Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Steven menarik Freya dengan kasar lalu mendorongnya hingga terjatuh di atas tempat tidur. Pria itu menindih tubuh Freya, tangannya menahan kedua pergelangan tangan Freya di atas kepala.
"T-tuan! Apa yang Anda lakukan?!" sentak Freya panik.
Steven menyipitkan mata, napasnya berat dan tidak beraturan. Ia menggeleng berulang kali, seolah sedang berperang melawan sesuatu di dalam dirinya.
"Boy!" lirihnya samar.
Ia kembali menggeleng keras namun, panas yang membakar tubuhnya seakan melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa benar-benar sadar, ia menunduk, mencium kasar bibir Freya.
Tidak hanya sampai di situ, tangan Steven mulai menarik kasar baju Freya, hingga kancing bajunya terlepas. Dan, tangannya menyentuh bagian dadanya.
Freya membeku, matanya melebar sempurna. Refleks, dia menggigit bibir Steven sekuat tenaga.
"Argh!" Steven menjauhkan wajahnya, mengusap bibirnya yang berdarah.
Freya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengepalkan tangan dan menghantam wajah Steven dengan keras.
BUGH!
Tubuh Steven terguling ke samping. Kepalanya semakin pusing, matanya terasa berat, hingga akhirnya tubuhnya tidak lagi bergerak.
Freya bangkit dengan napas tersengal, seluruh tubuhnya gemetar.
"Arrgghh!" teriaknya, tangannya mengusap kasar bibir dan tubuhnya. "Gila! Ini benar-benar gila!" gumamnya marah sekaligus takut
Emosi yang tertahan, akhirnya meledak. Ia menoleh tajam Steven yang tidak sadarkan diri lalu naik, duduk di atas perutnya.
"Dasar sialan! Beraninya kau mengambil paksa ciuman pertama ku." Ia memukul dada pria itu beberapa kali, bukan untuk melukai, melainkan meluapkan guncangan yang masih menguasai dirinya.
"Dasar menyebalkan! Kau—" Tangannya terhenti di udara. Ia menatap wajah Steven yang pucat dan terdapat luka di bibirnya.
Jantungnya tiba-tiba mencelos. "Ya Tuhan!" Ia mundur tergesa, turun dari tempat tidur. "Apa yang sudah aku lakukan?"
Tatapannya beralih pada tangannya yang masih gemetar, lalu kembali pada Steven. "A-aku... Aku memukulnya?"
...****************...
Steven mengerjap pelan, memijat pelipisnya yang masih berdenyut nyeri. Pandangannya menyapu sekitar
"Ini... di mana?" gumamnya serak.
"Tuan, syukurlah Anda sadar. Sekarang kita berada di rumah sakit," ujar Miko lega.
"Rumah sakit?" ulang Steven lirih.
"Iya. Tadi tuan pingsan di kamar mandi. Untung ada Boy."
"Pingsan? Di kamar mandi?" Steven mengerutkan kening, mencoba menarik potongan ingatan yang terasa kabur.
Kepalanya terasa berat. Ingatan terakhir yang ia miliki hanyalah kamar, tubuhnya yang panas dan—Wajah Boy.
Steven terdiam. Bayangan itu datang tiba-tiba. Mata terbelalak. Dadanya mengencang.
"Aku..." bibirnya bergetar samar. "T-tidak mungkin!" lirihnya.
Ia menatap Miko dengan wajah tegang. "Apa yang terjadi sebelum aku pingsan?"
Miko terdiam sejenak. "Boy mendengar kegaduhan di kamar anda. Dan, saat Boy mengecek ke kamar anda, dia menemukan Anda tergeletak di kamar mandi. Dia memanggil saya, lalu kami membawa Anda ke sini."
Kening Steven mengerut tajam. "Tidak mungkin. Jelas-jelas aku—" ucapannya terputus. Ingatan itu kembali menyeruak begitu saja. Tentang bagaimana ia mencium Boy, tentang sensasi aneh yang sempat singgah di telapak tangannya, dan—
"Boy?" gumamnya. "Di mana dia sekarang?" tanya Steven tiba-tiba.
Miko melirik ke arah pintu. "Sejak tadi dia menunggu di luar. Dia kelihatannya sangat cemas dan—"
"Panggil dia kemari!" potong Steven tegas.
Miko mengangguk singkat, lalu berbalik menuju pintu. Beberapa detik kemudian, Freya masuk dengan langkah ragu. Kepala tertunduk, bahu sedikit merapat, seolah menanggung beban yang terlalu berat.
"A-ada apa Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Freya dengan suara yang terdengar gugup.
Steven memiringkan wajahnya, menatap sosok di hadapannya lebih saksama. "Angkat kepalamu, Boy!"
Freya refleks mengangkat kepalanya.
Tatapan Steven menyusuri wajah itu, lalu turun perlahan hingga ke ujung kaki.
"Dia terlihat seperti pria pada umumnya," batin Steven. "Hanya saja... tubuhnya terlalu mungil."
Pandangan Steven terhenti sesaat di bagian dada Freya. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih keras. Dia melihat tangannya, ingatan tentang sentuhan itu kembali terputar jelas, tentang sesuatu yang ia sentuh, terasa asing, lembut dan, kenyal.
Steven segera menggeleng cepat, seakan ingin mengusir pikirannya sendiri, lalu kembali menegakkan ekspresinya.
"Apa benar kau yang menemukanku pingsan di kamar mandi, Boy?" tanyanya dingin, menekan.
Freya menelan ludah kasar. "Apa dia mengingat sesuatu?" batinnya panik.
"Jawab!" sentak Steven.
"I-iya, Tuan," jawab Freya cepat, suaranya bergetar.
"Kau yakin... aku pingsan di kamar mandi?" Steven mengulang, kali ini lebih pelan namun, justru terasa jauh lebih mengintimidasi.
Freya mengepalkan jemarinya di sisi tubuhnya. "S-saya tidak berbohong, Tuan. Saat saya masuk ke kamar, saya mendengar suara dari kamar Anda. Saya sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi Anda tidak juga membukanya."
Ia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan, "Jadi... saya terpaksa menerobos masuk dan mencari Anda. Dan ternyata... Anda sudah pingsan di kamar mandi."
Steven memejamkan mata sesaat, lalu mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar Freya pergi.
Hampir bersamaan dengan itu, pintu kembali terbuka. Dokter masuk bersama seorang suster.
"Anda sudah sadar, Tuan?" Dokter mendekat dan mulai memeriksa kondisinya.
Steven mengangguk singkat. "Bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Sejauh ini, kondisi Anda stabil, Tuan. Semua berkat bodyguard Anda yang sigap membawa Anda ke rumah sakit," jawab dokter. "Tapi, meski dosis obat perangsang yang masuk ke tubuh Anda tidak terlalu tinggi, tetap saja itu cukup berbahaya."
Tangan Steven mengepal perlahan. Rahangnya mengeras. "Denis!" geramnya rendah, penuh amarah yang tertahan.
"Setelah beristirahat beberapa hari, Anda sudah bisa beraktivitas seperti biasa," lanjut dokter.
"Tidak perlu," potong Steven dingin. "Setelah ini, Miko akan mengurus administrasinya. Aku tidak mau berlama-lama di rumah sakit."
"Tapi, Tuan—"
"Miko!" panggil Steven tegas.
Miko yang berdiri di dekat pintu tersentak, membungkuk patuh. "B-baik, Tuan." Tanpa berani membantah, ia segera keluar untuk mengurus semuanya.
Kini hanya tersisa Steven, dokter, dan suster yang sibuk mencatat kondisi medisnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Steven tiba-tiba. "Selain karena obat itu, apa ada penyebab lain?"
Dokter mengerutkan kening, lalu seketika mengerti. "Oh. Ada lebam di dada Anda, dan bibir Anda juga mengalami luka ringan."
Steven refleks mengusap dadanya, lalu bibirnya. Rasa perih samar masih tertinggal di sana.
Ingatan samar kembali muncul, saat Boy menggigit bibirnya, karena ia kehilangan kendali dan memaksa menciumnya.
"Menurut keterangan bodyguard Anda, Anda ditemukan pingsan di kamar mandi," lanjut dokter. "Kemungkinan besar, Anda menggigit bibir sendiri untuk melawan efek obat tersebut. Dan ketika terjatuh, dada Anda tidak sengaja terbentur tepi bathtub. Itu sebabnya muncul lebam."
Dokter tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Namun, Anda tidak perlu khawatir. Itu bukan luka serius. Lebamnya juga samar dan akan hilang dalam beberapa hari."
Steven membayangkan dirinya seperti yang dokter katakan. Mulai dari ia masuk kamar, menggigit bibir sendiri menahan gejolak aneh di tubuhnya dan... Terjatuh, pingsan.
Semua itu terdengar masuk akal. Tapi, Steven ragu. Entah mengapa, dadanya justru terasa semakin sesak.
Ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah detail kecil yang terus mengusik nalurinya, seolah ada potongan ingatan yang belum sepenuhnya muncul.
"Apa benar begitu?" gumamnya.