NovelToon NovelToon
Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Nur silawati

"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Epesode 5. rezeki bertubi-tubi.

Amelia sampai dirumah mertua tepat pukul 20:10 malam.

Ia Masih tidak percaya jika saat ini ia memiliki uang seratus juta.Hanya menjual sebuah cerita yang ia tulis sesuai dengan imajinasinya.

Arkan sudah terlelap balita itu sangat bersahabat sekali hari ini.

"Astaghfirullah, bener-bener lupa anak lupa rumah jika ibu dan Mbak Azizah belanja." Gumam Lia.

"Kalau Ibu dan Mbak Azizah belum pulang? Lalu di lantai atas siapa? Apa dewi pulang dari kosan?" Lia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai atas.

Kamar Azizah dan kamar Dewi memang ada di lantai dua..

Alangkah kagetnya  Lia melihat pemandangan yang tidak enak dipandang.

"astagfirullah..! Siapa mereka? Apa Mbak Azizah dan Mas Arman? Tidak mungkin, Mas Arman sedang keluar kota. Dewi? Apa mungkin Dewi dan pacarnya, kok beraninya melakukan perbuatan tidak tercela dirumah ini. tapi Dewi tidak punya pacar?

Lia terburu-buru turun ia tidak mau mengotori matanya dengan pemandangan yang tidak layak untuk dilihat.

Sepasang anak manusia sedang bermain kuda-kudaan, Lia tidak bisa menebak siapa pemainnya, karena ruangan lantai 2 remang-remang.

Lia menyalakan semua lampu di dalam rumah itu.dan ia pun menyalakan televisi yang ada di ruang tengah.

Arkan bangun Lia menggendong balita 9 bulan itu .Sepertinya ia merindukan ibunya dari tadi Arkan tidurnya gelisah..

Lia kembali membuka ponselnya lalu membuka aplikasi brimo.Ia tatap nominal uang yang ada di rekeningnya.

"Alhamdulillah ya Allah, Aku tidak menyangka menjadi penulis itu uangnya banyak.. Aku akan terus menulis di aplikasi online dan menulis naskah untuk film layar lebar atau sinetron."matanya fokus menatap uangnya yang ada di aplikasi brimo.

Tanpa disadarinya sepasang kekasih gelap telah berdiri di belakang Lia.

Menyadari ada orang di belakangnya spontan Lia menoleh.

"Mbak Denada?"gumam Lia,ia melirik laki-laki yang digandeng oleh Denada.

Jelas bukan Suaminya Denada, Lia tahu siapa pasangan seisi rumah itu..

"Ini uang jajan untukmu? Apa yang kamu lihat tidak usah kamu pikirkan. Jangan pernah mengadu pada siapapun. Ibu dan Azizah belum pulang?"tanya Denada dengan perasaan canggung.

Lia masih bengong menatap kakak iparnya itu. Tetapi tangannya terulur menerima uang pemberian sang kakak ipar. Seperti terkena hipnotis Lia menerima uang dari kakak iparnya sebanyak 5 lembar warna merah.

Denada memang tidak jutek seperti Dewi, walaupun sering di asut oleh Ainun untuk membully Lia. Tapi Denada enggan melakukannya ia lebih banyak diam dan tidak banyak bicara.

"Belum Mbak Dena, Saya dan Arkan seharian bermain di rumah Bude ku, tidak tahu jika Mbak Dena ada di rumah."jawab  Lia kikuk.

"Dari jam berapa ibu dan Azizah pergi? Meninggalkan anak seharian apa kamu dikasih uang oleh Azizah?" Lia sudah sadar dari rasa terkejutnya.ia lekas ke belakang mengambilkan minuman untuk Denada dan pasangannya.

"Dari jam 09.00 pagi Mbak, silakan diminum Mbak dan Mas. Hanya air putih yang ada dirumah ini." Denada memang sangat kehausan sepertinya, ia meneguk sampai tandas air putih yang disuguhkan oleh Lia.

"Kamu diberi uang tidak sama Azizah? Menjaga anaknya seharian."Denada mengulang lagi pertanyaannya.

"Alhamdulillah dikasih Mbak rp300.000 Saya minta pada Mba Azizah.. saya tahu Mbak Azizah dan ibu kalau sudah shopping pasti lama jadi saya minta uang banyak pada Mbak Azizah."jawab Amelia jujur..

Denada mengangguk dan tersenyum lembut menatap Amelia.

"Kamu punya hak untuk meminta uang pada mereka yang memakai tenagamu."Amelia mengganguk..ini pertama kalinya ia ngobrol banyak dengan kakak iparnya itu.

"Lia..! Saya mau pulang, Ingat pesan saya. Apa yang kamu lihat hari ini jangan kamu bahas dengan siapapun mengerti ya."Lia menggangguk.

Pria yang berbadan tegap itu tersenyum dan mengangguk sopan pada Amelia. Lalu ia mengeluarkan uang 10 lembar berwarna merah ia berikan pada Denada.

"Berikan pada adik iparmu untuk pegangannya."Denada mengangguk Dan tersenyum.

"Ini tambahan dari Mas Riko, Ingat pesan Mbak jaga rahasia."Lia tidak memiliki jawaban selain mengangguk.

Setelah kakak ipar dan teman laki-lakinya itu pulang.lia mencuci mukanya menghapus apa yang ia lihat tadi.Lalu, ia membaringkan tubuhnya disamping Arkan.

"Yang sabar ya Arkan anak sholeh, doakan ibumu suatu hari nanti tidak menyukai lagi, aktivitas yang namanya shopping. Sehingga Arkan tidak ditinggal terus setiap awal bulan."ucapnya sambil mencium pipi gembul balita 9 bulan itu.

Amelia bangun setelah adzan subuh berkumandang.Ia melihat Arkan masih tertidur pulas.

Ia buru-buru mengecek handphonenya. Ia  mengirim pesan pada Asti meminta nomor rekening Asti. Amelia ingin berbagi rezeki dengan sahabatnya itu yang telah mempertemukannya dengan sutradara yang tak lain adalah Bos Asti..

"Tumben  Asti tidak membalas pesanku. Ada apa dengan dia? Biasanya cepat ia membalas pesan."hati Lia mulai gelisah.

Ia bangkit dari tempat tidur untuk mandi dan menunaikan  Sholat subuh.

Ia melihat lampu kamar mertuanya sudah nyala. Itu artinya pemilik kamar sudah kembali.

Tetapi ia enggan mengecek kamar atas apakah Azizah sudah pulang apa belum?

Seperti biasa kegiatannya mencuci dan bersih-bersih rumah.

Lia hanya menanak nasi, ia tidak memasak lauk dan sayuran. Tidak ada stok sayuran di kulkas, jadi tidak ada bahan untuk ia masak.

Lia Tidak mau menggunakan uangnya untuk membeli sayuran di warung Salamah untuk makan keluarga suaminya.

Tempat pukul 06.00 pagi. Ainun keluar dari kamar dengan rambut putihnya yang acak-acak.

"Kamu tidak masak Lia? Meja makan kosong melompong mana hari sudah siang?" Tanya Ainun dengan nada Ketus.

"Di kulkas tidak ada bahan-bahan yang mau dimasak Bu." Jawab Amelia santai..

"Mbak Lia mana punya uang sih Bu? Kalau tidak dikasih oleh Mas Rudi.." Dewi menimpali.

"Kemarin Azizah memberimu uang rp300.000 Kamu ke mana kan?"tanya Ainun.

"Itu hakku Bu, Aku lelah mengurus Arkan sehari semalam. Seharusnya Mbak Azizah bayarnya nambah, ia menitipkan anaknya tidak melihat waktu." Ainun kesal mendengar jawaban Amelia.

"Sudah biarkan saja uang 300 buat Mbak Lia, seumur hidup Mbak Lia baru sekali itu memegang uang 300 ribu. biasalah orang kere dari kampung uang 300 ribu, seperti uang 3 juta.." sahut Dewi.Kata-kata Dewi pedas mengiris hati, Tapi dia suka dengan kalimat itu. Walaupun kalimat itu penuh hinaan, tetapi bisa menyelamatkan uang 300 Ribu pemberian Azizah.

"Ini rp30.000, ke warung beli sayuran jangan pakai lama." Amalia semangat 45 mengambil uang rp30.000 Itu.ia sudah tidak sabar ingin ke warung ibu Salamah..

"Apa isi kantong plastik hitam itu Amelia?"tanya Ainun.

"Sampah Bu..!"jawab Lia,ia buru-buru pergi meninggalkan rumah mertuanya menuju warung Ibu Salamah.

Sesampai di warung Ibu Salamah para ibu-ibu masih ramai memilih sayuran.

"Tumben Lia siang beli sayurannya? Apa anggarannya baru turun?"tanya khotimah tetangga mertua Lia.

"Iya, Bu Kot. baru turun anggarannya, Makanya saya baru belanja."jawab Lia apa adanya.

"Lia pasti belinya tidak jauh dari tempe, tahu dan kangkung." sahut bu  Nina

"Iya Bu.. tempe tahu dan kangkung yang bisa dijangkau oleh anggaran yang saya terima."Lia memilih tempe satu keping, tahu satu bungkus, lalu kangkung empat ikat. Ia tambahkan telur  dua butir..

"Neng  Lia beli ini saja?"tanya ibu Salamah.

"Iya Bu, Itu saja.."Salamah melihat belanjaan Lia ia tidak menghitung belanjaan itu. Melainkan ia menambahkan dua butir telur di kantong plastik belanjaan Lia.

"Kamu tidak buru-buru kan,Lia? Ibu menghitung belanjaan ibu-ibu yang lain dulu ya. Belanjaan mereka sangat banyak, jadi perlu waktu untuk menghitungnya kamu sabar menunggu."Lia menggangguk.

Lia yang ada keperluan dengan Salamah memang menginginkan belanjaannya dihitung paling akhir.

Setelah kondisi warung sayur Salamah sepi.. dia menyerahkan kantong plastik berwarna hitam yang isinya bika ambon yang sedang viral di media sosial.

"Ini untuk ibu..! Alhamdulillah naskah yang saya ceritakan sama ibu kemarin. Dibeli oleh bosnya sahabat saya, seorang sutradara.. ada gamis dan jilbab untuk ibu mengaji, Terima kasih ya bu sudah baik dengan Lia."air mata Salamah menetes.ia sangat terharu dengan apa yang diberikan oleh Lia.

Salamah yang tidak dikaruniai oleh Tuhan keturunan, sangat tersanjung mendapat perhatian dari Lia.

"Masya Allah anak baik.. Alhamdulillah ada saja rezeki yang diberikan oleh Allah padamu. Ingat pesan ibu ya nak, kamu tetap meminta uang nafkah pada Rudi itu wajib. Gamis dan kuenya ibu terima, semoga rezekimu berlimpah ruah dan berkah."Lia mengangguk dan ia pamitan pulang..Ia pasti sudah ditunggu oleh Ibu mertuanya.

1
Sella Rahmantoni
selamat membaca buku baruku teman-teman semoga suka🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!