Laura Scarlett adalah seorang gadis yang tidak diinginkan oleh keluarganya, sehingga mereka membuangnya begitu saja sejak kecil, Laura scarlett tumbuh menjadi seorang gadis cantik ceria dan lembut dia di asuh oleh suami istri Johanson yang berasal dari estonia meskipun dia berasal dari British Utara yang kental.
Suatu hari ayahnya di serang sekelompok perompak, ketakutannya semakin nyata dan dia begitu benci dengan perompak, tetapi sayangnya nasib mempertemukannya dengan seorang perompak bernama Sean Nicholas Hoult bermata safir yang terang, seorang perompak yang membuat hatinya dan tubuhnya hanyut dalam gairah dan kesengsaraan.
Kisah perjalanan hidup dan cinta laura Scarlett bersama dengan pria yang membuat hidupnya sengsara tetapi juga mencintainya
Whisper of the Sea 2
Leona Lewstin adalah seorang gadis yang hidup di sebuah pulau hilang atau di sebut pulau berhantu oleh para bajak laut. Suatu ketika dia melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri berada di bibir pantai, dia lantas menolong pria bernama Edmund Alexander, yang tidak sadarkan diri setelah ombak menggulungnya, apakah menolongnya adalah pilihan yang tepat bagi Leona?
Bijak dalam membaca, Warning !!! bukan bacaan untuk di bawah umur ya!!!
~Vote Coment and like di tunggu ya tmn2 readers, so author lebih semangat nulisnya☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vol 26
Malam itu sean nampak gelisah, dia berbaring kekiri dan kekanan tetapi matanya tidak bisa terpejam, Sean membayangkan wajah Laura yang tertawa, terisak dan tersenyum padanya, membuatnya sangat merindukan gadis itu. Entah sudah berapa lama dia mencarinya tetapi Laura seakan ditelan bumi. Sejak tinggal di kota Cambridges, Sean membeli rumah dan menetap di sana selagi mencari Laura.
Rambutnya sekarang begitu panjang sudah sampai di bahunya, "Laura, jika aku menemukanmu, kau tidak akan bisa lari lagi dariku". Gumam Sean.
Besok aku akan mendatangi kediaman Kent Windsor, pikir Sean dan Setelah aku menemukanmu kita akan pergi dari sini.
~
Pagi menyambut Laura, dia mengikat rambut panjangnya dan membantu bertha menyiapkan sarapan pagi.
"Bagaimana tidurmu Laura? aku mendengarmu mengigau." Senyum Bertha pada Laura.
"Mengigau? aku tidak menyadarinya, em..tidurku nyenyak, Kau sedang buat apa Bertha?" tanya Laura melihat gaun berwarna merah tua yang nampak menumpuk di atas kursinya.
"Aku lupa memberitahukanmu sebentar malam akan ada festival, perayaan hari jadinya kota Cambridge." Bertha tersenyum senang.
"Para gadis di kota ini mengenakan gaun-gaun yang cantik, perayaannya akan di adakan sepanjang jalan di Cambridge".
Laura mengangkat gaun milik Bertha, "Sepertinya menyenangkan Bertha, tapi aku tidak bisa pergi em...aku..ya kau tahu aku sedang bersembunyi." bisik Laura padanya. Bertha tertawa senang.
"Kita mengenakan topeng Laura, tidak ada yang akan mengenalmu, dan kau tahu yang paling hebat dari semua ini adalah, istana terbuka lebar bagi siapa saja termasuk rakyat seperti kita, aku membayangkan berdansa bersama Ethan di bawa lampu krystal yang indah itu".
Laura tersenyum senang, "Masalahnya bertha aku sama sekali tidak memiliki gaun yang bisa kukenakan ke pesta." kata Laura menaikkan bahunya.
Bertha sepertinya sedang berpikir sebentar, "Tunggu di sini aku akan segera kembali". Dia pergi keluar rumah dan sejam kemudian dia baru kembali membawa bungkusan besar di tangannya.
"Cobalah gaun ini, kelihatannya cocok untukmu." Bertha tersenyum menyemangati. Laura membuka bungkusan itu dan menemukan gaun indah berwarna nude krem lembut dipadukan dengan warna putih, gaun indah itu memiliki belahan dada yang sedikit rendah sehingga terkesan seksi.
"Bagaimana? tanya Bertha. Laura tersenyum senang, dimana kau menemukan gaun ini bertha?"
"Aku yang merancangnya dan sudah lama aku ingin mengenakannya tetapi sepertinya pinggangku tidak akan muat, kau akan terlihat sangat cantik laura."
"Terima kasih Bertha". Laura tersenyum senang membayangkan dirinya memakai gaun pesta.
Akhirnya malampun tiba, mereka dengan semangat mengenakan gaun dan memoleskan make up agar terlihat cantik, malam itu bertha membantu Laura bersiap-siap dan ketika sudah selesai Bertha terpukau dengan tampilan Laura.
"Kau sungguh sangat cantik Laura." Laura berdiri dan memandang dirinya dari pantulan kaca, dia tampak berbeda, dengan bantuan bertha Laura terlihat sungguh menawan.
"Oh ya kenakan ini, malam ini aku dan Ethan akan bertemu di gerbang istana." senyumnya malu-malu.
Laura memakai topengnya dan bersama bertha berjalan di sepanjang jalan Cambridge, suasana pesta begitu meriah, semua orang tampaknya menunggu-nunggu hari ini, semuanya mengenakan gaun dan jas, serta mengenakan topeng, Laura tampak bahagia, lampu yang berwarna warni dan ratusan lentera di biarkan diudara dan di terbangkan di atas sungai.
Mereka akhirnya tiba di depan gerbang, Laura dan bertha berpisah di sana, Ethan dengan tampan menunggu bertha lalu segera menggandengkan tangannya.
Bertha melambai padaku, kini aku seorang diri kuberanikan diriku melangkah menuju pintu istana, orang-orang berbondong-bondong masuk kesana, aku sangat senang mengenakan topeng ini membuatku bebas bergerak.
Mataku terbuka lebar, mulutku sedikit terbuka menatap betapa luasnya istana kerajaan, ruangan itu serba putih dan keemasan dihiasi dengan lampu crystal yang fantastis, dengan sulur-sulur dari bunga berwarna-warni di setiap dindingnya.
Laura berjalan diantara kerumunan, dan mengambil segelas minuman untuknya, tampak dari kejauhan gadis-gadis sedang berkumpul, dan aku mengikuti pandangan mereka, membuatku bergegas berbalik dan bersembunyi.
Edmund dan Kenan sedang menjadi pusat perhatian seantero gadis-gadis di Cambridge. aku berjalan cepat menghindari kerumunan itu, aku mengambil napas panjang di balkon lalu memegang dadaku yang berdetak cepat.
Suara musik yang indah mulai mengalun lembut orang-orang mulai berdansa sementara Laura berdiri memandangi mereka diantara deretan gaun-gaun indah.
Langkah sepatu seseorang membuat Laura terperanjat, dia berbalik dan menatap seorang pria berdiri menjauhi keramaian, kemudian menatap Laura seorang diri.
Wangi mint dan tembakau menguar dari tubuhnya seperti laura mengenalnya. "Kau tidak berdansa?" tanyanya.
Laura terkejut, suara ini.. seperti Laura mengenalnya. Laura mundur beberapa langkah mencoba menjauh darinya, tiba-tiba tangan pria itu menyambar pinggangnya dan melekatkan pada tubuhnya.
Dengan perlahan pria bertopeng besi itu membuka topeng yang dikenakan Laura, mata toscanya membulat cantik menatap pria dihadapannya.
"Kau sangat cantik malam ini Laura". Perlahan pria itu membuka topengnya, "Aku sangat merindukanmu."
"Sean??" bisik Laura.
Matanya menatap tajam Laura dengan kemarahan yang dipendamnya. "Akhirnya aku menemukanmu, aku sudah mengatakan padamu kemanapun kau lari, aku akan menemukanmu kembali." geramnya.
Laura masih terdiam, bibirnya bergetar. Sebelum Laura berucap apapun, Sean menarik tubuh Laura dan menciumnya, segala kemarahan dan kerinduannya dia hempaskan semuanya dibibir Laura, suara bisik-bisik terdengar dari seseorang yang melewati mereka.
Sean menghentikan ciumannya, dia menarik tangan Laura menjauhi kerumunan orang-orang, Laura terjatuh karena kakinya sangat lemas, dia tidak sanggup berjalan cepat. Sean menggendongnya dan membawanya di ruangan yang sepi, ruangan itu sepertinya kamar seorang pelayan. Sean berbalik menatap Laura yang belum berbicara apapun.
"Kau lari dariku Laura, meninggalkanku." gumamnya.
"Kau tidak membutuhkanku, banyak wanita di sekitarmu." Bisik Laura, dia berpaling tidak mau melihat wajah tampan sean.
"Kau cemburu?" dia tersenyum miring dan mendekati Laura.
"Cemburu? aku tidak cemburu." Cicit Laura yang mulai tersudut di antara tembok.
"Aku merindukanmu Laura." gumam Sean tidak pernah melepaskan matanya dari laura.
"Kau tidak merindukanku?" bisiknya.
Wangi yang menguar dari tubuh Sean membuat laura begitu merindukannya, aku mengenal betul bau ini. "Aku...aku..." gugup Laura.
"Katakan kau mencintaiku." Bisik Sean di bibirnya.
"Aku.....
"Karena aku mencintaimu." Gumam Sean yang mulai megecup bibir Laura. Wajah Laura memerah dan terkejut.
"Ulangi sekali lagi Sean." pinta Laura.
Sean tersenyum tipis, "Itukan yang ingin kau dengar." Bisiknya, Laura mendorong tubuh Sean, tetapi Sean tertawa lalu merekatkan tubuh Laura padanya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Laura." Mata mereka bertemu, bertatapan penuh keinginan. Laura terisak, dia memukul tubuh Sean, "Kau berbohong!" tanya Laura.
"Apa wajahku terlihat sedang berbohong?" ucapnya.
"Aku mencintaimu dan kau milikku Laura." Laura menghambur di tubuh sean memeluknya erat.
"Jangan pernah bersama wanita manapun Sean." ucap Laura di sela-sela tangisnya.
Sean memegang wajah Laura dengan kedua tangannya, "Maafkan aku, tidak akan Laura, aku hanya menginginkanmu." Sean mencium lembut bibir Laura mereka melepaskan kerinduan mereka, Sean mengangkat tubuh Laura dan membaringkannya di atas tempat tidur, "Aku sangat menginginkanmu, selama kau menghilang aku sibuk mencarimu jadi jangan salahkan aku Laura jika aku menjadi kasar."
Laura mengangguk, Sean mulai menciumnya memperdalam ciumannya menuntut, "Jangan merobek gaunku ini pinjaman", gumam Laura.
Sean tersenyum, seperti tidak memperdulikan kata-kata Laura, Sean sudah merobek dan membuang gaun itu di lantai. Sean menjelajahi tubuh Laura baik bibir maupun tangannya, tanpa menunggu lama Sean memposisikan dirinya di tubuh Laura dan menghentaknya keras.
Suara desahan dan jeritan Laura terdengar jelas di ruangan itu, Sean bersikap lembut tetapi dalam waktu yang bersamaan sikap liarnya Kembali membuat Laura beberapa kali menjerit-jerit.
"Sean...!" desahnya, tangan laura mencakar keras punggung Sean. Hingga malam begitu larut Sean masih bercinta dengan laura, tubuh Laura tidak kuat lagi menanggungnya, tubuhnya begitu lemah setelah beberapa kali klimaks yang diberikan sean.
Sean bergerak-gerak liar dan tidak lama kemudian dia mendapatkan pelepasannya bersama dengan Laura. "Aku mencintaimu Laura", bisiknya.
"Kita harus pergi dari sini Laura." Sean memakai kembali kemejanya, Laura masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.
"Sean aku tidak bisa bergerak, gendong aku ini semua salahmu." Sean tertawa mendengar suara manja Laura, dia mengecupnya beberapa kali, mengambil gaun Laura dan mengenakan di tubuh laura meskipun sudah robek dibeberapa tempat.
"Sean belikan aku gaun, aku ingin mengganti gaun Bertha." Gumam Laura di gendongan Sean.
"Apapun yang kau inginkan sayang." senyum Sean, Laura memeluk erat tubuh Sean, dengan gerakan cepat Sean membawa Laura melewati ruang belakang istana. Suara langkah kaki membuatnya bersembunyi di tempat yang gelap.
"Edmund, mengapa kau mencari gadis itu pagi ini di rumah Rossie? apakah sesuatu terjadi?" Kenan menahan langkah Edmund dan memegang bahunya.
"Gadis itu melarikan diri dariku." Gumamnya.
"Apa yang telah kau lakukan padanya?" suara Kenan Sekarang terdengar marah.
"Aku hendak memaksanya untuk melayaniku, dan dia melarikan diri dariku." Kenan menggeleng.
"Kau sama sekali tidak berubah, laura tentu saja lari darimu, aku sangat kecewa padamu Edmund." Kenan meninggalkan Edmund dengan marah. "Ck, mengapa dia yang marah?" gumam edmund dia akhirnya pergi dari tempat itu.
Geraman terdengar dari mulut Sean, rahangnya mengeras terkatup rapat, Laura bersembunyi di balik tubuh Sean memeluknya erat. "Jangan tinggalkan aku Sean." Isak Laura dipelukannya.
Sean memeluk erat tubuh Laura dan berbisik padanya. "Aku akan membunuhnya Laura..aku akan membunuh pria itu."
GK suka juga sosok Sean klo kasar dng Laura ..dan gak suka dng kelakuannya yg setiap saat memakan Laura..hanya nafsu yg dikedepankan,apakah Krn dia laki2 pelaut Krn kalau pelaut rata2 wataknya kasar dan libidonya kuat harus ada pelepasan setia waktu
padahal cintanya buat Sean
seharusnya dia meronta jng terlena hampir sja si mut2 melancarkan rudalnya.
alah Laura kurang percaya pada cinta sendiri..sdh ditidurin Sean berkali2 masih sja mau dibuai si mut2..
seharusnya pastikan dulu klo Sean benar2. TDK mencintainya juga baru cari cinta yg lain.