Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Suara pintu apartemen yang terkunci rapat menjadi satu-satunya melodi yang menenangkan sarafku malam ini. Aku menyandarkan punggung di balik pintu kayu yang tebal itu, membiarkan tubuhku merosot perlahan hingga terduduk di lantai yang dingin.
Lantai dingin ini terasa lebih jujur daripada sapaan Arlan tadi.
Aku memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan Siska yang menggelayut manja di lengan Arlan di lobi tadi. Rasa mual itu kembali merambat naik. Aku segera berlari ke kamar mandi, membasuh wajahku berkali-kali dengan air dingin hingga kulitku terasa kebas.
"Cukup, Rania. Jangan biarkan sampah itu mengotori pikiranmu lagi," bisikku pada pantulan wajah di cermin.
Wajah di cermin itu bukan lagi Rania yang dulu hobi mengepang rambut dan tertawa lepas. Kini, mataku terlihat tajam namun kosong. Aku melepas blazer hitamku, menggantinya dengan piyama satin berwarna gelap yang senada dengan suasana hatiku.
Apartemen ini adalah bentengku. Tempat di mana tidak ada laki-laki yang diizinkan masuk, tempat di mana tidak ada pengkhianatan yang bisa menjangkauku. Sejak kejadian di Jogja, aku memilih tinggal sendirian di sini, menjauh dari rumah orang tuaku yang selalu didatangi pria-pria yang mencoba "menjajaki" hatiku. Mereka pikir aku hanya butuh seseorang untuk menyembuhkan luka. Bodoh. Aku tidak butuh penyembuh, aku hanya butuh ketenangan.
Ting!
Ponselku yang tergeletak di atas meja makan berbunyi. Aku melirik malas.
[Nomor Tidak Dikenal]:
Ran, ini aku, Arlan. Tolong jangan blokir nomor ini. Aku cuma mau bilang kalau apa yang kamu lihat tadi... itu nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Siska...
Aku mendengus remeh. Kalimat klasik para pengkhianat: "Nggak seperti yang kamu pikirkan." Lalu apa? Apa yang aku lihat di kost dulu juga "nggak seperti yang aku pikirkan"? Apa mual yang kurasakan sekarang juga hanya imajinasiku?
Tanpa ragu, aku menekan tombol blokir. Tanganku sedikit gemetar, tapi hatiku sudah mengeras.
Aku berjalan menuju balkon, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian. Angin malam menusuk pori-poriku, tapi aku tidak peduli. Tiba-tiba, ingatanku melayang pada masa SMA. Masa di mana Arlan adalah duniaku. Masa di mana kami berjanji akan sukses bersama dan menikah setelah lulus kuliah.
"Janji itu sudah mati di Jogja, Lan," gumamku pada angin.
Aku teringat betapa gigihnya aku menepis setiap firasat buruk saat memasuki semester dua kuliah. Teman-temanku sudah memperingatkan, tapi aku terlalu buta oleh kata "setia". Ternyata, kesetiaan hanyalah panggung sandiwara bagi mereka yang pintar berakting.
Kini, aku harus menghadapi si aktor utama itu setiap hari di kantor. Menjadi atasannya adalah keuntungan bagiku, tapi juga kutukan karena aku harus terus melihat wajahnya.
Baru saja aku ingin memejamkan mata untuk tidur, bel apartemenku berbunyi. Jantungku mencelos. Tidak ada yang tahu alamat apartemen ini kecuali orang tuaku dan sahabat dekatku.
Aku berjalan menuju intercom dengan waspada. Di layar kecil itu, aku melihat seorang pria berdiri mematung di depan pintuku.
Bukan Arlan.
Tapi seorang pria dengan setelan jas rapi yang beberapa kali datang ke rumah orang tuaku untuk melamar. Namanya Rendra, anak rekan bisnis ayahku yang paling gigih—dan paling aku hindari.
"Rania, aku tahu kamu di dalam. Aku cuma mau mengantar dokumen dari ayahmu," suaranya terdengar dari balik pintu.
Aku mengepalkan tangan. Takdir benar-benar sedang ingin bermain-main denganku malam ini. Di kantor ada masa lalu yang busuk, dan di depan pintu ada masa depan yang sangat ingin aku tolak.