Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Rizal masih duduk di samping tempat tidur istrinya, memegang erat tangan Hayu.
Ruangan itu sunyi, hanya ada suara monitor detak jantung yang berirama tenang, memberikan kepastian bahwa Hayu dan janin mereka baik-baik saja.
Dalam keheningan itu, Rizal masih bisa mencium aroma khas yang menenangkan dari tubuhnya. Ia tersenyum getir, sambil mencium aroma minyak kayu putih yang tadi pagi ia gosokkan ke tubuhnya.
Aroma itulah yang sempat meredakan mualnya, namun kini semua itu terasa tidak penting dibandingkan keselamatan Hayu.
Tiba-tiba, Rizal merasakan gerakan kecil di tangannya.
“M-mas, masih mual?”
Rizal menoleh kaget. Hayu membuka matanya perlahan, menatapnya dengan pandangan sedikit kabur.
Meskipun lemah, kalimat pertama yang keluar dari bibirnya adalah pertanyaan yang terkait dengan couvade syndrome suaminya.
Rizal terkejut dan mencium kening istrinya dengan lembut, penuh kelegaan. Air mata yang tadi ia tahan kini menetes.
“Hayu! Sayang! Kamu sudah bangun? Aku takut sekali!” Rizal memeluknya dengan sangat hati-hati, takut menyakitinya.
“Aku tidak mual lagi, Sayang. Aku lupa dengan mualku. Kamu selalu membuatku takut seperti ini,” ucap Rizal dengan nada gemetar, mencium tangan Hayu berulang kali.
“Jangan pernah membuatku takut lagi, ya?”
Hayu mencoba tersenyum, meskipun tampak kesulitan.
“Aku baik-baik saja, Mas. Anak kita juga kuat.”
Rizal segera menekan tombol panggilan perawat di samping tempat tidur.
Rizal memanggil dokter dan langsung memeriksa keadaan Hayu untuk memastikan semuanya stabil setelah sadar.
Dokter masuk dengan cepat, memeriksa denyut nadi Hayu, dan menanyakan kondisinya.
“Ibu Hayu, bagaimana perasaan Anda? Ada yang sakit?” tanya Dokter.
“Sedikit nyeri, Dok, tapi sudah lebih baik,” jawab Hayu lirih.
Setelah pemeriksaan singkat, dokter meyakinkan Rizal bahwa ini adalah pertanda baik, dan Hayu hanya butuh istirahat total untuk memulihkan diri dari trauma benturan itu. Rizal kini bisa bernapas lega sepenuhnya.
Setelah dokter selesai memeriksa dan memberikan instruksi lebih lanjut, Rizal masih duduk menggenggam tangan Hayu.
“Dokter bilang, kamu harus istirahat total, Sayang. Harus bedrest total,” ucap Rizal dengan nada tegas, mengulang perintah dokter.
“Kamu tidak boleh turun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi. Aku akan pastikan perawat dan Riska ada di sini dua puluh empat jam untuk menjagamu.”
Hayu menatap Rizal dengan tatapan khawatir. Bukan karena kondisinya, tapi karena pekerjaan suaminya.
“Lalu, pekerjaan kamu bagaimana, Mas?” tanya Hayu.
“Rapat direksi tadi pagi, dan urusan kantor yang lain...”
Rizal tersenyum menenangkan, membelai rambut Hayu.
“Aku bisa bekerja lewat rumah atau dari sini, Sayang. Ruangan ini cukup besar, aku akan meminta Riska menyiapkan meja kerja darurat di sini,” jawab Rizal.
“Sekarang zaman canggih, Yu. Semua laporan dan rapat bisa dilakukan secara daring. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan bekerja dari sisimu sampai kamu benar-benar pulih.”
Hayu merasa terharu dengan pengorbanan suaminya.
“Mas, tapi itu merepotkanmu.”
“Tidak ada yang merepotkan demi kamu, Sayang. Janji ya, kamu fokus istirahat dan pulih. Aku sudah menugaskan tim hukum untuk mengurus Tiyas, dan urusan kantor sudah kupegang kendali dari sini. Kamu adalah prioritas utamaku.”
Melihat tekad dan kesungguhan Rizal yang tak terbantahkan, Hayu tidak lagi mencoba membantah.
Dia tahu, mencoba berdebat hanya akan menambah beban pikiran suaminya.
Hayu hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tersenyum lemah, dan menurut perkataan suaminya.
"Terima kasih, Mas," bisik Hayu.
"Aku akan istirahat dengan baik. Aku janji."
Rizal mencium punggung tangan Hayu sekali lagi, hatinya sedikit lebih tenang setelah mendapatkan kepastian itu.
Ia tahu, menjaga Hayu adalah satu-satunya hal terpenting saat ini.
"Bagus, Sayang," ujar Rizal.
"Sekarang, istirahatlah. Aku akan memanggil perawat untuk membantumu, dan aku akan bicara dengan Riska untuk menyiapkan setup work from hospital di sini."
Suasana di dalam ruang perawatan VIP itu sunyi, hanya terdengar suara ketikan jemari Rizal di atas laptop dan sesekali suara instruksi rendah yang ia berikan melalui headset saat rapat daring.
Hayu melihat suaminya yang melanjutkan pekerjaannya di ruang perawatan dengan penuh dedikasi, sesekali Rizal melirik ke arahnya untuk memastikan ia baik-baik saja.
Untuk mengusir rasa bosan karena harus bedrest total, Hayu membuka ponselnya.
Namun, bukan hiburan yang ia dapatkan, melainkan sebuah notifikasi pesan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Itu dari ibunya.
Tanpa salam, tanpa menanyakan kondisi kesehatan Hayu yang baru saja masuk rumah sakit, pesan itu langsung tertuju pada satu hal: meminta agar mengirimkan uang dua puluh juta rupiah untuk keperluan yang tidak jelas.
Hayu semakin kecewa dengan ibunya.
Di saat ia sedang berjuang mempertahankan nyawa calon bayinya, orang yang melahirkannya justru tidak menanyakan kabarnya, malah uang yang dibahas.
Ingatan pahit itu kembali berputar seperti film rusak di kepalanya.
Hayu masih ingat bagaimana dulu ibunya mengusirnya dari rumah hanya karena masalah sepele dan lebih memilih membela kepentingan pribadinya.
Rasa sakit karena dibuang oleh darah daging sendiri terasa lebih perih daripada luka fisik akibat benturan tadi pagi.
Mata Hayu berkaca-kaca, ia memalingkan wajah ke arah jendela untuk menyembunyikan kesedihannya.
Namun, Rizal terlalu peka.
Rizal melihat perubahan wajah istrinya.
Ia menangkap gurat kekecewaan dan duka yang mendalam di wajah Hayu.
Tanpa pikir panjang, Rizal memotong pembicaraan rekan bisnisnya di layar laptop.
"Maaf, saya ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda. Rapat kita lanjutkan besok," ucap Rizal tegas.
Ia segera mengakhiri rapatnya, menutup laptop dengan cepat, dan beranjak mendekati ranjang Hayu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu tiba-tiba sedih begitu? Apa perutmu sakit lagi?" tanya Rizal cemas, membelai pipi Hayu yang terasa dingin.
Hayu hanya diam, lalu dengan tangan gemetar, ia menyerahkan ponselnya kepada Rizal agar suaminya bisa melihat sendiri alasan di balik luka hatinya.
“Apakah aku tidak penting, Mas?” tanya Hayu dengan suara bergetar dan air mata yang mulai menetes.
“Apa maksud kamu?” Rizal bertanya balik, meskipun ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini setelah melihat pesan di layar itu.
Hayu menunjukkan ponselnya sekali lagi, menekankan pada kalimat permintaan uang yang dingin tanpa ada satu pun kata tanya tentang keadaannya.
“Lihat, Mas. Dia bahkan tidak tahu aku di rumah sakit, atau mungkin dia tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya uang.”
Rizal menenangkan istrinya, menarik Hayu ke dalam pelukan yang sangat hati-hati namun protektif.
Ia mengusap rambut Hayu, mencoba menyalurkan kekuatan.
“Ssshh... Kamu sangat penting bagi aku, Sayang. Kamu adalah segalanya buat aku,” bisik Rizal.
“Jangan dengarkan kata-katanya. Biar Mas ke rumah kamu sekarang. Mas akan selesaikan ini dengan ibumu agar dia tidak mengganggumu lagi.”
Namun, Hayu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia mencengkeram kemeja Rizal.
“Jangan, Mas. Jangan temui dia. Aku tidak mau kamu berurusan dengan orang seperti itu lagi. Aku sudah lelah. Aku tidak mau ada hubungan apa-apa lagi dengannya.”
Rizal menatap mata Hayu yang penuh kepedihan dan kelelahan.
Ia mengerti bahwa membiarkan komunikasi ini terus berjalan hanya akan menjadi racun bagi kesehatan mental dan fisik Hayu yang sedang rentan.
Tanpa ragu lagi, Rizal mengambil ponsel Hayu. Dengan gerakan tegas, Rizal memblokir nomor ibu Hayu.
“Sudah selesai, Sayang,” kata Rizal sambil meletakkan kembali ponsel itu di nakas.
“Mulai sekarang, tidak akan ada lagi boleh menyakitimu. Kamu hanya perlu fokus pada kesembuhanmu dan anak kita. Mas yang akan menjadi tameng untukmu dari siapa pun, termasuk dari keluargamu sendiri jika mereka hanya berniat menyakitimu.”
Hayu bersandar di dada Rizal, merasa sedikit lega meskipun hatinya masih terasa kosong.
Setidaknya sekarang, ia tahu bahwa ia tidak sendirian menghadapi dunia yang kejam, bahkan dari orang terdekatnya sekalipun.