NovelToon NovelToon
Istri Yang Disia Siakan

Istri Yang Disia Siakan

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

"mas belikan hp buat amira mas dia butuh mas buat belajar" pinta Anita yang ntah sudah berapa kali dia meminta
"tidak ada Nita, udah pake hp kamu aja sih" jawab Arman sambil membuka sepatunya
"hp ku kamarenya rusak, jadi dia ga bisa ikut zoom meating mas" sanggah Nita kesal sekali dia
"udah ah mas capek, baru pulang kerja udah di sodorin banyak permintaan" jawab Arman sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah
"om Arman makasih ya hp nya bagus" ucap Salma keponakan Arman
hati Anita tersa tersayat sayat sembilu bagaimana mungkin Arman bisa membelikan Salma hp anak yang usia baru 10 tahun dan kedudukannya adalah keponakan dia, sedangkan Amira anaknya sendiri tidak ia belikan
"mas!!!" pekik Anita meminta penjelasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKACAUAN arman

Kekacauan di rumah Arman semakin tak terkendali.

"Dewi, jangan hanya diam saja! Bantuin Ibu!" ucap Laksmi kesal melihat Dewi yang tak bisa berbuat apa-apa.

Sejak pagi, Laksmi sudah mencuci piring yang menumpuk, sementara Dewi hanya duduk di dapur sambil bermain HP.

Sebenarnya, Dewi tidak benar-benar diam. Dia sudah mencoba memasak nasi, tetapi hasilnya keras karena kurang air. Dia juga mencoba mencuci baju, tetapi mesin cuci malah rusak karena air terus mengalir dari selang pembuangan. Rumah berantakan, Salma berangkat sekolah tanpa sarapan, bahkan sempat kesiangan karena harus mencari bajunya. Selama 16 tahun, mereka terbiasa dilayani oleh Anita. Sekarang, mereka kerepotan sendiri.

Laksmi sudah lupa cara mengurus dapur, apalagi Dewi yang sejak remaja tidak bisa melakukan apa-apa selain bersolek.

"Ini semua gara-gara Anita! Coba saja dia mau menerima poligami, tentu kita tidak serepot ini!" gerutu Dewi kesal.

"PRANGG!"

Terdengar suara piring pecah.

"Dewi, kamu lakukan apa kek! Nyapu kek, ngepel kek! Aku kesal lihat kamu! Udah punya anak satu, tapi masih nggak bisa ngurus rumah!" ketus Laksmi. Tangannya sudah mulai pegal. Dalam hati, dia bergumam, "Ternyata tidak mudah mengurus rumah itu."

Akhirnya, dengan sisa tenaga, piring kotor selesai dicuci, sementara Dewi selesai menyapu dan mengepel.

Laksmi mendengus. "Kamu benar-benar nggak berguna! Lantainya bau amis begini! Kamu pakai pewangi nggak waktu ngepel?" tanyanya kesal.

"Pewangi? Mana ada lantai pakai pewangi!" sahut Dewi ketus. Sejak pagi, ibunya terus saja mengomel.

Laksmi menggelengkan kepala dia kesal sama anaknya padahal dia bukan orang kaya atau keluarga Sultan sampai pewangi lantai saja dewi tidak tahu dan semua ini tentu saja salah anita, anita yang tidak ada di rumah itulah isi pikiran Laksmi.

Dulu, saat Anita masih ada, mereka bisa duduk santai karena sebelum pagi datang, rumah sudah bersih. Sekarang, sudah siang, tapi mereka bahkan belum sarapan.

"Bu, beli makan apa? Aku lapar banget!" pinta Dewi merengek.

"Dewi, mulai minggu depan desak si Doni untuk kirim uang! Ibu nggak sanggup kalau harus ngerjain rumah sendiri!" ucap Laksmi kesal.

"Iya, Bu. Nanti aku minta sama Mas Doni. Sekarang aku lapar, Bu. Ibu pasti lapar juga, kan? Sini, aku minta uang buat beli sarapan sekaligus makan siang," pinta Dewi lagi.

Laksmi memberikan uang lima puluh ribu rupiah.

"Jangan dihabiskan! Anita biasanya masih kembali tiga puluh ribu kalau Ibu kasih uang segitu!" ujar Laksmi mengingatkan.

Dewi mengambil uang itu dengan semangat. Dia lupa akan pesan ibunya untuk tidak menghabiskannya.

Laksmi duduk di sofa, melihat seisi rumah yang tampak tidak tertata rapi. Pinggangnya terasa nyeri setelah berdiri selama satu jam mencuci piring.

"Si Lestari ke mana lagi? Udah tiga hari nggak pulang," gumamnya.

Sementara itu, Dewi senang mendapat uang lima puluh ribu. Dia membeli makanan kesukaannya. Ternyata, uangnya habis semua. Dia membeli sayur asem, udang balado, usus, serta kerupuk. Tak lupa, dia membeli empat bungkus nasi karena nasi yang tadi ia masak tidak layak dimakan.

Sesampainya di rumah, Dewi menaruh makanan di meja.

"Bu, mana piring dan sendoknya?" tanyanya.

Laksmi mendelik. "Berani kau nyuruh orang tua!" hardiknya.

"Iya, Bu..." jawab Dewi pelan.

Akhirnya, Dewi mengambil piring dan membawanya ke meja makan. Dia menaruh lauk dan nasi di piring.

Saat melihat makanan itu, wajah Laksmi berubah masam.

"Kamu mau membunuh Ibu, Dewi?" ucapnya kesal.

"Apa-apaan sih, Bu? Marah-marah terus!" jawab Dewi jengkel.

"Lihat makanan yang kamu beli! Ini makanan yang bikin encok Ibu kambuh!" omel Laksmi.

Rasanya, ia ingin menampar Dewi saat itu juga.

"Ini makanan kesukaanku, Bu! Ibu coba dulu, pasti enak!" ucap Dewi tak mau kalah.

"Kamu egois, Dewi! Sudah tahu Ibu punya encok, malah beli sayur asem, udang balado, dan usus ayam! Mau lihat Ibu sakit, hah?!"

"Ya, Bu. Kirain Ibu nggak punya encok," jawab Dewi santai.

"Ibu punya penyakit encok gara-gara kamu nggak bisa cuci piring dan ngurus rumah!" Laksmi semakin kesal.

"Sekarang belikan lauk yang lain! Pakai uang kembalian!" perintahnya.

"Mana ada uang kembalian, Bu. Udah habis semua," jawab Dewi polos.

"Kamu gila, Dewi! Ibu muak lihat muka kamu!"

Laksmi membawa nasi dan kerupuk ke kamarnya.

"BRUKK!"

Pintu kamarnya dibanting keras.

Dewi melongo. Hanya karena salah beli makanan, ibunya bisa semarah itu.

"Sialan! Ini semua gara-gara Anita nggak mau dipoligami! Coba kalau mau, Ibu punya pembantu gratis, dan Bianka jadi sumber keuangan!" gumamnya.

Namun, Dewi tidak peduli dengan ibunya yang marah. Dia tetap makan dengan lahap

.

Seharusnya, hari ini arman bahagia. Gajinya baru saja masuk, ditambah bonus yang cukup besar. Namun, kebahagiaan itu langsung sirna ketika Bianka menagih uang yang pernah dipinjamnya. Dengan berat hati, Arman membayar, dan kini gajinya hanya tersisa setengah.

Ia menatap angka di rekeningnya—Rp4 juta. Jika Anita masih ada, ia yakin uang itu akan cukup sampai akhir bulan. Namun sekarang, tanpa Anita, ia ragu. Apakah uang ini akan bertahan hingga gajian berikutnya?

Saat Arman sedang termenung, Bianka menghampirinya dengan wajah penasaran.

"Kenapa kamu tampak kusut begini, arman?" tanyanya.

Arman menghela napas. "Semua kacau gara-gara nggak ada Anita."

Bianka langsung merasa panas mendengar nama itu. Sudah bercerai, tapi Anita masih saja ada di kepala Arman.

"Kenapa memangnya?" tanyanya, menahan kesal.

"Siapa yang ngurusin aku? Baju, sarapan, rumah... Semua harus aku urus sendiri. Orang-orang di rumah nggak ada yang peduli," keluh Arman dengan nada manja.

Bianka tersenyum kecil, matanya berbinar penuh rencana.

"Hmm, bagaimana kalau kita secepatnya menikah? Biar aku bisa melayanimu," ucapnya lembut, menggoda.

Mata arman langsung berbinar. "Serius kamu, Bianka?"

Bianka tersenyum. Arman begitu antusias mendengar tawarannya, tapi Bianka tahu, bukan pernikahan yang membuatnya bersemangat. Arman hanya mencari pengganti Anita, seseorang yang bisa mengurus kebutuhannya dan rumahnya. Pagi tadi, ia miris melihat rumah yang berantakan, padahal ada tiga perempuan di sana. Tak satu pun yang peduli.

Kalau Bianka menikah dengannya, pasti dia mau mengurus rumah. Arman yakin, Bianka mencintainya dan bersedia melakukannya.

"Serius kamu mau menikah denganku secepatnya?" tanyanya memastikan.

"Serius. Atau perlu aku buktikan?" Bianka menatapnya dengan senyum menggoda.

Ia mendekat, tangannya yang lembut menyentuh leher Arman, jari-jarinya membelai perlahan. Sensasi hangat itu langsung membangkitkan gairah dalam diri Arman.

Arman tak bisa menahan diri. Ia menggenggam tangan Bianka, menariknya ke dalam pelukannya. Kedekatan mereka begitu intens. Arman bisa merasakan aroma tubuh Bianka yang harum, napasnya yang hangat di dekat telinganya.

Jantungnya berdebar, tangan Bianka kini melingkar di lehernya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Tatapan penuh godaan itu membuat Arman semakin terpikat. Bibir mereka hampir bersentuhan, dan Arman merasakan desir halus di tubuhnya saat Bianka mengusap tengkuknya perlahan.

Saat suasana semakin memanas, Bianka menyandarkan kepalanya di dada Arman, tangannya bermain di punggung lelaki itu.

"Sudah cukup, Mas. Ini di kantor," bisiknya, suaranya terdengar menggoda. "Nanti kita lanjutkan saja... di rumahku atau di hotel."

Arman menatapnya dalam-dalam. Bianka tersenyum penuh arti.

Tanpa mereka sadari kalau ada seseorang yang melihat pergumulan mereka dan merekamnya.

Arman tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin melepaskan hasratnya yang tertunda. Toh, sebentar lagi Bianka akan ia nikahi. Ini hanya sebagai pengenalan saja, menurutnya. Akhirnya, mereka terdampar di sebuah hotel sederhana dan melakukan hubungan pranikah dengan dalih untuk saling mengenal.

"Terima kasih, Mas," ucap Bianka manja.

"Sama-sama, Sayang."

"Mas harus menikahi aku secepatnya."

"Pasti, Sayang."

"Tapi aku ingin kamu tinggal di rumah aku, Mas," ucap Bianka.

Deg! Jantung Arman terasa copot. Tinggal di rumah Riska? Tidak mungkin ibunya mengizinkannya. Lagi pula, kalau ia tinggal di rumah Riska, siapa yang akan mengurus keperluan ibu dan adik-adiknya?

"Kenapa, Mas? Kok diam sih, Mas?" tanya Bianka.

"Aku nggak yakin Ibu ngizinin aku tinggal di rumah kamu," ucap Arman.

"Mas, kamu tinggal di rumah aku, bukan di rumah orang tuaku. Aku hanya tinggal bersama putriku, Mas. Tenang saja, aku akan melayanimu dengan baik," ucap Bianka.

"Tapi, Bian..."

"Aku nggak mau tahu! Kamu harus menikahiku, dan setelah menikah kamu tinggal bersamaku. Kalau tidak, aku akan laporkan kamu ke atasan. Kamu tahu sendiri kalau atasan kita tidak suka hubungan perselingkuhan. Aku hanya hidup bersama putriku, dan uang jajan putriku juga ditanggung mantan suamiku. Kalau aku dipecat, aku masih bisa hidup dengan putriku. Tapi kalau kamu?"

Arman terdiam. Ia masuk dalam jebakan Bianka.

1
Artika
datang sendiri anita
.....kasih pelajaran yang special buat tuh orang biar kapokkk ..jadi gemes saya bacanya thor
its up to me
seru
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
Asih
lanjut dong saya suka ceritanya
Asih
lanjut tuor saya suka ceritanya ayo bangkit Anita jngan lemah pa
da lelaki seperti armann
Marina Tarigan
hidupmu miris sekali Arman kamu dikelilingi wanita2 yg amnuradul semua sehingga kamu jadi pria paling nodoh sefunia hidupmu miris sekali sampai tammat riwayatmu sdh lah takdirmi memang begitj sampai tdk punya harga lagi
Marina Tarigan
si arman anak laki satunya pegawai perusahaan besar kok lemot kali cara kerja otaknya kek tahu nikmati saja kebodohanmu iymi itu tolol
Marina Tarigan
kan betul Renata kamu masih sangat bodoh ambisimu saja yg tinggi batinmu nol dan serakah kamu meringkuk seumur hdp dipenjara tanpa perlindungan apapun ayahmu jd pesuruh maharani demi Anita ibumu selena yg buat kecelakaan dulu sampai diasuh panti gara2 ibumu
Marina Tarigan
bagus Rensta teruslah culik menulik ada yg lebih berkuasa dari yg pzikopat yaitu Tuhan maha pencipta tak ada satupun mahluk di alam semesta ini mampu melawanya biarpun maharani mati ditanganmu kamu tdk bisa bangkit lagi lawanmu mkn dahsyat
Marina Tarigan
tadi Renata dan Bianka dgn congkaknya mengangkat dagu tinggi akhirnya lepe merunduk seperti sayur bayam kurang air
Marina Tarigan
perusahaan yg dibangun oleh Maharani dari nol dgn penuh perjuangan kamu ambil alih Maharani orang jenius cerdik kamu lawan Renzta Selena
Marina Tarigan
nenek lampir ngamuk marah terus ambisi kekuasaan sekaj tdk tahu terima kasih awal kehancuran kamu butet
Marina Tarigan
lanjut semuanya keluarga Arn tdk normal gila
Marina Tarigan
kalah cepat kamu Renata perusahaan sdh diserahkan kpd Anita adik cantik serakah tdk punya hayi egois gatal karma bagimu telah menumggu
Marina Tarigan
berarti bedah tadi dr gadungan yg disuruh Tenata utk menghanisi Majarani ya gagal total dibamtam olej Anita dan Hilman kami sdh setaklban ya Renata berkali kamu mau melenyapkan orang tak bersalah tunghu balasannya kamu akan hancur jatuh miskin tfk punya apa2
Marina Tarigan
joree kena bayimya anak pungut tupanya mungkin darahnya keturunan gangster kelas kakap dan kamu pak Suria kenapa kamu membela keturunan biadap kamu tdk pikir bagaimana sadismya snakmu gatal itu amak kevil zzAmira dan Anita karena kefakahan anak pungut itu
Marina Tarigan
mumgkom karena panik tampa sadar Anita yerus pergi lupa sdh ada suami sebgai pelindungnya satu sidi zHilman merasa diacuhkan sbgai suami dan penguasa
Marina Tarigan
gimana reaksi Arman Bianca laxmi deh karena Hilman bos mereka
Marina Tarigan
haha awal kebaikanmu Anita Renata provokatpr berulah
Marina Tarigan
baru sekarang aku menikmati ceritanya awal aku kesal karena ceritanya terlampau sadis dan sepihak terlampau penurut dej
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!