Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi Kirana, kini menjadi hari penderitaan terpanjang bagi Ziva. Gaun pengantin berwarna putih gading dengan ekor panjang membandul di lantai—gaun yang sama yang seharusnya dikenakan kakaknya—kini melekat di tubuh Ziva, terasa seperti kain kafan yang menyesakkan. Riasan flawless di wajahnya berhasil menyembunyikan mata sembap dan lingkaran hitam akibat tangis berminggu-minggu, namun tidak bisa menyembunyikan kehampaan di matanya.
Aula pernikahan yang megah itu dipenuhi dekorasi bunga kesukaan Kirana; mawar putih dan baby's breath. Ironisnya, aroma wangi bunga itu justru memicu mual di perut Ziva, mengingatkannya pada aroma pemakaman yang baru saja lewat. Musik instrumental yang mendayu-dayu terdengar seperti lagu duka di telinganya.
"Ziva, senyum, Nak. Tamu sudah mulai ramai," bisik Bunda lirih di sampingnya, suaranya parau karena kelelahan emosional. Tangan Bunda yang menggenggam lengan Ziva sedikit gemetar.
Ziva menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa menyakitkan di dadanya yang sesak. Ia memaksa kedua sudut bibirnya terangkat, menciptakan sebuah lengkungan yang di matanya terlihat menjijikkan. Senyum palsu. Senyum yang akan ia obral sepanjang hari ini demi menjaga wajah Ayah dan Bunda yang sudah hancur.
Di sampingnya stands Baskara. Pria itu mengenakan seragam dinas upacara (PDU) kepolisian berwarna cokelat tua yang gagah, lengkap dengan atribut dan tanda pangkatnya. Badannya tegap, khas seorang perwira, namun raut wajahnya kaku. Matanya tidak memancarkan binar kebahagiaan seorang pengantin baru, melainkan beban rasa bersalah yang teramat berat. Ia tidak berani menatap Ziva, matanya lurus ke depan, ke arah barisan tamu yang mengular.
Prosesi demi prosesi dilewati Ziva seperti robot yang dikendalikan. Ia menyalami ratusan tangan yang mengucapkan selamat, menerima pelukan hangat yang terasa dingin, dan mendengarkan doa-doa pernikahan yang terdengar seperti kutukan. Setiap kata "Selamat ya, semoga samawa" dari tamu yang tidak tahu apa-apa, terasa seperti tusukan jarum di jantungnya.
Kalau saja kalian tahu siapa pria di sebelah gue ini, jerit Ziva dalam hati. Dia bukan pahlawan, dia pembunuh.
Gelombang tamu terus berdatangan. Tak lama kemudian, rombongan pria-pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak masuk ke aula. Teman-teman satu angkatan Baskara di kepolisian. Mereka datang bersama istri-istri mereka yang tampil anggun, sebagian besar mengenakan seragam Bhayangkari merah muda yang khas. Suasana di aula seketika menjadi riuh dengan kedatangan mereka.
"Wah, Bas! Akhirnya sah juga! Selamat ya, Bro!" seru seorang polisi bertubuh kekar, menepuk bahu Baskara dengan keras sampai pria itu sedikit terhuyung.
"Hahaha, iya, Bro. Makasih udah dateng," jawab Baskara dengan senyum kaku yang dipaksakan.
"Gila, cantik banget istri lo, Bas. Nggak sia-sia lo perjuangin selama ini," goda polisi lain yang berdiri di samping istrinya.
Kata-kata "diperjuangin" itu membuat Ziva ingin muntah saat itu juga. Perjuangan apa? Perjuangan ngebunuh kakak gue dan akhirnya jadiin gue tumbal?
Istri-istri mereka pun ikut mengerubungi Ziva. "Selamat ya, Mbak Ziva. Welcome to the family Bhayangkari. Nanti harus sering-sering ikut arisan ya," ucap salah satu istri polisi dengan ramah, menggenggam tangan Ziva.
Ziva hanya bisa mengangguk pelan sambil tetap mempertahankan senyum palsunya yang sudah terasa kaku di wajahnya. "Iya, Mbak. Makasih ya."
Godaan teman-teman Baskara semakin menjadi-jadi. Mereka tampaknya tidak menyadari ketegangan yang ada di antara kedua mempelai. Bagi mereka, ini adalah pernikahan bahagia dari seorang rekan kerja mereka.
"Siap-siap stamina ya, Bas. Malam pertama kan panjang," celetuk salah satu polisi sambil mengedipkan mata, memicu tawa riuh dari teman-temannya yang lain.
"Huss, jangan gitu. Bhayangkari juniornya nanti takut," timpal istrinya sambil mencubit lengan suaminya dengan gemas.
Baskara tertawa canggung, wajahnya sedikit memerah karena malu dan rasa bersalah yang bercampur aduk. Ia melirik Ziva sekilas, takut gadis itu akan meledak.
Namun, Ziva tetap diam membeku. Di luar, ia terlihat tenang, tersenyum sopan. Namun di dalam hati, ia menyumpahi serapah setiap tawa dan setiap kata godaan yang keluar dari mulut mereka.
Malam pertama? Di neraka mungkin iya, batin Ziva tajam. Kalau lo berani nyentuh gue sedikit aja, gue bersumpah bakal bikin hidup lo lebih menderita dari ini.
"Bas, lo harus janji ya jagain Ziva baik-baik. Kalau sampai lo bikin dia nangis, kita-kita bakal sidang lo!" seru seorang polisi senior di angkatan Baskara, suaranya sedikit lebih serius.
"Pasti, Komandan. Pasti saya jaga," jawab Baskara pelan, matanya tertunduk. Kata-kata itu terdengar seperti janji palsu yang paling menyakitkan bagi Ziva.
Teman-teman Baskara akhirnya beranjak dari hadapan mereka setelah puas menggoda, memberikan kesempatan bagi tamu-tamu lain untuk menyalami kedua mempelai. Lorong di depan mereka kembali mengular, namun bagi Ziva, setiap langkah kaki tamu terasa seperti detik-detik menuju hukuman matinya.
Ia melirik jam di aula. Masih ada tiga jam lagi sebelum resepsi ini berakhir. Tiga jam lagi ia harus berpura-pura menjadi istri dari pria yang paling ia benci. Tiga jam lagi ia harus menahan air mata dan rasa ingin berteriak di depan ratusan pasang mata yang menatapnya dengan rasa iri.
Ziva menatap tumpukan kado di sudut aula. Salah satu kado terbesar memiliki label nama Kirana di atasnya, kado yang seharusnya dibuka oleh kakaknya. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos satu per satu, membasahi pipinya yang sudah dirias tebal.
"Ziva, kenapa? Matanya perih ya?" tanya Bunda panik, melihat air mata Ziva yang mulai merusak riasan.
"Enggak, Bun. Cuma kelilipan," jawab Ziva bohong, sambil buru-buru menyeka air matanya dengan tisu.
Baskara yang melihat itu hanya bisa terdiam, tidak berani menghibur atau bahkan menyentuh tangan Ziva. Ia tahu, setiap sentuhannya hanya akan menambah luka di hati gadis itu. Ia hanya bisa berdiri tegap di samping Ziva, menjadi saksi bisu atas penderitaan yang ia ciptakan sendiri.
Aula pernikahan yang megah itu kini terasa seperti penjara yang menyesakkan bagi Ziva. Setiap tawa dan setiap lagu pernikahan yang diputar terdengar seperti ejekan di telinganya. Hari ini adalah hari pernikahannya, namun di dalam hati Ziva, ini adalah hari kematian bagi kebahagiaan dan masa depannya.
***
Begitu pintu rumah baru mereka tertutup, sandiwara manis di depan para tamu dan rekan-rekan kepolisian Baskara berakhir seketika. Ziva tidak memedulikan koper-kopernya. Dengan langkah terburu-buru yang membuat ekor kebayanya terseret kasar di lantai, ia langsung menuju kamar utama.
Ziva segera masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Di dalam kamar mandi yang dingin, ia berjuang sendirian melepaskan kaitan kebaya sialan itu dengan tangan gemetar. Begitu kain brokat itu terlepas, Ziva merosot di lantai marmer, memeluk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya di sana.
"Gue harus gimana, Kak Kirana..." isaknya pilu, suaranya teredam dinding kamar mandi. "Setiap kali ngeliat Baskara, aku pengen bunuh dia rasanya. Plis, Kak... aku harus gimana? Dada aku sesek banget setiap harus pura-pura senyum di sebelah dia."
Ziva teringat bagaimana teman-teman polisi Baskara terus menggodanya sepanjang hari, tidak tahu bahwa pria yang mereka puji itu adalah sosok yang telah merenggut nyawa kakaknya. Setelah hampir satu jam menumpahkan sesak, Ziva membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak air mata meski matanya tetap sembap.
Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos kebesaran dan celana panjang, hanya untuk mendapati Baskara berdiri kaku di dekat jendela kamar.
"Udah, kan? Sekarang keluar dari kamar gue," usir Ziva dingin tanpa menatap mata pria itu. "Lo tidur di kamar lain sesuai kesepakatan. Jangan harap gue mau berbagi udara di ruangan yang sama sama lo."
Baskara menarik napas berat, tampak ragu-ragu untuk melangkah. "Gak bisa, Ziva. Mama sama Papa menginap di sini malam ini. Kamar tamu di bawah sudah mereka pakai. Kalau mereka lihat aku keluar masuk kamar lain atau tidur di sofa, mereka bakal curiga."
Ziva tersentak, matanya melotot tajam. "Apa?! Engga! Masa gue sekasur sama lo? Ngga, ngga akan!"
"Ziva, tolong. Cuma untuk malam ini saja sampai mereka pulang besok pagi," pinta Baskara dengan nada memohon yang sangat rendah.
"Gue nggak peduli!" bentak Ziva, suaranya tertahan agar tidak terdengar sampai ke luar kamar. "Gue lebih milih mati daripada harus tidur di sebelah pembunuh kayak lo!"
"Aku akan tidur di lantai, Ziva. Aku janji nggak akan naik ke kasur," ucap Baskara cepat sebelum Ziva semakin meledak.
Ziva terdiam sejenak, menatap Baskara dengan benci yang luar biasa. Namun, ia juga tahu jika Papa dan Mamanya Baskara sampai tahu, urusannya akan semakin panjang dan melelahkan.
"Oke. Lo boleh tidur di sini, tapi di bawah! Jangan pernah berani naik ke atas sama gue! Cepetan ambil selimut lo sendiri, jangan sentuh bantal gue!" Ziva menunjuk lantai di sudut ruangan yang jauh dari tempat tidurnya.
Tanpa membantah, Baskara mengambil bantal dan selimut tipis dari lemari. Ia membentangkannya di lantai yang dingin tanpa alas tambahan. Ziva segera naik ke ranjang besar itu, membelakangi Baskara, dan menarik selimutnya sampai menutupi seluruh kepala. Di bawah lampu kamar yang temaram, suasana terasa begitu mencekam. Hanya suara detak jam yang mengisi keheningan di antara dua manusia yang terikat pernikahan tanpa jiwa itu.
Malam semakin larut, namun tidur Ziva tidak nyenyak. Dalam ketidaksadarannya, memori kecelakaan itu kembali menghantamnya seperti mimpi buruk yang sangat nyata.
"Kak... Kak Kirana! Jangan pergi!" igau Ziva. Tubuhnya mulai berkeringat dingin, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.
"Remnya, Kak Bas! Awas! Hati-hati!" suara Ziva semakin meninggi, berubah menjadi rintihan yang menyayat hati. "Jangan... jangan tinggalkan aku sendirian... Kak, aku takut..."
Baskara yang sedari tadi memang tidak bisa memejamkan mata, langsung terduduk di lantai. Ia melihat Ziva yang sedang bergelut dengan traumanya sendiri. Hati Baskara seperti diiris sembilu melihat pemandangan itu. Ia ingin mendekat, ingin mendekap Ziva dan membisikkan kata maaf sampai gadis itu tenang, namun ia teringat syarat ketiga: jangan pernah sentuh gue.
Ziva mulai terisak dalam tidurnya, napasnya memburu pendek-pendek. "Pembunuh... kenapa kamu selamat... Kak Kirana..."
Baskara hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lantai dingin, membiarkan air matanya sendiri jatuh dalam diam. Ia adalah seorang polisi yang terbiasa menghadapi bahaya, namun menghadapi hancurnya hati Ziva adalah hukuman yang paling tidak sanggup ia tanggung. Malam itu, di bawah atap yang sama, duka dan benci kembali beradu dalam keheningan yang menyakitkan.