NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 17: Masa lalu Liorlikoza [2]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Pagi itu, matahari menembus jendela asrama dengan lembut, tapi Saka tidak merasakannya. Tubuhnya bergerak cepat, jantungnya masih berdegup dari mimpi yang membekas. Ia bangkit dari tempat tidur, pakaian masih kusut, rambut berantakan, dan tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar kamar.

“Rakes!” teriaknya, suara parau tapi penuh urgensi.

“Rakes, bangun! Lo harus bantu gue!”

Lorong asrama masih sunyi. Hanya terdengar langkah cepat Saka di lantai kayu yang berderit. Pintu ruang tengah terbuka, dan Saka melihat Rakes duduk santai di sofa, tatapan setengah serius menghadap televisi. Di sampingnya, Zack dengan santai menonton, tangan memegang segelas susu.

“Tenang dulu, Saka,” Rakes berkata, menengok ke arah Saka tanpa terburu-buru. “Apa yang bikin lo kayak kebakaran jenggot pagi-pagi gini?”

Saka mendekat, napasnya masih berat. “Mimpi… mimpi gue tadi malam… rumah itu, rumah tua di halaman itu… ada anak-anak… Evan, Hans… Ian… lo harus ngerti, Rakes!”

Zack menatapnya dengan alis terangkat. “Rumah tua? Lo mimpi, kan? Itu cuma mimpi.”

“Bukan cuma mimpi!” Saka menegaskan, suaranya meningkat. “Ada… ada sesuatu di sana. Gue harus kembali. Gue harus liat sendiri, Rakes. Tolong, gue nggak bisa ngerasain ini sendirian!”

Rakes menoleh sepenuhnya sekarang. Tatapannya tajam, tenang, tapi ada nada kewaspadaan.

“Saka…” katanya pelan.

“Ini bukan cuma soal jalan-jalan ke rumah tua. Lo nggak ngerti apa yang lo minta. Gue bisa bantu lo, tapi ada aturan yang harus lo tau.”

Saka mengangguk cepat, tidak peduli. “Tolong, Rakes. Gue harus ke sana. Gue nggak peduli aturan. Gue harus ngerti apa yang terjadi. Gue nggak bisa cuma nunggu mimpi lagi, gue nggak bisa cuma ngeliat Ian diam, Evan nyanyi… itu… itu bikin gue…” Napasnya tersendat, suaranya pecah. “Gue nggak bisa nahan sendiri!”

Rakes menghela napas panjang. Ia menatap Zack sebentar. Zack hanya mengangkat bahu, tampak bingung tapi tenang, menyerahkan keputusan ke Rakes.

“Baik,” Rakes akhirnya berkata. “Tapi kita harus hati-hati. Gue nggak bilang lo bakal aman, dan lo nggak bakal bisa seenaknya balik lagi kalau lo nekat tanpa persiapan. Gue akan jadi pengawal lo, dan gue bakal nentuin kapan lo bisa balik. Oke?”

Saka menelan ludah, matanya berbinar penuh tekad. “Oke. Gue janji bakal ikut arahan lo. Gue cuma… gue harus ke sana.”

Zack masih duduk di sofa, menatap keduanya. “Rumah tua yang nggak lo ketahui itu… lo yakin mau nekat begitu?”

Saka mengangguk tanpa ragu. “Gue harus tau. Ini penting.”

Rakes menutup televisi, berdiri, dan menepuk bahu Saka. “Oke. Kita mulai sekarang. Tapi lo harus ngerti… ini bukan jalan-jalan santai. Apa yang lo temuin di sana bisa bikin lo ngerasa… berbeda. Dan Ian, anak itu, dia bukan main-main. Diamnya aja cukup buat bikin orang takut.”

Saka menelan ludah lagi, tapi tekadnya tetap kuat. “Gue ngerti. Gue siap.”

Rakes memberi tatapan terakhir, serius. “Oke. Ayo kita pergi.”

Mereka bertiga keluar dari asrama. Angin pagi menyambut, tapi Saka tidak lagi merasakannya sebagai sesuatu yang biasa. Di pikirannya, rumah tua itu sudah menunggu, misteri itu sudah memanggil, dan mimpi itu… bukan hanya mimpi lagi.

Di jalan, Saka menoleh ke Rakes. “Lo yakin kita bisa nemuin rumah itu?”

Rakes tersenyum tipis, tapi bukan senyum santai. Lebih seperti peringatan. “Rumah itu nggak mau ditemukan begitu saja. Tapi gue tau jalannya. Ikuti gue.”

Zack hanya menggeleng perlahan, memiringkan kepala. “Ini bakal panjang,” katanya.

Saka mengangguk, jantungnya berdegup kencang, tetapi ada satu hal yang jelas: ia tidak takut lagi untuk pergi. Tidak dengan Rakes di sisinya.

Dan di balik semua itu, Ian, Evangelin, Hans… mereka menunggu, di suatu tempat antara mimpi dan nyata, seperti janji yang belum terpenuhi.

Setelah Saka terlalu larut dalam kegelisahannya dan terus memikirkan rumah tua itu, Rakes diam-diam meninggalkan rumah asrama. Langkahnya ringan tapi mantap, melewati lorong-lorong yang masih sepi, melewati Zack yang masih menonton televisi dengan setengah mata. Tidak ada kata-kata, tidak ada peringatan.

Hanya satu tujuan: menemui Tuan Besar Liorlikoza, kakek Saka.

Ia tahu langkah ini berisiko. Kakek Saka terkenal tidak memberi jawaban mudah, bahkan kepada mereka yang paling dekat dengan cucunya. Tapi Rakes tidak bisa membiarkan Saka berjalan dalam ketidakpastian, rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah gerbang, sesuatu yang kakek Saka sendiri menjaga rahasianya dengan hati-hati.

Rakes tiba di rumah tua kakeknya. Jalan setapak berderit di bawah langkahnya, angin dingin malam menyelinap di balik mantel, membuat bulu kuduknya berdiri. Pintu besar kayu itu tampak sunyi, tetapi Rakes tahu: di dalam, Tuan Besar Liorlikoza sudah menunggu.

“Masuklah,” suara kakek Saka terdengar dari ruang kerja, rendah, tegas, dan berat, suaranya yang selalu menandai bahwa keputusan sedang dibuat di sini.

Rakes melangkah masuk. Ruangan itu hangat, beraroma kayu tua dan buku, namun tidak ramah. Lampu gantung rendah menyinari meja besar, di mana Tuan Besar Liorlikoza duduk dengan tangan disilangkan.

“Rakes,” ucapnya datar. “Apa yang membawamu malam-malam begini?”

Rakes menarik napas, menenangkan diri. “Kek, tentang rumah tua… rumah yang Saka lihat di mimpinya. Dia ingin ke sana. Tapi kami tidak tahu jalannya. Saya… ingin memastikan dia aman.”

Kakek Saka mengangguk perlahan, tanpa ekspresi. “Rumah itu tidak sekadar tempat. Ia tidak mau ditemukan begitu saja. Jika Saka masuk tanpa arahan… konsekuensinya bisa berat. Lebih dari sekadar ketakutan atau tersesat.”

Rakes menatap kakeknya serius. “Saya mengerti, Kek. Tapi dia… tidak bisa menunggu. Dia harus mengerti. Jika saya bisa mengetahui lokasi atau cara untuk sampai ke sana, saya bisa membimbingnya dengan aman.”

Tuan Besar Liorlikoza mencondongkan tubuh, menatap Rakes dengan mata yang menembus. “Lokasi rumah itu… bukan koordinat fisik semata. Ia adalah pola yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki insting perlindungan, seperti yang Kau punya.”

Rakes menelan ludah. “Jadi, rumah itu… menyesuaikan diri dengan yang datang?”

“Benar,” jawab kakek Saka pelan. “Dan karena itu, jika Saka masuk sendiri… rumah itu bisa menolak dia, bisa menelan dia. Kau satu-satunya yang bisa menuntunnya melewati batas itu.”

Rakes merasakan beban tanggung jawab yang menekan dadanya. Tidak hanya sebagai pengawal, tetapi juga sebagai penjaga jalur pulang Saka. “Baik, Kek. Saya akan pastikan dia aman.”

Tuan Besar Liorlikoza mengangguk lagi, lebih lembut kali ini. “Ingat, Rakes. Rumah itu bukan hanya tempat. Ia adalah cerminan dari mimpi, ketakutan, dan keberanian. Saka harus tetap sadar. Dan kau… kau harus tetap menjadi temboknya.”

Rakes menatap lama, memahami makna itu sepenuhnya. “Saya mengerti.”

Kakek Saka mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa pembicaraan selesai. Rakes pun mundur perlahan, keluar dari rumah itu dengan langkah mantap, mengetahui satu hal: rumah tua itu bukan sekadar mimpi atau lokasi, tapi ujian, dan dia akan menjadi satu-satunya jangkar Saka di dunia itu.

Matahari sudah hampir tenggelam ketika Saka dan Rakes tiba di depan rumah tua itu. Bangunan itu tersembunyi di balik pepohonan tinggi, ranting-ranting kering menari dihembus angin sore. Cat yang terkelupas, jendela yang sebagian pecah, dan pintu kayu yang tertutup rapat membuat rumah itu tampak sepi dan meninggalkan rasa dingin yang menjalar ke tulang.

“Ini… ini rumahnya?” Saka bertanya, suara seraknya hampir tenggelam oleh desir angin.

Rakes mengangguk, tanpa menatap Saka. Matanya fokus pada pintu tua di depan mereka. “Ya. Tapi jangan anggap ini rumah biasa. Ini… gerbang. Kau harus sadar, Saka. Setiap langkah di depan sana bisa bikin kau terseret jauh. Kau ikut saya, dan kau tetap harus ingat: jangan terlalu jauh, jangan terlalu tergoda untuk menyentuh atau masuk sebelum aku bilang aman.”

Saka menelan ludah. Ia menatap pintu itu dengan campuran kagum dan takut. Ada sesuatu di sana yang membuatnya merasa seperti dunia nyata dan mimpi bertabrakan. Udara di sekitarnya terasa tebal, beraroma kayu tua, debu, dan sesuatu yang hampir seperti listrik statis, membuat bulu kuduknya berdiri.

Rakes menurunkan tasnya, mengeluarkan sebatang lampu senter kecil dan memeriksa pintu. “Kalau rumah ini menolak kau, kau akan merasakannya sebelum kau bisa menyentuhnya,” katanya pelan. “Jangan panik. Tarik napas, rasakan batasmu, dan ikuti saya.”

Saka mengangguk, mencoba menenangkan jantungnya. Ia melangkah mendekat, dan seketika ada tarikan halus, seperti angin dari dimensi lain, yang membuatnya merasa kakinya tidak sepenuhnya menyentuh tanah. Pandangannya sedikit kabur, dunia di sekitar seolah berlapis-lapis, antara nyata dan mimpi.

Rakes menaruh tangan di bahu Saka, memberi isyarat untuk tetap tenang. “Tarikan itu normal. Itu rumah yang menilai keberadaan mu. Jangan lawan, jangan lari. Ikuti saja.”

Saka menutup mata sebentar, merasakan tarikan itu meresap ke tulangnya. Napasnya berat, tapi ia menahan diri. Saat membuka mata lagi, rumah tua itu tampak… hidup. Bayangan bergerak perlahan di jendela yang retak, seakan menunggu mereka. Angin meniup daun-daun kering di halaman, tapi terdengar seperti bisikan, samar, seperti suara anak-anak tertawa jauh di dalam.

“Kita masuk sekarang,” Rakes berkata, dan menekan tangan Saka agar tetap dekat. Ia menurunkan gagang pintu perlahan. Suara kayu tua berderit, panjang, mengisi udara malam. Ketika pintu itu terbuka, gelap yang pekat dan berat menyambut mereka, berbeda dari kegelapan luar yang mereka kenal.

Saka melangkah masuk pertama, tapi kakinya seolah tersedot ke dalam. Ada rasa vertigo, dan seketika ia merasa keberadaannya seperti tipis, rapuh, dan terpisah dari tubuhnya sendiri. Dunia di sekelilingnya gelap, tapi di kejauhan ia bisa menangkap cahaya samar, anak-anak, mereka bermain di ruang yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya, seperti bayangan yang bergerak di mimpi.

Rakes berdiri di belakangnya, tenang, tangannya tetap siap menahan Saka jika tarikan itu semakin kuat.

“Jangan panik,” katanya, suaranya rendah tapi tegas. “Ini gelap sementara. Kau bisa melihat, tapi jangan ikut terseret. Fokus ke saya.”

Saka menelan ludah, merasakan lapisan tipis seperti kaca yang pernah ia rasakan dalam mimpinya malam sebelumnya. Anak-anak itu ada di sana, Evan berlari, tertawa, Hans bergerak dengan tegas, Evangelin mulai bernyanyi, dan Ian tetap diam, berdiri di tepi bayangan, matanya menembus kegelapan.

Ia ingin berbicara, ingin menjerit agar mereka melihatnya. Tapi suara itu tidak keluar, hanya gema samar yang kembali padanya. Ada rasa frustrasi yang menekan dadanya, campur aduk antara rindu, takut, dan kagum. Rakes menepuk bahunya lagi, menegaskan batasnya: ini bukan dunia untuk bermain, ini adalah dunia untuk diobservasi, untuk memahami, untuk bertahan.

“Lihat mereka,” Rakes berbisik. “Jangan disentuh. Jangan bicara. Ingat, kau di sini untuk kembali. Kau bukan bagian dari mereka, belum.”

Saka menatap Ian, yang diam, tetap dengan kesadaran penuh bahwa anak itu lebih dari sekadar diam; Ian adalah penanda, penjaga batas di sini. Ia merasa ada tarikan dari Ian, halus tapi pasti, seperti magnet yang menandai batas yang tidak boleh ia langkahi.

Evangelin mulai bernyanyi. Suaranya lembut, meresap, dan Saka merasakan sesuatu di dadanya seperti dicabut dari kenyataan. Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya. Rakes merasakan itu, tapi tidak berkata apa-apa, hanya menunggu dan membiarkan Saka meresapi batasan ini.

Saka melangkah perlahan, mengikuti Rakes, kaki terasa berat tapi pikiran tetap waspada. Ia mulai mengerti: rumah tua ini bukan hanya bangunan, bukan sekadar mimpi, tapi pengujian untuk tetap sadar, untuk tidak terseret, dan bahwa keberadaan Ian dan anak-anak lain adalah petunjuk yang harus ia amati, bukan disentuh.

Rakes menuntunnya ke dalam, setiap langkah hati-hati, lampu senter menembus gelap sementara itu. Bayangan bergerak di sekitar mereka, bisikan samar terdengar, dan Saka menyadari: rumah tua ini hidup, dan dia hanyalah tamu, pengamat yang harus bertahan hingga kembali ke dunia nyata.

Di saat itu, Saka merasakan sesuatu yang asing: meskipun ia terpisah, terikat oleh lapisan tipis, ia mulai merasakan pola rumah ini, aliran gelapnya, dan batas antara mimpi dan nyata. Dan di sisi lain, Ian tetap mengawasinya, diam, memberi isyarat tanpa kata: ingat batasmu, jangan tersesat, jangan melupakan jalan pulang.

Saka menelan ludah, menatap Rakes, dan untuk pertama kalinya ia merasa siap menghadapi gelap sementara ini, meskipun tidak sepenuhnya mengerti apa yang akan ditemui di balik tiap bayangan.

Ah, oke, jadi penting dicatat: ini memang bukan dunia Saka dan Rakes. Mereka bisa mengamati, tapi tidak bisa bertindak langsung di dalam sumur atau rumah tua itu. Ini menekankan batasan mereka sebagai pengamat, dan ketegangan psikologis Ian yang ditinggal sendirian semakin terasa. Kita bisa fokus ke Saka yang panik tapi harus menahan diri, serta Rakes yang menekankan realitas dan batasan kekuatan mereka.

Berikut versi narasi panjangnya dengan atmosfer gelap dan emosi mendalam:

Malam semakin pekat. Rumah tua itu sunyi, tetapi tidak hampa. Angin meniup di antara reruntuhan kayu, membuat daun-daun beterbangan seperti bayangan yang bergerak sendiri. Evangeline Arkozia sudah dijemput pulang, suaranya yang riang dan tawa yang menembus halaman menghilang begitu saja. Hans Remington pun lenyap, tersapu oleh bayangan rumah itu.

Tetapi Ian… Ian tetap di sumur tua, sendirian. Tubuhnya kaku, menggigil karena dingin. Napasnya membentuk uap kecil di udara malam, tangannya menggenggam tepi sumur basah. Tangisannya kecil, putus asa, memanggil-manggil nama Evangeline dan Hans, tetapi tidak ada yang mendengar. Gelap sumur menelan suara itu, dan dunia luar, Saka dan Rakes, hanya bisa mengamati dari kejauhan.

Saka menelan ludah, tubuhnya gemetar. Hatinya ingin melompat, menuruni sumur, meraih Ian, menahan tubuh kecil itu di pelukannya. Tetapi matanya bertemu Rakes, yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi tegas. Tangan Rakes menepuk bahunya, mengingatkan:

“Kau tidak bisa masuk. Ini bukan dunia kita, Saka. Kau hanya pengamat. Jika kau turun, kau tidak akan bisa kembali. Ian… dia ada di sini, tetapi ini dunia lain. Kita harus mengamati, bukan menyentuh.”

Saka menatap Ian yang terjepit di dasar sumur. Isakan kecil itu membuat dadanya sesak. Tangannya mengepal, ingin menjerit, tapi ia tahu itu tidak akan membantu. Ian tetap di sana, sendirian, kedinginan, dengan hanya bayangan dan kegelapan yang menemaninya.

“Dia… dia pasti ketakutan,” bisik Saka, suaranya nyaris tenggelam oleh angin malam. “Tidak ada yang mendengar, tidak ada yang akan menolongnya…”

Rakes menunduk, matanya tajam menelusuri sumur tua itu. “Itulah rumah ini, Saka. Itu bukan kesalahan Ian, bukan kesalahan kita. Ini ujian, atau mungkin… pelajaran. Kadang, yang kuat hanyalah yang bisa bertahan sendirian. Kita hanya bisa mengamati. Jangan biarkan emosi menguasai, atau kau bisa terseret ke dalamnya.”

Saka menelan ludah, menatap tubuh kecil Ian yang menggigil, matanya memancarkan ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Tubuhnya ingin bergerak, ingin menolong, tetapi ia sadar: rumah tua itu punya aturan sendiri. Setiap langkah sembarangan bisa menghilangkan mereka atau bahkan menarik Saka dan Rakes ke gelap yang sama.

Ian menunduk, menekan wajahnya ke lutut, mencoba menahan dingin. Suaranya terdengar lagi, lirih, nyaris tidak terdengar:

“Evangeline… Hans… tolong…”

Tidak ada jawaban. Evangeline dan Hans sudah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Ian sendirian sepanjang malam. Gelap sumur semakin menekan, membuat udara terasa berat, dan tangis kecil Ian semakin tersedak di antara bayangan.

Saka menatap Ian lama, merasakan rasa bersalah yang menusuk. Rakes menepuk bahunya lagi, lebih tegas kali ini. “Saka… ingat. Kita di sini untuk mengamati. Kita tidak bisa masuk. Ini bukan dunia kita. Ian kuat, dia harus bertahan sendiri malam ini. Fokusmu harus tetap di sini, di dunia nyata. Jangan biarkan rumah ini menarikmu.”

Saka menelan napas panjang, matanya berkaca-kaca. Tangis Ian di dasar sumur terasa seperti pisau, menusuk jantungnya, tetapi ia tahu, atau setidaknya harus tahu, mereka hanya bisa mengamati, bukan bertindak.

Malam berlalu, panjang dan dingin. Angin tetap meniup, membuat pepohonan dan reruntuhan kayu berderak seperti rumah itu hidup. Ian tetap sendirian, menggigil, memanggil-manggil Evangeline dan Hans yang tidak akan kembali malam itu. Saka tetap berdiri di sisi Rakes, tubuhnya tegang, hati berat, tetapi sadar: ini batas mereka. Mereka hanyalah pengamat dalam dunia yang bukan milik mereka.

Dan di dalam sumur tua itu, Ian menatap ke atas, matanya yang besar dan penuh kesadaran menyadari bahwa malam ini ia harus bertahan sendiri, di antara dingin, kegelapan, dan sepi yang menelan.

Rakes menepuk bahu Saka pelan, lalu menariknya menjauh dari sumur tua.

“Ayo,” katanya, suaranya rendah tapi tegas.

“Kita perlu lihat dari sisi lain. Tidak selalu gelap yang menentukan. Terkadang kita harus memahami yang nyata juga.”

Mereka berjalan menyusuri reruntuhan halaman, menembus kabut malam yang tipis, hingga akhirnya sampai ke taman kecil di dekat rumah tua itu, tempat yang tampak normal, seperti taman sekolah biasa, dengan pohon-pohon tua, semak-semak rapi, dan jalur batu yang tertata. Cahaya bulan menembus celah daun, menorehkan bayangan panjang di tanah lembap.

Saka menatap taman itu dengan campur aduk rasa lega dan penasaran. “Jadi… ini tempat mereka biasa bermain?” gumamnya.

Rakes mengangguk. “Di sinilah sebagian dari ilusi rumah tua itu tercermin. Rumah ini meniru, tapi juga memutarbalikkan realitas. Kita harus mengamati bagaimana pola terbentuk di sini.”

Tidak lama kemudian, ilusi Evangeline dan Hans muncul, tepat di tengah taman. Tubuh mereka terlihat nyata, tertawa riang, tapi ada sesuatu yang salah, cara mereka bergerak terlalu kaku, mata mereka terlalu kosong, seperti boneka yang meniru gerakan manusia.

“Mencari Ian?” Saka berbisik pada Rakes, yang hanya mengangguk pelan.

Evangeline mulai berlari-lari, menatap sekeliling dengan panik palsu. Hans mengikuti, wajahnya menegang. “Ian! Di mana kau?” teriak mereka, suara riang yang berubah menjadi frustrasi.

Saka menahan napas. Tubuhnya tegang melihat mereka, seakan ingin berteriak, mengingatkan bahwa Ian tetap di sumur. Tetapi ia hanya bisa mengamati.

Ilusi itu mulai bertengkar. Evangeline menunjuk ke pohon-pohon, Hans menunjuk ke semak-semak. “Kau harusnya melihat ke sini duluan!” teriak Evangeline.

“Tapi kau juga tidak memeriksa di jalur batu!” balas Hans, suaranya semakin keras, semakin frustasi.

Saka menggigit bibir. Rakes berdiri di sisinya, mata tajam menatap adegan itu. “Itu… rumah itu meniru konflik mereka. Menegaskan rasa kehilangan dan ketidakberdayaan. Perhatikan saja. Jangan masuk. Jangan coba mengubah apa pun.”

Pertengkaran itu berlanjut sebentar, semakin memanas, hingga akhirnya ilusi itu berhenti, saling menatap dengan kecewa dan frustrasi. Tanpa Ian, mereka hanya berdiri diam beberapa detik, lalu perlahan-lahan menghilang, meninggalkan taman yang sunyi kembali. Tidak ada yang membawa Ian pulang, tidak ada yang menolongnya.

Saka menelan ludah, merasakan kekosongan di dada.

“Mereka… pergi lagi,” bisiknya, suara penuh kepedihan. “Dia tetap di sumur…”

Rakes menepuk bahunya sekali lagi, pelan, tapi tegas. “Iya. Dan itu… bagian dari pola rumah. Ian tetap di sana untuk malam ini, untuk melihat batasnya sendiri. Jangan biarkan rasa bersalah menguasaimu. Kita hanya pengamat. Kita harus memahami, bukan campur tangan.”

Saka menunduk, matanya masih menatap ke tempat ilusi itu menghilang. Ia merasa perih, kehilangan, frustrasi, dan ketidakberdayaan bercampur menjadi satu.

Tapi di balik itu, ada pemahaman baru... rumah tua itu bukan sekadar tempat bermain atau mimpi.

Malam itu, taman kembali sunyi. Angin menggesek daun dan pepohonan, suara dedaunan mengering di jalur batu, tapi Ian tetap sendirian di sumur tua, jauh dari tawa dan pertengkaran yang baru saja berlalu. Saka menatap ke arah sumur, dada terasa berat, sementara Rakes tetap berdiri tegap, menjaga agar Saka tidak larut dalam emosi.

“Kita akan kembali esok malam,” bisik Rakes, suaranya rendah tapi pasti. “Dan kita akan mengamati lagi. Tapi malam ini… cukup untuk belajar.”

Saka mengangguk, meski hatinya masih pedih. Malam itu, satu hal jelas: Ian masih di sumur tua, dan tidak ada yang bisa mengubah itu, setidaknya, bukan malam ini.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!