Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Harga dari Kepercayaan Mutlak
Pukul 04:00 Dini Hari: Keterbatasan Penthouse
Malam menjelang konferensi pers yang akan mengumumkan hubungan mereka di depan publik dan ancaman misi Budapest terasa berat di penthouse. Natalie tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang kerja, meninjau ulang briefing keamanan untuk Budapest dan pernyataan yang harus ia bacakan.
Ares masuk, hanya mengenakan jubah mandi sutra, memegang dua gelas scotch. Dia melihat cahaya di ruang kerja dan tahu Natalie sedang berjuang.
"Kau harus istirahat," kata Ares, meletakkan gelas di meja dan memijat bahu Natalie. "Dunia akan menatapmu besok. Aku butuh Bayanganku tampil sempurna."
"Aku tidak khawatir tentang media, Ares," jawab Natalie, ia memejamkan mata sejenak menikmati sentuhan Ares. "Aku khawatir tentang Petrov. Dia tahu aku harus masuk sendirian di Budapest. Aku yang membuat rencana itu, aku tahu cara menggerakkan umpan."
"Aku tahu," kata Ares, mengangguk. "Itulah mengapa aku telah membuat beberapa penyesuaian logistik untuk menjamin keamananmu."
Pemicu Konflik: Pengkhianatan Otonomi
Natalie merasakan nada aneh dalam suara Ares—terlalu tenang, terlalu final. Instingnya, yang diasah oleh kehidupan di jalanan dan di sisi Ares, segera aktif.
Natalie berdiri, menjauhi sentuhan Ares. Ia berjalan ke peralatan komunikasi terenkripsi miliknya—sebuah jam tangan pintar yang dirancang khusus untuk misi Budapest.
"Penyesuaian apa, Ares?" tanya Natalie, suaranya tenang, namun penuh bahaya.
Ares mencoba mengalihkan pembicaraan, mengambil scotch-nya. "Hanya detail teknis. Rook telah memodifikasi e-piece agar terhubung langsung dengan sistem pertahanan diri. Standar operasional."
Natalie tidak mendengarkan. Ia mengambil jam tangan pintar itu dan dengan gerakan cepat, membongkar bagian belakang casing kecil yang ia kenal seluk-beluknya. Ia menemukan komponen asing yang ditambahkan: sebuah chip kecil yang tersembunyi dengan sempurna.
Wajah Natalie mengeras, semua kehangatan dari malam itu hilang, digantikan oleh kemarahan dingin yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Claudia.
"Ini bukan modul pertahanan diri, Ares," kata Natalie, suaranya berbisik, tetapi setiap kata adalah tuduhan. Ia melempar chip itu ke lantai. "Ini adalah pemicu. Pemicu yang dirancang untuk melepaskan gelombang kejut non-lethal yang cukup untuk melumpuhkanku sepenuhnya, jika aku menyimpang dari rute yang kau tetapkan lebih dari dua puluh meter."
Natalie menatap Ares, matanya berkilat-kilat. "Kau memasang kill switch padaku, Ares. Pada rencana yang aku buat. Pada tubuh yang seharusnya kau percaya."
Konfrontasi: Aset versus Mitra
Ares tidak menyangkalnya. Ia berdiri tegak, membiarkan jubah sutranya jatuh ke lantai. Ia tidak menunjukkan rasa bersalah, hanya ketegasan yang mutlak.
"Itu adalah perlindungan," bela Ares. "Itu adalah pengaman terbaik yang bisa kubeli. Jika Petrov berhasil menangkapmu, atau jika kau mengambil risiko terlalu besar yang membahayakan misi, Rook akan mengaktifkannya dari jarak jauh. Itu akan melumpuhkanmu selama tiga puluh detik. Cukup waktu bagiku untuk menjemputmu."
"Kau menyebutnya perlindungan. Aku menyebutnya pengkhianatan," balas Natalie, suaranya naik. "Aku yang merancang jebakan itu. Aku yang harus bergerak di lapangan. Kau memasang rantai di leherku, Ares! Kau membuatku menjadi anjing pelacak, bukan Bayangan yang kau klaim cintai!"
Natalie melangkah maju, memangkas jarak antara mereka. "Aku mempertaruhkan nyawaku untukmu berkali-kali! Aku menghadapi Tuan Leo, aku menyusup ke sarang Ayahmu, dan aku melakukan semua itu karena aku tahu aku adalah mitramu! Aku yang mengusulkan Budapest! Dan kau membalasnya dengan memperlakukanku seperti senjata yang bisa kau nonaktifkan sesukamu!"
Kemarahan Natalie bukan tentang rasa takut, melainkan tentang otonomi yang ia perjuangkan mati-matian seumur hidupnya.
"Kau membahayakan semua yang kita bangun, Ares. Hubungan ini didasarkan pada kepercayaan mutlak. Jika kau tidak percaya pada penilaianku di lapangan—jika kau pikir aku akan mengkhianatimu atau membahayakan diri sendiri secara bodoh—maka kita tidak punya apa-apa! Aku lebih baik menjadi pengemis di jalanan lagi daripada menjadi Ratu yang dirantai!"
Pembelaan Diri yang Rentan
Ares menyentuh bahunya, tetapi Natalie menepisnya. Ia adalah gunung berapi emosi yang siap meletus.
"Kau tidak mengerti, Natalie. Ini bukan tentang meragukan kecerdasanmu. Ini tentang meragukan kekuatanku sendiri," desis Ares, suaranya dipenuhi kejujuran yang langka. "Aku melihat bagaimana Petrov menggunakan Rima. Aku melihat betapa mudahnya mereka menemukan kelemahan untuk menekanku."
Ares mengakui ketakutan terbesarnya. "Kau adalah satu-satunya bagian dari kerajaanku yang tidak bisa aku ganti. Kau adalah satu-satunya orang yang membuat tahta ini layak dipertahankan. Jika aku kehilanganmu—jika kau jatuh ke tangan Petrov—aku tidak akan bisa bertahan. Aku harus memastikan kau hidup, meskipun itu berarti mengorbankan sedikit kebebasanmu."
"Kebebasan sedikit?" teriak Natalie. "Kebebasanku adalah segalanya! Kebebasanku adalah yang kau klaim kau cintai! Kau menginginkan Bayangan yang berani, cerdas, dan tangguh, tetapi kau takut padanya. Kau ingin mengembalikanku ke dalam kotak!"
"Aku tidak bisa mengambil risiko!" balas Ares, suaranya meninggi, menunjukkan betapa paniknya dia sebenarnya. "Petrov terlalu berbahaya. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi martir untuk membuktikan poinmu!"
Ultimatum dan Rekonsiliasi yang Rapuh
Natalie melangkah kembali, matanya dipenuhi air mata dingin yang tidak menetes. Dia tahu ini adalah titik balik—hubungan mereka akan hancur atau bangkit ke tingkat yang lebih berbahaya.
"Aku tidak akan pergi ke Budapest sebagai pion yang bisa kau nonaktifkan, Ares," kata Natalie, nadanya kini tegas dan final. "Aku yang membawa Buku Merah kembali. Aku yang membuat Petrov datang padamu. Aku adalah partner-mu. Kau harus memilih sekarang: Kau percaya pada strategiku dan diriku sepenuhnya, atau kau mengakui bahwa kau hanya menginginkan asisten yang cantik dan penurut. Pilihan kedua akan mengakhiri semuanya, sekarang juga."
Ares menatap chip kecil di lantai, simbol kegagalannya untuk mempercayai kekuatan cintanya. Ia melihat mata Natalie yang tidak akan pernah tunduk. Ia menyadari bahwa memenangkan perang melawan Petrov tidak akan berarti apa-apa jika ia kehilangan Natalie karena ketakutannya sendiri.
Ares menghela napas panjang, kekalahan pertama dan satu-satunya yang ia terima dengan sukarela.
"Ambil chip itu," perintah Ares, suaranya lembut, kembali ke nada komandan yang memberi kepercayaan.
Natalie menatapnya, menunggu.
"Ambil chip itu, buang ke tempat sampah, dan hancurkan. Rook akan menerima perintah darimu di lapangan. Kau yang memimpin misi ini, Natalie. Aku akan menjadi bayanganmu, tapi kendali ada di tanganmu," janji Ares.
Natalie mengambil chip itu, berjalan ke tempat sampah, dan meremukkannya di antara jari-jarinya sebelum membuangnya.
Dia kembali kepada Ares. Kali ini, dia yang meraih wajah Ares. "Terima kasih," bisiknya. "Kau membuat keputusan yang tepat."
Natalie menciumnya. Ciuman itu dalam, sarat akan bahaya, pemahaman, dan pengakuan. Mereka telah melewati konflik pertama tentang kekuasaan internal.
"Jangan pernah melakukannya lagi, Ares. Aku mencintaimu, dan itulah mengapa aku tidak akan pernah membiarkanmu mengendalikanku," kata Natalie.
"Aku mengerti, Ratu Bayangan," jawab Ares, memeluknya erat. "Sekarang, mari kita tunjukkan kepada Maxim Petrov mengapa ia tidak seharusnya mengganggu pasangan yang paling berbahaya di dunia."
Matahari terbit di cakrawala. Konferensi pers menunggu, dan Budapest menanti. Konflik internal mereka mereda, tetapi ketegangan di antara mereka kini diselimuti oleh kesadaran baru: cinta mereka adalah sumber kekuatan mereka, dan kebebasan Natalie adalah harga yang harus dibayar oleh Ares.