Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Mendengar suami ghibah
Amel duduk di sofa sambil meredakan detak jantungnya yang masih menggila itu.
Membayangkan didatangi sama tetangga lalu dikata-katain dengan kalimat yang begitu merendahkan, siapa yang tidak takut dan gemetar coba.
Mbak kok mau sih diajakin kumpul kebo?
Nggak takut dilaknat Allah?
Cantik-cantik kok bego!
Laporin aja sama warga biar dia diarak keliling kampung!
Revan mengusap puncak kepala Amel lalu duduk di samping Amel dan menggenggam tangan Amel dengan lembut.
"Maaf ya, Ney! Aku nggak tahu bakalan kayak gini jadinya!" ucap Revan.
"Beneran sadis banget tuh mulut ibu-ibu!" Akhirnya Amel bisa kembali tenang dan bernafas lega.
"Kamu dikatain apa sama tuh ibuk-ibuk?" tanya Revan penasaran.
"Nggak begitu denger sih karena aku tremor nerima kedatangan mereka!" Amel memilih menyembunyikan makian mereka tadi.
"Kamu nggak bohong kan?" tanya Revan curiga.
Amel menggeleng." Aku cuman denger dikatain kumpul kebo doang!"
"Lain kali kalau ada yang mencurigakan dan aku nggak ada di rumah, kamu mending tetep di dalem nggak usah buka pintu!" Revan pun melipir ke dapur untuk membuka belanjaannya tadi.
"Ney, kamu udah masak nasi belum?" tanya Revan dari dalam dapur sini.
"Udah!" jawab Amel.
"Ini aku beli lauk padang, kamu mau makan sekarang atau nanti?" tanya Revan lagi.
"Aku belum lapar!" jawab Amel.
Revan mengambil nasi dan mengambil beberapa lauk dan meletakkan lauk tadi di atas nasi itu lalu membawanya ke depan.
"Aku suapin! Kamu pasti capek dan laper setelah mencuci dan diteror ibu-ibu gendut tadi!" celoteh Revan membuat Amel tertawa.
"Minimal tuh seksi atau cantik kalau mau ngata-ngatain orang! Udah gendut dan jelek, kelakuannya minus pula!" ketus Revan sambil menyuapi Amel makan siang.
"Kamyu tuh giak oleh atain olang kayak gitu!" tegur Amel disela dia mengunyah makanannya.
"Makanannya ditelen dulu baru ngomong!" ucap Revan baru setelahnya dia memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Habisnya kamu mencela orangnya begitu banget!" omel Amel tapi sayangnya Revan terkesan cuek.
"Ney, nggak ada kerupuk ya?" Revan merasa memakan nasi padang itu akan lebih nikmat kalau di dampingi sama kerupuk.
"Nggak ada, lupa beli kemarin!" jawab Amel lalu menerima suapan lagi.
Mereka makan sambil sesekali bercanda dan bercerita. Ketakutan Amel tadi sedikit demi sedikit mulai menghilang.
Revan kembali ke dapur untuk mencuci piring kotor itu sekalian mencuci tangannya.
Setelah dapur rapi Revan kembali ke ruang depan. "Tadi aku ketemu sama si bangsad!" cerita Revan membuat Amel terkejut.
"Si bangsad siapa?" tanya Amel bingung.
"Papaku!" jawab Revan singkat.
"Be..."
"Dia nuduh aku kumpul kebo sama kamu, Ney!" Revan berkata lagi.
"Bebe..."
"Dia tuh selalu kayak gitu! Segala informasi ditelan mentah-mentah sama dia! Aku dari dulu sebenernya nggak percaya lho Mama selingkuh. Dia mama yang baik buat aku, nggak pernah neko-neko orangnya, tapi si Bangsad itu pulang sambil membawa foto mama sama laki-laki lain!"
"Kamu nggak coba cari informasi, Be? Maksudku mama kamu yang sebaik itu lho!"
"Aku masih muda banget waktu itu, Ney! Masih kelas satu SMA, pikiran kayak gitu mana aku tahu kudu buktiinnya gimana?" Revan mendesah.
"Aku benci banget sama mereka!"
"Sabar, semua pasti ada hikmahnya!" hibur Amel.
Revan tersenyum lalu memgambil tangan Amel dan mencium punggungnya.
"Kamu mau ke toko nggak, Ney?" tanya Revan.
"Kenapa?" Amel balik bertanya.
"Jalan yuk, Ney! Ke taman kota jajan cilok atau nonton film!" jawab Revan.
"Sorean aja ya, aku pengen rebahan lagi!"
"Ayo kita rebahan!" Revan bersemangat.
"Hari ini pre dulu ya, Be! Aku capek banget, asli!"
"Yah, aku pikir rebahan sambil main kelereng!"
Plak! Amel memukul lengan Revan dengan kesal. "Ntar malem lagi ah, aku capek banget pengen rebahan!"
Revan tertawa lalu membawa Amel ke dalam kamar tidur mereka dan mereka benar-benar hanya tidur siang.
***
"Nggak usah pakek lipstik!" tegur Revan saat Amel bersiap memoleskan lipstik ke bibirnya.
"Ini warna nude!" ucap Amel santai.
"Apa itu warna nude?" tanya Revan.
"Warna bibir!" jawab Amel sambil memoleskan listik itu di bibirnya.
"Aneh! Ngapain pakai lipstik kalau warnanya sama dengan warna bibir! Cewek emang aneh dan lucu!"
Tapi Amel tidak marah mendengar ledekan itu, Amel justru tertawa saat suaminya mengatakan kaumnya aneh dan lucu. Memang iya kan? Kadang-kadang memang aneh dan lucu kok!
Revan menunggu Amel di teras rumah itu, sambil menunggu sambil menghisap rokoknya.
Revan tak ingin memburu-buru Amel karena hidup dalam hitungan satu bulan, Amel itu kalau sedang bersolek kadang bisa memakan waktu yang lama kadang malah tak sampai sepuluh menit.
"Be, udah!" Amel keluar dengan celana panjang dan jaket rajut yang membungkus kaos pinknya.
Revan melirik kesal, rasanya mulut julidnya ingin memprotes penampilan Amel yang terlalu cantik.
Revan memasangkan helm di kepala Amel dan Amel pun membukakan pintu pagar untuk Revan.
Begitu Revan dan motornya sudah berada di depan gerbang, Amel pun bersiap naik ke boncengan setelah menutup pintu pagar rumah mereka.
Revan menatap penghuni rumah yang berada di seberang rumahnya itu. "Namanya juga pengantin baru ya, Ney! Suami istri ya kayak gini, masa dikira kumpul kebo!"
Pluk! Amel memukul punggung Revan dengan kesal lalu meminta Revan untuk segera menjalankan motornya.
Amel benar-benar tak enak hati kepada tetangganya tersebut, tahu sih kalau mereka tadi pagi tuh jahat banget saat mengeluarkan steatment.
Tapi yang namanya mereka bertetangga, apalagi Amel itu orang baru di lingkungan itu, Amel hanya menjaga kondisi agar tetap kondusif.
Tapi kelakuan suami berondongnya yang biasanya acuh, songong dan pendiam itu malah kayak melempar petasan ke tetangga mereka.
"Kamu ih, gitu aja diladeni!" Amel mengomel tepat di sebelah telinga Revan.
Yang diomelin pura-pura budek dan acuh sambil cengar-cengir di balik helm full facenya.
"Kamu tahu nggak, Ney?" tanya Revan.
"Enggak tahu!" jawab Amel judes.
Revan cengegesan. "Itu si emak yang rumahnya depan kita tuh, aku pernah lihat suaminya sama cewek!" ucap Revan.
"Hah! Masa sih?!" Amel tentu terkejut mendengarnya.
"Terus si emak yang gendut tadi, suaminya kalau lagi jualan itu genitnya minta ampun deh!" lanjut Revan.
"Kamu mata-matain mereka?" tuduh Amel.
"Ngapain mata-matain mereka? Aku nggak sengaja ngeliatnya!" Revan mengomel.
Amel tertawa mendengar suaminya yang biasanya tak pernah mau ikut campur urusan orang itu malah bisa berghibah kayak begitu.
"Kenapa ketawa?" tanya Revan sambil menghentikan motor di taman kota.
"Kamu lucu kalau lagi ngeghibahin orang!" Amel pun tertawa lagi.
Revan menatap istrinya yang semakin cantik kalau sedang tertawa seperti itu, dirasa Revan semakin terjatuh dalam pesona Amel.