku tak pernah jadi bagian dari hidupnya.
Aku menegakkan tubuh. Menguatkan genggaman di tali tas.
Dan melangkah.
Walau seluruh diriku menolak kenyataan, kaki ini tetap harus bergerak.
Aku tak tahu siapa yang berubah.
Dia, atau aku. Tapi jarak di antara kami terasa lebih panjang dari sekadar meja meeting.
Karena sejak Saka kembali muncul, aku sadar satu hal: Bahkan langkah kakiku sudah tidak lagi seirama seperti dulu.